Share

Lelah yang Aneh

Author: Lana Smrti
last update publish date: 2026-10-15 09:23:42

Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.

Ia merasa bahagia.

Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.

Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.

Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.

Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.

Tidurlah, Mas. Aku di sini.

Bima mengerjap.

Itu bukan suara Maya.

Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu dengan mangkuk dan suara Kinan yang berdebat soal kaus kaki.

Bima menarik napas panjang dan mengusap wajah. Cuma mimpi. Cuma sisa mimpi.

Ia turun dari ranjang, dan tulang punggungnya langsung menjerit.

Perihnya datang seperti sengatan listrik tipis. Ia menahan desis, menoleh ke cermin lemari, dan melihat tiga garis merah di punggungnya yang sudah mulai mengering. Garis-garis itu seperti baru digoreskan semalam. Tidak ada yang pudar.

Bima menatapnya lama.

Lalu ia mengambil kaus dalam dan memakainya cepat-cepat, seakan bisa menyembunyikan sesuatu dengan kain.


Di meja makan, Maya tidak banyak bicara.

Ia hanya menyodorkan segelas kopi tanpa menatap Bima, lalu sibuk menyuapi Arka. Bima ingin minta maaf. Kata-katanya sudah tersusun di ujung lidah, tapi setiap kali ia membuka mulut, Arka mendongak dan menatapnya dengan mata bulat yang terlalu serius untuk anak umur empat tahun.

Dan kalimat itu menguap begitu saja.

"Aku berangkat dulu," kata Maya akhirnya, mengambil tas dan kunci mobilnya. Di ambang pintu ia berhenti, masih tanpa berbalik. "Malam ini aku pulang cepat. Kita bicara lagi."

"May..."

Tapi pintu sudah tertutup.

Bima duduk memandangi cangkir kopinya sampai uapnya hilang.


Kantor menyambutnya dengan hiruk-pikuk yang biasa. Telepon berdering, gudang menunggu konfirmasi pengiriman, dan tumpukan dokumen sudah bertengger di mejanya sejak kemarin sore. Bima membenamkan diri dalam pekerjaan karena hanya itu yang bisa ia lakukan agar tidak berpikir.

Tapi pikiran punya cara sendiri untuk menyelinap.

"Pagi, Pak Bima."

Bima mengangkat kepala.

Dinda berdiri di ambang ruangannya, tersenyum sambil memegang dua gelas kopi kertas. Rambut sebahunya tergerai rapi, blus birunya segar, dan matanya bersinar seperti biasa kalau bertemu Bima.

"Kopi," katanya sambil meletakkan satu gelas di meja. "Americano, nggak pakai gula. Persis kayak yang Bapak suka."

"Terima kasih, Din. Nggak perlu repot."

"Nggak repot. Kebetulan lewat." Ia tersenyum lagi, agak lebih lama dari seharusnya. "Bapak kelihatan capek. Semalam nggak tidur?"

Nggak tidur, batin Bima. Justru tidur terlalu nyenyak.

"Lagi banyak kerjaan," jawabnya sambil membuka laptop, berharap percakapan berhenti di situ.

Dinda tidak bergerak. "Kalau Bapak butuh teman ngobrol, saya ada. Seperti biasa."

Seperti biasa.

Dua kata itu menggantung di udara dan membuat dada Bima menegang.

Karena memang seperti itulah mereka. Dua tahun terakhir, Dinda menjadi tempat Bima menumpahkan keluh kesah yang tidak sempat ia bagi di rumah. Awalnya hanya makan siang bersama dengan tim. Lalu obrolan larut malam lewat pesan singkat, soal proyek, soal atasan, lalu soal hal-hal yang makin pribadi. Dinda pendengar yang baik. Ia selalu tahu kapan harus bertanya dan kapan harus diam. Ia pernah berkata, di sebuah kafe yang remang, "Bapak itu satu-satunya orang yang bikin saya merasa didengar."

Dan Bima, yang saat itu sedang lelah, kesepian, dan merasa tidak terlihat oleh siapa pun, mendengar kalimat itu seperti seteguk air di gurun.

Tidak ada yang terjadi di antara mereka. Tidak pernah. Tidak sekali pun tangan mereka bersentuhan lebih dari wajar. Tapi Bima tahu, jauh di dalam hati, bahwa perselingkuhan tidak selalu dimulai dengan sentuhan.

Kadang dimulai dengan kehangatan yang diam-diam dialihkan ke tempat yang salah.

"Pak?"

"Hm?" Bima tersentak. "Maaf. Saya melamun."

"Wangi apa itu, Pak?"

Bima menatapnya. "Wangi apa?"

Dinda mengendus pelan, keningnya berkerut. "Kayak... melati? Saya kira Bapak ganti parfum."

Bulu kuduk Bima berdiri.

Ia belum pernah memakai parfum melati seumur hidupnya.

"Mungkin dari luar," katanya cepat. "Taman kantor."

"Mungkin." Dinda mengangkat bahu, tapi matanya masih menatap Bima dengan sedikit rasa ingin tahu. "Ya sudah, saya kembali ke meja. Semangat, Pak."

Ia pergi. Pintu menutup pelan.

Bima menyandarkan punggungnya di kursi, dan perihnya langsung menyambar. Ia meringis, lalu menatap gelas kopi di mejanya tanpa menyentuhnya.

Dalam keheningan ruang kerjanya, sebuah kesadaran muncul perlahan, dingin, dan sangat jelas.

Mungkin ini karena Dinda.

Mungkin rasa gelisahnya, kegugupannya setiap kali Maya bertanya, tatapan Maya yang menusuk, dan rasa bersalah yang menggerogoti sejak pindah rumah, semua itu bukan karena rumah. Bukan karena mimpi. Bukan karena hal-hal aneh.

Melainkan karena ia memang sudah bersalah sejak lama.

Dan sekarang hati nuraninya sedang menagih.

Bima memejamkan mata. Ya. Pasti itu. Tubuh dan pikirannya sedang menghukum dirinya sendiri. Mimpi itu hanya cara otaknya mengaduk-aduk perasaan yang tidak diselesaikan.

Ia membuka ponsel, mengetik pesan untuk Dinda: Mulai hari ini kita jaga jarak. Maaf. Ia menatap kata-kata itu lama, lalu menghapusnya. Mengetik ulang. Menghapus lagi.

Akhirnya ia mematikan layar tanpa mengirim apa pun.

Satu hal dulu. Malam ini, ia akan pulang dan memperbaiki segalanya. Ulang tahun pernikahan mereka yang kesepuluh tinggal sebulan lagi. Ia sudah memesan tempat makan favorit Maya. Ia akan minta maaf dengan benar. Ia akan menceritakan semuanya, setidaknya soal Dinda.

Setidaknya soal itu.


Sore hari, Bima pulang lebih awal.

Langit sudah berwarna jingga ketika ia melewati gerbang perumahan. Jalan di kompleks mereka sepi, hanya beberapa rumah yang lampunya sudah menyala. Rumah-rumah di sini rapi, tapi jarang ada orang di teras. Bima baru menyadarinya sekarang. Tidak ada anak bermain sepeda. Tidak ada ibu-ibu mengobrol di pagar.

Seolah semua orang sepakat menjaga jarak dengan rumah di ujung jalan.

Ia menepis pikiran itu dan terus mengemudi.

Radio memutar lagu lama. Ia mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama, mencoba merangkai kalimat untuk Maya. May, aku salah. Ada hal yang harus aku ceritakan...

"Kamu akan pulang, kan, Mas?"

Jarinya berhenti.

Suara itu sangat dekat. Lembut, hangat, dan sedikit serak. Datang dari sisi kirinya.

Dari kursi penumpang.

Bima tidak bergerak. Tidak menoleh. Pandangannya terkunci pada jalan di depan, tapi seluruh sarafnya menjerit.

Wangi melati memenuhi mobil. Begitu kuat, begitu dingin.

"Aku nunggu," bisik suara itu. "Dari tadi."

Tangan Bima mencengkeram setir sampai buku-bukunya memutih. Napasnya pendek-pendek. Ia ingin menginjak rem, ingin membuka pintu dan berlari, tapi tubuhnya tidak mau menurut. Ada sesuatu yang menahan, bukan dengan paksaan, tapi dengan kelembutan yang aneh dan mematikan.

Ia membuka mulut.

"Iya," katanya. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Lembut dan pasrah. "Aku pulang."

Hening sesaat.

Lalu terdengar tawa kecil, sangat pelan, penuh kepuasan.

Bima tersadar. Matanya melebar, dadanya naik turun. Ia baru saja bicara. Ia baru saja menjawab. Pada siapa?

Ia akhirnya menoleh.

Kursi penumpang kosong.

Hanya ada jok kulit abu-abu dan tas kerjanya yang tergeletak miring. Tidak ada siapa pun. Tidak ada bayangan di kaca.

Tapi di sandaran jok, tepat di tempat seseorang akan bersandar, ada sehelai rambut hitam yang sangat panjang.

Dan di sudut kaca spion, untuk sepersekian detik, Bima melihat sepasang mata menatapnya dari kursi belakang.

Lalu menghilang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Kamar Tamu

    Sabtu pagi, Maya memutuskan untuk membuka pintu kamar tamu.Keputusan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya menyerah. Tiga minggu mereka tinggal di rumah ini, dan Maya belum sekali pun melangkah ke dalam ruangan itu. Selalu ada alasan. Kardus pindahan yang belum dibongkar, anak-anak yang rewel, pekerjaan yang menumpuk.Dan setiap kali Maya lewat, pintunya selalu tertutup rapat.Pagi itu, rumah terasa tenang. Bima sedang mengantar Kinan ke acara latihan menggambar di sekolah. Siska membawa Arka bermain di taman kompleks. Mbak Darmi menjemur di belakang. Maya berdiri sendirian di lorong lantai satu dengan secangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pintu kayu cokelat itu.Maya bilang pada dirinya sendiri bahwa ini hanya soal ruang. Rumah ini punya empat kamar tidur, dan satu di antaranya terbuang percuma. Ia bisa menjadikannya ruang kerja. Atau gudang yang rapi, supaya kardus-kardus di garasi tidak menumpuk lagi.Itu alasan yang

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Gambar di Jendela

    Kinan tahu orang dewasa mengira ia tidak mengerti.Mereka pikir anak umur delapan tahun hanya memikirkan PR, boneka, dan es krim. Mereka bicara pelan saat ia lewat, menutup pintu kamar saat bertengkar, dan memasang senyum terlalu lebar saat ia bertanya, "Bunda kenapa?""Nggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma capek."Tapi Kinan punya telinga. Dan dinding rumah ini tipis.Ia sudah mendengar semuanya beberapa malam lalu. Bunda yang bertanya dengan suara bergetar. Ayah yang membentak, lalu minta maaf dengan suara yang hampir menangis. Dan Adik, yang berdiri di pintu dengan piyama dinosaurus, mengatakan sesuatu yang membuat seisi kamar seperti membeku.Kinan sedang duduk di meja belajarnya sekarang, menggenggam pensil warna, menatap selembar kertas gambar yang masih kosong.PR dari Bu Guru: Gambarlah rumahmu dan orang-orang yang tinggal di dalamnya.Biasanya Kinan suka menggambar. Ia punya kotak pensil warna dua puluh empat warna, hadiah ulang tahun dari Ayah. Tapi hari ini tangannya terasa bera

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   HP yang Bersih

    Maya menyembunyikan ponselnya di dasar tas sebelum masuk rumah.Maya tidak mau melihat foto itu lagi. Tidak malam ini. Mungkin tidak sampai besok, atau lusa. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa itu hanya pantulan cahaya, atau bayangan lemari, atau efek kamera murahan Pak Anwar. Ia seorang manajer. Ia terbiasa memecahkan masalah dengan logika. Ia tidak akan membiarkan satu foto membuatnya kehilangan akal sehat.Dan malam ini, Maya punya masalah yang lebih nyata untuk diselesaikan.Bima menyambut Maya di ruang tengah.Ia berdiri dari sofa begitu mendengar pintu terbuka, dan wajahnya berubah seperti anak kecil yang menunggu hukuman. Kemejanya sudah berganti kaus rumah, rambutnya agak basah, dan di meja ada dua cangkir teh yang masih mengepul."Kamu pulang," katanya."Aku bilang akan pulang cepat.""Iya. Aku cuma..." Ia menggaruk tengkuknya. "Aku takut kamu nggak jadi."Maya ingin tetap kaku. Ia sudah melatih ekspresi itu sepanjang perjalanan, wajah datar, nada bicara dingin. Tapi meliha

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Teman Arka

    Siska tidak percaya hantu.Itu prinsip hidupnya sejak kecil. Neneknya di kampung dulu sering bercerita tentang pocong di pohon asam dan genderuwo di kebun pisang, tapi Siska hanya mengangguk sambil mengunyah kerupuk. Ia lebih percaya pada hal-hal yang bisa dihitung: gaji bulanan, tabungan untuk modal toko kue, dan jam tidur anak-anak yang ia asuh.Anak kecil punya imajinasi liar. Itu saja.Itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri sore ini, ketika ia berdiri diam di ujung koridor lantai atas, memandangi punggung kecil Arka yang duduk di anak tangga paling atas.Tadi ia hanya berniat mengambil handuk di lemari. Ia sudah meninggalkan Arka bermain mobil-mobilan di ruang keluarga selama kurang dari lima menit. Tapi saat kembali, ruang keluarga kosong, dan mainannya berserakan di lantai.Ia menemukan Arka di tangga.Anak itu duduk bersila membelakanginya, menghadap ke bawah, ke arah ruang tamu yang remang. Boneka kelinci lusuhnya terjepit di ketiak. Dan ia sedang berbicara."...nggak bol

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Harga yang Terlalu Murah

    Maya memarkir mobil di depan gerbang perumahan, mematikan mesin, dan tidak turun.Sudah lima menit ia duduk di sini. Jam di dashboard menunjukkan 17.42. Seharusnya ia sudah di rumah. Kemarin ia berjanji pada Bima, malam ini aku pulang cepat, kita bicara lagi. Tapi begitu mobilnya mendekati gerbang, tangannya seperti kehilangan tenaga.Ia menatap jalan yang membentang di depannya.Kompleks ini sebenarnya cantik. Pohon-pohon trembesi di kiri-kanan jalan, taman kecil di sudut blok, rumah-rumah bergaya minimalis dengan pagar rendah. Bima langsung jatuh cinta waktu pertama kali melihatnya. Maya juga.Dua bulan yang lalu.Ia menyandarkan kepala di jok dan memejamkan mata."Ini rumahnya, Bu Maya. Silakan, silakan."Pak Anwar, makelar yang ditunjukkan teman kantor Bima, berjalan di depan mereka sambil mengayun-ayunkan kunci. Orangnya sekitar lima puluhan, gemuk, berkeringat meski udara sore itu sejuk. Ia terus mengelap dahinya dengan saputangan kotak-kotak.Rumah itu berdiri di ujung jalan bu

  • Suamiku Digoda Kuntilanak   Lelah yang Aneh

    Bima terbangun dengan perasaan yang tidak masuk akal.Ia merasa bahagia.Padahal semalam ia membentak istrinya untuk pertama kali dalam sepuluh tahun. Padahal anak bungsunya baru saja mengucapkan kalimat yang membuat seluruh kamar membeku. Padahal Maya akhirnya tidur di kamar Arka sambil memeluk anak itu, meninggalkan Bima sendirian di ranjang besar yang dingin.Seharusnya ia terbangun dengan kepala berat dan dada sesak.Tapi tubuhnya terasa ringan. Hangat. Seperti baru dipeluk lama oleh seseorang yang sangat menyayanginya.Ia berbaring diam menatap langit-langit, mencoba memahami perasaan itu. Tidak ada mimpi yang bisa ia ingat. Hanya sisa-sisa sesuatu yang lembut, seperti telapak tangan di pipinya, suara bisikan di telinganya, dan satu kalimat yang tersangkut di ujung ingatan.Tidurlah, Mas. Aku di sini.Bima mengerjap.Itu bukan suara Maya.Ia buru-buru duduk. Sprei di sisi Maya rapi, tidak tersentuh. Jam di nakas menunjukkan 06.12. Dari lantai bawah terdengar bunyi sendok beradu d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status