เข้าสู่ระบบSebuah ciuman?
Serena berkedip beberapa kali. Di dalam sel yang hening, tentu suara Darius terdengar sangat jernih. Meskipun begitu, Serena tetap tercengang ketika mendengarnya. Sesaat gadis itu bahkan mengira indra pendengarannya telah rusak. Apakah dia baru saja salah dengar?“A-apa?” bisik Serena, suaranya yang tadinya begitu tegas mendadak goyah.Genggaman tangan Serena pada jemari Darius perlahan melonggar karena terkejut, namun Darius justru berbalik membaSetelah menghabiskan malam yang penuh siksaan dan kekacauan manis itu, Serena yang kelelahan tertidur lelap. Deru napas gadis itu terdengar halus dan teratur, seolah kontras dengan ketegangan yang baru saja mereda. Kulit pucatnya tampak kian rapuh di bawah temaram cahaya kamar, dihiasi jejak-jejak kemerahan yang ditinggalkan oleh ketidaksabaran dan hasrat liar sang dewa perang. Berbeda dengan Serena, Darius tak bisa memejamkan matanya. Pria itu menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, mata zambrudnya terus menatap wajah Serena dengan pikiran yang melayang, sedikit rumit. Wajah itu tampak sangat muda dan sangat cantik. Tiba-tiba Darius yang mengingat perbedaan usia mereka terlampau lebar, bagai jurang terjal yang membentang tanpa jembatan. Gadis semuda ini... bersama dengan pria setua dirinya....Darius mendesis pelan pada dirinya sendiri, sebuah cemoohan sinis memantul di dalam benaknya. Apakah ini yang disebut sapi tua yang
“Serena, kamu akan menyesal!”Darius mengulangi kata-katanya lebih keras dan tegas. Ia mengungkung tubuh Serena sepenuhnya tanpa sedikit pun niat untuk melepaskannya lagi.Ya, malam ini keputusan telah diambil. Ia telah bertekad tidak akan melepaskan istrinya apapun yang terjadi.Di bawah tindihan tubuh suaminya yang besar dan dominan, Serena menatap linglung ke atas. Dirinya saat ini seperti seekor kelinci kecil yang terpojok di dalam sarang serigala. Serena bisa merasakan secara jelas bahwa ia sedang berhadapan dengan sosok predator berbahaya yang siap menerkamnya bulat-bulat. Suaminya terlihat seperti binatang buas yang kelaparan.Namun, anehnya, bukannya merasa takut, Serena justru merasa semakin bersemangat. Ini adalah sisi Darius yang belum pernah ia lihat sama sekali, bahkan di kehidupan sebelumnya. Mata berwarna zamrud yang tajam itu menatap lapar ke arah tubuhnya. Wajah tegas yang biasanya selalu tampak tenang, dan sopan, kini
Darius mendekatkan tubuhnya lebih rapat lagi. Memangkas habis jarak yang tersisa. Satu tangan kekarnya melingkari pinggang ramping Serena, sementara tangan lainnya merayap naik, merengkuh lembut tengkuk istrinya. Darius menundukkan kepala, memulai ciumannya dengan sangat perlahan dan penuh kehati-hatian, seolah-olah Serena adalah porselen rapuh yang bisa pecah kapan saja.Rencana awal Darius sangat sederhana, ia hanya ingin mengambil dua atau tiga ciuman singkat sekedar untuk memuaskan dahaganya, lalu menyudahi permainan berbahaya ini. Namun, takdir berkata lain. Hal yang paling tidak terduga justru datang dari balasan Serena sendiri.Serena memejamkan mata rapat-rapat, menikmati sensasi kelembutan dan kehangatan yang ditawarkan oleh sentuhan Darius. Merasakan sikap manis dan perlindungan penuh dari pria itu, membuat sensasi aneh di dalam tubuh Serena meletup-letup bersemangat. Meski kesadarannya samar dan gerakannya terasa canggung serta berat, Serena berusaha ke
“Kau … kau hampir membunuhku!” Serena berteriak marah. Suaranya yang melengking pecah di keheningan dalam kamar. Membawa serta seluruh getaran panik yang menyelimuti dadanya. Mata birunya yang berkaca-kaca menatap tajam pria di hadapannya, dipenuhi kilatan permusuhan yang menusuk. Dalam tatapan itu, ada kekesalan yang meletup-letup, bercampur dengan kepolosan yang menggemaskan karena efek obat yang menguasai pikirannya.Melihat reaksi intens dari istrinya, benak Darius seketika dihantam kecemasan yang luar biasa. Ia menyadari sepenuhnya betapa bahayanya situasi ini.“Maafkan aku. Aku sungguh tidak bermaksud begitu,” ujar Darius tergesa-gesa. Pria berbadan tegap itu memajukan tubuhnya, berusaha membujuk Serena dengan raut wajah penuh penyesalan. Pria itu sadar betul bahwa tindakannya barusan sudah melewati batas wajar.Namun, ketika pandangan Darius turun dan terpaku pada bibir merah Serena yang tampak sedikit bengkak dan basah, kejujuran di da
“Suamiku~” Nada suara Serena terdengar begitu manis dan menggoda, merayap lembut menyerang pendengaran Darius hingga membuat degup jantung di dadanya bergetar hebat. Pemandangan di depannya benar-benar menguji batas ketahanan seorang pria. Paras Serena yang begitu menawan dalam balutan rona merah alami, dipadukan dengan sorot mata yang pasrah, nyaris melempar sisa-sisa akal sehat Darius ke dasar jurang. Ini adalah godaan terbesar dalam hidupnya.Tidak! Tidak boleh begini! Mengumpulkan sisa kewarasan yang hampir terkikis habis, Darius mengerahkan tenaga untuk mendorong tubuh Serena perlahan, menciptakan jarak di antara mereka. Dengan tangan yang sedikit gemetar, pria itu meraih selimut tebal yang ada di sudut tempat tidur, mencoba membungkus tubuh istrinya. Namun, Serena tidak tinggal diam. Sensasi terbakar dari dalam dadanya membuat gesekan selimut terasa seperti siksaan panas yang tak tertahankan. Gadis itu mulai memberontak. “Panas!
Terlambat. Ketika Darius menyadari ada yang salah dengan minumannya, ia melihat Serena telah mengangkat kepalanya dan minum minuman dari botol itu dalam tegukan besar. Menghabiskannya hingga tak menyisakan setetespun anggur. Melihat kepanikan di wajah suaminya serta seruan pria itu, Serena menatap Darius dengan mata polosnya. “Rasanya lumayan. Apakah ada yang salah?” Darius menelan ludahnya. Sedikit ragu untuk memberitahu Serena. Terutama ketika melihat senyuman manis yang jarang terlihat di wajah Serena. Istrinya terlihat bahagia sekarang. Kedua matanya melengkung seperti bulan sabit. Rambut coklatnya membuat kulit Serena tampak lebih putih, penampilannya yang cantik dan lembut sungguh seperti dewi malam. Serena tidak tahu apa yang salah. Hanya saja dia mulai merasa sedikit pusing . Sesaat segalanya seperti berputar. Tubuhnya yang limbung jatuh dalam pelukan Darius. “Suamiku~” Suara lembut itu jatuh di telinga Darius. Dari







