ログインYuniver membeku. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap Count Vernois tanpa mampu memberikan jawaban. Kalimat ayahnya terus berputar di kepalanya, mengingatkannya pada dirinya yang dulu—wanita yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian Vincent.Dulu, mungkin jawabannya memang iya.Yuniver yang asli akan melakukan apa pun untuk Vincent. Ia bahkan rela menutup mata terhadap banyak hal hanya karena pria itu meminta sesuatu darinya. Pernikahannya dengan Ditrian pun tidak pernah benar-benar ia anggap sebagai sebuah pernikahan. Baginya, gelar Duchess Elgard hanyalah sebuah jalan untuk tetap berada di dekat Vincent dan membantunya mendapatkan apa yang diinginkannya.Namun semua itu berubah.Perlahan, Yuniver menarik napas panjang. Ia menundukkan wajah sejenak sebelum kembali menatap ayahnya.“Aku dulu memang seperti itu.”Count Vernois mengernyit. Ia mungkin mengira Yuniver akhirnya mengakui kesalahannya.Namun Yuniver melanjutkan dengan suara yang jauh lebih tenang.“Tapi sekara
Count Vernois terdiam cukup lama. Tatapannya berpindah kepada para pengawal yang berdiri di luar ruang kerja, kemudian kembali kepada Yuniver. Jelas sekali ia tidak mungkin membicarakan sesuatu yang sensitif selama masih ada orang lain yang bisa mendengarnya.Yuniver sendiri tidak bergeming. Ia berdiri di hadapan meja kerja ayahnya dengan wajah tenang, meskipun jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.“Aku tidak datang untuk mencari masalah, Ayah,” katanya akhirnya. “Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”Count Vernois menyandarkan tubuhnya pada kursi. “Dan kalau aku tidak ingin memberitahumu?”Yuniver menatapnya beberapa saat.“Kalau begitu jangan salahkan aku jika aku melaporkannya kepada Ditrian.”Wajah Count Vernois langsung berubah.Yuniver melanjutkan sebelum ayahnya sempat menyela.“Ayah pikir sampai kapan Ayah bisa terus menyembunyikan semuanya?”Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini tidak ada keraguan di dalamnya.“Sekarang aku sudah menjadi Duchess El
Nama itu membuat suasana aula berubah dan cukup bagi Yuniver untuk menangkap perubahan kecil pada wajah ayahnya. Kemarahan yang sejak tadi memenuhi tatapan Count Vernois mendadak menghilang, digantikan oleh sesuatu yang lebih sulit dibaca. Matanya menjadi tajam, sementara rahangnya mengeras."Kenapa kau menanyakan Vincent?"Yuniver tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan pria itu beberapa saat, mencoba membaca sesuatu dari ekspresinya. Namun seperti biasa, Count Vernois terlalu pandai menyembunyikan pikirannya."Karena semakin banyak hal yang terjadi," jawab Yuniver akhirnya, "semakin aku merasa ada sesuatu yang selama ini disembunyikan dariku."Count Vernois tetap diam. Yuniver melangkah maju satu langkah."Dan aku ingin tahu apakah Ayah salah satu orang yang mengetahuinya."Tidak ada jawaban. Count Vernois justru mengalihkan pandangannya ke arah para pengawal yang berdiri di belakang Yuniver. Ia tidak perlu mengatakan apa pun. Yuniver langsung mengerti.Apa pun yang ingin dibicara
Yuniver langsung terdiam. Ia tahu persis apa yang dimaksud Ditrian. Penculikan itu masih terlalu jelas dalam ingatannya—ruangan gelap yang pengap, rantai yang membelenggu tangan dan kakinya, suara tawa para pria yang memperlakukannya dengan kasar, hingga saat Ditrian akhirnya menemukannya dalam keadaan terluka. Semua kejadian itu membuatnya sadar bahwa kekhawatiran suaminya bukan tanpa alasan.Ekspresi Yuniver perlahan melunak. Ia menghela napas kecil sebelum akhirnya mengangguk."Baiklah."Ditrian pun mengangguk kecil. "Besok kau boleh pergi."Senyum tipis muncul di wajah Yuniver. "Terima kasih."Namun baru saja ia hendak berbalik, suara Ditrian kembali menghentikan langkahnya."Dan malam ini, jangan terlalu banyak memikirkan apa pun."Yuniver menoleh. "Kenapa?""Kau masih harus beristirahat."Nada suara Ditrian tetap tenang, tetapi Yuniver tahu pria itu benar-benar memperhatikannya. Selama beberapa hari terakhir, Ditrian bahkan hampir tidak pernah membiarkannya sendirian terlalu lam
Pintu kemudian tertutup. Yuniver tetap duduk di tempatnya, menatap pintu dengan pikiran yang semakin berat. Ia tahu Vincent sedang marah dan bukan orang yang mudah menerima kekalahan. Namun, yang lebih mengganggunya adalah perjanjian tentang keluarganya, gelar Duke, dan janji yang pernah dibuat Yuniver asli kepada Vincent.Jika semua itu berkaitan dengan kematian Ditrian dalam cerita asli, Yuniver tidak boleh membiarkan Vincent bertindak sesuka hati. Ia menghela napas panjang dan bersandar di kursinya. Sekarang, ia merasa telah menyentuh bagian paling berbahaya dari cerita yang selama ini berusaha ia ubah.***Ketika Ditrian akhirnya kembali ke kediaman, hari sudah mulai sore. Suara langkah para pelayan terdengar samar di lorong, sementara Yuniver masih duduk di ruang tengah dengan pikirannya yang sejak tadi tidak bisa tenang. Percakapannya dengan Vincent terus terbayang di kepalanya, terutama ketika pria itu mengingatkannya tentang sebuah perjanjian yang bahkan tidak ia ingat pernah
"Aku memang tidak mengingatnya," jawab Yuniver tenang. "Kalau kau mengatakan aku pernah berjanji, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya pernah kita sepakati."Rahang Vincent mengeras."Kau yang mengatakan akan membantuku."Yuniver tetap menatapnya."Kalau begitu, katakan apa yang pernah kujanjikan."Beberapa saat Vincent hanya diam. Kemudian ia menghela napas pelan, seolah mulai kehilangan kesabarannya."Yuni, apakah kau sekarang lupa perjanjian kita?"Yuniver mengerutkan kening. "Perjanjian apa?"Tatapan Vincent berubah. Tidak ada lagi kelembutan seperti ketika ia pertama kali datang menemuinya. Ia menatap Yuniver seolah sedang mengingatkan seseorang yang telah melupakan tempatnya."Keluargamu," katanya akhirnya.Yuniver terdiam, sementara Vincent menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi."Keluargamu ada di dalam genggamanku."Jantung Yuniver seakan berhenti berdetak sesaat."Apa maksudmu?"Vincent hanya tersenyum tipis. "Kau benar-benar ingin membuatku menjelaskan semuanya?"Yuniver t
“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri
Taman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan
Aina nyaris tidak tidur sepanjang malam. Semua yang terjadi terasa tidak masuk akal.Beberapa waktu lalu, ia masih berada di kamarnya sendiri sambil membaca novel favoritnya hingga larut malam. Namun sekarang, ia berada di dalam novel itu.Dan bukannya menjadi tokoh utama, Aina justru menjadi karak
“Tahan sebentar. Ini akan terasa sakit.”Kelopak mata Aina terbuka perlahan, ia menggeliat saat merasakan hawa panas menyentuh pundaknya.Namun begitu menyadari pemandangan di atas tubuhnya, Aina langsung membelalak.Tepat di atas tubuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar sedang mengukungnya. Kepal







