Share

Bab 80

Author: Anisnca
last update publish date: 2026-08-15 21:33:13

"Aku memang tidak mengingatnya," jawab Yuniver tenang. "Kalau kau mengatakan aku pernah berjanji, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya pernah kita sepakati."

Rahang Vincent mengeras.

"Kau yang mengatakan akan membantuku."

Yuniver tetap menatapnya.

"Kalau begitu, katakan apa yang pernah kujanjikan."

Beberapa saat Vincent hanya diam. Kemudian ia menghela napas pelan, seolah mulai kehilangan kesabarannya.

"Yuni, apakah kau sekarang lupa perjanjian kita?"

Yuniver mengerutkan kening. "Perjanjian ap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 80

    "Aku memang tidak mengingatnya," jawab Yuniver tenang. "Kalau kau mengatakan aku pernah berjanji, jelaskan kepadaku apa yang sebenarnya pernah kita sepakati."Rahang Vincent mengeras."Kau yang mengatakan akan membantuku."Yuniver tetap menatapnya."Kalau begitu, katakan apa yang pernah kujanjikan."Beberapa saat Vincent hanya diam. Kemudian ia menghela napas pelan, seolah mulai kehilangan kesabarannya."Yuni, apakah kau sekarang lupa perjanjian kita?"Yuniver mengerutkan kening. "Perjanjian apa?"Tatapan Vincent berubah. Tidak ada lagi kelembutan seperti ketika ia pertama kali datang menemuinya. Ia menatap Yuniver seolah sedang mengingatkan seseorang yang telah melupakan tempatnya."Keluargamu," katanya akhirnya.Yuniver terdiam, sementara Vincent menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi."Keluargamu ada di dalam genggamanku."Jantung Yuniver seakan berhenti berdetak sesaat."Apa maksudmu?"Vincent hanya tersenyum tipis. "Kau benar-benar ingin membuatku menjelaskan semuanya?"Yuniver t

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 79

    Vincent menatapnya cukup lama. Wajahnya yang sejak tadi berusaha tenang perlahan menunjukkan kegelisahan yang semakin sulit disembunyikan."Kau menganggap semua yang terjadi di antara kita tidak berarti?"Yuniver terdiam sejenak. Ia tidak ingin meremehkan perasaan Vincent, apalagi berpura-pura bahwa masa lalu mereka tidak pernah ada. Namun itu juga bukan berarti ia ingin kembali ke sana."Aku tidak mengatakan semuanya tidak berarti.""Lalu?"Yuniver menghela napas pelan."Yang aku katakan adalah... semuanya sudah cukup."Rahang Vincent mengeras."Cukup?""Ya."Jawaban itu sederhana, tetapi tegas.Vincent menatapnya seolah masih berusaha mencari celah dari ucapan tersebut."Kau benar-benar ingin mengakhiri semuanya?"Yuniver mengangguk kecil."Aku pikir kita memang seharusnya berhenti sampai di sini.""Kenapa?"Yuniver terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab."Karena sekarang aku mengerti bahwa perasaan saja tidak selalu cukup untuk membuat dua orang pantas bersama."Vincent ti

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 78

    Tangan Yuniver yang sedang memegang cangkir langsung berhenti dan matanya membelalak."Vincent?""Benar, Nyonya."Suasana di ruangan seketika berubah. Yuniver menatap kepala pelayan itu dengan ekspresi tidak percaya.Ditrian tidak ada di sini dan Kael juga pergi bersamanya. Lalu sekarang, tepat ketika dirinya sendirian di dalam kediaman...Vincent datang, firasat Yuniver langsung terasa tidak enak. Ia meletakkan cangkirnya perlahan."Dia datang sendiri?""Setahu saya, Tuan Vincent datang bersama seorang pelayan."Yuniver terdiam. Ingatan tentang pertemuan mereka sebelumnya kembali muncul begitu saja. Provokasi Vincent kepada Ditrian, kebohongan yang sengaja ia lontarkan tentang hubungan mereka, lalu bagaimana Ditrian memperingatkannya dengan dingin.Sejak saat itu, Yuniver tidak pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam pikiran Vincent. Dan sekarang pria itu datang ketika Ditrian tidak berada di sini."Katakan padanya..." Yuniver berhenti sejenak.Tatapannya mengarah ke pintu. Ia s

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 77

    Sejak Yuniver sadar, Ditrian hampir tidak pernah meninggalkannya. Awalnya Yuniver mengira pria itu hanya ingin memastikan kondisinya setelah kejadian kemarin. Namun semakin lama hari berjalan, semakin jelas bahwa Ditrian memang sengaja menghabiskan waktunya di dalam kamar bersamanya.Bahkan ketika Yuniver mengatakan bahwa dirinya sudah merasa jauh lebih baik, Ditrian tetap tidak beranjak dari tempatnya.Ia duduk di kursi dekat ranjang sambil membaca beberapa laporan yang dibawa Kael. Sesekali ia menanyakan keadaan Yuniver, memastikan apakah kepalanya masih sakit, apakah ia merasa pusing, atau apakah ada bagian tubuhnya yang terasa nyeri. Pertanyaannya selalu singkat, tetapi terus berulang sepanjang hari."Kepalamu masih sakit?""Sudah tidak terlalu.""Pusing?""Sedikit.""Berbaringlah."Yuniver menurut dan beberapa saat kemudian, ketika ia bangun untuk mengambil air sendiri, suara Ditrian langsung terdengar dari belakang."Jangan."Yuniver berhenti dan menoleh."Aku hanya ingin mengam

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 76

    Yuniver perlahan membuka matanya.Hal pertama yang ia rasakan adalah berat di seluruh tubuhnya. Kepalanya masih berdenyut, sementara tenggorokannya terasa kering. Ia hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, mencoba mengingat bagaimana dirinya bisa sampai berada di sana.Lalu ia mendengar suara isakan.Yuniver menggerakkan matanya ke samping. Erin duduk di sisi ranjang. Kedua tangannya menggenggam jemari Yuniver, sementara wajahnya basah oleh air mata. Begitu menyadari Yuniver telah membuka mata, Erin langsung terisak lega."Nyonya..." Suaranya hampir pecah.Yuniver mencoba bergerak, tetapi tubuhnya terasa terlalu lemah. "Erin...""Syukurlah..." Erin buru-buru mengusap air matanya. "Syukurlah Nyonya sudah sadar."Yuniver mengernyit. Ingatannya perlahan kembali. Tubuhnya menegang sejenak."Ditrian..."Erin mengangguk cepat."Yang Mulia ada di sini. Beliau yang membawa Nyonya pulang."Yuniver menghembuskan napas panjang. Baru setelah itu ia menyadari bahwa dirinya benar

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 75

    Suara Ditrian tidak keras, tetapi justru karena itulah seluruh halaman mendadak terasa jauh lebih menakutkan. Tidak ada lagi tawa yang terdengar. Para pria yang beberapa saat lalu masih mengejek Yuniver kini berdiri kaku, seolah baru menyadari bahwa orang yang datang ke tempat mereka bukanlah bangsawan biasa yang bisa mereka tipu dengan alasan apa pun.Ditrian tetap berdiri di depan gerbang dengan wajah tenang. Ia hanya berdiri di sana, mendengarkan suara napas orang-orang di sekelilingnya, sebelum perlahan mengarahkan wajahnya kepada Yuniver.“Kael.”“Ya, Yang Mulia.”“Jangan biarkan seorang pun pergi.”Perintah itu singkat. Kael langsung memahami maksudnya.“Baik.”Dalam hitungan detik, para pengawal bergerak. Mereka memasuki halaman dan mengepung seluruh tempat itu. Beberapa penculik yang panik mencoba melarikan diri melalui sisi belakang bangunan, tetapi mereka bahkan tidak sempat mencapai gerbang sebelum dijatuhkan. Sebagian lainnya mencoba melawan, namun jumlah dan kemampuan mer

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 29

    Yuniver sempat ingin langsung menjawab, namun begitu ia membuka mulut, kata-kata yang sudah tersusun di kepalanya mendadak menghilang begitu saja. Ia berhenti, menutup mulutnya kembali, lalu menghela napas pelan seolah kesal pada dirinya sendiri.Di hadapannya, Ditrian tidak mendesaknya. Pria itu h

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 26

    Kalimat itu membuat Erin membeku, iahanya berdiri diam sambil menatap Yuniver seolah tidak yakin dirinya mendengar dengan benar.“Apa?”“Aku bertanya,” ulang Yuniver pelan. “Apa kau bekerja untuk Vincent?”Wajah Erin langsung berubah, ia terlihat terluka seolah Yuniver baru saja mengatakan sesuatu

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 7

    Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 6

    Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status