Share

Bab 4

Author: Anisnca
last update publish date: 2026-06-05 15:40:01

“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.

Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.

Membunuh Ditrian?

Tidak mungkin!

Vincent tampak terkejut melihat reaksinya. Senyum lembut di wajah pria itu perlahan memudar, berganti dengan kerutan bingung di dahinya.

“Ada apa denganmu, Yuniver?” tanyanya pelan. “Kau aneh sekali hari ini.”

Namun Aina sama sekali tidak bisa menjawab.

Kepalanya terasa penuh akibat semua ucapan Vincent bercampur menjadi satu di dalam pikirannya sampai membuat napasnya terasa sesak.

Tubuh Aina langsung terasa dingin.

Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin wanita ini ingin membunuh pria seperti Ditrian? Karakter yang bahkan rela mati sendirian demi melindungi keluarganya.

Karakter yang selama ini paling ia sukai, yang selalu ia bela setiap kali membaca komentar orang-orang yang menyebut Ditrian sebagai tokoh jahat.

Aina masih mengingat jelas bagaimana dirinya menangis saat membaca akhir hidup Ditrian di novel. Sang duke buta itu dijatuhi hukuman mati, lalu dieksekusi sendirian tanpa ada seorang pun yang mempercayainya.

Aina merasa mual mendadak.

Tatapannya perlahan turun pada bunga mawar putih di tangannya. Bunga itu terlihat cantik dan lembut, tetapi sekarang justru terasa menjijikkan di matanya.

Karena pria yang memberikannya sedang membicarakan kehancuran Ditrian seolah itu bukan sesuatu yang salah.

“Yuniver?”

Vincent kembali memanggilnya, kali ini dengan nada lebih hati-hati.

Aina langsung berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser kasar ke belakang dan menimbulkan suara nyaring di lantai kaca.

“Katakan apa yang terjadi padamu?” Vincent ikut berdiri sambil mengernyit, berusaha untuk lebih lembut.

Aina menatap pria itu beberapa detik, sebelumnya pria itu terlihat seperti tokoh pria kedua yang hangat dan baik hati.

Namun sekarang… Aina justru merasa pria itu menyeramkan.

“M-Maaf…” suara Aina terdengar sedikit gemetar. “Sepertinya aku tidak enak badan.”

Vincent tampak hendak mendekat, tetapi Aina buru-buru mundur selangkah.

“Aku ingin masuk ke dalam.”

Tanpa menunggu jawaban, Aina langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan taman kaca itu.

Langkahnya cepat dan napasnya memburu. Pikirannya kacau karena ia bahkan tidak tahu harus memikirkan apa lebih dulu.

Vincent ingin menghancurkan Ditrian. Dan Yuniver? Tubuh yang sekarang ia tempati ini mungkin adalah salah satu alasan kenapa Ditrian berakhir di tiang eksekusi.

Aina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Sial, kenapa justru dia masuk ke tubuh karakter seperti ini? Kalau saja ia datang sebagai karakter lain, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.

Namun belum sempat Aina menenangkan pikirannya, tubuhnya tiba-tiba menabrak sesuatu yang keras.

“Akh—”

Aina refleks mundur satu langkah sambil memegangi dahinya, tapi begitu mengangkat kepala, napasnya langsung tertahan.

Ditrian Elgard berdiri tepat di depannya dengan postur tegap dan wajah dingin khasnya yang tampan. Rambut hitamnya jatuh rapi di dahinya, sementara mata abu-abunya yang kosong mengarah lurus ke depan.

Dan entah kenapa, melihat pria itu sekarang justru membuat dada Aina semakin terasa sesak.

Belum sempat ia meminta maaf, seorang pria di samping Ditrian langsung bergerak maju dengan wajah menegang.

“Nyonya, mohon berhati-hati.”

Nada suaranya sopan, tapi Aina tetap bisa merasakan ketidaksukaan yang tersembunyi di balik ucapan itu.

“Anda bisa saja menyakiti Yang Mulia Duke.” Kael berbicara.

Aina sadar Kael membenci Yuniver.

Tatapan pria itu terlalu tajam untuk sekadar disebut waspada. Seolah ia sudah terlalu sering melihat Yuniver menyakiti tuannya hingga rasa tidak sukanya tidak lagi bisa disembunyikan.

Aina semakin tidak nyaman. Sebenarnya… apa yang telah dilakukan Yuniver selama ini pada Ditrian?

Aina perlahan menundukkan kepala.

“Maaf,” ucapnya pelan. “Aku tidak sengaja.”

Kael tampak sedikit terdiam mendengar permintaan maaf itu, mungkin karena tidak terbiasa mendengar nada selembut itu dari Yuniver.

Namun Aina tidak punya tenaga untuk memikirkan hal itu sekarang.

“Aku permisi dulu,” katanya pelan sebelum kembali melangkah pergi.

Tetapi baru beberapa langkah, suara Ditrian tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

“Apa yang terjadi?”

Aina langsung berhenti. Tubuhnya menegang perlahan sebelum akhirnya ia membalikkan badan menghadap pria itu lagi.

Ditrian berdiri diam di tempatnya dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak. Lalu ia kembali bersuara, kali ini lebih pelan.

“Apa Vincent menyakitimu?”

Aina membelalak kecil, dan sebelum ia sempat menjawab, Ditrian kembali melanjutkan,

“Katakan saja jika dia menyakitimu.”

Ini membuat Aina semakin membeku di tempat. Tidak ada nada marah dalam suara Ditrian, bahkan tidak ada juga kecurigaan.

Hanya ketenangan aneh seolah pria itu benar-benar mengkhawatirkannya. Aina ingin menangis melihat bagaimana wajah yang mengkhawatirkannya daripada membencinya karena memiliki hubungan dengan adiknya sendiri.

Aina tidak bisa lagi bertahan di tempat itu.

Tanpa memberikan jawaban, ia langsung berbalik dan pergi dengan langkah cepat yang berubah menjadi hampir berlari. Tangannya menekan dadanya sendiri, mencoba menahan sesuatu yang terasa sesak dan kacau di dalam kepalanya.

Semua itu saling bertabrakan, membuat Aina merasa kepalanya terlalu penuh untuk berpikir jernih. Ia tidak sadar kapan tepatnya ia sudah sampai di depan kamarnya sendiri.

Pintu itu terbuka begitu saja ketika ia mendorongnya, dan ia masuk tanpa ragu.

Di dalam ruangan yang tenang itu, Erin sudah berdiri di dekat meja kecil. Pelayan itu sedang menuangkan teh dengan gerakan yang tenang, seolah sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Aina berhenti sejenak di ambang pintu.

Erin menoleh dan langsung menundukkan kepala.

“Nyonya.”

Aina tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan ke arah sofa dan duduk dengan gerakan berat, seperti seluruh tenaganya sudah terkuras.

“Erin… apakah aku selama ini bersikap jahat pada Ditrian?”

Gerakan Erin sempat terhenti, sangat singkat, sebelum kembali normal. Namun ekspresinya berubah sedikit lebih hati-hati.

“Apakah ada sesuatu yang terjadi, Nyonya?”

Aina menatap cangkir teh di depannya tanpa benar-benar melihatnya. Pikirannya masih berusaha menyusun semua potongan informasi yang baru saja ia dapatkan.

“Aku hanya merasa,” suaranya pelan, “aku mungkin sudah menjadi istri yang sangat buruk selama ini.”

Erin terdiam lebih lama kali ini.

Bagi pelayan itu, kalimat itu terdengar seperti penyesalan. Seperti Yuniver yang akhirnya mulai menyadari kesalahannya sendiri.

Namun Aina tidak sedang benar-benar memahami dirinya sebagai Yuniver. Ia hanya sedang mencoba bertahan di tengah kekacauan yang tidak ia mengerti.

Jika semua yang dikatakan Vincent benar dan jika semua itu memang terjadi… maka Yuniver mungkin memang bukan orang yang bisa ia anggap “baik”.

“Jika Nyonya benar-benar merasa bersalah kepada Yang Mulia Duke,” suara Erin akhirnya terdengar pelan, “bagaimana kalau Nyonya pergi ke pesta bersama beliau kali ini?”

Aina langsung mengangkat kepala.

“Pesta?”

Erin mengangguk. “Biasanya Nyonya tidak pernah pergi bersama Yang Mulia Duke. Anda lebih sering hadir bersama Tuan Muda Vincent.”

Aina frustasi.

Jadi selama ini Yuniver lebih sering pergi bersama Vincent daripada Ditrian? Sebenarnya apa yang ada di pikiran wanita itu?!

Erin melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Yang Mulia Duke pasti akan senang jika Nyonya mau menemaninya kali ini.”

Aina menatap Erin, ini seperti dorongan kecil yang terasa bagai kesempatan.

“Kapan pestanya?” tanyanya akhirnya.

“Besok malam, Nyonya.” Jawaban itu membuat Aria terdiam sesaat.

Besok malam, ada kesempatan untuk berada di sisi Ditrian, melihat semuanya langsung, dan mungkin memperbaiki hal yang selama ini ia kira sudah rusak.

Aina kini lebih tenang dan fokus.

“Kalau begitu, dandani aku supaya terlihat cantik, Erin!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 92

    Hari pesta teh akhirnya tiba.Sejak pagi, kediaman Duke Elgard sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan memastikan taman kaca, meja, hidangan, dan semua kebutuhan tamu telah siap. Yuniver bahkan berkali-kali memeriksa semuanya hingga kepala pelayan hampir kehilangan hitungan.Ketika kereta para tamu mulai berdatangan, Yuniver baru menyadari bahwa pesta ini mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.Satu per satu wanita bangsawan memasuki taman kaca dengan pakaian dan perhiasan indah. Mereka menyapa Yuniver dengan sopan, memberi hormat, lalu duduk di tempat masing-masing.Dari luar, semuanya terlihat sempurna.Namun Yuniver segera menyadari tatapan mereka. Bisikan kecil terdengar setiap kali ia berbalik, beberapa senyum tampak dipaksakan, dan sebagian wanita memandangnya seolah sedang menilai dirinya.Yuniver berusaha mengabaikannya. Ia tetap menyambut para tamu dengan tenang. Bagaimanapun, ini adalah pesta teh pertamanya sebagai Duchess yang mulai memasuki lingkungan sosial para bang

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 91

    Ditrian terdiam. Namun, kali ini bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya sedang mencerna perkataan Yuniver yang terdengar begitu polos, seolah bagi wanita itu, memiliki seorang suami yang seorang Duke adalah sesuatu yang patut disyukuri setiap hari.Sudut bibirnya perlahan terangkat.Ia memang sudah menyadari perubahan Yuniver sejak beberapa waktu terakhir. Wanita itu tidak lagi menjaga jarak darinya seperti dahulu. Sebaliknya, Yuniver semakin sering berada di sisinya, memanggilnya hanya untuk menanyakan hal-hal kecil, bahkan tidak ragu meminta bantuannya meskipun tahu Ditrian tidak dapat melihat apa yang sedang ia tunjukkan.Anehnya, semua itu tidak pernah membuatnya merasa terganggu.Justru sebaliknya.Ada sesuatu yang membuat Ditrian merasa senang setiap kali Yuniver datang mencarinya.Seperti sekarang.Yuniver masih berdiri di hadapannya dengan wajah cerah, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat menguntungkan dalam hidupnya."Aku hanya merasa hidupku sekarang

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 90

    Yuniver terdiam sesaat. Entah mengapa, jawaban sederhana dari Ditrian itu kembali membuat sudut bibirnya terangkat. Ia kemudian merangkul lengan pria itu lebih erat, seolah ingin menunjukkan betapa senangnya dirinya mendengar persetujuan tersebut.“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”“Baik.” Ditrian mengangguk kecil. “Aku akan menunggu hasilnya.”Yuniver yang semula tersenyum tiba-tiba menyipitkan mata.“Kenapa terdengar seperti Anda sedang menunggu saya gagal?”Ditrian sedikit mengangkat alis.“Aku tidak mengatakan itu.”“Tapi nada suara Anda begitu.”Ditrian hanya diam. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.“Kalau begitu, buktikan aku salah.”Yuniver mendengus pelan, tetapi bukannya tersinggung, ia justru semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Ditrian.“Baik. Jangan menyesal nanti.”“Aku tidak akan menyesal.”“Kalau pestanya berhasil, Anda harus memujiku.”Ditrian terkekeh kecil.“Kalau begitu, aku akan menunggu sampai hari itu.”Yuniver tersenyum puas. Ia kemudian menarik l

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 89

    Setelah pembicaraan mengenai penculikan itu selesai, suasana di ruang tamu perlahan kembali lebih ringan. Ketiga wanita bangsawan itu tidak lagi menanyakan kejadian tersebut dan mulai mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih berkaitan dengan kehidupan Yuniver sebagai Duchess Elgard.Salah seorang dari mereka membuka buku kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu menatap Yuniver dengan senyum sopan.“Duchess, sebelum kita mulai membicarakan pelajaran hari ini, kami ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan sosial Anda selama ini.”Yuniver mengangguk.“Maksudnya?”“Seberapa sering Anda menghadiri acara yang diadakan para bangsawan? Jamuan makan, pesta, pertunjukan, atau pertemuan kecil di kediaman bangsawan lain?”Yuniver terdiam.Ia mencoba mengingat kehidupan Yuniver sebelum dirinya datang ke dunia ini. Sayangnya, sebagian besar ingatan yang tersisa justru berkaitan dengan Vincent. Hampir tidak ada kenangan tentang bagaimana Yuniver berhubungan dengan wanita-wanita bangsawan lainn

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 88

    Ditrian langsung menoleh ke arah Yuniver. Meskipun kedua matanya tidak dapat melihat, perubahan kecil dalam suara istrinya membuatnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Yuniver, sesuatu yang belum ingin ia katakan.Yuniver sendiri sedikit menegang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan membawa percakapan mereka sejauh ini. Seharusnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Ditrian terhadap Vincent, tetapi tanpa sadar ia justru sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba.” Jawab Ditrian akhirnya.Nada suaranya tetap tenang, seolah kemungkinan harus berhadapan dengan adiknya sendiri bukan sesuatu yang membuatnya gentar.Yuniver mengerutkan kening.“Bahkan jika dia adikmu?”Ditrian terdiam sejenak.“Hubungan darah tidak membuat seseorang bebas melakukan apa saja.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Yuniver terdiam.Ada ketegasan di balik suara Dit

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 87

    Yuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 7

    Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 6

    Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 5

    Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam

  • Suamiku, Kali Ini Kau Tidak Akan Mati!   Bab 3

    Taman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status