ログイン“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.
Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.
Membunuh Ditrian?
Tidak mungkin!
Vincent tampak terkejut melihat reaksinya. Senyum lembut di wajah pria itu perlahan memudar, berganti dengan kerutan bingung di dahinya.
“Ada apa denganmu, Yuniver?” tanyanya pelan. “Kau aneh sekali hari ini.”
Namun Aina sama sekali tidak bisa menjawab.
Kepalanya terasa penuh akibat semua ucapan Vincent bercampur menjadi satu di dalam pikirannya sampai membuat napasnya terasa sesak.
Tubuh Aina langsung terasa dingin.
Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin wanita ini ingin membunuh pria seperti Ditrian? Karakter yang bahkan rela mati sendirian demi melindungi keluarganya.
Karakter yang selama ini paling ia sukai, yang selalu ia bela setiap kali membaca komentar orang-orang yang menyebut Ditrian sebagai tokoh jahat.
Aina masih mengingat jelas bagaimana dirinya menangis saat membaca akhir hidup Ditrian di novel. Sang duke buta itu dijatuhi hukuman mati, lalu dieksekusi sendirian tanpa ada seorang pun yang mempercayainya.
Aina merasa mual mendadak.
Tatapannya perlahan turun pada bunga mawar putih di tangannya. Bunga itu terlihat cantik dan lembut, tetapi sekarang justru terasa menjijikkan di matanya.
Karena pria yang memberikannya sedang membicarakan kehancuran Ditrian seolah itu bukan sesuatu yang salah.
“Yuniver?”
Vincent kembali memanggilnya, kali ini dengan nada lebih hati-hati.
Aina langsung berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser kasar ke belakang dan menimbulkan suara nyaring di lantai kaca.
“Katakan apa yang terjadi padamu?” Vincent ikut berdiri sambil mengernyit, berusaha untuk lebih lembut.
Aina menatap pria itu beberapa detik, sebelumnya pria itu terlihat seperti tokoh pria kedua yang hangat dan baik hati.
Namun sekarang… Aina justru merasa pria itu menyeramkan.
“M-Maaf…” suara Aina terdengar sedikit gemetar. “Sepertinya aku tidak enak badan.”
Vincent tampak hendak mendekat, tetapi Aina buru-buru mundur selangkah.
“Aku ingin masuk ke dalam.”
Tanpa menunggu jawaban, Aina langsung berbalik dan berjalan cepat meninggalkan taman kaca itu.
Langkahnya cepat dan napasnya memburu. Pikirannya kacau karena ia bahkan tidak tahu harus memikirkan apa lebih dulu.
Vincent ingin menghancurkan Ditrian. Dan Yuniver? Tubuh yang sekarang ia tempati ini mungkin adalah salah satu alasan kenapa Ditrian berakhir di tiang eksekusi.
Aina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Sial, kenapa justru dia masuk ke tubuh karakter seperti ini? Kalau saja ia datang sebagai karakter lain, mungkin semuanya tidak akan serumit ini.
Namun belum sempat Aina menenangkan pikirannya, tubuhnya tiba-tiba menabrak sesuatu yang keras.
“Akh—”
Aina refleks mundur satu langkah sambil memegangi dahinya, tapi begitu mengangkat kepala, napasnya langsung tertahan.
Ditrian Elgard berdiri tepat di depannya dengan postur tegap dan wajah dingin khasnya yang tampan. Rambut hitamnya jatuh rapi di dahinya, sementara mata abu-abunya yang kosong mengarah lurus ke depan.
Dan entah kenapa, melihat pria itu sekarang justru membuat dada Aina semakin terasa sesak.
Belum sempat ia meminta maaf, seorang pria di samping Ditrian langsung bergerak maju dengan wajah menegang.
“Nyonya, mohon berhati-hati.”
Nada suaranya sopan, tapi Aina tetap bisa merasakan ketidaksukaan yang tersembunyi di balik ucapan itu.
“Anda bisa saja menyakiti Yang Mulia Duke.” Kael berbicara.
Aina sadar Kael membenci Yuniver.
Tatapan pria itu terlalu tajam untuk sekadar disebut waspada. Seolah ia sudah terlalu sering melihat Yuniver menyakiti tuannya hingga rasa tidak sukanya tidak lagi bisa disembunyikan.
Aina semakin tidak nyaman. Sebenarnya… apa yang telah dilakukan Yuniver selama ini pada Ditrian?
Aina perlahan menundukkan kepala.
“Maaf,” ucapnya pelan. “Aku tidak sengaja.”
Kael tampak sedikit terdiam mendengar permintaan maaf itu, mungkin karena tidak terbiasa mendengar nada selembut itu dari Yuniver.
Namun Aina tidak punya tenaga untuk memikirkan hal itu sekarang.
“Aku permisi dulu,” katanya pelan sebelum kembali melangkah pergi.
Tetapi baru beberapa langkah, suara Ditrian tiba-tiba terdengar dari belakangnya.
“Apa yang terjadi?”
Aina langsung berhenti. Tubuhnya menegang perlahan sebelum akhirnya ia membalikkan badan menghadap pria itu lagi.
Ditrian berdiri diam di tempatnya dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak. Lalu ia kembali bersuara, kali ini lebih pelan.
“Apa Vincent menyakitimu?”
Aina membelalak kecil, dan sebelum ia sempat menjawab, Ditrian kembali melanjutkan,
“Katakan saja jika dia menyakitimu.”
Ini membuat Aina semakin membeku di tempat. Tidak ada nada marah dalam suara Ditrian, bahkan tidak ada juga kecurigaan.
Hanya ketenangan aneh seolah pria itu benar-benar mengkhawatirkannya. Aina ingin menangis melihat bagaimana wajah yang mengkhawatirkannya daripada membencinya karena memiliki hubungan dengan adiknya sendiri.
Aina tidak bisa lagi bertahan di tempat itu.
Tanpa memberikan jawaban, ia langsung berbalik dan pergi dengan langkah cepat yang berubah menjadi hampir berlari. Tangannya menekan dadanya sendiri, mencoba menahan sesuatu yang terasa sesak dan kacau di dalam kepalanya.
Semua itu saling bertabrakan, membuat Aina merasa kepalanya terlalu penuh untuk berpikir jernih. Ia tidak sadar kapan tepatnya ia sudah sampai di depan kamarnya sendiri.
Pintu itu terbuka begitu saja ketika ia mendorongnya, dan ia masuk tanpa ragu.
Di dalam ruangan yang tenang itu, Erin sudah berdiri di dekat meja kecil. Pelayan itu sedang menuangkan teh dengan gerakan yang tenang, seolah sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Aina berhenti sejenak di ambang pintu.
Erin menoleh dan langsung menundukkan kepala.
“Nyonya.”
Aina tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan ke arah sofa dan duduk dengan gerakan berat, seperti seluruh tenaganya sudah terkuras.
“Erin… apakah aku selama ini bersikap jahat pada Ditrian?”
Gerakan Erin sempat terhenti, sangat singkat, sebelum kembali normal. Namun ekspresinya berubah sedikit lebih hati-hati.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi, Nyonya?”
Aina menatap cangkir teh di depannya tanpa benar-benar melihatnya. Pikirannya masih berusaha menyusun semua potongan informasi yang baru saja ia dapatkan.
“Aku hanya merasa,” suaranya pelan, “aku mungkin sudah menjadi istri yang sangat buruk selama ini.”
Erin terdiam lebih lama kali ini.
Bagi pelayan itu, kalimat itu terdengar seperti penyesalan. Seperti Yuniver yang akhirnya mulai menyadari kesalahannya sendiri.
Namun Aina tidak sedang benar-benar memahami dirinya sebagai Yuniver. Ia hanya sedang mencoba bertahan di tengah kekacauan yang tidak ia mengerti.
Jika semua yang dikatakan Vincent benar dan jika semua itu memang terjadi… maka Yuniver mungkin memang bukan orang yang bisa ia anggap “baik”.
“Jika Nyonya benar-benar merasa bersalah kepada Yang Mulia Duke,” suara Erin akhirnya terdengar pelan, “bagaimana kalau Nyonya pergi ke pesta bersama beliau kali ini?”
Aina langsung mengangkat kepala.
“Pesta?”
Erin mengangguk. “Biasanya Nyonya tidak pernah pergi bersama Yang Mulia Duke. Anda lebih sering hadir bersama Tuan Muda Vincent.”
Aina frustasi.
Jadi selama ini Yuniver lebih sering pergi bersama Vincent daripada Ditrian? Sebenarnya apa yang ada di pikiran wanita itu?!
Erin melanjutkan dengan nada lebih lembut, “Yang Mulia Duke pasti akan senang jika Nyonya mau menemaninya kali ini.”
Aina menatap Erin, ini seperti dorongan kecil yang terasa bagai kesempatan.
“Kapan pestanya?” tanyanya akhirnya.
“Besok malam, Nyonya.” Jawaban itu membuat Aria terdiam sesaat.
Besok malam, ada kesempatan untuk berada di sisi Ditrian, melihat semuanya langsung, dan mungkin memperbaiki hal yang selama ini ia kira sudah rusak.
Aina kini lebih tenang dan fokus.
“Kalau begitu, dandani aku supaya terlihat cantik, Erin!”
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang tidak disembunyikan sedikit pun.Aina sendiri baru menyadari apa yang telah ia lakukan setelah semua perhatian tertuju padanya. Namun saat itu ia tidak peduli. Tatapannya hanya tertuju pada Ditrian dan Vincent.Ditrian tampak sedikit tertegun. Pria itu memalingkan wajah ke arahnya dengan ekspresi yang sulit ditebak, tetapi Aina dapat merasakan kebingungan yang samar dari sikapnya.Sementara itu, Vincent berdiri beberapa langkah di hadapan mereka dengan senyum yang perlahan memudar dari wajahnya.“Apa maksudmu, Yuni?” tanyanya pelan.Aina tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh ke arah Ditrian dan menatap pria itu lekat-lekat.“Apa dia mengatakan sesuatu yang buruk?”Untuk beberapa saat D
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam keperakan membalut tubuhnya dengan anggun, sementara rambut panjangnya ditata rapi dengan hiasan berlian kecil yang berkilau di bawah cahaya lampu malam.Beberapa bangsawan langsung menoleh padanya, tetapi perhatian Aina justru tertuju ke dalam kereta saat ia segera mengulurkan tangan.“Pelan-pelan,” ucapnya refleks.Sedetik kemudian, tangan besar Ditrian menyentuh jemarinya.Jantung Aina langsung berdegup aneh.Tetap saja meskipun sejak tadi sudah berusaha tenang, ia masih belum terbiasa berada sedekat ini dengan karakter favoritnya sendiri.Ditrian turun dari kereta dengan tenang. Setelan hitam formal membuatnya terlihat semakin elegan, sementara wajah tampan dan matanya yang kosong tetap
“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditrian?Tidak mungkin!Vincent tampak terkejut melihat reaksinya. Senyum lembut di wajah pria itu perlahan memudar, berganti dengan kerutan bingung di dahinya.“Ada apa denganmu, Yuniver?” tanyanya pelan. “Kau aneh sekali hari ini.”Namun Aina sama sekali tidak bisa menjawab.Kepalanya terasa penuh akibat semua ucapan Vincent bercampur menjadi satu di dalam pikirannya sampai membuat napasnya terasa sesak.Tubuh Aina langsung terasa dingin.Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin wanita ini ingin membunuh pria seperti Ditrian? Karakter yang bahkan rela mati sendirian demi melindungi keluarganya.Karakter yang selama ini paling ia sukai, yang selalu ia bela setiap kali membaca komentar orang-orang yang
Taman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan terasa menyesakkan.Ditengah itu semua, Aina sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan itu.Ia duduk bersidekap sambil memperhatikan lelaki di hadapannya.Vincent Elgard, adik tiri Ditrian.Pria itu sedang sibuk merangkai beberapa tangkai bunga mawar putih dengan gerakan tangan yang tenang dan hati-hati. Sesekali ia merapikan daun-daun kecil di sela bunga dengan ekspresi lembut yang membuatnya terlihat begitu berbeda dari Ditrian.Harus Aina akui, Vincent memang tampan. Lelaki ini jelas cocok menjadi tokoh pria utama di sebuah novel romantis.Tapi entah kenapa Aina tetap lebih menyukai Ditrian. Mungkin karena memang sejak awal, pria itu adalah karakter favoritnya. Ditrian Elgard adalah ka
Aina nyaris tidak tidur sepanjang malam. Semua yang terjadi terasa tidak masuk akal.Beberapa waktu lalu, ia masih berada di kamarnya sendiri sambil membaca novel favoritnya hingga larut malam. Namun sekarang, ia berada di dalam novel itu.Dan bukannya menjadi tokoh utama, Aina justru menjadi karakter yang bahkan tidak pernah dijelaskan di novel. Pantas saja ia tidak mengingat keberadaan karakter Yuniver yang merupakan istri dari Duke Elgard. Informasi yang tertera tentang Duke Elgard hanyalah ia seorang pengkhianat kekaisaran yang dijatuhi hukuman mati.Aina menggeleng keras. Karena ia sudah di sini… ia harus menyelamatkan karakter kesayangannya!Namun sebelum itu…“Maaf, Nyonya,” suara dingin seorang pria tiba-tiba memecah keheningan di ruang makan itu. “Apakah Anda sudah selesai? Yang Mulia Duke memiliki jadwal penting pagi ini.”Aina menoleh pelan, lalu melirik sekilas ke seberang meja makan. Pagi itu ia menikmati sarapan dengan tenang, duduk satu meja dengan Ditrian Elgard sang
“Tahan sebentar. Ini akan terasa sakit.”Kelopak mata Aina terbuka perlahan, ia menggeliat saat merasakan hawa panas menyentuh pundaknya.Namun begitu menyadari pemandangan di atas tubuhnya, Aina langsung membelalak.Tepat di atas tubuhnya, seorang pria dengan tubuh kekar sedang mengukungnya. Kepala pria itu nyaris menyentuh pundak polosnya. Dan detik itu juga, Aina tersadar bahwa pundaknya tersibak, menampilkan kulitnya yang mulus.Tanpa berpikir dua kali, ia langsung mendorong kuat tubuh pria itu hingga jatuh dari kasur.“Apa yang kau lakukan?!”Ia beringsut mundur, menghimpit kepala ranjang, tangannya bergerak menarik bagian gaun yang terbuka.Tidak ada jawaban dari pria yang tadi berada di atasnya. Pria itu nampak sibuk meraba-raba sekelilingnya. Kening Aina sontak berkerut dalam. Apa yang dia lakukan…?Namun saat ingin bertanya lebih lanjut, ia baru menyadari keadaan sekitarnya.Ini bukan kamarnya!"Istriku..." suara berat dan dalam dari pria yang ada di depannya membuat Aina me







