MasukTaman kaca milik keluarga Elgard dipenuhi cahaya matahari pagi yang menembus dinding-dinding bening di sekeliling ruangan.
Pantulan sinarnya jatuh di antara hamparan bunga yang tumbuh rapi, membuat seluruh tempat itu terlihat hangat dan indah, jauh berbeda dari suasana kastil utama yang dingin dan terasa menyesakkan.
Ditengah itu semua, Aina sama sekali tidak bisa menikmati pemandangan itu.
Ia duduk bersidekap sambil memperhatikan lelaki di hadapannya.
Vincent Elgard, adik tiri Ditrian.
Pria itu sedang sibuk merangkai beberapa tangkai bunga mawar putih dengan gerakan tangan yang tenang dan hati-hati. Sesekali ia merapikan daun-daun kecil di sela bunga dengan ekspresi lembut yang membuatnya terlihat begitu berbeda dari Ditrian.
Harus Aina akui, Vincent memang tampan. Lelaki ini jelas cocok menjadi tokoh pria utama di sebuah novel romantis.
Tapi entah kenapa Aina tetap lebih menyukai Ditrian. Mungkin karena memang sejak awal, pria itu adalah karakter favoritnya. Ditrian Elgard adalah karakter yang membuat Aina menangis paling keras saat membaca akhir novel itu. Karena sampai akhir hayatnya, pria itu tetap sendirian.
Dikhianati oleh keluarganya sendiri dan dituduh sebagai pengkhianat. Lalu dihukum mati tanpa ada seorang pun yang benar-benar mempercayainya.
Aina mengeratkan tangan di kedua lengannya.
Ia tidak akan membiarkan akhir itu terjadi lagi.
Namun sebelum menyelamatkan Ditrian, Aina harus memahami dulu apa sebenarnya hubungan antara Yuniver dan Vincent.
Karena semakin lama, semuanya terasa semakin aneh.
Sebenarnya siapa Vincent bagi Yuniver? Hubungan macam apa yang dimiliki Yuniver dan Vincent sampai Ditrian terlihat seperti itu di ruang makan tadi?
Sadar dirinya terus diperhatikan, Vincent akhirnya mengangkat kepala. Senyum tipis muncul di wajah tampannya sebelum ia menyodorkan rangkaian bunga yang baru selesai dibuatnya ke arah Aina.
“Apakah kau masih marah padaku, Yuni?” tanyanya lembut. “Karena aku memaksamu tidur dengan kakakku?”
Aina langsung menegang. Vincent bicara seolah itu sesuatu yang wajar.
Aina tidak buru-buru bereaksi. Ia memilih diam sambil menatap bunga di tangan Vincent, mencoba mengikuti alur pembicaraan pria itu.
Ia butuh informasi, dan semakin banyak semakin baik.
Vincent tampaknya menganggap diamnya Aina sebagai tanda bahwa wanita itu masih kesal. Ia menghela napas pelan sebelum menurunkan tangannya.
“Aku tahu kau membencinya,” ucap Vincent lirih. “Tapi kita tidak punya pilihan.”
Aina tetap tidak menjawab. Dan benar saja, Vincent kembali melanjutkan perkataannya tanpa curiga sedikit pun.
“Orang-orang mulai memperhatikan hubungan kalian.” Vincent menatap Aina lekat-lekat. “Kau terlalu dingin pada Ditrian, Yuni. Bahkan para pelayan tahu kalian tidak pernah benar-benar seperti pasangan suami istri.”
Deg!
Jantung Aina berdetak pelan.
“Kita harus membuat mereka berhenti curiga,” lanjut Vincent. “Kalau tidak, maka hubungan kita bisa terbongkar.”
Aina merasakan tenggorokannya mendadak kering.
Hubungan mereka? Jadi…Yuniver dan Vincent memiliki hubungan rahasia di belakang Ditrian?
Aina menggigit bagian dalam bibirnya pelan.
Ia mulai mengerti sekarang. Kejadian semalam, sikap Ditrian, semua tatapan aneh para pelayan... semuanya mulai tersusun perlahan.
“Aku hanya memintamu berpura-pura tidur dengannya,” ujar Vincent lagi sambil tersenyum tipis. “Setidaknya sampai rumor itu mereda.”
Aina menatap pria itu tanpa berkedip. Ada sesuatu yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Bukan karena ucapan Vincent, melainkan karena cara pria itu mengatakannya. Seolah memanfaatkan Ditrian adalah hal yang sangat normal.
“Ayolah,” Vincent kembali menyodorkan bunga itu ke arahnya. “Jangan marah lagi padaku.”
Ia tersenyum lembut, lalu melanjutkan dengan suara pelan yang nyaris terdengar manis.
“Bukankah kau sendiri yang bilang kalau kau hanya ingin hidup bersamaku?”
Alis Aina langsung berkerut. Entah kenapa, kalimat itu justru membuatnya merasa kesal.
“Apa maksudmu?” tanyanya akhirnya.
Vincent tampak sedikit bingung.
Aina lalu melanjutkan dengan nada yang lebih pelan, namun jelas.
“Aku kan punya suami.”
Seketika ekspresi Vincent berubah. Pria itu menatap Aina cukup lama seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.
“Apa maksudmu, apa yang kau— ?” gumamnya perlahan.
Kini gantian Aina yang mengernyit.
Namun beberapa detik kemudian, wajah Vincent perlahan menegang. Tatapannya berubah aneh saat menatap Aina, seolah sedang mencoba memastikan sesuatu.
“Apa kau membentur kepalamu semalam?” tanyanya pelan.
Aina tidak menjawab. Ia sendiri masih mencoba memahami semuanya.
Namun keheningan itu justru membuat ekspresi Vincent semakin serius.
Sampai akhirnya pria itu kembali membuka mulut, kali ini dengan nada rendah yang membuat bulu kuduk Aina meremang.
“Bukankah kau sangat membenci kakakku karena dia buta?” Vincent menatap Aria lekat-lekat. “Dan bukankah kau sendiri yang bilang ingin menghancurkannya?”
"Apa?" kuping Aina berdengung mendengar itu.
"Bukan hanya ingin menghancurkanya, kau bahkan ingin membunuhnya!"
Hari pesta teh akhirnya tiba.Sejak pagi, kediaman Duke Elgard sudah dipenuhi kesibukan. Para pelayan memastikan taman kaca, meja, hidangan, dan semua kebutuhan tamu telah siap. Yuniver bahkan berkali-kali memeriksa semuanya hingga kepala pelayan hampir kehilangan hitungan.Ketika kereta para tamu mulai berdatangan, Yuniver baru menyadari bahwa pesta ini mungkin tidak akan semudah yang ia bayangkan.Satu per satu wanita bangsawan memasuki taman kaca dengan pakaian dan perhiasan indah. Mereka menyapa Yuniver dengan sopan, memberi hormat, lalu duduk di tempat masing-masing.Dari luar, semuanya terlihat sempurna.Namun Yuniver segera menyadari tatapan mereka. Bisikan kecil terdengar setiap kali ia berbalik, beberapa senyum tampak dipaksakan, dan sebagian wanita memandangnya seolah sedang menilai dirinya.Yuniver berusaha mengabaikannya. Ia tetap menyambut para tamu dengan tenang. Bagaimanapun, ini adalah pesta teh pertamanya sebagai Duchess yang mulai memasuki lingkungan sosial para bang
Ditrian terdiam. Namun, kali ini bukan karena tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya sedang mencerna perkataan Yuniver yang terdengar begitu polos, seolah bagi wanita itu, memiliki seorang suami yang seorang Duke adalah sesuatu yang patut disyukuri setiap hari.Sudut bibirnya perlahan terangkat.Ia memang sudah menyadari perubahan Yuniver sejak beberapa waktu terakhir. Wanita itu tidak lagi menjaga jarak darinya seperti dahulu. Sebaliknya, Yuniver semakin sering berada di sisinya, memanggilnya hanya untuk menanyakan hal-hal kecil, bahkan tidak ragu meminta bantuannya meskipun tahu Ditrian tidak dapat melihat apa yang sedang ia tunjukkan.Anehnya, semua itu tidak pernah membuatnya merasa terganggu.Justru sebaliknya.Ada sesuatu yang membuat Ditrian merasa senang setiap kali Yuniver datang mencarinya.Seperti sekarang.Yuniver masih berdiri di hadapannya dengan wajah cerah, seolah baru saja menemukan sesuatu yang sangat menguntungkan dalam hidupnya."Aku hanya merasa hidupku sekarang
Yuniver terdiam sesaat. Entah mengapa, jawaban sederhana dari Ditrian itu kembali membuat sudut bibirnya terangkat. Ia kemudian merangkul lengan pria itu lebih erat, seolah ingin menunjukkan betapa senangnya dirinya mendengar persetujuan tersebut.“Kalau begitu, aku akan melakukannya.”“Baik.” Ditrian mengangguk kecil. “Aku akan menunggu hasilnya.”Yuniver yang semula tersenyum tiba-tiba menyipitkan mata.“Kenapa terdengar seperti Anda sedang menunggu saya gagal?”Ditrian sedikit mengangkat alis.“Aku tidak mengatakan itu.”“Tapi nada suara Anda begitu.”Ditrian hanya diam. Lalu senyum tipis muncul di wajahnya.“Kalau begitu, buktikan aku salah.”Yuniver mendengus pelan, tetapi bukannya tersinggung, ia justru semakin mengeratkan rangkulannya pada lengan Ditrian.“Baik. Jangan menyesal nanti.”“Aku tidak akan menyesal.”“Kalau pestanya berhasil, Anda harus memujiku.”Ditrian terkekeh kecil.“Kalau begitu, aku akan menunggu sampai hari itu.”Yuniver tersenyum puas. Ia kemudian menarik l
Setelah pembicaraan mengenai penculikan itu selesai, suasana di ruang tamu perlahan kembali lebih ringan. Ketiga wanita bangsawan itu tidak lagi menanyakan kejadian tersebut dan mulai mengarahkan pembicaraan pada hal-hal yang lebih berkaitan dengan kehidupan Yuniver sebagai Duchess Elgard.Salah seorang dari mereka membuka buku kecil yang sejak tadi dibawanya, lalu menatap Yuniver dengan senyum sopan.“Duchess, sebelum kita mulai membicarakan pelajaran hari ini, kami ingin mengetahui sedikit tentang kehidupan sosial Anda selama ini.”Yuniver mengangguk.“Maksudnya?”“Seberapa sering Anda menghadiri acara yang diadakan para bangsawan? Jamuan makan, pesta, pertunjukan, atau pertemuan kecil di kediaman bangsawan lain?”Yuniver terdiam.Ia mencoba mengingat kehidupan Yuniver sebelum dirinya datang ke dunia ini. Sayangnya, sebagian besar ingatan yang tersisa justru berkaitan dengan Vincent. Hampir tidak ada kenangan tentang bagaimana Yuniver berhubungan dengan wanita-wanita bangsawan lainn
Ditrian langsung menoleh ke arah Yuniver. Meskipun kedua matanya tidak dapat melihat, perubahan kecil dalam suara istrinya membuatnya tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar rasa ingin tahu biasa. Ada sesuatu yang sedang dipikirkan Yuniver, sesuatu yang belum ingin ia katakan.Yuniver sendiri sedikit menegang. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan membawa percakapan mereka sejauh ini. Seharusnya ia hanya ingin mengetahui bagaimana perasaan Ditrian terhadap Vincent, tetapi tanpa sadar ia justru sedang mencari jawaban atas sesuatu yang jauh lebih besar.“Aku akan menghadapinya ketika saatnya tiba.” Jawab Ditrian akhirnya.Nada suaranya tetap tenang, seolah kemungkinan harus berhadapan dengan adiknya sendiri bukan sesuatu yang membuatnya gentar.Yuniver mengerutkan kening.“Bahkan jika dia adikmu?”Ditrian terdiam sejenak.“Hubungan darah tidak membuat seseorang bebas melakukan apa saja.”Jawaban itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat Yuniver terdiam.Ada ketegasan di balik suara Dit
Yuniver langsung terdiam. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih jauh. Dari cara ayahnya mengatakannya, ia sudah tahu jawabannya.Vincent mungkin bisa memaafkan banyak hal selama semuanya masih menguntungkan dirinya. Namun jika pria itu mengetahui bahwa Count Vernois diam-diam memiliki kesepakatan dengan Ditrian, kemungkinan besar semua itu akan berakhir dalam satu malam.Yuniver menatap ayahnya dengan perasaan yang semakin rumit, ia menyadari bahwa Count Vernois bukan hanya sedang menyembunyikan sesuatu darinya.Pria itu juga sedang menyembunyikan sesuatu dari Vincent. Dan jika rahasia itu terbongkar, bukan hanya dirinya yang akan berada dalam bahaya. Seluruh keluarga Vernois bisa ikut terseret ke dalamnya.Begitu Yuniver kembali ke kediaman Duke Elgard, hari sudah mulai sore. Kereta yang membawanya berhenti di depan tangga utama, dan Erin segera turun lebih dahulu untuk membukakan pintu. Yuniver melangkah keluar dengan tenang, berusaha menyembunyikan semua yang baru saja ia dengar da
Aina melangkah perlahan di sisi Ditrian, membawanya menjauh dari kerumunan yang semakin ramai. Sejak insiden dengan Vincent tadi, rasanya seluruh perhatian di ballroom tertuju kemanapun mereka bergerak.Semua orang tentu penasaran, mereka tidak percaya dan terang-terangan bergosip tanpa perduli apak
Suara Ainaa terdengar begitu keras hingga membuat percakapan di sekitar mereka terhenti.Alunan musik yang sejak tadi memenuhi ballroom seakan menghilang sesaat ketika puluhan pasang mata beralih ke arah mereka. Para bangsawan yang sebelumnya sibuk berbincang kini menoleh dengan rasa penasaran yang
Kereta keluarga Elgard berhenti di depan kediaman Marquis Varell yang malam itu dipenuhi para bangsawan, cahaya mewah, dan alunan musik dari ballroom megah di dalam.Namun suasana di depan kediaman itu berubah sedikit aneh saat pintu kereta keluarga Elgard terbuka.Aina turun lebih dulu.Gaun hitam
“Apa?!” Suara Aina langsung meninggi tanpa bisa ia tahan.Tangannya refleks mencengkeram ujung meja kaca di depannya hingga rangkaian bunga yang tadi diberikan Vincent hampir jatuh ke lantai. Dadanya naik turun tidak beraturan, sementara matanya membelalak menatap pria di hadapannya.Membunuh Ditri







