LOGINPerubahan di wajah Yuniver tidak luput dari perhatian Vincent. Hanya dalam hitungan detik, senyum tipis yang semula menghiasi bibir wanita itu menghilang begitu saja. Tatapannya berubah lebih dingin, sementara alisnya sedikit berkerut, jelas tidak menyukai cara Vincent menyebut Ditrian.Yuniver menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata dengan nada yang jauh lebih tenang daripada yang ia rasakan."Perhatikan cara bicaramu."Vincent mengangkat sebelah alisnya, seolah tidak mengerti mengapa Yuniver tiba-tiba menegurnya."Kita masih berada di dalam kastil Duke," lanjut Yuniver sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah kaca. "Bagaimana kalau ada yang mendengar? Apa kau benar-benar ingin orang lain mengetahui bahwa kau berbicara tidak sopan tentang Duke di rumahnya sendiri?"Bukannya merasa bersalah, Vincent justru terkekeh pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu memandang Yuniver dengan sorot mata yang sulit diartikan."Yuni," katanya sambil tersenyum tipis, "bukankah
Yuniver terdiam cukup lama. Jemarinya yang semula memainkan garpu kini berhenti bergerak. Pikirannya kembali dipenuhi berbagai kemungkinan yang sejak tadi berputar tanpa henti. Jika dipikirkan baik-baik, menghindari Vincent bukanlah pilihan yang tepat. Justru dengan menemuinya, ia mungkin bisa mengetahui apa sebenarnya hubungan antara pria itu, Count Vernois, dan berbagai rencana yang selama ini disembunyikan dari Ditrian.Yang paling membuatnya penasaran adalah satu hal. Apa sebenarnya yang diinginkan Vincent sampai-sampai dalam alur novel ia tega membuat Ditrian kehilangan nyawanya?Semakin lama dipikirkan, semakin banyak pertanyaan yang bermunculan. Dan semua jawaban itu tampaknya hanya bisa ia dapatkan jika kembali berhadapan dengan pria tersebut.Yuniver akhirnya menghela napas pelan sebelum mengangkat kepalanya."Baiklah," ucapnya pelan. "Nanti saya akan menemuinya."Mendengar jawaban itu, raut wajah Ditrian sedikit melunak. Meski matanya yang kosong tidak mampu memperlihatkan p
Yuniver kembali ke ruang kerjanya dengan langkah pelan. Pikirannya masih dipenuhi ucapan Ditrian di aula beberapa saat yang lalu. Ia bahkan belum sempat duduk ketika pintu di belakangnya kembali terbuka.Suara tongkat yang menyentuh lantai marmer terdengar pelan, disusul langkah kaki yang sudah sangat dikenalnya.Yuniver menoleh.Ditrian memasuki ruangan bersama Kael dan Enrique. Kael berjalan setengah langkah di belakang tuannya, sementara Enrique terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat terakhir kali Yuniver melihatnya. Rupanya, kejadian di aula barusan sudah cukup membuat seluruh penghuni kastil kembali mengingat siapa sebenarnya penguasa tempat ini.Yuniver memandang Ditrian beberapa saat sebelum akhirnya bertanya dengan nada heran.“Apa yang Anda lakukan di sini?”Ditrian menghentikan langkahnya ketika suara Yuniver terdengar. Wajahnya menghadap tepat ke arah istrinya, seolah ia dapat melihat keberadaan wanita itu dengan jelas meski ia buta.“Aku mendengar dari Enrique,” ucap
Ditrian mengeluarkan suara pelan setelah beberapa detik hening, seolah mencoba mengingat kembali percakapan mereka sebelumnya.“Bukankah kita sudah pernah membahasnya, istriku?”Yuniver terdiam sesaat. Jawaban itu tidak mengejutkannya, tetapi tetap saja ada sesuatu yang terasa mengganggu di dadanya.“Aku hanya ingin memastikan saja,” jawabnya akhirnya, dibuat setenang mungkin.Ruangan kembali sunyi.Ditrian tidak langsung berbicara lagi, tetapi kepalanya sedikit menoleh ke arah sumber suara Yuniver, seperti biasanya ia selalu melakukan itu, mengikuti setiap gerak kecilnya tanpa kesalahan sedikit pun.Yuniver menghela napas pelan, lalu melangkah lebih dekat.“Karena sepertinya ada seseorang yang lebih pantas menjadi Duchess di kastil ini.”Kalimat itu baru saja jatuh ketika Ditrian langsung berdiri. Gerakannya cepat, jauh lebih tegas dari biasanya hingga membuat udara di ruangan ikut terasa berubah.“Siapa yang berani mengatakan hal tidak masuk akal seperti itu?” Suara itu tidak keras,
Enrique terdiam setelah mendengar perkataannya.Yuniver melirik tumpukan undangan di meja. Semakin dipikirkan, semakin aneh karena tidak ada seorang pun yang bisa membimbingnya sebagai Duchess. Orang tua Ditrian sudah tiada, tidak ada kerabat dekat di kastil, dan para pelayan juga tidak bisa banyak membantu.Lalu bagaimana Yuniver yang asli mempelajari semua ini? Pertanyaan itu kembali muncul di kepalanya.Sejak berada di tubuh ini, Yuniver menemukan banyak hal yang membingungkan. Dari yang ia ketahui, Yuniver asli bukan wanita bodoh. Ia cukup pintar dan tahu cara menghadapi orang lain.Karena itu, Yuniver tidak mengerti mengapa wanita itu begitu mudah mengikuti Vincent dan Count Vernois. Seolah hidupnya hanya berputar di sekitar mereka.Yuniver menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya. Semakin dipikirkan, semakin sulit memahami semuanya."Nyonya."Suara Enrique membuatnya mengangkat kepala. Pria itu masih berdiri di tempat yang sama, meski kini ekspresinya terlihat jauh lebih
Yuniver terdiam cukup lama setelah mendengar jawaban Ditrian. Jemarinya yang memegang dokumen perlahan mengencang, sementara dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan. Pria ini mempercayainya. Bukan sekadar percaya biasa, melainkan percaya tanpa syarat, sampai-sampai bersedia menandatangani dokumen yang bahkan belum sempat dibacanya.Karena itulah Yuniver merasa semakin tidak nyaman. Karena hanya dirinya yang tahu satu hal yang tidak diketahui Ditrian.Pemilik tubuh ini yang sebenarnya memang pernah ingin membunuhnya. Pikiran itu membuat tenggorokannya terasa kering."Jangan terlalu percaya pada siapa pun," ucapnya pelan. "Bahkan pada saya sekalipun."Ditrian sedikit memiringkan kepalanya. Wajah tampannya terlihat kebingungan, seolah tidak mengerti mengapa Yuniver mengatakan hal seperti itu."Istriku, kau terdengar tidak senang.""Bukan begitu." Yuniver menghela napas sebelum menggeleng. "Saya hanya ingin Anda lebih berhati-hati. Tidak semua orang bisa dipercaya."Ditrian akhirn
Langkah Yuniver terhenti begitu saja di tengah jalan.Tarikan kecil yang ia berikan pada tangan Ditrian membuat pria itu ikut berhenti. Ia berbalik menghadap Ditrian.Pria itu berdiri tenang seperti biasa dengan tongkat di satu tangan, sementara tangan lainnya masih berada dalam genggaman Yuniver. M
Yuniver bahkan tidak sempat mengatakan apa pun.Saat Kael menopang tubuh Ditrian itu yang mulai kehilangan keseimbangan. Wajah Kael yang biasanya selalu datar terlihat pucat, begitu pucat hingga Yuniver hampir tidak mengenalinya, ia melihat kepanikan yang nyata di sana."Tuan."Suara itu terdengar s
Mereka akhirnya menemukan sebuah kafe yang jauh lebih baik dari tempat sebelumnya.Begitu melangkah masuk, Yuniver langsung menyukai suasananya. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi terlihat bersih dan nyaman. Cahaya ruangan itu seolah sudah diatur dan aroma kopi dan roti yang baru dipanggang mem
Ditrian kembali terhenti.Sejak tadi Yuniver sudah beberapa kali membuatnya kehilangan kata-kata, tetapi kali ini reaksinya terlihat lebih jelas dibanding sebelumnya. Pria itu bahkan sampai berhenti berjalan dan memalingkan wajahnya ke arah Yuniver, seolah ingin memastikan bahwa ia tidak salah denga







