Share

Bab 2

Author: Yellow Pocket
Terdengar tawa kecil di telingaku.

Di ruang tamu, suara Harvey yang sedang menerima telepon tiba-tiba terdengar, mengejutkanku kembali ke realitas.

Aku terburu-buru melepaskan diri dari Darrel, menutupi dada, dan lari keluar dari kamar mandi.

Harvey menutup teleponnya dan bahkan tidak melirikku sedikit pun.

"Cari pakaian di lemari untuk Darrel. Selama liburan musim dingin ini, dia akan tinggal di rumah kita. Urus dia baik-baik."

Aku bergumam tidak jelas sebagai jawaban dan melarikan diri ke kamar tidur.

Dari belakang, terdengar suara Darrel yang mengandung nada jenaka.

"Bu Merry cantik sekali."

Jantungku berdegup kencang. Namun, sebelum rasa senang sempat muncul, aku mendengar dengusan hina dari Harvey.

"Cantik apanya? Sudah seperti sapi perah, aku melihatnya saja sudah muak."

Tanganku yang sedang mengambil pakaian terhenti di udara. Darah di seluruh tubuhku seakan membeku seketika.

Aku tidak menyangka suamiku akan merendahkanku seperti itu di depan orang asing.

Saat aku selesai menenangkan diri dan keluar, suamiku sudah pergi.

Darrel duduk dengan santai di sofa.

Dia tidak memakai atasan. Memamerkan garis-garis ototnya yang kokoh, bahu yang lebar, dan lengan yang kuat.

Dia sama sekali tidak berniat menghindar dariku.

Aku berdiri di tengah ruang tamu, pandanganku tanpa sadar jatuh pada kulitnya yang terekspos.

'Menjadi muda itu sungguh menyenangkan,' pikirku.

Merasa malu, aku ragu sejenak sebelum akhirnya mendekat dan menyerahkan kaus yang sudah terlipat rapi kepadanya.

Saat menerima pakaian itu, ujung jari Darrel tidak sengaja menyentuh jariku.

Sensasi kesemutan merambat dari ujung jari, rasanya seperti tersengat arus listrik kecil.

Rasa gatal itu menyebar cepat ke seluruh tubuh, begitu menyiksa hingga aku secara refleks ingin merapatkan kedua kakiku.

Rasa panas yang tak terjelaskan bangkit dari dalam tubuhku.

Takut mempermalukan diri sendiri di depannya, aku berbalik ingin kembali ke kamar.

"Bu Merry, aku tidur di mana?"

Aku baru ingat kalau aku benar-benar melupakan hal itu.

Sambil menahan rasa bergejolak di dalam tubuh, aku mencoba bersikap tenang dan berkata, "Tunggu sebentar, aku akan merapikan kamar tamu untukmu."

Namun siapa sangka, baru saja kakiku melangkah masuk ke kamar tamu, dia ternyata ikut masuk ke belakangku.

Tatapannya begitu panas dan membara, mengikuti setiap gerak-gerikku, menjatuhkan pandangan yang tak tertutup-tutup di sekujur tubuhku.

Tatapan itu terasa nyata. Setiap inci tubuh yang dipandangnya seolah meninggalkan rasa malu yang membakar tubuhku. Aku bahkan merasa pakaian yang menutupiku hangus menjadi abu oleh tatapannya. Meninggalkanku telanjang bulat dan tak berdaya di depan pengawasannya.

Saat tatapannya jatuh ke dadaku, aku dengan canggung mengangkat tangan untuk menutupinya.

Darrel tersenyum.

"Pak Harvey benar-benar beruntung punya istri seperti Bu Merry. Kalau itu aku, aku rela kehilangan beberapa tahun umurku demi mendapatkanmu."

Aku menundukkan mata, berusaha mengabaikan tatapannya yang kian membara.

"Ah, apa benar begitu?"

Mengingat suamiku menyebutku "sapi perah", rasa kecewa kembali muncul di hatiku.

Saat aku mendongak, Darrel entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku.

Dia mengernyitkan dahi, nadanya menyiratkan ketidaksetujuan.

"Pak Harvey benar-benar nggak tahu cara bersyukur atas apa yang dia punya. Wanita secantik Bu Merry adalah impian bagi banyak pria."

Sambil berkata demikian, jakunnya bergerak naik-turun. Wajahku memerah mendengar perkataannya yang begitu blak-blakan.

Aku tidak sanggup lagi menahan tatapannya.

Aku terburu-buru berbalik untuk mengambil bantal di bagian atas lemari.

Tiba-tiba, tubuhnya yang panas menempel di punggungku, diiringi suara beratnya di telingaku.

"Bu Merry, biar aku bantu."

Suhu tubuhnya begitu panas hingga kakiku lemas, tanpa sadar tubuhku bersandar ke belakang.

Melalui pakaian rumah yang tipis, aku bisa merasakan dengan jelas ada sesuatu yang menekan tubuhku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 8

    Kami bergerak secara terpisah. Aku menyelinap ke ruang kerja Harvey dan menyalakan komputernya. Produk investasi, akun saham, reksa dana yang dia sombongkan sebagai cara mengelola uang keluargaku, aku tahu semua kata sandinya.Satu per satu uang itu kutransfer ke rekeningku hingga kosong. Baru setelah saldo akun terakhir menjadi nol, aku mengembuskan napas panjang.Benar saja, kurang dari setengah jam kemudian, telepon Harvey masuk dan dia berbicara dengan suara gusar, "Merry! Di mana uang simpanan rumah tangga? Apa yang kamu lakukan dengan uang itu?""Aku menunggumu pulang," kataku, lalu menutup telepon.Dia pulang secepat kilat, menendang pintu hingga terbuka, dan menunjuk hidungku sambil memaki, "Kamu sudah gila?! Siapa yang menyuruhmu menyentuh uang itu?! Apa maumu?!""Segera transfer balik! Jangan berani-berani menyentuhnya! Itu semua uangku!"Aku duduk di sofa, lalu melemparkan surat cerai yang sudah kusiapkan bersama tumpukan foto itu ke atas meja kopi di depannya. Foto-foto

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 7

    Aku berjalan kembali ke kamar tidur, menutup pintu. Saat itulah air mata jatuh seperti untaian mutiara yang putus, membasahi pipiku dalam keheningan.Kami telah menjadi suami istri selama bertahun-tahun. Meski hubungan kami terasa hambar, bagiku dia selalu baik, baik kepadaku maupun keluargaku. Dia perhatian, sopan, dan tampak sempurna tanpa cela. Itulah sebabnya orang tuaku sangat memercayainya, hingga menyerahkan seluruh tabungan seumur hidup mereka kepadanya untuk diinvestasikan.Namun pada akhirnya, dia hanya menginginkan harta keluargaku dan menjadikanku alat reproduksi gratis. Aku tidak terima. Rasa tidak adil yang luar biasa nyaris menenggelamkanku.Saat Harvey selesai mandi dan masuk ke kamar, aku segera memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Dia berbaring di sampingku, napasnya teratur, dan segera terlelap dengan nyenyak. Aku membuka mata, menatap tajam wajahnya dari samping di tengah kegelapan.Pria inilah yang telah menghancurkan segalanya.Aku mengambil ponselnya.

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 6

    Jantungku seolah diremas oleh kata-katanya. Rasanya seolah rahasia tersembunyiku baru saja dikuliti habis olehnya. Aku membuka mulut, tetapi tak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Dia telah melihat kerapuhan dan kepura-puraanku."Tapi Bu Merry," katanya sambil tiba-tiba membungkuk. Embusan napas hangatnya menerpa pipiku."Sekarang dia sudah tidur."Pikiranku mendadak kosong, aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan nanar. Tangan besarnya yang baru saja menggendong bayiku itu, kini mengelus pinggangku dengan kehangatan yang membakar tubuhku.Tubuhku kaku, seolah terpaku di lantai. Ibu jarinya mengusap lembut lekuk pinggangku dari balik baju tidur sutra. Rasa geli yang menjalar seperti sengatan listrik itu seketika merambat ke seluruh tubuh."Sekarang..." Bibirnya hampir menyentuh telingaku, suaranya serak bagaikan bisikan iblis. Dia melanjutkan, "Nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita."Klik.Pintu terbuka. Harvey pulang.Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada otakku. Sepert

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 5

    Bagaimanapun caranya, Darrel harus pindah. Namun, bukannya Harvey yang pulang, aku malah menerima telepon darinya.Di seberang sana, suaranya terdengar dingin dan tidak sabar seperti biasanya."Ada pertukaran akademis mendesak di kampus, aku harus pergi ke luar kota selama sekitar setengah bulan.""Urus urusan rumah baik-baik dan tolong jaga mahasiswaku."Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung mematikan telepon. Aku menggenggam ponselku dan terpaku di tempat. Perasaanku campur aduk. Ada rasa kehilangan. Namun anehnya, ada secercah kelegaan yang sulit kujelaskan.Ketidakhadiran Harvey, berarti aku tidak perlu menghadapi sikap dingin dan hinaannya.Namun, itu juga berarti di rumah ini hanya tersisa aku dan Darrel, pria yang menatapku seolah ingin memangsaku.Memikirkan hal ini, membuat jantungku berdegup kencang. Antara takut dan munculnya sebuah harapan tersembunyi yang bahkan aku sendiri tidak berani mengakuinya.Hari-hari berikutnya menjadi siksaan yang tiada akhir. Darrel tidak

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 4

    "Ah!"Aku memekik pelan. Seluruh darah di tubuhku seakan naik ke ubun-ubun. Rasa malu seperti ombak raksasa yang menenggelamkanku. Dia adalah mahasiswa bimbingan Harvey. Usianya baru dua puluh satu tahun. Bagaimana mungkin aku ....Bagaimana mungkin aku bisa ....Aku berusaha meronta sekuat tenaga, menggunakan tangan dan kaki untuk mendorongnya."Darrel, lepaskan aku! Kamu sudah gila!"Baginya, perlawananku tak lebih dari sekadar cakaran kucing yang sama sekali tidak mengancam. Darrel dengan mudah menjepit pergelangan tanganku, mengangkatnya ke atas kepala, dan menindihku dengan satu tangan saja."Oueee!"Suara tangis anakku yang kencang tiba-tiba terdengar dari kamar utama. Suara itu bagaikan seember air es yang menyiram habis semua api gairah di tubuhku. Di ruang tamu, terdengar sayup-sayup suara pengasuh yang sedang menenangkan bayiku.Gerakan Darrel terhenti. Kilatan kekesalan karena terganggu sesaat melintas di matanya. Aku menggunakan seluruh tenagaku untuk mendorongnya, la

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 3

    Darrel memanfaatkan kesempatan itu untuk menumbukkan tubuhnya berkali-kali. Jika tadi aku hanya menyadari siluetnya yang menonjol, kini setelah dia menempel erat, aku bisa merasakan dengan jelas betapa keras dan kokohnya dia.Secara naluriah, tubuhku ingin bersandar padanya. Namun, aku tetap berusaha menahan diri dan berkata, "Kamu, cepat turunkan aku!"Pria di belakangku terkekeh pelan."Bu Merry mau bantal yang mana? Aku gendong saja, lalu lihat ke atas sana."Belum sempat aku menolak, lengannya yang kuat sudah mengangkat tubuhku, memosisikanku tepat di depan bagian paling atas lemari pakaian.Lengan yang menyangga bokongku itu terasa sangat panas.Pria ini, kenapa seluruh tubuhnya bisa sekeras dan sepanas ini?Dengan gugup, aku meraih dua buah bantal dan memintanya menurunkanku. Namun, aku tidak menyangka, dia justru langsung menjatuhkanku ke atas tempat tidur. Gaun tidurku tersingkap ke atas hingga menutupi wajahku.Aku buru-buru ingin menyingkapnya, tetapi aku merasakan embusan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status