Share

Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah
Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah
Author: Yellow Pocket

Bab 1

Author: Yellow Pocket
Namaku Merry, usia 34 tahun. Aku sudah menikah dan memiliki putra berusia lima bulan.

Sejak melahirkan bayi kecilku, rasanya ada api tak kasat mata yang menyala di dalam tubuhku dan tak pernah bisa padam.

Saat menyusui, tubuhku sering terasa mati rasa. Rasa panas itu akan merambat naik sepanjang tulang belakang.

Dadaku sering membengkak hebat, membuat bajuku selalu berbau manis yang amis.

Saat aku di luar rumah, tatapan pria-pria di sekitarku seolah memiliki kail yang ingin menguliti pakaianku.

Secara fisik, kondisiku memang tidak buruk. Tubuhku bisa dibilang sangat berisi.

Setelah melahirkan, alih-alih kehilangan bentuk, tubuhku justru menjadi lebih padat berisi.

Larut malam, setelah anakku terlelap, aku membalikkan badan dan merapatkan tubuh ke punggung suamiku, Harvey Karta. Tanganku bergerak turun dengan gelisah.

Tubuhnya menegang sesaat. Dia mencengkeram pergelangan tanganku dan mendorongku menjauh.

"Bau susu di mana-mana, sampai tumpah ke badanku. Nggak nyaman sekali."

Suaranya penuh ketidaksabaran saat melanjutkan, "Jangan macam-macam. Besok mahasiswaku akan menginap di sini selama beberapa hari. Cepat tidur."

Aku terdorong kembali ke sisi ranjang yang lain. Celah kosong yang memisahkan kami terasa sangat dingin hingga membuat hatiku gelisah.

Keesokan harinya, aku bangun dengan kepala yang terasa berat.

Saat aku mendorong pintu kamar mandi, suara gemercik air di dalam tiba-tiba berhenti.

Seorang pria asing bertelanjang dada sedang berdiri menyamping membelakangiku.

Bahunya lebar, pinggangnya ramping, dengan garis otot yang terlihat jelas dan tegas.

Pria itu sedang mengguyur lehernya dengan air dingin. Butiran air mengalir menyusuri punggungnya yang kokoh sebelum menghilang di balik pinggang celananya yang basah kuyup.

Tenggorokanku mendadak kering, aku menelan ludah.

Dia berbalik, butiran air terciprat ke wajahku.

Wajahnya sangat tampan, dengan sudut mata dan alis yang menyiratkan sisi liar yang sulit diatur.

Jantungku berdetak tak keruan.

Aku mematung di ambang pintu, bingung harus meletakkan tangan dan kakiku di mana.

Namun, dia justru melangkah lurus ke arahku.

"Halo, Bu Merry. Saya Darrel Tudis, mahasiswa Pak Harvey."

Dia sangat tinggi. Saat berdiri di depanku, aroma hormon pria muda menusuk hidungku dengan dominan.

Kakiku terasa lemas. Rasa panas dan kesemutan yang familier itu kembali merayapi bagian terdalam tubuhku.

Aku refleks mundur, tetapi pinggang belakangku ditahan oleh sebuah tangan besar yang hangat.

"Hati-hati, Bu Merry. Di belakangmu ada tembok."

Dia memegang tanganku, suaranya terdengar berat dan dalam.

Tatapanku tak terkendali dan meluncur ke arah celananya yang basah kuyup. Di sana, sebuah siluet terlihat sangat jelas.

Pipiku seketika terbakar.

Bagaimana bisa ada alat sebesar itu?

Tiba-tiba dia menunduk, mengendus pelan di sisi leherku, lalu menghela napas puas.

"Aroma tubuh Bu Merry enak sekali, wangi susu."

Aku baru menyadari bahwa baju tidur di bagian dadaku sudah basah kuyup karena ASI yang merembes.

Seperti tersengat listrik, aku mendorongnya dan berbalik ingin lari.

Namun, kakiku tidak mau berkompromi. Tubuhku limbung dan jatuh tepat ke pelukannya.

Dia sigap merangkul pinggangku. Dada bidangnya terasa sangat panas.

Telapak tanganku menyentuh lengannya yang keras, membuat seluruh tubuhku gemetar.

Sudah berapa lama tidak ada pria yang memelukku seerat ini?

Aku tak tahan lagi. Sebuah erangan parau keluar dari tenggorokanku, yang segera kututup dengan tangan karena malu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 8

    Kami bergerak secara terpisah. Aku menyelinap ke ruang kerja Harvey dan menyalakan komputernya. Produk investasi, akun saham, reksa dana yang dia sombongkan sebagai cara mengelola uang keluargaku, aku tahu semua kata sandinya.Satu per satu uang itu kutransfer ke rekeningku hingga kosong. Baru setelah saldo akun terakhir menjadi nol, aku mengembuskan napas panjang.Benar saja, kurang dari setengah jam kemudian, telepon Harvey masuk dan dia berbicara dengan suara gusar, "Merry! Di mana uang simpanan rumah tangga? Apa yang kamu lakukan dengan uang itu?""Aku menunggumu pulang," kataku, lalu menutup telepon.Dia pulang secepat kilat, menendang pintu hingga terbuka, dan menunjuk hidungku sambil memaki, "Kamu sudah gila?! Siapa yang menyuruhmu menyentuh uang itu?! Apa maumu?!""Segera transfer balik! Jangan berani-berani menyentuhnya! Itu semua uangku!"Aku duduk di sofa, lalu melemparkan surat cerai yang sudah kusiapkan bersama tumpukan foto itu ke atas meja kopi di depannya. Foto-foto

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 7

    Aku berjalan kembali ke kamar tidur, menutup pintu. Saat itulah air mata jatuh seperti untaian mutiara yang putus, membasahi pipiku dalam keheningan.Kami telah menjadi suami istri selama bertahun-tahun. Meski hubungan kami terasa hambar, bagiku dia selalu baik, baik kepadaku maupun keluargaku. Dia perhatian, sopan, dan tampak sempurna tanpa cela. Itulah sebabnya orang tuaku sangat memercayainya, hingga menyerahkan seluruh tabungan seumur hidup mereka kepadanya untuk diinvestasikan.Namun pada akhirnya, dia hanya menginginkan harta keluargaku dan menjadikanku alat reproduksi gratis. Aku tidak terima. Rasa tidak adil yang luar biasa nyaris menenggelamkanku.Saat Harvey selesai mandi dan masuk ke kamar, aku segera memejamkan mata, berpura-pura tertidur. Dia berbaring di sampingku, napasnya teratur, dan segera terlelap dengan nyenyak. Aku membuka mata, menatap tajam wajahnya dari samping di tengah kegelapan.Pria inilah yang telah menghancurkan segalanya.Aku mengambil ponselnya.

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 6

    Jantungku seolah diremas oleh kata-katanya. Rasanya seolah rahasia tersembunyiku baru saja dikuliti habis olehnya. Aku membuka mulut, tetapi tak ada satu kata pun yang sanggup keluar. Dia telah melihat kerapuhan dan kepura-puraanku."Tapi Bu Merry," katanya sambil tiba-tiba membungkuk. Embusan napas hangatnya menerpa pipiku."Sekarang dia sudah tidur."Pikiranku mendadak kosong, aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan nanar. Tangan besarnya yang baru saja menggendong bayiku itu, kini mengelus pinggangku dengan kehangatan yang membakar tubuhku.Tubuhku kaku, seolah terpaku di lantai. Ibu jarinya mengusap lembut lekuk pinggangku dari balik baju tidur sutra. Rasa geli yang menjalar seperti sengatan listrik itu seketika merambat ke seluruh tubuh."Sekarang..." Bibirnya hampir menyentuh telingaku, suaranya serak bagaikan bisikan iblis. Dia melanjutkan, "Nggak ada lagi yang bisa menghalangi kita."Klik.Pintu terbuka. Harvey pulang.Tubuhku bereaksi lebih cepat daripada otakku. Sepert

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 5

    Bagaimanapun caranya, Darrel harus pindah. Namun, bukannya Harvey yang pulang, aku malah menerima telepon darinya.Di seberang sana, suaranya terdengar dingin dan tidak sabar seperti biasanya."Ada pertukaran akademis mendesak di kampus, aku harus pergi ke luar kota selama sekitar setengah bulan.""Urus urusan rumah baik-baik dan tolong jaga mahasiswaku."Tanpa menunggu jawabanku, dia langsung mematikan telepon. Aku menggenggam ponselku dan terpaku di tempat. Perasaanku campur aduk. Ada rasa kehilangan. Namun anehnya, ada secercah kelegaan yang sulit kujelaskan.Ketidakhadiran Harvey, berarti aku tidak perlu menghadapi sikap dingin dan hinaannya.Namun, itu juga berarti di rumah ini hanya tersisa aku dan Darrel, pria yang menatapku seolah ingin memangsaku.Memikirkan hal ini, membuat jantungku berdegup kencang. Antara takut dan munculnya sebuah harapan tersembunyi yang bahkan aku sendiri tidak berani mengakuinya.Hari-hari berikutnya menjadi siksaan yang tiada akhir. Darrel tidak

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 4

    "Ah!"Aku memekik pelan. Seluruh darah di tubuhku seakan naik ke ubun-ubun. Rasa malu seperti ombak raksasa yang menenggelamkanku. Dia adalah mahasiswa bimbingan Harvey. Usianya baru dua puluh satu tahun. Bagaimana mungkin aku ....Bagaimana mungkin aku bisa ....Aku berusaha meronta sekuat tenaga, menggunakan tangan dan kaki untuk mendorongnya."Darrel, lepaskan aku! Kamu sudah gila!"Baginya, perlawananku tak lebih dari sekadar cakaran kucing yang sama sekali tidak mengancam. Darrel dengan mudah menjepit pergelangan tanganku, mengangkatnya ke atas kepala, dan menindihku dengan satu tangan saja."Oueee!"Suara tangis anakku yang kencang tiba-tiba terdengar dari kamar utama. Suara itu bagaikan seember air es yang menyiram habis semua api gairah di tubuhku. Di ruang tamu, terdengar sayup-sayup suara pengasuh yang sedang menenangkan bayiku.Gerakan Darrel terhenti. Kilatan kekesalan karena terganggu sesaat melintas di matanya. Aku menggunakan seluruh tenagaku untuk mendorongnya, la

  • Suamiku Menghinaku Seperti Sapi Perah   Bab 3

    Darrel memanfaatkan kesempatan itu untuk menumbukkan tubuhnya berkali-kali. Jika tadi aku hanya menyadari siluetnya yang menonjol, kini setelah dia menempel erat, aku bisa merasakan dengan jelas betapa keras dan kokohnya dia.Secara naluriah, tubuhku ingin bersandar padanya. Namun, aku tetap berusaha menahan diri dan berkata, "Kamu, cepat turunkan aku!"Pria di belakangku terkekeh pelan."Bu Merry mau bantal yang mana? Aku gendong saja, lalu lihat ke atas sana."Belum sempat aku menolak, lengannya yang kuat sudah mengangkat tubuhku, memosisikanku tepat di depan bagian paling atas lemari pakaian.Lengan yang menyangga bokongku itu terasa sangat panas.Pria ini, kenapa seluruh tubuhnya bisa sekeras dan sepanas ini?Dengan gugup, aku meraih dua buah bantal dan memintanya menurunkanku. Namun, aku tidak menyangka, dia justru langsung menjatuhkanku ke atas tempat tidur. Gaun tidurku tersingkap ke atas hingga menutupi wajahku.Aku buru-buru ingin menyingkapnya, tetapi aku merasakan embusan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status