LOGINIbuku adalah seorang seniman forensik yang paling andal di kantor polisi. Dia tegas, berintegritas, dan sangat membenci kejahatan. Namun, ketika menerima telepon darurat dariku, dia malah menegurku dengan tegas, “Kamu jelas-jelas tahu ini hari ulang tahun adikmu yang baru mencapai usia dewasa, tapi kamu malah mau pakai trik kotor ini untuk merusak suasana! Kalau kamu benar-benar diculik, biar saja penculik itu membunuhmu!” Dia yakin bahwa ini hanyalah lelucon dan menolak datang ke kantor polisi untuk membuat sketsa. Akhirnya, dia melewatkan kesempatan terbaik untuk menyelamatkanku dan aku disiksa hingga mati. Setelah laporan tes DNA keluar, dia bergegas pergi ke tempat kejadian dengan langkah yang goyah. Berdasarkan tulang-tulangku, dia mulai menggambar sketsaku dengan tangan yang gemetar. “Ini nggak mungkin adalah Janice! Aku pasti salah gambar!” Namun, tidak peduli berapa kali dia menggambar, sketsa yang dihasilkannya menampilkan dengan jelas wajahku saat aku meninggal. Ibuku yang selalu membenciku akhirnya meneteskan air mata.
View MoreAku tidak merasa terkejut. Selama ini, Ibu memang begitu menyayangi Jessica.Namun, di malam hari, Ibu mengunci diri dalam kamarku. Dia mengambil fotoku dan menyentuhnya dengan jari yang gemetar.“Maaf. Maaf, Janice. Selama ini, kamu benar-benar sudah menderita. Kami yang berutang padamu. Ibu bersalah padamu. Tunggu saja, Ibu akan bawa adikmu pergi menebus kesalahan kami padamu.”Kemudian, dia membuka laciku dan mengeluarkan sebotol obat. Selama beberapa hari terakhir, dia selalu terbangun karena mimpi buruk. Jadi, dia pergi ke rumah sakit dan dokter memberikan obat tidur kepadanya.Aku melihat Ibu melarutkan sebotol obat tidur yang sudah dihancurkannya dalam air. Keesokan harinya, dia memasakkan semeja penuh makanan kesukaan Jessica yang semuanya mengandung obat tidur. Sehabis makan, Jessica pun mengantuk dan berjalan terhuyung-huyung ke kamarnya untuk tidur.Sementara itu, Ibu membuka pintu kamar Jessica dan mengeluarkan ponselnya. Kemudian, dia mengunci pintu rumah dari dalam, menut
Keesokan harinya, Ibu bangun sangat pagi dan pergi ke pasar. Berhubung sering membeli makanan laut, begitu melihatnya, seorang pemilik toko langsung merekomendasikan udang yang besar dan segar kepadanya.“Kak Sarah, belilah beberapa ekor udang ini. Aku jamin putrimu pasti suka!”Ibu menjawab dengan terkejut, “Putriku nggak suka makan udang. Dia alergi makanan laut.”Pemilik toko itu pun bertanya dengan terkejut, “Nggak mungkin. Bukannya Jessica paling suka makan udang?”Ibu tidak lagi berbicara dan langsung berjalan ke arah toko sayur. Dia berjalan bolak-balik di sana. Setelah mengambil wortel dan paprika, dia meletakkannya lagi. Dia mengulangi tindakan aneh ini beberapa kali.Akhirnya, pemilik toko bertanya, “Dik, kamu mau masak apa? Kupilihkan bahannya untukmu.”Ibu terpaku di tempat dan berusaha mengingat sesuatu. Tiba-tiba, aku mengerti. Dia tidak tahu makanan apa yang kusukai. Sejak kecil, aku tidak memiliki hak untuk memilih makanan apa yang ingin kumakan seperti Jessica, juga ti
Jessica mulai bersandiwara lagi. Sebelumnya, ini adalah cara yang paling sering digunakannya untuk menghadapiku. Dia sangat suka berbuat seperti ini. Dia sengaja mengungkit hal-hal ini di depan Ibu dan menyiratkan aku tetap bisa hidup dengan baik tanpa dampingan mereka. Aku sangat baik terhadap orang liar, tetapi sangat dingin dan pendiam di depan mereka. Dengan begitu, konflik di antara aku dan Ibu akan makin banyak dan Ibu juga akan makin membenciku.Namun, caranya itu tiba-tiba tidak berguna lagi hari ini. Ibu tiba-tiba menoleh, lalu menatapnya dengan dingin dan mengerikan.“Ibu ....”Baru saja Jessica memanggil Ibu, sebuah tamparan yang keras langsung mendarat di pipinya. Dia pun tercengang. Ibu sedang menggenggam rekam percakapanku dengan psikiater.[ Kapan kamu mulai melukai dirimu sendiri? ][ Waktu aku SMP kelas 3. ][ Kenapa bisa timbul pemikiran seperti ini? ][ Karena adikku memfitnahku dan ibuku nggak percaya sama aku. Aku nggak curi uangnya, tapi dia sengaja memfitnahku.
Setelah diinterogasi, Erwin meminta untuk menemui Ibu. Ibu juga menyetujuinya. Saat melihat Ibu, Erwin tertawa dan mengejek, “Wah, akhirnya kamu nangis juga? Kamu mulai sedih untuk gadis itu? Ckckck, kasihan sekali. Sampai detik terakhir sebelum dia mati, dia masih tidak berhenti memanggil Ibu.”Dia meniru keadaanku dan lanjut berkata, “Begini. Dia nggak berhenti teriak ‘Ibu, tolong aku’ sambil menangis dan meronta. Oh iya, kamu belum tahu, ‘kan? Awalnya, aku telepon putri bungsumu duluan. Tapi, dia menyuruhku untuk langsung membunuh kakaknya. Katanya, kamu nggak sayang sama kakaknya. Meski dia mati, kamu juga nggak akan nangis.”“Hahaha! Sarah, ternyata anak yang kamu besarkan sama nggak berperasaannya denganmu! Kalian itu sampah masyarakat!” Setelah mendengar tawa Erwin, Ibu pun membungkuk dengan kesakitan dan memuntahkan darah. Melihat hal ini, Erwin bertambah gembira.Setelah sesaat, Ibu baru menyeka darah di sudut bibirnya dan tiba-tiba berujar, “Dulu, orang yang kakakmu minta a






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.