LOGINIbuku adalah seorang seniman forensik yang paling andal di kantor polisi. Dia tegas, berintegritas, dan sangat membenci kejahatan. Namun, ketika menerima telepon darurat dariku, dia malah menegurku dengan tegas, “Kamu jelas-jelas tahu ini hari ulang tahun adikmu yang baru mencapai usia dewasa, tapi kamu malah mau pakai trik kotor ini untuk merusak suasana! Kalau kamu benar-benar diculik, biar saja penculik itu membunuhmu!” Dia yakin bahwa ini hanyalah lelucon dan menolak datang ke kantor polisi untuk membuat sketsa. Akhirnya, dia melewatkan kesempatan terbaik untuk menyelamatkanku dan aku disiksa hingga mati. Setelah laporan tes DNA keluar, dia bergegas pergi ke tempat kejadian dengan langkah yang goyah. Berdasarkan tulang-tulangku, dia mulai menggambar sketsaku dengan tangan yang gemetar. “Ini nggak mungkin adalah Janice! Aku pasti salah gambar!” Namun, tidak peduli berapa kali dia menggambar, sketsa yang dihasilkannya menampilkan dengan jelas wajahku saat aku meninggal. Ibuku yang selalu membenciku akhirnya meneteskan air mata.
View More"Harusnya aku yang berada di ranjang itu, Tuan Herman," batin Bambang setiap kali melihat pria malang itu.
Bambang, pria berusia tiga puluh tahun dengan otot dada dan lengan yang tercetak jelas di balik kamus polo hitam ketatnya, baru saja keluar dari ruangan Tuan Herman, majikannya. Di ruang tengah, Diana, sang Nyonya rumah, berdiri gemetar ketakutan dengan punggung menempel rapat pada dinding. Ia hanya mengenakan lingerie baju tidur sutra berwarna merah marun yang sangat tipis, nyaris menerawang, dengan potongan kerah berenda yang teramat rendah. Namun, apa yang Bambang lihat di ruang tengah malam ini benar-benar menguji iman sekaligus memancing naluri pembunuhnya. Siapa pria normal yang darahnya tidak berdesir melihat istri majikan yang begitu mempesona, sedang rapuh, dan hanya menggunakan lingerie? Melihat itu, Bambang tidak ada pikiran apapun karena ia masih terngiang janji suci pada Tuan Herman yang lumpuh total, akibat kecelakaan tragis dua tahun lalu demi menyelamatkan nyawa Bambang. Sejak saat itu, Bambang bersumpah untuk mengambil alih peran kepala keluarga, menjaga seisi rumah ini, dan terutama, melindungi nyonya rumah dari kerasnya dunia luar. "Tagihan lima ratus juta ini kamu sudah menunggak enam bulan! Kapan kamu mau bayar, Hah?!" bentak salah satu preman botak dengan codet di pipinya, menunjuk-nunjuk kasar tepat ke wajah cantik Diana. Diana menyilangkan kedua lengannya di depan dada, berusaha keras menutupi miliknya yang terus dipandangi preman satunya. "A-aku tidak pernah meminjam sebanyak itu! Aku… aku hanya meminjam 150 juta untuk biaya rumah sakit. Kenapa tiba-tiba berubah jadi 500 juta, 350 juta dari mana?" suaranya bergetar hebat karena menahan tangis. Kedua penagih itu tertawa meremehkan, tawa kasar yang bergema memuakkan di ruangan mewah tersebut. Kamu ini bodoh atau apa, Nyonya?” sentak preman yang berbadan lebih besar. “Itu namanya bunga pinjaman bulanan dan denda keterlambatan! Kalau kamu tidak sanggup bayar, jangan sok-sokan meminjam uang!” Mata mereka kemudian memperhatikan sekujur tubuh Diana, menikmati pemandangan paha mulus dan belahan dada wanita matang itu. Diana langsung menundukkan kepalanya, berusaha keras menahan air mata agar tidak jatuh. Selama dua tahun terakhir, hidupnya memang terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung usai. Suaminya lumpuh, kondisi mentalnya hancur, dan pelariannya pada kebiasaan belanja demi meredakan stres justru menjebaknya dalam lintah darat. Awalnya hutang itu memang hanya seratus lima puluh juta, tapi sekarang angkanya membengkak secara tidak masuk akal. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa, selain berharap ada seseorang yang akan menolongnya. "Kalau gak bisa bayar cash hari ini, semua aset di rumah ini akan kami sita! Atau..." Preman botak itu menjilat bibirnya, menunjukkan dia sudah bernafsu. Maju memangkas jarak, preman itu menjulurkan tangan, ingin meraih pinggang Diana "...membayar pakai badanmu malam ini juga cukup untuk menutupi cicilan bulan ini, Nyonya. Membayangkan tubuhmu menggeliat di bawahku, rasanya pantas dihargai mahal, apalagi kamu sangat cantik." Mendengar ancaman tersebut, Diana semakin merapatkan pelukannya pada tubuhnya sendiri. “Aku pasti akan bayar, tapi tolong... berikan aku waktu tambahan sedikit lagi.” Tepat ketika kedua penagih itu melangkah maju untuk memojokkan Diana lebih jauh, suara tepukan tangan yang pelan namun berirama terdengar dari arah belakang. "Apa yang mau kalian sita?" tanya Bambang, seraya berjalan mendekat ke arah Diana dan dua preman itu. “Siapa kamu?!” teriak si preman besar, tampak tidak suka ada orang yang berani mencampuri urusan mereka. Bambang melirik sekilas ke arah Diana, lalu tersenyum miring. “Aku? Itu tidak penting untuk sekarang. Jawab saja dulu pertanyaanku tadi, apa yang mau kalian sita dari Nyonya-ku yang cantik ini?!” “Tentu saja rumah mewah ini yang akan kami sita!” jawab preman kedua dengan nada sombong. “Kalian punya sertifikat rumah ini sampai berani mau menyita?” balas Bambang santai. “Tentu saja kami punya hak. Kami memegang dokumen perjanjian utangnya dan jelas sekali bahwa Si Matre ini tanda tangan kesepakatan!” Si preman besar langsung mengacungkan sebuah map berisi kertas ke udara. Bambang mengernyitkan dahinya, lalu bertanya memastikan. “Jadi, kalian datang kemari dan berteriak-teriak hanya bermodalkan selembar dokumen perjanjian itu?” Kedua penagih itu mengangguk, tapi sorot mata mereka tampak menantang, seolah siap untuk menghajar Bambang jika ia berani melawan. Melihat respons mereka, Bambang menghela napas panjang. Dalam hitungan detik, ia sudah melesat dan berada tepat di depan si preman besar. BUGH! Tanpa aba-aba sedikit pun, tinju kanan Bambang melayang dengan kecepatan penuh dan menghantam wajah pria itu. Preman bertubuh besar itu langsung terlempar ke belakang dan jatuh menghantam lantai dengan keras. Rekannya yang terkejut mencoba untuk ikut menyerang, namun sebuah tendangan telak dari Bambang lebih dulu bersarang di dadanya. Pria itu pun ikut tersungkur menahan sakit, persis seperti preman botak yang berbadan kekar tadi. Keadaan berbalik sepenuhnya. Bambang mengambil dokumen kontrak yang tadi terjatuh dari tangan mereka, lalu membacanya sekilas. “Bukankah kalian berdua ini benar-benar hebat? Mirip sekali dengan tukang sulap. Jika kalian bisa melipatgandakan uang secepat ini, boleh ajari aku caranya?” Kedua penagih itu terdiam karena pukulan Bambang. Tubuh mereka menolak untuk diajak berdiri setelah menerima pukulan telak barusan. “Biar kutebak,” lanjut Bambang dengan suara tegas. “Jika pinjaman pokok seratus lima puluh juta bisa berubah menjadi lima ratus juta hanya dalam enam bulan, maka bunga yang kalian tetapkan pasti 23 persen per bulan. Ditambah dendanya 93 persen. Benar, kan?” Mereka hanya bisa saling pandang dengan tatapan merinding. “Lagipula, draf perjanjian ini bentuknya sudah seperti dokumen palsu. Kertas ini tidak akan punya kekuatan hukum apa pun untuk menyita rumah ini,” Bambang mendengkus pelan lalu kembali berdiri tegak. Ah, ia sampai lupa mengecek kondisi majikannya. "Kamu nggak apa, Nyonya? Ada yang luka, apa ada yang berkurang darimu karena " tanyanya sambil menoleh, mencoba menyeringai untuk menenangkan. Diana masih mematung di tempatnya. Kejadian barusan berlangsung sangat cepat sehingga otaknya masih memproses apa yang sedang terjadi. Setelah mencemooh, Bambang lalu menunduk menatap mereka. “Kenapa diam saja? Aku yang salah hitung, atau kalian yang terlalu bodoh dan hanya mengandalkan badan kekar kalian untuk mengancam?” Bambang sudah sangat paham dengan pola seperti ini. Sebagai lulusan hukum dan pernah bekerja seabgai seorang konsultan, dia sering menangani kasus perpinjolan setiap bulan, masalah pinjaman online ilegal adalah makanan sehari-harinya. Ia tahu persis bahwa dua kecoak busuk di depannya ini hanyalah pesuruh biasa yang tidak akan berani bertindak lebih jauh. Lebih baik ia selesaikan sekarang daripada masalahnya melebar ke mana-mana. "Kalian lihat ini," ucap Bambang datar. Video itu menampilkan dengan jelas rekaman dari kamera CCTV saat mereka berdua mengancam dan memeras Diana, bahkan hampir melecehkannya secara fisik. Melihat bukti tersebut, salah satu preman mencoba menggapai ponsel Bambang dengan panik. Namun tanpa ampun, Bambang langsung menginjak tangan preman itu kuat-kuat. “Sekarang, dengarkan aku baik-baik. Aku memegang bukti dokumen palsu kalian, ditambah rekaman video ancaman dan percobaan pemerasan ini. Aku bisa saja melaporkan masalah ini pada Otoritas Keuangan dan polisi hari ini juga. Tapi, kebetulan aku sedang berbaik hati.” Bambang diam sejenak, lalu meneruskan kalimatnya. “Anggap pukulan tadi hukuman untuk kalian karena telah membuat Nyonyaku menangis. Oh iya, perihal hutang, aku akan membayar sesuai nominal utang pokok, tanpa bunga dan denda gila yang tercantum di sini.” Bambang menyodorkan layar ponselnya, menunjukkan bukti transfer yang baru saja diproses. “Utangnya lunas. Ingat, jangan pernah berpikir untuk kembali ke rumah ini lagi, kalian dengar ancamanku ini, kan!?” ancam Bambang sambil menyeringai dingin. Mendengar ancaman itu, kedua penagih utang tersebut langsung bangkit dan berlari tunggang-langgang keluar dari rumah Diana. Setelah suasana kembali sepi, Diana yang sedari tadi masih shock karena menahan beban emosinya akhirnya tidak kuat lagi. Tubuhnya merosot dan jatuh ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Rasa malunya jauh lebih besar, karena aib yang selalu ia sembunyikan kini malah diketahui oleh Bambang. Melihat wanita itu menangis, Bambang melangkah perlahan mendekati Diana, memeluknya, dan mengelus kepalanya. Sebagai wanita rapuh yang 2 tahun tidak pernah mendapat belaian suami, Diana mulai merasakan kenyamanan itu pada diri Bambang. Bahkan, andai Bambang mencium keningnya, Diana tidak akan melawan, sebagai ucapan terima kasih. Diana tahu Bambang tidak mau melakukan hal di luar batas kewajaran itu, mengingat Bambang membawa moral hutang nyawa suaminya. Karena itulah, Diana melepas pelukan dan…Aku tidak merasa terkejut. Selama ini, Ibu memang begitu menyayangi Jessica.Namun, di malam hari, Ibu mengunci diri dalam kamarku. Dia mengambil fotoku dan menyentuhnya dengan jari yang gemetar.“Maaf. Maaf, Janice. Selama ini, kamu benar-benar sudah menderita. Kami yang berutang padamu. Ibu bersalah padamu. Tunggu saja, Ibu akan bawa adikmu pergi menebus kesalahan kami padamu.”Kemudian, dia membuka laciku dan mengeluarkan sebotol obat. Selama beberapa hari terakhir, dia selalu terbangun karena mimpi buruk. Jadi, dia pergi ke rumah sakit dan dokter memberikan obat tidur kepadanya.Aku melihat Ibu melarutkan sebotol obat tidur yang sudah dihancurkannya dalam air. Keesokan harinya, dia memasakkan semeja penuh makanan kesukaan Jessica yang semuanya mengandung obat tidur. Sehabis makan, Jessica pun mengantuk dan berjalan terhuyung-huyung ke kamarnya untuk tidur.Sementara itu, Ibu membuka pintu kamar Jessica dan mengeluarkan ponselnya. Kemudian, dia mengunci pintu rumah dari dalam, menut
Keesokan harinya, Ibu bangun sangat pagi dan pergi ke pasar. Berhubung sering membeli makanan laut, begitu melihatnya, seorang pemilik toko langsung merekomendasikan udang yang besar dan segar kepadanya.“Kak Sarah, belilah beberapa ekor udang ini. Aku jamin putrimu pasti suka!”Ibu menjawab dengan terkejut, “Putriku nggak suka makan udang. Dia alergi makanan laut.”Pemilik toko itu pun bertanya dengan terkejut, “Nggak mungkin. Bukannya Jessica paling suka makan udang?”Ibu tidak lagi berbicara dan langsung berjalan ke arah toko sayur. Dia berjalan bolak-balik di sana. Setelah mengambil wortel dan paprika, dia meletakkannya lagi. Dia mengulangi tindakan aneh ini beberapa kali.Akhirnya, pemilik toko bertanya, “Dik, kamu mau masak apa? Kupilihkan bahannya untukmu.”Ibu terpaku di tempat dan berusaha mengingat sesuatu. Tiba-tiba, aku mengerti. Dia tidak tahu makanan apa yang kusukai. Sejak kecil, aku tidak memiliki hak untuk memilih makanan apa yang ingin kumakan seperti Jessica, juga ti
Jessica mulai bersandiwara lagi. Sebelumnya, ini adalah cara yang paling sering digunakannya untuk menghadapiku. Dia sangat suka berbuat seperti ini. Dia sengaja mengungkit hal-hal ini di depan Ibu dan menyiratkan aku tetap bisa hidup dengan baik tanpa dampingan mereka. Aku sangat baik terhadap orang liar, tetapi sangat dingin dan pendiam di depan mereka. Dengan begitu, konflik di antara aku dan Ibu akan makin banyak dan Ibu juga akan makin membenciku.Namun, caranya itu tiba-tiba tidak berguna lagi hari ini. Ibu tiba-tiba menoleh, lalu menatapnya dengan dingin dan mengerikan.“Ibu ....”Baru saja Jessica memanggil Ibu, sebuah tamparan yang keras langsung mendarat di pipinya. Dia pun tercengang. Ibu sedang menggenggam rekam percakapanku dengan psikiater.[ Kapan kamu mulai melukai dirimu sendiri? ][ Waktu aku SMP kelas 3. ][ Kenapa bisa timbul pemikiran seperti ini? ][ Karena adikku memfitnahku dan ibuku nggak percaya sama aku. Aku nggak curi uangnya, tapi dia sengaja memfitnahku.
Setelah diinterogasi, Erwin meminta untuk menemui Ibu. Ibu juga menyetujuinya. Saat melihat Ibu, Erwin tertawa dan mengejek, “Wah, akhirnya kamu nangis juga? Kamu mulai sedih untuk gadis itu? Ckckck, kasihan sekali. Sampai detik terakhir sebelum dia mati, dia masih tidak berhenti memanggil Ibu.”Dia meniru keadaanku dan lanjut berkata, “Begini. Dia nggak berhenti teriak ‘Ibu, tolong aku’ sambil menangis dan meronta. Oh iya, kamu belum tahu, ‘kan? Awalnya, aku telepon putri bungsumu duluan. Tapi, dia menyuruhku untuk langsung membunuh kakaknya. Katanya, kamu nggak sayang sama kakaknya. Meski dia mati, kamu juga nggak akan nangis.”“Hahaha! Sarah, ternyata anak yang kamu besarkan sama nggak berperasaannya denganmu! Kalian itu sampah masyarakat!” Setelah mendengar tawa Erwin, Ibu pun membungkuk dengan kesakitan dan memuntahkan darah. Melihat hal ini, Erwin bertambah gembira.Setelah sesaat, Ibu baru menyeka darah di sudut bibirnya dan tiba-tiba berujar, “Dulu, orang yang kakakmu minta a
Seminggu kemudian, pihak polisi akhirnya mendapatkan hasil laporan DNA-ku. Saat mereka menelepon Ibu, dia sedang memasakkan sarapan untuk Jessica.Aku berdiri di samping dengan ekspresi datar dan melihatnya menghidangkan sarapan yang dibuatnya dengan sepenuh hati ke meja. Sebab, Jessica sangat memen
Sebenarnya, aku pernah menanyakan pertanyaan yang sama sekali. Pada saat itu, aku baru masuk SMP kelas 3. Itu adalah tahun belajar yang sangat intens.Ibu jatuh sakit dan membutuhkan biaya pengobatan puluhan juta. Demi meringankan bebannya, aku tidak berhenti mengikuti lomba di berbagai kota untuk m
Jessica menyimpan kado itu ke kamarnya, lalu mengajukan permintaan pada Ibu, “Ibu, boleh temani aku pergi berlibur demi merayakan kelulusanku?”Jessica membuka sebuah agenda dari ponselnya yang berisi daftar kota-kota yang ingin dikunjunginya. Dia sibuk memperkenalkan setiap kota dengan semangat. Na
Setelah merasakan kebencian Ibu terhadapku, Jessica pun tersenyum. Setelah itu, dia mengangkat kepalanya dan bertanya dengan sok polos, “Ibu, kalau aku yang diculik. Apa yang akan kamu lakukan?”Begitu mendengar pertanyaan itu, Ibu segera menghentikan apa yang sedang dilakukannya dan berjalan ke had






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.