Beranda / Romansa / Suamiku Perwira Ojek / Bab 4 Merasa dijebak

Share

Bab 4 Merasa dijebak

Penulis: Fei Adhista
last update Tanggal publikasi: 2026-03-13 20:44:01

Lampu-lampu neon berdansa liar di langit-langit SBCD, diskotik paling hits di jantung kota. Musik menghentak. Alkohol tumpah. Malam merayakan rahasia dan kebodohan.

Di salah satu sudut ruangan yang penuh asap dan cahaya berkelip, seorang wanita muda duduk sendirian di depan meja bar. Gelas di tangannya sudah hampir kosong. Ia meneguknya tanpa jeda.

Rok selututnya sedikit kusut, eyeliner di sudut matanya mulai luntur. Rambut panjangnya tidak lagi serapi saat ia keluar dari apartemen tadi malam. Ia tidak peduli.

Sendirian.

Frustrasi.

Kepalanya terasa berat, bukan hanya karena alkohol, tetapi karena bayangan yang terus berulang di pikirannya.

Sore tadi di taman kota.

Perempuan itu.

Manja. Cantik. Tertawa lembut. Tangannya menggandeng lengan Gilang terlalu akrab.

Anaya masih bisa mengingat bagaimana jantungnya berhenti sejenak saat melihat pemandangan itu dari kejauhan. Gilang tidak menepis sentuhan perempuan itu. Tidak menjauh.

Tidak menjelaskan apa pun saat mata mereka sempat bertemu.

Tatapan Gilang tetap dingin.

Seolah Anaya tidak ada di sana.

Ia meneguk minumannya lagi.

"Sendirian aja, cantik?"

Suara berat seorang lelaki muncul dari kursi sebelahnya. Bau alkohol langsung menyeruak.

Anaya tidak menoleh. Tidak menjawab. Ia hanya mengangkat gelasnya lagi dan meneguk sisa minuman itu.

Namun beberapa meter dari sana, seseorang memperhatikan sejak tadi. Seorang wanita dengan rambut pendek berwarna abu-abu. Dress hitam ketat yang membungkus tubuhnya dengan elegan. Satu tangannya memegang minuman, sementara tangan lainnya menekan earset kecil di telinganya.

Vela.

Tatapannya menyapu ruangan. Lalu berhenti di sosok yang sangat tidak ia harapkan ada di tempat ini.

"Sial..." gumamnya pelan. "Kenapa anak kecil itu ada di sini."

Target yang ia incar malam ini baru saja bergerak mendekati area bar. Tanpa sadar bahwa gadis yang duduk di sana bukan sekadar wanita mabuk biasa.

Vela menghela napas pelan.

Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong di samping Anaya.

Lelaki di sampingnya mulai bertingkah semakin berani. Tangannya bergerak hendak menyentuh lengan Anaya.

Vela masih tersenyum manis.

"Sentuh dia lagi," bisiknya pelan tanpa menoleh, "kupatahkan jarimu."

Nada suaranya lembut. Tapi cukup membuat pria itu menarik tangannya.

Pria itu menggerutu kesal, lalu bangkit dan menjauh dari meja bar.

Vela memanfaatkan detik singkat itu untuk menoleh pada Anaya.

"Kamu nggak boleh mabuk di tempat kayak gini," katanya pelan. "Terlalu bahaya."

Anaya tertawa kecil. Tawa yang terdengar lelah dan sedikit sinis.

"Peduli apa kamu," gumamnya malas.

Matanya menatap kosong ke arah gelas.

"Bukankah kamu sudah sering tidur dengan suamiku...."

Vela mengangkat alis.

"Gara-gara kamu suamiku ngirim aku pulang kampung."

Vela menatapnya beberapa detik.

Kemudian ia menoleh cepat ke arah kerumunan. Targetnya mulai bergerak menjauh ke lorong belakang.

Waktu hampir habis.

Ia mengeluarkan ponselnya dan mengetik cepat.

Gilang. Istrimu mabuk. Di SBCD. Aku jaga dia sebentar, tapi targetku baru gerak. Aku gak bisa jagain dia lama.

Pesan itu terkirim.

Tanpa menunggu balasan.

Vela berdiri dari kursinya.

Sebelum pergi, ia menatap Anaya sekali lagi. Gadis itu masih menunduk, memegang gelas dengan tangan yang sedikit gemetar.

Vela membungkuk sedikit.

"Kalau dia sayang," bisiknya pelan di dekat telinga Anaya, "dia bakal nyusul."

Lalu ia berbalik dan menghilang di tengah kerumunan menuju lorong belakang.

Beberapa menit berlalu, seorang pria datang mendekat ke meja bar.

Anaya tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas. Pandangannya sudah kabur oleh alkohol dan emosi.

Pria itu berbicara sesuatu pada bartender, lalu menoleh pada Anaya.

Beberapa saat kemudian, Anaya sudah berdiri dengan langkah goyah.

Tangannya dituntun keluar dari keramaian.

Lorong hotel itu terasa panjang dan sunyi bagi Anaya. Namun Anaya hampir tidak menyadarinya.

Kepalanya berat. Tubuhnya panas. Dunia di sekelilingnya seperti mengambang. Ia bahkan tidak tahu bagaimana ia bisa sampai ke lorong ini.

Pintu kamar di depannya terbuka setengah.

Anaya tidak benar-benar mengingat kapan ia masuk. Yang ia tahu hanya tangannya terasa lemah, langkahnya goyah, dan suara tawa seorang pria membuat perutnya mual.

Lalu tiba-tiba.

Brak!

Suara pintu didobrak mengguncang ruangan.

Anaya terperanjat. Pandangannya masih buram saat bayangan dua pria bergerak cepat di dalam kamar.

Suara pukulan.

Benturan tubuh.

Lelaki yang tadi berada di dekatnya tiba-tiba terlempar ke samping, menghantam lemari dengan suara keras. Anaya hanya bisa melihat semuanya seperti potongan gambar yang terputus-putus. Anaya tidak sadar apa yang sedang terjadi.

Kepalanya semakin berat.

"Naya..."

Suara itu.

Anaya mengenalnya bahkan dalam keadaan setengah sadar.

Ia mengangkat wajahnya perlahan.

Di sana.

Gilang berdiri di depan ranjang. Tubuhnya tegap, wajahnya keras, napasnya terdengar berat.

Pandangan Anaya langsung mengabur.

"Mas Gilang..." gumamnya pelan. "Ternyata aku bermimpi."

Tubuhnya terasa lemas. Ia mencoba bangkit dari ranjang, tetapi langkahnya tidak kuat. Tangannya refleks meraih kerah jaket Gilang.

Lalu tubuhnya jatuh ke dalam pelukan pria itu.

Anaya memejamkan mata sejenak. Hangat.

Untuk pertama kalinya malam itu ia merasa aman.

Tangannya yang gemetar menyentuh wajah Gilang. Ia merasakan garis rahang keras suaminya, kulit yang dingin, dan ekspresi yang tetap tidak berubah.

"Naya, kau mabuk," suara Gilang terdengar datar.

Anaya menggeleng pelan. Air mata mulai jatuh tanpa ia sadari.

"Aku cuma ingin kamu melihatku."

Suaranya hampir hilang.

"Air matanya tak pernah menyentuhku. Tak pernah memelukku. Bahkan tak pernah benar-benar menatapku."

Dadanya terasa sesak saat kata-kata itu keluar.

Anaya mendekatkan wajahnya, mencium bibir Gilang yang tetap kaku. Ia tidak tahu kenapa ia melakukannya. Mungkin karena alkohol. Mungkin karena luka yang selama ini ia pendam.

Gilang tidak bergerak.

Tubuhnya tetap seperti batu.

Namun Anaya terus meraih pria itu, seperti seseorang yang takut ditinggalkan sendirian dalam gelap.

“Apa aku begitu menjijikkan bagimu, Mas?” bisiknya lirih. “Sampai kamu tak ingin menyentuhku meski aku sudah jadi istrimu?”

Napasnya bergetar.

“Walaupun baru sebulan kita menikah aku sudah memutuskan untuk mencintaimu.”

Kata-kata itu keluar begitu saja.

Antara kesedihan, kecemburuan, dan pengaruh sesuatu yang membuat pikirannya tidak lagi jernih.

Anaya tidak tahu berapa lama ia berdiri seperti itu.

Ia hanya tahu tubuhnya akhirnya menyerah.

Kakinya melemah. Tangisnya pecah di dada Gilang.

Dan saat itu, ia merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

Pelukan.

Tangan Gilang akhirnya bergerak.

Merengkuh bahunya. Menahan tubuhnya yang hampir jatuh. Memeluknya erat.

Bagi Anaya, pelukan itu terasa seperti dunia berhenti sejenak.

Malam di luar jendela terus berjalan.

Lampu kota berkelip jauh di bawah sana.

Tidak ada kata-kata lagi setelah itu.

Hanya napas yang saling bertemu. Keheningan yang terasa lebih keras dari suara apa pun.

Dan bagi Anaya yang setengah sadar, semua terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk dipercaya.

Ketika pagi datang, cahaya matahari menembus celah tirai kamar.

Anaya bergerak pelan di atas ranjang.

Kepalanya terasa berat. Tenggorokannya kering. Ia membuka mata perlahan dan langsung memicing karena silau.

Butuh beberapa detik sebelum ia menyadari sesuatu.

Ini bukan apartemennya.

Anaya mengerjap beberapa kali.

Kamar itu asing.

Sunyi.

Ia menoleh ke samping.

Tidak ada siapa-siapa.

Perlahan ia menarik selimut yang menutupi tubuhnya.

Lalu napasnya terhenti.

Tubuhnya telanjang.

Ada bekas samar di kulitnya. Seprai kusut. Selimut melorot hingga ke pahanya.

“Apa ini...” bisiknya panik.

Jantungnya langsung berdetak keras.

Ingatan semalam muncul dalam potongan yang kacau.

Minuman dari pria asing.

Tubuhnya yang tiba-tiba panas.

Dunia yang menjadi gelap.

Dan setelah itu kosong.

Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.

Tangannya gemetar saat meraih pakaiannya di lantai. Ia mengenakannya dengan tergesa, hampir tidak peduli apakah bajunya terbalik atau tidak.

Perasaan malu, marah, dan takut bercampur menjadi satu.

Ia merasa dijebak.

Dirusak.

Anaya bahkan tidak berani melihat ke arah ranjang lagi.

Begitu pakaiannya terpasang, ia membuka pintu kamar dengan tangan gemetar.

Lorong hotel kembali menyambutnya dengan sunyi.

Tanpa menoleh ke belakang.

Tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu.

Anaya pergi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 88

    Bu Marina kembali memperhatikan kartu kecil di tangannya.Kartu itu sederhana.Tidak ada logo.Tidak ada nama pemilik rumah.Hanya sebuah alamat lengkap yang ditulis rapi."Unik juga," gumam Marina pelan."Biasanya kartu seperti ini mencantumkan nama."Naya tersenyum kecil."Saya juga baru sadar.""Mungkin memang sengaja tidak dicetak."Pak Harun kembali menginjak pedal gas.Mobil perlahan mendekati gerbang kawasan elite itu.Palang otomatis hampir terbuka.Namun tepat saat itu...Ponsel Marina berdering.Getarannya memecah suasana hening di dalam mobil.Marina melihat layar ponselnya.Ekspresinya langsung berubah."Pak Harun.""Ya, Bu?""Tolong berhenti sebentar."Mobil kembali menepi.Marina segera mengangkat panggilan itu."Ya?"Suara di seberang terdengar terburu-buru.Marina yang semula tenang perlahan mengernyit."Apa?"Beberapa detik kemudian matanya membesar."Apa?!"Naya, Tari dan Risa spontan saling berpandangan.Marina berdiri sedikit dari sandarannya."Nikah?""...""Sudah

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 87

    Matahari mulai condong ke barat.Setelah mengobrol cukup lama, Naya akhirnya berdiri.Ia menggenggam tangan Risa yang sejak tadi masih asyik bermain bersama Gea."Risa.""Hm?""Kita pulang."Wajah Risa langsung berubah."Hah?""Cepat banget?"Gea ikut memasang wajah sedih."Besok main lagi ya."Risa langsung memeluk Gea."Iya.""Nanti aku datang lagi."Marina tersenyum melihat tingkah keduanya.Saat Naya hendak berpamitan, Marina ikut berdiri."Kalau begitu, saya antar."Naya buru-buru menggeleng."Jangan, Bu. Saya tidak enak merepotkan.""Bukan merepotkan."Marina tersenyum lembut."Sekalian saya ingin tahu rumah kalian."Naya tertawa kecil."Masalahnya...""Saya sendiri juga belum pernah ke sana."Marina berkedip."Belum pernah?"Naya mengangguk malu."Itu rumah yang disiapkan suami saya.""Saya baru akan melihatnya hari ini."Marina tersenyum geli."Berarti kita sama-sama penasaran."Belum sempat Naya menjawab, Risa sudah berlari memeluk kaki Marina."Eyang ikut, ya..."Marina meng

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 86

    Ruang keluarga kembali tenang.Seorang pelayan datang membawakan teh hangat, kopi, dan aneka kue tradisional.Marina mempersilakan Naya duduk di sofa yang berhadapan dengannya.Sementara itu, Risa sudah kembali ceria.Ia duduk di atas karpet bersama Gea, sibuk menyusun balok-balok kayu sambil sesekali tertawa.Tatapan Marina tidak lepas dari anak kecil itu.Senyumnya begitu lembut."Anak itu..." ucapnya pelan.Naya ikut menoleh ke arah putrinya."Dia sangat ceria."Marina mengangguk."Dua hari ini rumah saya jadi jauh lebih hidup."Naya tersenyum tipis."Maaf kalau merepotkan.""Justru tidak."Marina menggeleng pelan."Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara anak kecil memenuhi rumah ini."Tatapannya kembali mengikuti tingkah Risa yang kini sedang berdebat kecil dengan Gea soal bentuk balok.Tiba-tiba Marina tertawa kecil."Semakin saya lihat...""Semakin anak itu mengingatkan saya pada seseorang."Naya menoleh."Siapa, Bu?""Putra saya."Naya tampak sedikit terkejut.Marina t

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 85

    Gilang berangkat kerja, dan Naya bergegas ganti pakaian untuk menemui Risa. Taxi yang ditumpangi Naya perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi berukuran raksasa.Naya menatap ke luar jendela.Matanya perlahan membesar."Ini... alamatnya benar?"Sopir yang mengantarnya mengangguk."Benar, Dokter."Di depan gerbang berdiri beberapa petugas keamanan dengan seragam rapi.Begitu nama Naya disebut, gerbang otomatis terbuka perlahan.Mobil kembali melaju.Namun semakin masuk ke dalam, Naya justru semakin terdiam.Jalan menuju bangunan utama begitu panjang.Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang tertata sangat indah.Pohon-pohon besar berjajar rapi.Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah taman.Bahkan beberapa patung marmer menghiasi halaman yang luas.Naya tanpa sadar berbisik pelan."Astaga..."Rumah Eyang Wulan yang selama ini dianggapnya mewah...Mendadak terasa biasa saja.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.Seorang pelayan segera m

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 84

    Gilang melirik jam di pergelangan tangannya."Waktuku habis."Ia berdiri sambil mengambil topi satpam yang sejak tadi diletakkan di atas meja.Naya ikut berdiri."Mau berangkat?""Iya."Gilang mengenakan topinya, lalu mengambil tas ransel hitam yang tergantung di dekat pintu.Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu..."Gil..."Suara pelan itu membuat langkahnya berhenti.Gilang menoleh."Usia jauh lebih tua darimu! Panggil aku Mas atau panggilan sayang lebih bagus."Naya tampak berdiri sambil memainkan ujung bajunya.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu terlihat benar-benar canggung."Ada apa?"Naya menggaruk pelan pipinya."Itu...""Ya?""Aku mau jemput putriku hari ini."Gilang mengangguk."Iya.""Terus..."Naya kembali terdiam.Seolah sedang menyusun keberanian."Aku juga mau cari rumah kontrakan."Alis Gilang sedikit terangkat."Kontrakan?""Iya."Naya mengangguk pelan."Apartemen ini terlalu kecil.""Kalau putriku datang...""Masih ada pengasuhnya juga.""

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 83

    Pagi itu matahari baru saja muncul.Sinar keemasannya masuk melalui jendela apartemen.Naya masih menggeliat di atas ranjang ketika samar-samar terdengar suara pintu lemari ditutup.Ia membuka mata perlahan.Mengucek pelan.Lalu..."Hah?"Matanya langsung membulat.Di depan pintu kamar, Gilang sedang merapikan kerah seragam satpam berwarna biru tua.Lengkap dengan topi yang masih ia pegang di tangan.Naya spontan bangkit."Tunggu."Gilang menoleh."Sudah bangun?"Naya turun dari ranjang sambil terus menatap seragam itu.Langkahnya mendekat."Kamu... kerja di mana?"Gilang menjawab santai."Tempat biasa."Naya menggeleng."Bukan itu."Tangannya perlahan menunjuk emblem di lengan seragam Gilang."Itu...""Seragam perusahaan Eyang."Gilang melirik emblem itu sekilas."Iya."Naya langsung panik."Jangan.""Hm?""Jangan masuk kerja dulu.""Kenapa?""Eyang pasti marah kalau tahu kamu menikah sama aku.""Bisa-bisa kamu dipecat.""Bahkan mungkin..."Naya menggigit bibir."...dibikin susah."E

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 55

    Pintu ruangan hotel terbuka lebar.Lampu kristal menggantung megah di atas kepala.Semua mata langsung tertuju pada Naya dan Gilang yang masuk berdampingan.Atau lebih tepatnya bergandengan.Tangan Naya masih melingkar di lengan Gilang meski jantungnya belum kembali normal sejak tadi.Sementara Gil

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 49

    Jalan itu mulai sepi.Lampu-lampu jalan menggantung redup, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang dingin. Angin malam berembus pelan, membawa sisa panas yang belum sepenuhnya hilang.Di tengah suasana yang nyaris sunyi itu, keributan kecil terdengar terlalu jelas.Egi masih berdiri limbung

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 43

    Pagi itu suasana rumah besar tidak sehangat biasanya.Udara terasa tegang.Dan sumbernya hanya satu orang.Ia berdiri di ruang tengah, masih mengenakan pakaian kerja sederhana. Wajahnya tenang, tapi sorot matanya tegas.Di hadapannya, Eyang Wulan duduk dengan elegan.Namun jelas tidak senang.“Mula

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 20

    Risa keluar dari kamar mandi dengan langkah santai.Piyama milik Gilang yang ia pakai terlihat kebesaran. Lengan bajunya menutupi hampir seluruh tangannya, sementara celananya harus dilipat dua kali agar tidak terseret.Namun ekspresinya tetap datar.Percaya diri.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status