Home / Romansa / Suamiku Perwira Ojek / Bab 5 Rumah Sepi

Share

Bab 5 Rumah Sepi

Author: Fei Adhista
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-13 21:05:18

Pelabuhan itu sunyi. Hanya suara ombak menghantam lambung kapal kargo yang memecah kesunyian. Lampu dermaga memantul di permukaan laut, membuat air tampak seperti lembaran logam hitam.

Gilang berdiri di balik kontainer, headset kecil menempel di telinga. Baru kali ini dia kurang fokus dalam bekerja setelah meninggalkan istrinya di hotel sendirian.

“Target diamankan,” suara Vale terdengar dari radio. Tenang, padahal situasi sedang kacau.

Begitu sinyal diberikan, Gilang bergerak. Cepat. Senyap. Seorang pria bersenjata yang berjaga di buritan kapal tak sempat menoleh ketika lengan Gilang mengunci lehernya dari belakang. Satu hentakan siku. Satu pukulan ke ulu hati. Kepala dibenturkan ke besi tangga. Tamat.

Gilang menyeret tubuh itu ke area gelap dan membantu memborgol target lain sebelum menyerahkannya pada tim Vale.

Operasi selesai.

Tapi dadanya masih sesak.

Ia membuka ponsel. Layar kosong. Tidak ada panggilan. Tidak ada pesan.

Sudah dua hari. Naya tidak menghubungi. Tidak bertanya. Tidak mencarinya.

Atau… dia memang tidak ingin?

Gilang menatap layar lebih lama dari seharusnya, lalu memasukkannya kembali ke saku. Ia menyalakan motor dan memacu gas menuju apartemen. Tubuhnya lebam akibat baku hantam di dermaga, tapi hatinya lebih hancur.

Pintu apartemen tidak terkunci.

Sepi.

Rak sepatu kosong, sepasang sandal hilang.

“Naya?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ruang tamu terlalu rapi, seperti baru dibereskan oleh orang yang sedang bersiap pergi jauh. Gilang masuk ke kamar, dan di meja belajar ia melihat secarik kertas.

Tulisan tangan yang ia hafal.

“Saya menyetujui perceraian ini. —Anaya”

Tangannya menegang. Rahangnya mengeras.

Ia meremas kertas itu, merobeknya tanpa suara.

“Kau pikir ini caramu pergi, Naya…?”

Suara itu rendah, hampir bergetar, kemarahan yang dicampur luka yang dalam.

Keesokan harinya, Gilang berdiri di depan rumah bercat putih. Dudukannya tegang. Ketukan pertama disambut oleh seorang pembantu rumah tangga, tapi hanya beberapa detik kemudian, Pak Lukman muncul dengan kaca mata baca dan wajah ketus yang tak disamarkan.

“Kamu?” suara lelaki itu dingin. “Ada perlu apa ke sini?”

“Saya cari Naya, Pak,” ucap Gilang, suaranya serak tapi stabil.

Pak Lukman membuka pintu lebih lebar, namun tubuhnya menghalangi jalan masuk. “Kamu masih berani datang? Setelah kekacauan yang kamu buat?!”

Gilang tidak mundur. “Saya tidak tinggalkan dia, Pak. Saya hanya ingin tahu Naya ke mana.”

“Kamu pikir saya tahu?!” bentak Pak Lukman. “Anak itu hilang! Dan kamu—” ia menunjuk dada Gilang “—kamu yang seharusnya menjaganya!”

“Saya sedang mencarinya,” Gilang membalas dengan suara menahan emosi.

Pak Lukman mendengus. “Kamu hanya tukang ojek! Apa yang bisa kamu berikan? Motor tua? Jaket lusuh? Masa depan apa buat anak saya?!”

Gilang tidak membalas. Tangannya mengepal di sisi celana.

“Dan dengar ini baik-baik,” lanjutnya, suaranya tajam, “kamu bukan menantu saya. Dan Naya bukan anak saya.”

Pintu ditutup keras.

Gilang masih berdiri. Pandangannya kosong. Tangannya bergetar.

Ia bukan hanya kehilangan Naya. Ia kehilangan semua pintu untuk menemukannya.

Satu Minggu sudah Gilang menyusuri kota demi kota, lorong pasar, terminal, gang-gang kumuh di Semarang. Semua jawaban sama, Naya datang sebentar, lalu menghilang seperti bayangan.

Setiap malam ia duduk di balkon apartemen. Ponsel diam di tangannya. Ia menatap layar kosong, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.

Kemudian surat perintah itu muncul.

Di kantor, Komandan mendorong map cokelat ke arahnya.

“Ghana. 6 bulan. Operasi gabungan Interpol. Narkotika lintas negara.”

Gilang mengambil map itu tanpa komentar. Wajahnya datar. Matanya kosong. Tapi dalam dadanya, badai bergemuruh.

Di gudang senjata, ia memeriksa pistol, pisau lipat, pelindung tubuh. Semua prosedur dilakukan otomatis, seolah tubuh bergerak sendiri tanpa perasaan.

Di loker baraknya, ia melihat cincin kawinnya. Masih bersih. Masih berkilau. Seolah menertawakannya.

Sebelum berangkat ke bandara, Gilang kembali ke apartemen mereka untuk terakhir kali. Ruangan itu tampak seperti museum kecil kosong, dingin, dan tak tersisa aroma Anaya sedikit pun.

Kecuali satu hal foto mereka berdua, waktu Anaya nekat masak mi goreng untuk pertama kali. Tangannya gosong, tapi senyumnya.

Gilang menyimpannya ke dalam jaket tactical.

Tanpa pesan. Tanpa salam perpisahan. Tanpa siapa-siapa mengantar.

Ia pergi dari negeri ini membawa luka, dendam, dan cinta yang belum mati.

Gilang menyamar sebagai sopir pribadi Kwame Mensah, perantara kartel narkoba lintas benua. Dari balik setir, ia mencatat semua, nomor kontainer, kode kapal, transaksi senjata.

Ia hampir mati dua kali. Dan yang terakhir salah satu temannya tertembak di dalam misi, dan memohon kepada Gilang untuk memberikan cincin pertunangan kepada tunangannya dan meminta Gilang untuk menjaganya hingga mendapatkan pengganti.

Interpol hanya menerima laporan yang sudah “dibersihkan”.

Yang lain… Gilang kubur bersama malam-malam yang ia lewati sendirian.

Suatu malam ia menyalakan sebatang lilin kecil di atap penginapannya. Ulang tahun yang tidak pernah ia rayakan bersama istrinya.

Nama yang ia bisikkan tetap sama.

Anaya.

Setelah 6 bulan bergelut di panasnya misi luar negeri, Gilang akhirnya menginjakkan kaki lagi di tanah yang pernah ia tinggalkan dengan banyak tanya Indonesia.

Semarang masih sama macet, penuh klakson, dan orang-orang yang terlalu sibuk untuk peduli urusan orang lain. Tapi tidak ada yang lebih menyakitkan dari kenyataan bahwa apartemen kecil itu kini kosong. Sepi. Tidak ada jejak. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Naya.

Gilang berdiri di balkon itu cukup lama, membiarkan asap rokoknya menguap ke langit senja. Apartemen tua dengan cat mengelupas di beberapa sisi itu terasa asing, padahal dulu ia pernah tidur di sofa karena Naya ngambek hanya gara-gara dia ada di SBCD.

Tak ada satu pun keluarga Naya yang bisa dihubungi. Nomor-nomor lama sudah tak aktif. Tetangga hanya menggeleng, mengangkat bahu, bilang orangtuanya bangkrut dan pindah entah ke mana.

Beberapa menit kemudian ponselnya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Vale.

“Ngopi. Ada kerjaan baru. Lokasi SBCD. Jangan bawa kenangan.”

Gilang datang dengan mengenakan jaket hitam favoritnya, wajah setengah lelah, setengah gelisah. Vela sudah menunggu di meja pojok, seperti biasa, dengan dua gelas kopi hitam dan setumpuk map berisi pekerjaan.

“Kamu masih nyari dia?” Vela bertanya tanpa basa-basi.

Gilang duduk. “Nggak nemu.”

“Aku dengar keluarganya bangkrut. Orang tuanya pindah ke Surabaya. Udah tiga bulan katanya.” Vela menyeruput kopi. “Naya? Nggak ada kabar.”

Gilang diam. Ekspresinya tetap datar, tapi tangannya mencengkeram gelas terlalu kencang. Sedikit retakan terdengar di gelas itu Vela langsung sadar.

“Tenang. Nanti ketemu juga. Dunia sempit kalau urusannya sama utang karma.”

Gilang meneguk minumannya. Rasanya pahit. Lebih pahit dari kenyataan yang baru saja disodorkan Vela.

“Kerjaannya apaan?” tanyanya akhirnya.

Vela menyodorkan map. “Kita masuk ke jaringan perdagangan narkoba lagi. Mereka lagi nyari sopir dan pengawal. Nama alias udah disiapin. Kamu pakai nama Elang, aku pakai Rina."

Gilang membuka map itu. Foto-foto, denah, data nama-nama tersangka, dan satu kalimat kecil di ujung halaman terakhir.

Target utama pemimpin distribusi wilayah timur. Lokasi awal Surabaya.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 88

    Bu Marina kembali memperhatikan kartu kecil di tangannya.Kartu itu sederhana.Tidak ada logo.Tidak ada nama pemilik rumah.Hanya sebuah alamat lengkap yang ditulis rapi."Unik juga," gumam Marina pelan."Biasanya kartu seperti ini mencantumkan nama."Naya tersenyum kecil."Saya juga baru sadar.""Mungkin memang sengaja tidak dicetak."Pak Harun kembali menginjak pedal gas.Mobil perlahan mendekati gerbang kawasan elite itu.Palang otomatis hampir terbuka.Namun tepat saat itu...Ponsel Marina berdering.Getarannya memecah suasana hening di dalam mobil.Marina melihat layar ponselnya.Ekspresinya langsung berubah."Pak Harun.""Ya, Bu?""Tolong berhenti sebentar."Mobil kembali menepi.Marina segera mengangkat panggilan itu."Ya?"Suara di seberang terdengar terburu-buru.Marina yang semula tenang perlahan mengernyit."Apa?"Beberapa detik kemudian matanya membesar."Apa?!"Naya, Tari dan Risa spontan saling berpandangan.Marina berdiri sedikit dari sandarannya."Nikah?""...""Sudah

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 87

    Matahari mulai condong ke barat.Setelah mengobrol cukup lama, Naya akhirnya berdiri.Ia menggenggam tangan Risa yang sejak tadi masih asyik bermain bersama Gea."Risa.""Hm?""Kita pulang."Wajah Risa langsung berubah."Hah?""Cepat banget?"Gea ikut memasang wajah sedih."Besok main lagi ya."Risa langsung memeluk Gea."Iya.""Nanti aku datang lagi."Marina tersenyum melihat tingkah keduanya.Saat Naya hendak berpamitan, Marina ikut berdiri."Kalau begitu, saya antar."Naya buru-buru menggeleng."Jangan, Bu. Saya tidak enak merepotkan.""Bukan merepotkan."Marina tersenyum lembut."Sekalian saya ingin tahu rumah kalian."Naya tertawa kecil."Masalahnya...""Saya sendiri juga belum pernah ke sana."Marina berkedip."Belum pernah?"Naya mengangguk malu."Itu rumah yang disiapkan suami saya.""Saya baru akan melihatnya hari ini."Marina tersenyum geli."Berarti kita sama-sama penasaran."Belum sempat Naya menjawab, Risa sudah berlari memeluk kaki Marina."Eyang ikut, ya..."Marina meng

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 86

    Ruang keluarga kembali tenang.Seorang pelayan datang membawakan teh hangat, kopi, dan aneka kue tradisional.Marina mempersilakan Naya duduk di sofa yang berhadapan dengannya.Sementara itu, Risa sudah kembali ceria.Ia duduk di atas karpet bersama Gea, sibuk menyusun balok-balok kayu sambil sesekali tertawa.Tatapan Marina tidak lepas dari anak kecil itu.Senyumnya begitu lembut."Anak itu..." ucapnya pelan.Naya ikut menoleh ke arah putrinya."Dia sangat ceria."Marina mengangguk."Dua hari ini rumah saya jadi jauh lebih hidup."Naya tersenyum tipis."Maaf kalau merepotkan.""Justru tidak."Marina menggeleng pelan."Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara anak kecil memenuhi rumah ini."Tatapannya kembali mengikuti tingkah Risa yang kini sedang berdebat kecil dengan Gea soal bentuk balok.Tiba-tiba Marina tertawa kecil."Semakin saya lihat...""Semakin anak itu mengingatkan saya pada seseorang."Naya menoleh."Siapa, Bu?""Putra saya."Naya tampak sedikit terkejut.Marina t

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 85

    Gilang berangkat kerja, dan Naya bergegas ganti pakaian untuk menemui Risa. Taxi yang ditumpangi Naya perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi berukuran raksasa.Naya menatap ke luar jendela.Matanya perlahan membesar."Ini... alamatnya benar?"Sopir yang mengantarnya mengangguk."Benar, Dokter."Di depan gerbang berdiri beberapa petugas keamanan dengan seragam rapi.Begitu nama Naya disebut, gerbang otomatis terbuka perlahan.Mobil kembali melaju.Namun semakin masuk ke dalam, Naya justru semakin terdiam.Jalan menuju bangunan utama begitu panjang.Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang tertata sangat indah.Pohon-pohon besar berjajar rapi.Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah taman.Bahkan beberapa patung marmer menghiasi halaman yang luas.Naya tanpa sadar berbisik pelan."Astaga..."Rumah Eyang Wulan yang selama ini dianggapnya mewah...Mendadak terasa biasa saja.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.Seorang pelayan segera m

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 84

    Gilang melirik jam di pergelangan tangannya."Waktuku habis."Ia berdiri sambil mengambil topi satpam yang sejak tadi diletakkan di atas meja.Naya ikut berdiri."Mau berangkat?""Iya."Gilang mengenakan topinya, lalu mengambil tas ransel hitam yang tergantung di dekat pintu.Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu..."Gil..."Suara pelan itu membuat langkahnya berhenti.Gilang menoleh."Usia jauh lebih tua darimu! Panggil aku Mas atau panggilan sayang lebih bagus."Naya tampak berdiri sambil memainkan ujung bajunya.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu terlihat benar-benar canggung."Ada apa?"Naya menggaruk pelan pipinya."Itu...""Ya?""Aku mau jemput putriku hari ini."Gilang mengangguk."Iya.""Terus..."Naya kembali terdiam.Seolah sedang menyusun keberanian."Aku juga mau cari rumah kontrakan."Alis Gilang sedikit terangkat."Kontrakan?""Iya."Naya mengangguk pelan."Apartemen ini terlalu kecil.""Kalau putriku datang...""Masih ada pengasuhnya juga.""

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 83

    Pagi itu matahari baru saja muncul.Sinar keemasannya masuk melalui jendela apartemen.Naya masih menggeliat di atas ranjang ketika samar-samar terdengar suara pintu lemari ditutup.Ia membuka mata perlahan.Mengucek pelan.Lalu..."Hah?"Matanya langsung membulat.Di depan pintu kamar, Gilang sedang merapikan kerah seragam satpam berwarna biru tua.Lengkap dengan topi yang masih ia pegang di tangan.Naya spontan bangkit."Tunggu."Gilang menoleh."Sudah bangun?"Naya turun dari ranjang sambil terus menatap seragam itu.Langkahnya mendekat."Kamu... kerja di mana?"Gilang menjawab santai."Tempat biasa."Naya menggeleng."Bukan itu."Tangannya perlahan menunjuk emblem di lengan seragam Gilang."Itu...""Seragam perusahaan Eyang."Gilang melirik emblem itu sekilas."Iya."Naya langsung panik."Jangan.""Hm?""Jangan masuk kerja dulu.""Kenapa?""Eyang pasti marah kalau tahu kamu menikah sama aku.""Bisa-bisa kamu dipecat.""Bahkan mungkin..."Naya menggigit bibir."...dibikin susah."E

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 2 Bom Waktu

    Matahari baru saja naik saat Gilang duduk di meja makan. Pria brewok itu masih mengenakan kaos hitam longgar dan celana training. Aroma kopi hitam mengepul di hadapannya, tapi sorot matanya tetap kosong, menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca apapun. “Mas...” Suara Naya terdengar dari dapu

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 1 Pertemuan Tak Terduga

    Apartemen Bornea Grand, Lantai 16 Anaya hampir tidak bisa berdiri.Kepalanya berat. Pandangannya berputar. Dunia terasa seperti air yang bergelombang. Lampu parkiran apartemen terlihat buram di matanya, yang ia rasa seseorang menarik lengannya dengan kasar. “Jalan!” suara pria itu mendesis di tel

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 7 Tujuh Tahun kemudian

    Tujuh tahun berlalu.Langit di atas samudra tampak tenang, berbanding terbalik dengan suasana di dalam pesawat kelas bisnis itu.Anaya duduk di kursinya dengan mata terpejam. Wajahnya lebih dewasa sekarang lebih tenang, tapi juga menyimpan sesuatu yang sulit dijelaskan. Perjalan

  • Suamiku Perwira Ojek   Ruang Operasi

    Ruang bersalin itu terasa dingin bagi Anaya, meskipun tubuhnya basah oleh keringat dan darah. Lampu putih di langit-langit menyilaukan matanya yang setengah terbuka. Napasnya pendek. Tenaganya hampir habis.Anaya berusaha memfokuskan pandangan. Dunia di sekelilingnya berputar pelan, tetapi ia masih

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status