LOGINRuang bersalin itu terasa dingin bagi Anaya, meskipun tubuhnya basah oleh keringat dan darah. Lampu putih di langit-langit menyilaukan matanya yang setengah terbuka. Napasnya pendek. Tenaganya hampir habis.
Anaya berusaha memfokuskan pandangan. Dunia di sekelilingnya berputar pelan, tetapi ia masih sempat melihat seorang dokter mengangkat bayi kecil yang baru saja keluar dari tubuhnya. Bayi itu menangis keras. Hatinya langsung bergetar. Pandangan Anaya turun tanpa sengaja ke kaki kecil bayi itu. Di sana, tepat di atas mata kaki kirinya, ada tanda lahir kecil berwarna kecokelatan. Ia melihatnya jelas. Lalu kesadarannya kembali mengambang. Suara dokter terdengar samar di telinganya. “Sayang sekali bayinya tidak tertolong.” Kalimat itu seperti pisau yang menembus dada Anaya. Tidak tertolong? Padahal ia baru saja mendengar tangisan itu. Bibirnya bergerak lemah. “Dia … menangis….” Namun dokter itu sudah berbalik. Langkahnya cepat meninggalkan ruangan, seolah tidak ingin berlama-lama di sana. Beberapa menit berlalu. Tubuh Anaya mulai gemetar. Rasa sakit kembali menjalar dari perut hingga ke punggungnya. Ia mengerang pelan. Perutnya kembali berkontraksi. Dan secara kebetulan ada bidan yang sedang lewat. “Nona masih kesakitan?” Anaya memegang lengan ranjang dengan erat. Napasnya terputus-putus. “Bayi … bayi saya.” Bidan itu terlihat ragu. “Dokter sudah pergi, Nona. Katanya bayinya tidak tertolong.” Anaya menggeleng lemah. Air matanya mulai mengalir. “Tidak … aku dengar dia menangis!” Namun kontraksi lain datang lebih kuat. Anaya menjerit. Bidan itu membeku beberapa detik. Matanya membesar saat melihat kondisi Anaya. “Tunggu sebentar. Saya telepon dokter dulu.” Bidan itu meraih ponselnya dengan tangan gugup. "Jangan telpon. Tolong...." Kontraksi berikutnya datang lebih kuat. Anaya menggenggam tangan bidan itu. “Tolong aku.…” Bidan itu menatapnya cemas. “Tapi saya tidak bisa sendirian." “Jangan telpon siapapun.” bisik Anaya lemah. Situasinya terlalu mendesak. Akhirnya bidan itu menghela napas panjang dan mulai bersiap. Persalinan kedua berlangsung cepat dan penuh kepanikan. Hanya ada satu bidan yang berusaha melakukan semuanya sendirian. Beberapa menit kemudian tangisan bayi kembali memenuhi ruangan. Kali ini lebih lembut. Seorang bayi perempuan. Bidan itu terdiam sejenak menatap bayi kecil di tangannya. “Sehat sekali.…” gumamnya pelan. Anaya menoleh perlahan. Air matanya mengalir tanpa henti saat melihat wajah kecil putrinya. Namun wajah Anaya justru terlihat panik. “Tolong.…” Suaranya sangat lemah. “Tolong rahasiakan bayi ini.” Bidan itu langsung menoleh kaget. “Apa?” “Tolong, jangan biarkan keluarga saya tahu.” Bidan itu menggeleng. “Saya tidak bisa melakukan itu, Nona. Saya harus melapor ke dokter.” Anaya menggenggam tangan bidan itu dengan putus asa. “Tolong bawa dia pergi dari sini.” Air matanya jatuh satu per satu. “Kalau keluarga saya tahu, mereka akan mengambilnya.” Bidan itu terlihat bimbang. Anaya meminta bidan itu untuk mengambil tasnya dan dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan sejumlah uang dan secarik kertas. “Ini alamatnya. Tolong bawa dia ke sana.” Bidan itu masih ragu. Namun melihat kondisi Anaya yang hampir pingsan, akhirnya ia mengangguk pelan. “Namanya?” tanya bidan pelan. Anaya menatap wajah putrinya. Air matanya jatuh lagi. “Risa.” Beberapa menit kemudian bidan itu keluar melalui pintu belakang rumah sakit, membawa bayi tersebut dalam pelukannya. Anaya kembali sendirian di ruangan itu. Tubuhnya lemah. Matanya perlahan tertutup. Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka keras. Beberapa orang masuk. Ibu tirinya berjalan paling depan dengan wajah penuh riasan dan ekspresi tidak sabar. Di belakangnya ada adik tirinya yang menatap ruangan itu dengan rasa jijik. Seorang perawat membawa sebuah bungkusan kecil. Ibu tirinya berhenti di samping ranjang. “Jadi ini anaknya?” katanya datar. Perawat membuka selimut itu sedikit. Seorang bayi laki-laki yang sudah tak bernyawa terbaring diam. Adik tirinya menutup hidungnya sedikit. “Serius? Ini yang bikin heboh keluarga?” Ia mendengus. “Sudah mati juga.” Ibu tirinya menatap Anaya yang pucat di atas ranjang. “Baguslah. Setidaknya tidak perlu repot menjelaskan ke orang-orang.” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Kamu memang selalu membawa malu ke keluarga.” Adik tirinya tertawa kecil. “Ternyata benar ya. Anak tanpa ayah memang tidak bertahan lama.” Ibu tirinya menambahkan dengan nada dingin. “Mungkin ini karma.” Anaya hanya menatap bayi itu. Matanya perlahan bergerak ke kaki kecil bayi tersebut. Tidak ada tanda lahir. Tidak ada tanda di atas mata kaki kiri seperti yang ia lihat tadi. Dadanya terasa sesak. Ia tahu ada sesuatu yang tidak benar. Namun tubuhnya terlalu lemah untuk melawan. Air mata jatuh diam-diam ke bantal. Anaya tidak berkata apa-apa. Ia hanya berbaring di sana. Diam. Seolah semua kata sudah habis di dalam hatinya. Pada malam yang sama dan di kota yang sama, di pelabuhan Surabaya suasana terasa jauh berbeda. Langit gelap. Angin malam berhembus dingin membawa bau solar, air asin, dan karung-karung ikan yang ditinggalkan di dermaga. Operasi malam itu berjalan tegang. Gilang yang baru saja tiba di Surabaya berdiri di antara kontainer besar bersama beberapa anggota tim. Senjata di tangannya siap. Sorot matanya tajam memindai setiap sudut. Target mereka adalah jaringan penyelundupan narkoba lintas negara yang menggunakan jalur pelabuhan kecil untuk mengirim barang haram. “Target bergerak,” suara Vela terdengar melalui earset. Beberapa pria turun dari truk sambil membawa koper besar. Hitungan dimulai dan Vela memberi aba-aba. Dan menyerahkan sepenuhnya kepada polisi yang bertugas. “POLISI! JANGAN BERGERAK!” Teriakan memenuhi dermaga. Beberapa pria mencoba kabur. Tembakan peringatan dilepaskan. Kekacauan terjadi dalam hitungan detik. Gilang bergerak cepat. Ia menjatuhkan satu pria dengan kuncian tangan lalu menendang koper yang jatuh hingga terbuka. Bungkusan plastik putih berserakan. Barang bukti. Beberapa menit kemudian semuanya selesai. Para pelaku sudah diborgol. Tim forensik mulai mengamankan lokasi. Vela mendekat sambil melepas sarung tangannya. “Operasi bersih,” katanya singkat. Gilang hanya mengangguk sambil membenarkan masker dan topinya. Namun saat ia berjalan menjauh menuju sisi belakang gudang, langkahnya tiba-tiba berhenti. Ada suara kecil. Sangat kecil. Seperti tangisan. Ia mengerutkan kening. Suara itu datang dari balik tumpukan kardus basah di dekat tempat sampah besar. Gilang berjalan mendekat. Tangisan itu terdengar lagi. Lemah. Nyaris hilang tertiup angin malam. Ia memindahkan satu kardus. Lalu satu lagi. Dan di sana ia melihatnya. Sebuah kotak kardus kecil dengan selimut lusuh di dalamnya. Seorang bayi laki-laki. Masih sangat kecil. Kulitnya memerah karena udara dingin. Tangisnya pelan, seolah kehabisan tenaga. Dada Gilang langsung terasa sesak. "Siapa yang membuang bayi di tempat seperti ini?" Ia berlutut tanpa sadar. Tangannya yang biasa memegang senjata kini bergerak hati-hati mengangkat tubuh kecil itu. Bayi itu berhenti menangis. Matanya yang setengah terbuka menatap wajah Gilang. "Aneh." Bayi itu tiba-tiba tenang di pelukannya. Seolah mengenali sesuatu. Gilang tidak tahu kenapa, tetapi dadanya terasa hangat. Sesuatu yang jarang ia rasakan selama bertahun-tahun hidup dalam dunia operasi dan kekerasan. Langkah kaki mendekat dari belakang. Vela muncul sambil mengerutkan kening. “Kamu ngapain di situ?” Gilang tidak menjawab. Ia hanya menatap bayi di tangannya. Vela mendekat dan langsung berhenti. “Serius?” Ia menatap kotak kardus itu. “Ada bayi?” Gilang mengangguk pelan. Vela menghela napas panjang. “Orang-orang ini makin gila.” Ia melipat tangan. “Kita serahkan saja ke dinas sosial. Atau panti asuhan.” Gilang tidak langsung menjawab. Ia melihat wajah kecil bayi itu lagi. “Aku bawa dia pulang saja,” katanya akhirnya. Vela langsung menoleh tajam. “Apa?” “Aku bawa dia pulang.” “Gilang, jangan bercanda.” “Aku serius.” Vela menggeleng tidak percaya. “Kita polisi, bukan panti sosial. Bayi itu harus masuk sistem. Ada prosedur.” Gilang menatap bayi itu lagi. Tangis kecil tadi sudah berhenti. Bayi itu justru terlihat nyaman di dadanya. Seolah sudah menemukan tempat yang aman. “Aku tidak bisa meninggalkannya di sistem,” kata Gilang pelan. Vela mendengus. “Kamu bahkan belum bisa mengurus hidupmu sendiri. Istrimu hilang saja belum kamu temukan.” Gilang akhirnya menoleh. Sorot matanya tenang namun tegas. “Aku akan mengadopsinya.”Bu Marina kembali memperhatikan kartu kecil di tangannya.Kartu itu sederhana.Tidak ada logo.Tidak ada nama pemilik rumah.Hanya sebuah alamat lengkap yang ditulis rapi."Unik juga," gumam Marina pelan."Biasanya kartu seperti ini mencantumkan nama."Naya tersenyum kecil."Saya juga baru sadar.""Mungkin memang sengaja tidak dicetak."Pak Harun kembali menginjak pedal gas.Mobil perlahan mendekati gerbang kawasan elite itu.Palang otomatis hampir terbuka.Namun tepat saat itu...Ponsel Marina berdering.Getarannya memecah suasana hening di dalam mobil.Marina melihat layar ponselnya.Ekspresinya langsung berubah."Pak Harun.""Ya, Bu?""Tolong berhenti sebentar."Mobil kembali menepi.Marina segera mengangkat panggilan itu."Ya?"Suara di seberang terdengar terburu-buru.Marina yang semula tenang perlahan mengernyit."Apa?"Beberapa detik kemudian matanya membesar."Apa?!"Naya, Tari dan Risa spontan saling berpandangan.Marina berdiri sedikit dari sandarannya."Nikah?""...""Sudah
Matahari mulai condong ke barat.Setelah mengobrol cukup lama, Naya akhirnya berdiri.Ia menggenggam tangan Risa yang sejak tadi masih asyik bermain bersama Gea."Risa.""Hm?""Kita pulang."Wajah Risa langsung berubah."Hah?""Cepat banget?"Gea ikut memasang wajah sedih."Besok main lagi ya."Risa langsung memeluk Gea."Iya.""Nanti aku datang lagi."Marina tersenyum melihat tingkah keduanya.Saat Naya hendak berpamitan, Marina ikut berdiri."Kalau begitu, saya antar."Naya buru-buru menggeleng."Jangan, Bu. Saya tidak enak merepotkan.""Bukan merepotkan."Marina tersenyum lembut."Sekalian saya ingin tahu rumah kalian."Naya tertawa kecil."Masalahnya...""Saya sendiri juga belum pernah ke sana."Marina berkedip."Belum pernah?"Naya mengangguk malu."Itu rumah yang disiapkan suami saya.""Saya baru akan melihatnya hari ini."Marina tersenyum geli."Berarti kita sama-sama penasaran."Belum sempat Naya menjawab, Risa sudah berlari memeluk kaki Marina."Eyang ikut, ya..."Marina meng
Ruang keluarga kembali tenang.Seorang pelayan datang membawakan teh hangat, kopi, dan aneka kue tradisional.Marina mempersilakan Naya duduk di sofa yang berhadapan dengannya.Sementara itu, Risa sudah kembali ceria.Ia duduk di atas karpet bersama Gea, sibuk menyusun balok-balok kayu sambil sesekali tertawa.Tatapan Marina tidak lepas dari anak kecil itu.Senyumnya begitu lembut."Anak itu..." ucapnya pelan.Naya ikut menoleh ke arah putrinya."Dia sangat ceria."Marina mengangguk."Dua hari ini rumah saya jadi jauh lebih hidup."Naya tersenyum tipis."Maaf kalau merepotkan.""Justru tidak."Marina menggeleng pelan."Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara anak kecil memenuhi rumah ini."Tatapannya kembali mengikuti tingkah Risa yang kini sedang berdebat kecil dengan Gea soal bentuk balok.Tiba-tiba Marina tertawa kecil."Semakin saya lihat...""Semakin anak itu mengingatkan saya pada seseorang."Naya menoleh."Siapa, Bu?""Putra saya."Naya tampak sedikit terkejut.Marina t
Gilang berangkat kerja, dan Naya bergegas ganti pakaian untuk menemui Risa. Taxi yang ditumpangi Naya perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi berukuran raksasa.Naya menatap ke luar jendela.Matanya perlahan membesar."Ini... alamatnya benar?"Sopir yang mengantarnya mengangguk."Benar, Dokter."Di depan gerbang berdiri beberapa petugas keamanan dengan seragam rapi.Begitu nama Naya disebut, gerbang otomatis terbuka perlahan.Mobil kembali melaju.Namun semakin masuk ke dalam, Naya justru semakin terdiam.Jalan menuju bangunan utama begitu panjang.Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang tertata sangat indah.Pohon-pohon besar berjajar rapi.Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah taman.Bahkan beberapa patung marmer menghiasi halaman yang luas.Naya tanpa sadar berbisik pelan."Astaga..."Rumah Eyang Wulan yang selama ini dianggapnya mewah...Mendadak terasa biasa saja.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.Seorang pelayan segera m
Gilang melirik jam di pergelangan tangannya."Waktuku habis."Ia berdiri sambil mengambil topi satpam yang sejak tadi diletakkan di atas meja.Naya ikut berdiri."Mau berangkat?""Iya."Gilang mengenakan topinya, lalu mengambil tas ransel hitam yang tergantung di dekat pintu.Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu..."Gil..."Suara pelan itu membuat langkahnya berhenti.Gilang menoleh."Usia jauh lebih tua darimu! Panggil aku Mas atau panggilan sayang lebih bagus."Naya tampak berdiri sambil memainkan ujung bajunya.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu terlihat benar-benar canggung."Ada apa?"Naya menggaruk pelan pipinya."Itu...""Ya?""Aku mau jemput putriku hari ini."Gilang mengangguk."Iya.""Terus..."Naya kembali terdiam.Seolah sedang menyusun keberanian."Aku juga mau cari rumah kontrakan."Alis Gilang sedikit terangkat."Kontrakan?""Iya."Naya mengangguk pelan."Apartemen ini terlalu kecil.""Kalau putriku datang...""Masih ada pengasuhnya juga.""
Pagi itu matahari baru saja muncul.Sinar keemasannya masuk melalui jendela apartemen.Naya masih menggeliat di atas ranjang ketika samar-samar terdengar suara pintu lemari ditutup.Ia membuka mata perlahan.Mengucek pelan.Lalu..."Hah?"Matanya langsung membulat.Di depan pintu kamar, Gilang sedang merapikan kerah seragam satpam berwarna biru tua.Lengkap dengan topi yang masih ia pegang di tangan.Naya spontan bangkit."Tunggu."Gilang menoleh."Sudah bangun?"Naya turun dari ranjang sambil terus menatap seragam itu.Langkahnya mendekat."Kamu... kerja di mana?"Gilang menjawab santai."Tempat biasa."Naya menggeleng."Bukan itu."Tangannya perlahan menunjuk emblem di lengan seragam Gilang."Itu...""Seragam perusahaan Eyang."Gilang melirik emblem itu sekilas."Iya."Naya langsung panik."Jangan.""Hm?""Jangan masuk kerja dulu.""Kenapa?""Eyang pasti marah kalau tahu kamu menikah sama aku.""Bisa-bisa kamu dipecat.""Bahkan mungkin..."Naya menggigit bibir."...dibikin susah."E
Pernikahan yang seharusnya digelar besar-besaran itu akhirnya dibatalkan.Hanya dalam satu hari.Satu hari yang cukup untuk membuat seluruh keluarga Wulan berada dalam kekacauan.Dan pusat dari semua kekacauan itu adalah satu orang.Naya.Pagi itu ruang makan terasa sunyi.Tidak ada suara sendok be
Di dalam mobil. Suasana sebenarnya tenang.Terlalu tenang. Dan itu justru membuat Pak Ahmad waspada. Karena selama mengenal Risa, kalau anak itu diam terlalu lama, biasanya sedang merencanakan sesuatu.Dan benar saja. Risa duduk di kursi belakang sambil memeluk boneka kelincinya.Wajahnya serius.S
Tatapan Gilang dan Eyang Wulan bertemu di tengah ruangan.Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.Namun suasana terasa semakin menekan.Eyang Wulan akhirnya mendengus dingin."Bagus."Suaranya pelan."Ternyata kamu memang suaminya."Naya sempat menghela napas lega.Namun kelegaan itu hanya
Pintu ruangan hotel terbuka lebar.Lampu kristal menggantung megah di atas kepala.Semua mata langsung tertuju pada Naya dan Gilang yang masuk berdampingan.Atau lebih tepatnya bergandengan.Tangan Naya masih melingkar di lengan Gilang meski jantungnya belum kembali normal sejak tadi.Sementara Gil







