Share

Ruang Operasi

Author: Fei Adhista
last update publish date: 2026-04-15 15:26:28

Ruang bersalin itu terasa dingin bagi Anaya, meskipun tubuhnya basah oleh keringat dan darah. Lampu putih di langit-langit menyilaukan matanya yang setengah terbuka. Napasnya pendek. Tenaganya hampir habis.

Anaya berusaha memfokuskan pandangan. Dunia di sekelilingnya berputar pelan, tetapi ia masih sempat melihat seorang dokter mengangkat bayi kecil yang baru saja keluar dari tubuhnya.

Bayi itu menangis keras.

Hatinya langsung bergetar.

Pandangan Anaya turun tanpa sengaja ke kaki kecil bayi itu. Di sana, tepat di atas mata kaki kirinya, ada tanda lahir kecil berwarna kecokelatan.

Ia melihatnya jelas.

Lalu kesadarannya kembali mengambang.

Suara dokter terdengar samar di telinganya.

“Sayang sekali bayinya tidak tertolong.”

Kalimat itu seperti pisau yang menembus dada Anaya.

Tidak tertolong?

Padahal ia baru saja mendengar tangisan itu.

Bibirnya bergerak lemah.

“Dia … menangis….”

Namun dokter itu sudah berbalik. Langkahnya cepat meninggalkan ruangan, seolah tidak ingin berlama-lama di sana.

Beberapa menit berlalu.

Tubuh Anaya mulai gemetar. Rasa sakit kembali menjalar dari perut hingga ke punggungnya.

Ia mengerang pelan.

Perutnya kembali berkontraksi. Dan secara kebetulan ada bidan yang sedang lewat.

“Nona masih kesakitan?”

Anaya memegang lengan ranjang dengan erat. Napasnya terputus-putus.

“Bayi … bayi saya.”

Bidan itu terlihat ragu.

“Dokter sudah pergi, Nona. Katanya bayinya tidak tertolong.”

Anaya menggeleng lemah. Air matanya mulai mengalir.

“Tidak … aku dengar dia menangis!”

Namun kontraksi lain datang lebih kuat.

Anaya menjerit.

Bidan itu membeku beberapa detik. Matanya membesar saat melihat kondisi Anaya.

“Tunggu sebentar. Saya telepon dokter dulu.”

Bidan itu meraih ponselnya dengan tangan gugup.

"Jangan telpon. Tolong...."

Kontraksi berikutnya datang lebih kuat.

Anaya menggenggam tangan bidan itu.

“Tolong aku.…”

Bidan itu menatapnya cemas.

“Tapi saya tidak bisa sendirian."

“Jangan telpon siapapun.” bisik Anaya lemah.

Situasinya terlalu mendesak. Akhirnya bidan itu menghela napas panjang dan mulai bersiap.

Persalinan kedua berlangsung cepat dan penuh kepanikan. Hanya ada satu bidan yang berusaha melakukan semuanya sendirian.

Beberapa menit kemudian tangisan bayi kembali memenuhi ruangan.

Kali ini lebih lembut. Seorang bayi perempuan.

Bidan itu terdiam sejenak menatap bayi kecil di tangannya.

“Sehat sekali.…” gumamnya pelan.

Anaya menoleh perlahan. Air matanya mengalir tanpa henti saat melihat wajah kecil putrinya.

Namun wajah Anaya justru terlihat panik.

“Tolong.…”

Suaranya sangat lemah.

“Tolong rahasiakan bayi ini.”

Bidan itu langsung menoleh kaget.

“Apa?”

“Tolong, jangan biarkan keluarga saya tahu.”

Bidan itu menggeleng.

“Saya tidak bisa melakukan itu, Nona. Saya harus melapor ke dokter.”

Anaya menggenggam tangan bidan itu dengan putus asa.

“Tolong bawa dia pergi dari sini.”

Air matanya jatuh satu per satu.

“Kalau keluarga saya tahu, mereka akan mengambilnya.”

Bidan itu terlihat bimbang.

Anaya meminta bidan itu untuk mengambil tasnya dan dengan tangan gemetar. Ia mengeluarkan sejumlah uang dan secarik kertas.

“Ini alamatnya. Tolong bawa dia ke sana.”

Bidan itu masih ragu.

Namun melihat kondisi Anaya yang hampir pingsan, akhirnya ia mengangguk pelan.

“Namanya?” tanya bidan pelan.

Anaya menatap wajah putrinya.

Air matanya jatuh lagi.

“Risa.”

Beberapa menit kemudian bidan itu keluar melalui pintu belakang rumah sakit, membawa bayi tersebut dalam pelukannya.

Anaya kembali sendirian di ruangan itu.

Tubuhnya lemah. Matanya perlahan tertutup.

Tidak lama kemudian pintu kamar terbuka keras.

Beberapa orang masuk.

Ibu tirinya berjalan paling depan dengan wajah penuh riasan dan ekspresi tidak sabar. Di belakangnya ada adik tirinya yang menatap ruangan itu dengan rasa jijik.

Seorang perawat membawa sebuah bungkusan kecil.

Ibu tirinya berhenti di samping ranjang.

“Jadi ini anaknya?” katanya datar.

Perawat membuka selimut itu sedikit.

Seorang bayi laki-laki yang sudah tak bernyawa terbaring diam.

Adik tirinya menutup hidungnya sedikit.

“Serius? Ini yang bikin heboh keluarga?”

Ia mendengus.

“Sudah mati juga.”

Ibu tirinya menatap Anaya yang pucat di atas ranjang.

“Baguslah. Setidaknya tidak perlu repot menjelaskan ke orang-orang.”

Ia mencondongkan tubuh sedikit.

“Kamu memang selalu membawa malu ke keluarga.”

Adik tirinya tertawa kecil.

“Ternyata benar ya. Anak tanpa ayah memang tidak bertahan lama.”

Ibu tirinya menambahkan dengan nada dingin.

“Mungkin ini karma.”

Anaya hanya menatap bayi itu.

Matanya perlahan bergerak ke kaki kecil bayi tersebut.

Tidak ada tanda lahir.

Tidak ada tanda di atas mata kaki kiri seperti yang ia lihat tadi.

Dadanya terasa sesak.

Ia tahu ada sesuatu yang tidak benar.

Namun tubuhnya terlalu lemah untuk melawan.

Air mata jatuh diam-diam ke bantal.

Anaya tidak berkata apa-apa.

Ia hanya berbaring di sana.

Diam.

Seolah semua kata sudah habis di dalam hatinya.

Pada malam yang sama dan di kota yang sama, di pelabuhan Surabaya suasana terasa jauh berbeda.

Langit gelap. Angin malam berhembus dingin membawa bau solar, air asin, dan karung-karung ikan yang ditinggalkan di dermaga.

Operasi malam itu berjalan tegang.

Gilang yang baru saja tiba di Surabaya berdiri di antara kontainer besar bersama beberapa anggota tim. Senjata di tangannya siap. Sorot matanya tajam memindai setiap sudut.

Target mereka adalah jaringan penyelundupan narkoba lintas negara yang menggunakan jalur pelabuhan kecil untuk mengirim barang haram.

“Target bergerak,” suara Vela terdengar melalui earset.

Beberapa pria turun dari truk sambil membawa koper besar.

Hitungan dimulai dan Vela memberi aba-aba. Dan menyerahkan sepenuhnya kepada polisi yang bertugas.

“POLISI! JANGAN BERGERAK!”

Teriakan memenuhi dermaga.

Beberapa pria mencoba kabur. Tembakan peringatan dilepaskan. Kekacauan terjadi dalam hitungan detik.

Gilang bergerak cepat. Ia menjatuhkan satu pria dengan kuncian tangan lalu menendang koper yang jatuh hingga terbuka.

Bungkusan plastik putih berserakan.

Barang bukti.

Beberapa menit kemudian semuanya selesai.

Para pelaku sudah diborgol. Tim forensik mulai mengamankan lokasi.

Vela mendekat sambil melepas sarung tangannya.

“Operasi bersih,” katanya singkat.

Gilang hanya mengangguk sambil membenarkan masker dan topinya.

Namun saat ia berjalan menjauh menuju sisi belakang gudang, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Ada suara kecil.

Sangat kecil.

Seperti tangisan.

Ia mengerutkan kening.

Suara itu datang dari balik tumpukan kardus basah di dekat tempat sampah besar.

Gilang berjalan mendekat.

Tangisan itu terdengar lagi.

Lemah.

Nyaris hilang tertiup angin malam.

Ia memindahkan satu kardus.

Lalu satu lagi.

Dan di sana ia melihatnya.

Sebuah kotak kardus kecil dengan selimut lusuh di dalamnya.

Seorang bayi laki-laki.

Masih sangat kecil.

Kulitnya memerah karena udara dingin. Tangisnya pelan, seolah kehabisan tenaga.

Dada Gilang langsung terasa sesak.

"Siapa yang membuang bayi di tempat seperti ini?"

Ia berlutut tanpa sadar.

Tangannya yang biasa memegang senjata kini bergerak hati-hati mengangkat tubuh kecil itu.

Bayi itu berhenti menangis.

Matanya yang setengah terbuka menatap wajah Gilang.

"Aneh."

Bayi itu tiba-tiba tenang di pelukannya.

Seolah mengenali sesuatu.

Gilang tidak tahu kenapa, tetapi dadanya terasa hangat.

Sesuatu yang jarang ia rasakan selama bertahun-tahun hidup dalam dunia operasi dan kekerasan.

Langkah kaki mendekat dari belakang.

Vela muncul sambil mengerutkan kening.

“Kamu ngapain di situ?”

Gilang tidak menjawab.

Ia hanya menatap bayi di tangannya.

Vela mendekat dan langsung berhenti.

“Serius?”

Ia menatap kotak kardus itu.

“Ada bayi?”

Gilang mengangguk pelan.

Vela menghela napas panjang.

“Orang-orang ini makin gila.”

Ia melipat tangan.

“Kita serahkan saja ke dinas sosial. Atau panti asuhan.”

Gilang tidak langsung menjawab.

Ia melihat wajah kecil bayi itu lagi.

“Aku bawa dia pulang saja,” katanya akhirnya.

Vela langsung menoleh tajam.

“Apa?”

“Aku bawa dia pulang.”

“Gilang, jangan bercanda.”

“Aku serius.”

Vela menggeleng tidak percaya.

“Kita polisi, bukan panti sosial. Bayi itu harus masuk sistem. Ada prosedur.”

Gilang menatap bayi itu lagi.

Tangis kecil tadi sudah berhenti.

Bayi itu justru terlihat nyaman di dadanya.

Seolah sudah menemukan tempat yang aman.

“Aku tidak bisa meninggalkannya di sistem,” kata Gilang pelan.

Vela mendengus.

“Kamu bahkan belum bisa mengurus hidupmu sendiri. Istrimu hilang saja belum kamu temukan.”

Gilang akhirnya menoleh. Sorot matanya tenang namun tegas.

“Aku akan mengadopsinya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 42

    Malam itu meja makan terasa hangat.duduk santai bersama dan .Suasana cukup tenang.Sesekali Vian makan dengan rapi, sementara Eyang Marsiy masih mengawasi Gilang seperti sedang menginterogasi tersangka.“Makannya pelan,” tegur Eyang.Gilang mengangkat alis.“Aku makan, bukan lomba.”“Kelihatannya seperti lomba kabur.”Gilang hampir tersedak.“Eyang ini semua dihubungkan ke kabur.”Belum sempat suasana berlanjut ponsel di sampingnya bergetar.Nama yang sama.Risa.Gilang melirik sekilas.Lalu mengabaikan.Ia kembali makan.Namun, getaran itu tidak berhenti.Sekali.Dua kali.Tiga kali.Eyang Marsiy mulai menatap curiga.“Itu siapa?”“Spam,” jawab Gilang santai.Getaran lagi.Eyang langsung menyikut lengannya.“Diangkat. Siapa tahu penting.”Gilang mendesah pelan.Dengan malas, ia mengambil ponsel dan mengangkatnya.“Halo—”“PAPA!!”Suara nyaring langsung memekakkan telinga.Gilang refleks menjauhkan ponsel.Eyang Marsiy langsung melotot.“Siapa itu?!”Gilang menutup mikrofon sebentar

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 41

    Di halaman sekolah sore itu, suasana mulai lengang.Beberapa anak sudah pulang, sebagian masih duduk menunggu jemputan. Di salah satu bangku panjang dekat taman kecil, Risa duduk dengan kaki diayun-ayunkan tanpa henti.Di sebelahnya, Vian duduk tegak. Buku terbuka di tangannya. Wajahnya tenang seperti tidak terganggu oleh apa pun di dunia ini.Risa melirik. Lalu melirik lagi. Lalu akhirnya tidak tahan.“Hari ini aku bahagia.” Tidak ada jawaban.Vian hanya membalik halaman.Risa mendekat sedikit. “Aku benar-benar bahagia.” Vian tetap diam.Risa menyipitkan mata. “Kamu dengar tidak sih?”Vian akhirnya melirik sekilas. “Dengar.”Lalu kembali ke bukunya.Risa mendengus.“Hari ini aku berhasil. Aku bawa papa ke sekolah. Semua orang lihat.”Vian hanya mengangguk kecil. “Iya.”Risa langsung menoleh penuh semangat.“Iya? Cuma iya?”“Mau aku tepuk tangan?” jawab Vian datar.Risa langsung memutar mata.“Kamu ini ya. Tidak seru.”Ia kembali bersandar, tapi hanya beberapa detik.Lalu mulai lagi.

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 40

    Gilang berjalan menuju ruang BP dengan langkah yang tetap tenang, seolah tidak ada apa pun yang perlu dikhawatirkan pagi itu.Padahal di dalam kepalanya, ia hanya ingin satu hal. Tidak bertemu siapa pun yang bisa mengenalnya.Namun semesta sepertinya punya rencana lain. Baru saja ia melewati koridor utama, langkahnya terhenti.Di ujung lorong, seorang anak laki-laki berdiri.Vian.Gilang sempat diam satu detik.Anak itu berdiri dengan sikap yang sangat mirip dirinya. Tenang, kaku, dan tidak banyak ekspresi. Tapi matanya langsung fokus begitu melihat Gilang.Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.Lalu Vian melangkah mendekat.Tidak berlari. Tidak juga ragu.Hanya mendekat dengan langkah pasti.Gilang yang awalnya ingin menghindar justru tidak sempat bergerak ke mana-mana.“Papa,” suara Vian terdengar datar, tapi ada sesuatu yang halus di dalamnya.Gilang akhirnya tersenyum kecil. Dan tanpa banyak kata, ia meraih putra angkatnya dan memeluknya.Vian tidak langsung membalas p

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 39

    Di dalam mobil, suasana pagi itu terasa padat oleh orang-orang yang bahkan tidak menyangka akan ikut terseret dalam “misi sekolah” Risa.Risa duduk di sebelah Gilang di kursi belakang. Tubuhnya tegak, matanya menatap ke depan seperti sedang memikirkan strategi besar. Di kursi depan, Mbak Tari duduk di sebelah Pak Ahmad yang fokus menyetir sambil sesekali melirik kaca spion.Mobil melaju pelan di jalan kota yang mulai ramai.Gilang menoleh ke samping, menatap Risa dengan alis berkerut.“Risa, sebenarnya ada apa hari ini?”Risa tidak langsung menjawab. Ia seperti sedang mempertimbangkan apakah ini informasi rahasia atau bukan. Setelah beberapa detik, ia akhirnya bicara.“Hari ini aku harus membawa orang tua ke sekolah.”Gilang langsung mengernyit. “Orang tua?”“Iya. Untuk memenuhi panggilan guru BP.”Suasana dalam mobil langsung sedikit berubah.Gilang menatapnya lebih serius. “Guru BP? Kamu kenapa lagi sampai dipanggil? Kamu bikin apa?”Risa menghela napas kecil, seperti orang yang sed

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 38

    Pagi itu masih terlalu dini.Jam baru menunjukkan pukul lima lewat sedikit, tapi Risa sudah bangun dengan wajah kusut di depan lemari.Ia berdiri lama.Terlalu lama untuk anak seusianya.Lalu menghela napas.“…lupa.”Hari ini.Hari penting.Orang tua ke sekolah.Risa menutup mata sebentar.Lalu mulai menghitung dengan jari.“Kalau bawa Tante Clara… mama bisa kena ceramah.”“Kalau bawa Eyang… aku yang kena ceramah.”“Kalau Mbak Tari… Pak Ahmad… nanti ketahuan bukan orang tua beneran.”Ia berhenti.Menatap kosong.“…repot.”Beberapa detik kemudian, matanya berbinar.“Ketemu.”—Lima menit kemudian, rumah sudah heboh.Risa mandi dengan kecepatan luar biasa, bahkan air masih belum sempat hangat sempurna.Di dapur, Mbak Tari sedang menyiapkan sarapan.“Risa, kamu kenapa bangun pagi banget?” tanya Tari heran.Risa keluar sambil menyeka rambut.“Mbak Tari.”“Iya?”“Ganti baju.”Tari mengernyit.“…Hah?”Risa menunjuknya serius.“Hari ini kamu ikut aku.”Pak Ahmad yang sedang duduk minum teh l

  • Suamiku Perwira Ojek   Bab 37

    Mobil melaju pelan meninggalkan halaman sekolah.Di kursi belakang, Risa duduk sambil menggoyang-goyangkan kakinya. Wajahnya terlihat serius, tapi hanya beberapa detik.Setelah itu “Mbak Tari.”Tari yang duduk di depan langsung menoleh sedikit.“Iya, Nona Risa?”“Aku mau ketemu papaku.”Nada suaranya santai. Seolah baru saja bilang mau beli permen.Tari dan sopir di depan saling melirik.Sopirnya, Pak Ahmad mengangkat alis pelan.Tari berdehem kecil.“Papa yang mana, Nona Risa?”Risa langsung melirik tajam.“Ya papa aku lah, Mbak. Masa papa tetangga.”Pak Ahmad hampir tersedak.“Iya maksud Mbak Tari.” lanjut Tari hati-hati, “…yang kemarin itu?”Risa langsung mengangguk cepat.“Iya! Yang itu!”Tanpa basa-basi, Risa meraih tas kecilnya, lalu mengeluarkan ponsel.“Untung aku tinggalin di mobil. Kalau di sekolah pasti disita,” gumamnya.Ia langsung menekan nomor.Satu kali.Tidak diangkat.Risa mengerutkan kening.“Ini papa aku sibuk banget ya, baru juga punya anak langsung lupa.”Tari me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status