MasukMalam itu udara terasa dingin menusuk kulit.
Anaya duduk kaku di belakang motor Gilang. Angin malam menerpa wajahnya, membuat ujung roknya berkibar liar. Tangannya mencengkeram erat jaket kulit yang dipakai pria di depannya. Ia tidak berani bicara. Gilang juga tidak mengatakan apa pun sejak mereka keluar dari diskotik tadi. Tapi yang membuat dadanya terasa semakin sesak adalah kenyataan bahwa Gilang tampak lebih marah pada dirinya sendiri. Motor melaju membelah jalan kota yang hampir sepi. Bau alkohol masih samar tercium dari tubuh Gilang. Dan sekelebat perempuan yang tadi memeluk Gilang di depan matanya pun ada dalam pikirannya. Dada Anaya kembali terasa panas mengingatnya. Motor berhenti di depan apartemen kecil mereka. Gilang turun lebih dulu tanpa menoleh ke belakang. Ia masuk ke dalam, melepas helm, lalu melempar jaketnya ke sofa tua yang sudah mulai pudar warnanya. Anaya masuk beberapa detik kemudian. Pintu ia tutup dengan bunyi keras yang sedikit berlebihan. Ia tidak peduli. "Apa maksudmu tadi di tempat itu?" Anaya membuka suara lebih dulu. Suaranya tajam dan tegang. Gilang menoleh pelan. “Kau yang mulai.” Anaya tertawa pendek. Tawa yang terdengar lebih seperti luka daripada hiburan. "Mulai?" katanya dengan suara miris. "Kamu bermesraan dengan perempuan di depan mataku, Mas. Di tempat umum." Gilang tidak membalas. Ia berjalan ke dapur kecil, membuka keran, lalu menuang air ke dalam gelas. Gerakannya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dituduh berselingkuh. Sikap itu justru membuat hati Anaya semakin perih. Selama ini ia selalu menahan diri. Ia tahu pernikahan mereka bukan karena cinta. Ia tahu Gilang tidak pernah menginginkannya. Namun tetap saja, ia adalah manusia. Selama ini aku diam, pikir Anaya sambil menahan air mata yang mulai menggenang. "Aku diam karena aku tahu aku cuma istrimu di atas kertas," katanya lirih. "Aku tahu aku yang memaksamu menikahiku." “Tapi aku juga manusia, Mas Gilang. Aku punya hak sebagai istrimu.” Gilang mendengus pelan. “Hak? Pernikahan ini bahkan terjadi karena keterpaksaan. Ayahmu memaksaku. Kau pikir aku menginginkan semua ini?” Kata-kata itu menghantam dada Anaya. Tapi kali ini ia tidak mundur. "Lalu kenapa tidak kau tinggalkan aku dari awal?" Ruangan itu langsung menjadi sunyi. Anaya bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Gilang menatapnya lurus. Tatapan yang tajam dan dingin. “Karena aku bertanggung jawab.” Tangan Anaya mengepal. “Omong kosong.” Sebelum ia sempat berpikir panjang, tubuhnya sudah bergerak lebih dulu. Bibirnya menabrak bibir Gilang. Bukan ciuman yang lembut. Lebih seperti benturan panas yang dipenuhi emosi. Tubuh Gilang menegang. Dalam satu gerakan cepat ia mendorong Anaya menjauh. “Jangan lakukan itu lagi.” Suara Gilang rendah dan keras. Air mata mulai menggenang di mata Anaya. Tapi ia tetap mengangkat dagunya. “Kenapa? Kamu bisa berpelukan dengan wanita lain, tapi kenapa tidak dengan aku?” Gilang menatapnya lama. “Kita baru kenal sebulan,” katanya akhirnya. “Kita menikah tanpa rasa cinta. Jadi jangan berharap lebih.” Kalimat itu seperti pisau. “Atau kamu mau aku menganggapmu murahan seperti mereka.” Anaya mengerutkan kening. “Apa maksudmu?” Gilang membalikkan badan. “Lupakan.” Anaya menatap punggungnya lama. Ia tidak tahu apa yang lebih menyakitkan. Kata-kata Gilang atau kenyataan bahwa pria itu selalu menutup dirinya seperti tembok. Suasana kembali sunyi. “Besok ulang tahun ayah,” kata Anaya akhirnya. “Kamu harus ikut aku.” Gilang tidak menjawab. Ia berjalan ke balkon dan menyalakan rokok. Cahaya kota berkelip di kejauhan, memantul di matanya yang gelap. Anaya berdiri di belakangnya. Diam. Bertanya-tanya siapa sebenarnya pria yang ia nikahi. Dan kenapa hatinya terus ingin memahami pria itu. Keesokan harinya. Anaya turun dari motor dengan perasaan tidak nyaman. Rumah besar itu berdiri megah di hadapannya. Dinding putih tinggi. Pilar klasik. Semua terlihat sama seperti dulu. Tempat yang dulu ia sebut rumah. “Hari ini ulang tahun Ayah,” kata Anaya pelan sambil merapikan gaunnya. “Jangan jutek ya.” Gilang tidak menjawab. Tatapannya hanya tertuju ke pintu besar rumah itu. Begitu pintu dibuka oleh pelayan, udara di dalam ruangan terasa langsung berubah dingin. Ibu tirinya berdiri di ruang tamu dengan gaun mahal dan senyum sinis. “Ada apa ini?” katanya dengan nada meremehkan. “Kami tidak memesan badut hari ini.” Tawa kecil terdengar dari belakang. Salah satu saudara tirinya menatap Gilang dari ujung kepala sampai kaki. “Maksudnya dia?” katanya sambil tertawa. “Bawa tukang ojek ke pesta keluarga.” Anaya menahan napas. Ia sudah menduga ini akan terjadi. "Aku cuma ingin bilang selamat ulang tahun," katanya dengan suara hampir bergetar. "Aku tetap anak ayah, kan." Ayahnya berdiri di tengah ruangan dengan wajah tanpa ekspresi. “Anak yang kabur dan pulang bawa aib.” Dada Anaya terasa sesak. “Aib?” suara Gilang tiba-tiba terdengar. Anaya menoleh. Suara suaminya pelan, tapi dingin. “Jadi menikahkan anak sendiri itu aib?” “Kau diam!” bentak ayahnya. “Kau pikir bisa naik derajat karena menikahi anakku?” Gilang hanya mengangkat satu alis. “Saya tidak pernah berharap naik derajat dari siapa pun. Saya nikahi dia karena kalian yang suruh.” Saudara tirinya tersenyum licik. “Setelah ini jangan harap dapat warisan. Rumah ini bukan tempat tukang ojek seperti suamimu.” Anaya menunduk. Ia sudah terlalu sering mendengar kata-kata seperti itu. Tiba-tiba tangan Gilang menyentuh pundaknya. “Kita pulang.” “Tapi...” “Tak ada yang bisa kamu buktikan di sini,” kata Gilang pelan. “Mereka tidak butuh kamu.” Anaya tidak menjawab lagi. Ia hanya mengikuti langkah Gilang keluar dari rumah itu. Tawa mengejek terdengar di belakang mereka. Tapi Gilang tidak menoleh. Ia memasangkan helm di kepala Anaya dengan gerakan tenang, lalu menyalakan motor. Saat motor melaju menjauh, Anaya memegang erat jaket Gilang. Dadanya terasa sesak. Untuk pertama kalinya ia menyadari satu hal. Rumah besar itu bukan lagi tempatnya pulang. Dan anehnya, punggung lelaki di depannya terasa lebih aman daripada semua kemewahan yang ia tinggalkan. Malamnya mereka kembali ke apartemen. Begitu pintu terbuka, Gilang langsung masuk dan duduk di kursi tanpa bicara. Anaya berdiri beberapa detik di belakangnya. Entah kenapa suasana tadi di rumah membuat emosinya kacau. “Kamu tuh kenapa sih?” katanya akhirnya. “Malu banget lihat kamu tadi.” Gilang tidak menoleh. “Rambut gondrong, kumis tebal. Kayak tukang parkir.” Tidak ada jawaban. “Kamu dengar aku tidak?” lanjut Anaya. “Aku bilang potong rambut. Rapihin sedikit. Kamu itu suami aku.” Gilang menutup botol air mineral yang baru saja ia minum. “Aku tidak hidup untuk menyenangkan keluargamu.” Anaya melotot. “Jadi kamu lebih pilih kumismu daripada harga diriku di depan keluarga?” Gilang berdiri. Ia mengambil dompet dari saku belakangnya. Anaya menatap bingung ketika Gilang mengeluarkan kartu ATM dan sebuah amplop cokelat tebal lalu meletakkannya di meja. “Isinya cukup buat kamu balik kampung dan lanjut kuliah,” katanya datar. “Nanti aku transfer tiap bulan.” Anaya membeku. “Apa maksudnya ini?” “Mulai besok kamu tidak perlu tinggal di sini lagi,” jawab Gilang tenang. “Kita jalan masing-masing.” Dunia Anaya terasa berhenti. “Biar kamu tidak malu punya suami seperti badut,” lanjut Gilang. “Kamu pulang ke Malang saja. Lagian usiamu masih 20 tahun sayang sekali jika tidak melanjutkan kuliah." Tubuh Anaya mulai gemetar. “Kamu nyerah ya?” bisiknya. “Karena mereka menghina kamu?” Gilang menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak peduli mereka bilang apa. Tapi aku lebih tidak peduli dengan omelanmu barusan.” Ruangan itu kembali sunyi. Lalu Gilang mengucapkan kalimat terakhir dengan suara dingin. “Setahun dari hari kita menikah, aku urus perceraian. Setelah itu kamu bebas. Dan aku akan tetap biayai kuliah kamu sampai wisuda.” Ia mengambil jaketnya dan berjalan ke kamar. Pintu tertutup. Anaya tetap berdiri di ruang tamu. Matanya tertuju pada kartu ATM dan amplop di meja. Benda itu terasa jauh lebih berat daripada apa pun yang pernah ia terima dalam hidupnya.Bu Marina kembali memperhatikan kartu kecil di tangannya.Kartu itu sederhana.Tidak ada logo.Tidak ada nama pemilik rumah.Hanya sebuah alamat lengkap yang ditulis rapi."Unik juga," gumam Marina pelan."Biasanya kartu seperti ini mencantumkan nama."Naya tersenyum kecil."Saya juga baru sadar.""Mungkin memang sengaja tidak dicetak."Pak Harun kembali menginjak pedal gas.Mobil perlahan mendekati gerbang kawasan elite itu.Palang otomatis hampir terbuka.Namun tepat saat itu...Ponsel Marina berdering.Getarannya memecah suasana hening di dalam mobil.Marina melihat layar ponselnya.Ekspresinya langsung berubah."Pak Harun.""Ya, Bu?""Tolong berhenti sebentar."Mobil kembali menepi.Marina segera mengangkat panggilan itu."Ya?"Suara di seberang terdengar terburu-buru.Marina yang semula tenang perlahan mengernyit."Apa?"Beberapa detik kemudian matanya membesar."Apa?!"Naya, Tari dan Risa spontan saling berpandangan.Marina berdiri sedikit dari sandarannya."Nikah?""...""Sudah
Matahari mulai condong ke barat.Setelah mengobrol cukup lama, Naya akhirnya berdiri.Ia menggenggam tangan Risa yang sejak tadi masih asyik bermain bersama Gea."Risa.""Hm?""Kita pulang."Wajah Risa langsung berubah."Hah?""Cepat banget?"Gea ikut memasang wajah sedih."Besok main lagi ya."Risa langsung memeluk Gea."Iya.""Nanti aku datang lagi."Marina tersenyum melihat tingkah keduanya.Saat Naya hendak berpamitan, Marina ikut berdiri."Kalau begitu, saya antar."Naya buru-buru menggeleng."Jangan, Bu. Saya tidak enak merepotkan.""Bukan merepotkan."Marina tersenyum lembut."Sekalian saya ingin tahu rumah kalian."Naya tertawa kecil."Masalahnya...""Saya sendiri juga belum pernah ke sana."Marina berkedip."Belum pernah?"Naya mengangguk malu."Itu rumah yang disiapkan suami saya.""Saya baru akan melihatnya hari ini."Marina tersenyum geli."Berarti kita sama-sama penasaran."Belum sempat Naya menjawab, Risa sudah berlari memeluk kaki Marina."Eyang ikut, ya..."Marina meng
Ruang keluarga kembali tenang.Seorang pelayan datang membawakan teh hangat, kopi, dan aneka kue tradisional.Marina mempersilakan Naya duduk di sofa yang berhadapan dengannya.Sementara itu, Risa sudah kembali ceria.Ia duduk di atas karpet bersama Gea, sibuk menyusun balok-balok kayu sambil sesekali tertawa.Tatapan Marina tidak lepas dari anak kecil itu.Senyumnya begitu lembut."Anak itu..." ucapnya pelan.Naya ikut menoleh ke arah putrinya."Dia sangat ceria."Marina mengangguk."Dua hari ini rumah saya jadi jauh lebih hidup."Naya tersenyum tipis."Maaf kalau merepotkan.""Justru tidak."Marina menggeleng pelan."Sudah bertahun-tahun saya tidak mendengar suara anak kecil memenuhi rumah ini."Tatapannya kembali mengikuti tingkah Risa yang kini sedang berdebat kecil dengan Gea soal bentuk balok.Tiba-tiba Marina tertawa kecil."Semakin saya lihat...""Semakin anak itu mengingatkan saya pada seseorang."Naya menoleh."Siapa, Bu?""Putra saya."Naya tampak sedikit terkejut.Marina t
Gilang berangkat kerja, dan Naya bergegas ganti pakaian untuk menemui Risa. Taxi yang ditumpangi Naya perlahan berhenti di depan sebuah gerbang besi berukuran raksasa.Naya menatap ke luar jendela.Matanya perlahan membesar."Ini... alamatnya benar?"Sopir yang mengantarnya mengangguk."Benar, Dokter."Di depan gerbang berdiri beberapa petugas keamanan dengan seragam rapi.Begitu nama Naya disebut, gerbang otomatis terbuka perlahan.Mobil kembali melaju.Namun semakin masuk ke dalam, Naya justru semakin terdiam.Jalan menuju bangunan utama begitu panjang.Di sisi kanan dan kiri terbentang taman yang tertata sangat indah.Pohon-pohon besar berjajar rapi.Air mancur bertingkat berdiri megah di tengah taman.Bahkan beberapa patung marmer menghiasi halaman yang luas.Naya tanpa sadar berbisik pelan."Astaga..."Rumah Eyang Wulan yang selama ini dianggapnya mewah...Mendadak terasa biasa saja.Beberapa menit kemudian, mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.Seorang pelayan segera m
Gilang melirik jam di pergelangan tangannya."Waktuku habis."Ia berdiri sambil mengambil topi satpam yang sejak tadi diletakkan di atas meja.Naya ikut berdiri."Mau berangkat?""Iya."Gilang mengenakan topinya, lalu mengambil tas ransel hitam yang tergantung di dekat pintu.Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu..."Gil..."Suara pelan itu membuat langkahnya berhenti.Gilang menoleh."Usia jauh lebih tua darimu! Panggil aku Mas atau panggilan sayang lebih bagus."Naya tampak berdiri sambil memainkan ujung bajunya.Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, perempuan itu terlihat benar-benar canggung."Ada apa?"Naya menggaruk pelan pipinya."Itu...""Ya?""Aku mau jemput putriku hari ini."Gilang mengangguk."Iya.""Terus..."Naya kembali terdiam.Seolah sedang menyusun keberanian."Aku juga mau cari rumah kontrakan."Alis Gilang sedikit terangkat."Kontrakan?""Iya."Naya mengangguk pelan."Apartemen ini terlalu kecil.""Kalau putriku datang...""Masih ada pengasuhnya juga.""
Pagi itu matahari baru saja muncul.Sinar keemasannya masuk melalui jendela apartemen.Naya masih menggeliat di atas ranjang ketika samar-samar terdengar suara pintu lemari ditutup.Ia membuka mata perlahan.Mengucek pelan.Lalu..."Hah?"Matanya langsung membulat.Di depan pintu kamar, Gilang sedang merapikan kerah seragam satpam berwarna biru tua.Lengkap dengan topi yang masih ia pegang di tangan.Naya spontan bangkit."Tunggu."Gilang menoleh."Sudah bangun?"Naya turun dari ranjang sambil terus menatap seragam itu.Langkahnya mendekat."Kamu... kerja di mana?"Gilang menjawab santai."Tempat biasa."Naya menggeleng."Bukan itu."Tangannya perlahan menunjuk emblem di lengan seragam Gilang."Itu...""Seragam perusahaan Eyang."Gilang melirik emblem itu sekilas."Iya."Naya langsung panik."Jangan.""Hm?""Jangan masuk kerja dulu.""Kenapa?""Eyang pasti marah kalau tahu kamu menikah sama aku.""Bisa-bisa kamu dipecat.""Bahkan mungkin..."Naya menggigit bibir."...dibikin susah."E
Di dalam mobil. Suasana sebenarnya tenang.Terlalu tenang. Dan itu justru membuat Pak Ahmad waspada. Karena selama mengenal Risa, kalau anak itu diam terlalu lama, biasanya sedang merencanakan sesuatu.Dan benar saja. Risa duduk di kursi belakang sambil memeluk boneka kelincinya.Wajahnya serius.S
Tatapan Gilang dan Eyang Wulan bertemu di tengah ruangan.Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.Namun suasana terasa semakin menekan.Eyang Wulan akhirnya mendengus dingin."Bagus."Suaranya pelan."Ternyata kamu memang suaminya."Naya sempat menghela napas lega.Namun kelegaan itu hanya
Pintu ruangan hotel terbuka lebar.Lampu kristal menggantung megah di atas kepala.Semua mata langsung tertuju pada Naya dan Gilang yang masuk berdampingan.Atau lebih tepatnya bergandengan.Tangan Naya masih melingkar di lengan Gilang meski jantungnya belum kembali normal sejak tadi.Sementara Gil
Jalan itu mulai sepi.Lampu-lampu jalan menggantung redup, menciptakan bayangan panjang di atas aspal yang dingin. Angin malam berembus pelan, membawa sisa panas yang belum sepenuhnya hilang.Di tengah suasana yang nyaris sunyi itu, keributan kecil terdengar terlalu jelas.Egi masih berdiri limbung







