เข้าสู่ระบบSetelah semua dokumen selesai diperiksa, mereka keluar dari kantor catatan sipil.Matahari mulai naik.Halaman parkir tidak terlalu ramai.Namun suasana di antara mereka justru terasa semakin berat.Naya baru saja hendak membuka pintu mobil ketika tiba-tiba tangannya ditarik.Cukup kuat.Ia menoleh.Gilang.Pria itu berdiri di sampingnya dengan rahang mengeras.Tatapannya dingin.Tidak seperti biasanya.Tidak ada senyum malas.Tidak ada candaan.Hanya diam yang terasa menekan."Gilang, lepas."Tidak.Jemari Gilang justru semakin mengencang.Naya langsung meringis."Sakit."Baru kali itu Gilang berkedip pelan.Seolah tersadar kalau cengkeramannya terlalu kuat.Namun bukannya melepas, ia malah menarik Naya menuju mobil."Nanti."Jawaban pendek.Membuat emosi Naya langsung naik."Nanti apanya?!"Tidak ada jawaban.Kesabaran Naya habis.Ia langsung mengangkat kaki dan menendang tulang kering Gilang.Tidak keras.Tapi cukup mengejutkan."Aw!"Gilang kehilangan keseimbangan sesaat.Kakinya
Motor Gilang berhenti tepat di depan Kantor Catatan Sipil.Mesin dimatikan.Helm dilepas.Lalu ia menatap gedung di depannya cukup lama.Beberapa detik.Kemudian tertawa pelan sendiri.Benar-benar pelan.Kalau ada orang yang melihatnya sekarang, mungkin akan mengira pria itu sudah mulai stres.Dan memang sedikit benar.Karena hari ini ia sedang dalam perjalanan untuk menikahi wanita yang sama.Untuk kedua kalinya."Gila..." gumamnya pelan.Dulu menikah diam-diam.Sekarang menikah lagi.Masih diam-diam.Bedanya dulu Naya tahu dia suaminya.Sekarang Naya justru tidak tahu.Hidup memang kadang terlalu kreatif.Gilang menggeleng kecil lalu berjalan menuju halaman depan sembari menelpon atasan. Gilang memberitahu atasan bahwa dia akan menikah dengan menggunakan identitas aslinya, dan komandan pun setuju. Di sana Naya sudah menunggu.Bersandar di mobil.Kacamata hitam bertengger di atas kepala.Tangannya menyilang.Wajahnya terlihat tidak sabar.Begitu melihat Gilang datang, Naya langsung
Pagi itu suasana apartemen terasa jauh lebih ramai dari biasanya.Di meja makan, Risa sedang menghabiskan roti bakar dengan wajah puas. Segelas susu cokelat hampir habis di tangannya.Pak Ahmad duduk di sofa sambil membaca koran.Sementara Tari membereskan piring-piring bekas sarapan.Di sisi lain ruangan, Gilang baru saja menutup panggilan telepon.Tatapannya sedikit kosong.Rahangnya mengeras sesaat.Naya.Telepon itu hanya berlangsung beberapa menit, tapi cukup membuat kepalanya terasa lebih berat.Ia menghela napas pelan.Lalu menoleh ke arah meja makan.Risa sedang menggigit roti sambil menggoyang-goyangkan kaki.Melihat itu, Gilang akhirnya berjalan mendekat.Duduk di kursi seberangnya.Risa langsung tersenyum lebar.“Papa.”Gilang menatapnya.“Ada yang mau Papa bicarakan.”Risa mengangguk santai.“Iya. Aku juga mau bicara.”“Papa dulu.”“Oke.”Risa kembali menggigit rotinya.Gilang terdiam beberapa detik.Mencari kata-kata yang tepat.Namun tetap terasa sulit.“Risa.”“Iya?”“K
Pagi menjelang siang. Apartemen yang biasanya tenang berubah menjadi sedikit lebih ramai sejak kedatangan Risa.Saat ini anak itu sedang duduk di meja makan.Pipinya masih sedikit sembab karena tangisan tadi.Namun suasana hatinya sudah jauh lebih baik.Terutama karena di depannya ada sepiring nasi goreng.Dan segelas jus.Dan beberapa potong ayam.Dan camilan.Dan entah sejak kapan meja makan itu berubah menjadi kantin mini."Makan pelan-pelan."kata Tari.Risa mengangguk.Lalu memasukkan satu sendok penuh ke mulutnya."Pelan-pelan."ulang Tari.Risa mengangguk lagi.Lalu memasukkan satu sendok penuh lagi.Tidak ada perubahan sama sekali.Di sisi lain Gilang mulai menguap.Semalaman ia hampir tidak tidur.Pagi tadi juga penuh kekacauan.Belum lagi urusan pekerjaannya yang belum selesai.Kepalanya mulai terasa berat.Namun masalahnya Risa tidak mau pulang sama sekali."Tidak."jawab Risa tegas ketika tadi ditanya."Kenapa?""Aku lagi ngungsi."Pak Ahmad sampai hampir tersedak mendeng
Ruang tamu masih dipenuhi suara tangisan Risa. Anak itu duduk di sofa sambil memeluk boneka kelincinya.Matanya merah.Hidungnya merah.Pipinya juga merah.Pokoknya merah semua.Sementara Gilang sudah mulai kehabisan cara."Risa.""Hiks...""Coba tenang dulu.""Nggak bisa.""Kenapa?""Karena Mama diusir.""Oke.""Terus Papa nggak nolong.""Oke.""Terus Papa jahat.""Oke.""Terus Papa harus nikahin Mama."Gilang yang sedang mengambil tisu langsung tersedak."Apa?"Risa mengusap air mata.Namun jawabannya tetap mantap."Papa harus nikahin Mama."Gilang berkedip.Lalu berkedip lagi.Merasa mungkin pendengarannya bermasalah."Sebentar."katanya."Kita ulang dari awal."Risa mengangguk.Gilang menarik napas."Mama diusir.""Iya.""Kamu sedih.""Iya.""Lalu aku harus bantu.""Iya.""Kenapa ujung-ujungnya aku harus nikahin Mamamu?"Risa menatapnya seperti pertanyaan itu sangat bodoh."Karena Papa.""...""Dan Mama.""...""Kalau nikah kan beres."Gilang langsung menatap langit-langit rumah.
Di dalam mobil. Suasana sebenarnya tenang.Terlalu tenang. Dan itu justru membuat Pak Ahmad waspada. Karena selama mengenal Risa, kalau anak itu diam terlalu lama, biasanya sedang merencanakan sesuatu.Dan benar saja. Risa duduk di kursi belakang sambil memeluk boneka kelincinya.Wajahnya serius.Sangat serius.Seperti direktur perusahaan yang sedang menghadapi krisis nasional.Tiga menit.Lima menit.Tujuh menit.Lalu tiba-tiba—"Pak Ahmad.""Iya, Non?""Ada keadaan darurat."Pak Ahmad langsung melirik lewat kaca spion."Tumben."Risa mengangguk berat."Sangat darurat."Tari yang duduk di samping ikut menoleh."Darurat apa?"Risa menarik napas panjang.Lalu berkata dengan suara penuh beban."Mama diusir."Pak Ahmad langsung terdiam."Lalu Papa hilang."Tari menahan senyum."Lalu Eyang marah."Pak Ahmad mengangguk pelan."Lalu Papa bohong.""Masih marah ya?"tanya Tari."Masih."jawab Risa cepat."Lalu kenapa wajahnya sedih?"Risa menghela napas."Karena ini lebih besar dari kemarahan







