Share

Bab 14: Pres Conference Ricuh

Author: fatim ae
last update publish date: 2026-10-25 19:51:54

Jam 10 pagi, Ballroom lantai 40 Adhitama Tower. Ballroom penuh wartawan. 30 kursi terisi. Kamera, mic, lampu sorot. Di depan backdrop: PRESS CONFERENCE ADHITAMA GROUP.

Di belakang backdrop, Aluna berdiri dress biru navy sederhana. Tangan dingin gemetar. Devan di sampingnya jas hitam, menggenggam tangan Aluna. "Jangan takut. Ada saya." Mama duduk di depan dengan kebaya merah.

Jam 10 tepat. Devan naik podium. Semua kamera menyala. "Selamat pagi. Terima kasih sudah datang. Hari ini saya Devan Adhi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku Pilih Adikku, Aku Pilih Kakaknya    Bab 15: Ibu Tiri Disandra

    Jam 6 pagi, Kampung Sari, pinggiran Kediri. Rumah papan sederhana milik Ibu Sumi, ibu tiri Aluna, masih gelap. Ibu Sumi usia 55 tahun, bangun untuk sholat subuh. Di luar rumah, suara motor berhenti. Reno turun dari motor NMax hitam dengan 2 debt collector. Ibu Sumi buka pintu. "Siapa ya?" Reno tersenyum licik. "Pagi Bu Sumi. Saya Reno, suami Aluna." Ibu Sumi kaget. "Reno? Ngapain kamu di sini?" Reno keluarkan map coklat. "Saya datang karena Ibu punya utang 300 juta." Ibu Sumi membeku. "Saya tidak pernah utang!" Reno tunjuk surat utang palsu. "Ini surat utang Ibu. 300 juta. Kalau tidak bayar hari ini, rumah ini saya sita." Ibu Sumi menangis. "Itu bukan tanda tangan saya!" Reno tidak peduli. "Saya kasih waktu sampai jam 12 siang." 2 debt collector masuk rumah, mengeluarkan barang Ibu Sumi ke halaman. Ibu Sumi duduk di tanah, menangis. Di Jakarta, penthouse lantai 45, Aluna baru bangun jam 7 pagi. Ponselnya berdering. Suara Ibu Sumi menangis. "Aluna... Ibu diusir Reno... Rumah Ibu

  • Suamiku Pilih Adikku, Aku Pilih Kakaknya    Bab 14: Pres Conference Ricuh

    Jam 10 pagi, Ballroom lantai 40 Adhitama Tower. Ballroom penuh wartawan. 30 kursi terisi. Kamera, mic, lampu sorot. Di depan backdrop: PRESS CONFERENCE ADHITAMA GROUP.Di belakang backdrop, Aluna berdiri dress biru navy sederhana. Tangan dingin gemetar. Devan di sampingnya jas hitam, menggenggam tangan Aluna. "Jangan takut. Ada saya." Mama duduk di depan dengan kebaya merah.Jam 10 tepat. Devan naik podium. Semua kamera menyala. "Selamat pagi. Terima kasih sudah datang. Hari ini saya Devan Adhitama, CEO Adhitama Group, mengadakan Press Conference untuk dua hal. Pertama, klarifikasi kasus korupsi 2 Miliar yang melibatkan mantan manager kami, Reno Saputra. Kedua, pengumuman pribadi." Semua wartawan angkat tangan.Tiba-tiba pintu ballroom terbuka keras. Clarissa masuk dress putih ketat, didampingi Kiya dress merah. Di belakang mereka Pak Joni wartawan. "Maaf telat! Saya Clarissa, mantan istri Pak Devan. Saya juga punya bukti penting tentang korupsi ini!" Satu ballroom hening. Semua kame

  • Suamiku Pilih Adikku, Aku Pilih Kakaknya    Bab 13: Mantan Istri Devan Kembali

    Jam 10 pagi, lobby Adhitama Tower. Semua resepsionis berdiri tegak. Bukan karena Devan datang. Tapi karena seorang wanita turun dari Porsche merah dengan kacamata Chanel. Clarissa Adhitama. Mantan istri Devan. Usia 32 tahun, mantan model, tinggi 175 cm, dress putih ketat, heels 12 cm. Aura seperti artis Hollywood. Di belakangnya Kiya berjalan cepat. "Kak Clarissa, Kak Aluna pasti di atas. Ngaku-ngaku jadi Nyonya Adhitama," bisik Kiya. Clarissa melepas kacamata. "Gelar itu masih punya saya." Resepsionis panik. "Bu Clarissa, Pak Devan di lantai 45. Mau saya teleponkan?" "Tidak perlu. Saya masih hafal kode lift private suami saya." Lift terbuka. Mereka naik ke lantai 45. Di penthouse lantai 45, Aluna sedang menyiram tanaman di balkon. Dia memakai dress rumahan sage, rambut diikat kucir, tanpa makeup. Devan di ruang kerja, video call. Pintu tertutup. Pintu penthouse terbuka dengan kode lama. Aluna menoleh. Melihat Clarissa masuk. Aluna membeku. Clarissa menatap Aluna. "Hai, ka

  • Suamiku Pilih Adikku, Aku Pilih Kakaknya    Bab 12: Rapat Dewan Direksi

    Ruangan itu dingin. Meja oval marmer putih, 12 kursi kulit hitam. Semua pemegang saham dan investor Jepang sudah duduk. Di ujung meja Mama Adhitama duduk dengan kebaya merah marun, di sebelahnya Devan dengan jas navy. Di depan mereka Aluna duduk sendirian, blazer hitam, tangan gemetar memegang map bukti korupsi Reno. Pintu terbuka. Reno masuk dengan kemeja putih kusut, tanpa jas. Di belakangnya Kiya dengan dress putih polos, wajah dibuat pucat, memegang perutnya yang rata. "Maaf terlambat," kata Reno pelan. Mama tidak menjawab. Dia menatap Aluna. "Aluna, silakan." Aluna berdiri. Suaranya pelan tapi satu ruangan dengar karena mic menyala. "Terima kasih atas waktunya. Saya Aluna, mantan staf finance cabang Bintaro. Saya di sini bukan sebagai istri atau mantan istri siapapun. Saya di sini sebagai pelapor." Aluna membuka map coklat. "Ini bukti transfer 2 Miliar dari rekening operasional cabang Bintaro ke rekening pribadi atas nama Kiya Anindita. Ada 15 kali transfer. Alasan: biaya e

  • Suamiku Pilih Adikku, Aku Pilih Kakaknya    Bab 11: Mama Datang

    Jam 6 sore, lobby Adhitama Tower. Mama Adhitama turun dari Alphard hitam dengan koper Louis Vuitton besar. Usia 55 tahun, kebaya biru navy, aura seperti ratu pulang dari Singapura. Di belakangnya Reno dan Kiya sudah menunggu. "Ma! Akhirnya Mama pulang!" Reno langsung peluk Mama. Mama menepuk punggung Reno, tapi matanya mencari ke atas. "Mana perempuan itu? Mana Aluna yang kata kamu sudah tidur satu ranjang sama Devan?" Kiya menyahut, "Tante, Kak Aluna di atas Tan. Tadi saya lihat dia masuk ke kamar utama Mas Devan." Mama masuk lift private menuju penthouse. Reno dan Kiya saling tatap, senyum kemenangan. Di penthouse lantai 45, Aluna panik setengah mati. Dia berdiri di depan cermin kamar utama dengan dress cream yang Devan belikan. Devan memakai kaos polo putih dan chino. "Mas, kalau Mama tanya kita tidur gimana, jawab apa?" Aluna berbisik gugup. "Jawab apa adanya. Kita tidur seranjang. Tapi pakai guling tembok Berlin. Jangan sebut gulingnya," Devan berbisik balik sambil mera

  • Suamiku Pilih Adikku, Aku Pilih Kakaknya    Bab 10: Ambil Saja Bekas Aku Mas

    Ruangan CEO lantai 32 masih dingin. Aluna duduk di sofa, matanya kosong menatap meja marmer hitam tempat Reno dipecat kemarin. Devan berdiri di dekat jendela. Punggungnya tegak. Sejak telepon dari Mama semalam, dia belum banyak bicara. Pintu diketuk. Pak Jono masuk. "Pak, Reno ada di bawah. Mau ketemu. Bawa Kiya." Devan mengernyit. "Suruh naik." Lima menit kemudian pintu terbuka. Reno masuk dengan kemeja kusut, wajah tidak tidur semalaman. Di belakangnya Kiya menunduk, hanya pakai kaos dan jeans, wajah pucat tanpa makeup. "Mas Devan," kata Reno pelan. Devan tidak menjawab, hanya menatap adiknya. Aluna ikut berdiri dengan jarak jauh dari Reno. "Mas, aku mau bicara berdua. Tanpa dia," Reno menunjuk Aluna. "Dia asisten saya. Dia tetap di sini," jawab Devan dingin. Reno menarik napas panjang. "Mas, aku tahu aku salah. Soal 2 Miliar itu aku hilaf. Kiya terus minta ini itu. Aku kepepet." Kiya menunduk semakin dalam. "Tapi Mas, pikirkan Kiya. Dia calon adik ipar Mas juga. Kalau aku tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status