Home / Romansa / Suamiku, Tuan Mudaku / TIBA-TIBA PANIK

Share

TIBA-TIBA PANIK

Author: Rr716
last update publish date: 2026-06-04 00:13:27

"Kalau nanti ada yang nakal atau berani jahat sama kamu di sekolah baru, kamu kan bisa bilang ke mereka semua kalau Aunty kamu itu adalah Mamih kamu sendiri. Karena kan sekarang Aunty kamu itu udah resmi jadi istri Om Devan. Jadi, kalau mereka tahu lo punya Mamih, kamu nanti gak akan di-hina-hina atau diejek sama orang lain lagi, Ran," ucap Devan memberikan solusi yang menurutnya sangat jenius.

Emran meletakkan potongan jambunya, lalu menopang dagu dengan kedua tangan mungilnya. "Boleh juga sih
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suamiku, Tuan Mudaku    murid penasaran dengan Eko dan Vano

    Para siswa yang sedang asyik merapatkan barisan sambil berbisik-bisik heboh di lorong sekolah mendadak tersentak kaget. Sebuah suara berat nan familier mendadak menggelegar persis dari arah belakang punggung mereka."Hey.... Kalian ngegosip ajah iiiiiiiiiiiihhhhhhh... Mana ngegosipin bada lagi. Meni gak ada gitu gosip yang lebih asik selain gosipin bapak yang ganteng mempesona ini. Kan bapak teh jadi gimana gitu." Ucap Eko yang tiba-tiba ada di belakang mereka sambil berkacak pinggang dengan gaya santainya.Kumpulan murid yang kepergok itu langsung melonjak kaget, memegang dada masing-masing dengan napas memburu."Bapak.... Astaga... Kebiasaan suka kaya setan... Bapak mah siga jalangkung..." Kompak mereka mengelus dada, jengkel sekaligus terperanjat oleh kemunculan Eko yang tanpa suara.Eko menyunggingkan senyum jahil, memiringkan kepalanya menatap pasukan murid yang masih heboh."Idih... Kalian yang keasikan ngegosipin saya sama adik-adik saya. Kalian penasaran kan lihat bapak-bapak

  • Suamiku, Tuan Mudaku    JANJI DEVAN

    Vani menggelengkan kepalanya cepat, menolak tawaran kencan mewah di pusat perbelanjaan dan memilih tempat hiburan rakyat yang menurutnya jauh lebih seru."Gak mau ah pengen ke pasar malam ajah pengen main di sana." Ucap Vani menyuarakan keinginan polosnya dengan sepasang mata berbinar antusias.Devan memiringkan kepalanya sedikit, memastikan keberadaan wahana hiburan rakyat yang dimaksud oleh sang istri."Emang ada sayang?" Tanya Devan heran, mengingat kawasan perumahan mereka biasanya jarang dilewati arena hiburan keliling.Vani mengangguk cepat penuh keyakinan. "Ada nanti sore mulai nya...." Ucap Vani memberitahukan jadwal beroperasinya pasar malam tersebut.Melihat semangat istrinya yang meluap-luap, Devan tersenyum lembut. Namun mengingat kondisi fisik Vani yang baru pulih dan perutnya yang sempat nyeri, Devan langsung mengambil tindakan protektif."Ya udah sini istirahat dulu sini di pangkuan mas... Nanti sore kita ke sana sini jangan gak bisa diem nanti sakit lagi perutnya." Uca

  • Suamiku, Tuan Mudaku    BISNIS VANI DAN VANO

    Vani menganggukkan kepalanya yakin, mengurai senyum hangat saat menjelaskan potensi langganan bisnis kuliner mereka di lingkungan sekitar."Iya beneran mang mungkin yang pesen sama Vano itu tetangga di sini. Mereka biasanya suka mesen sama kita. Kalau cuma ayam sama lalaban kita bikin sendiri kalau mereka pengen pake sayuran tau kaya kentang kita pasti nanti minta bantuan mbak Sari." Ucap Vani menjelaskan pembagian tugas memasak dengan begitu runtut dan berpengalaman.Mang Kardi manggut-manggut menyimak, mencatat poin penting pesanan dari rombongan pegawai proyek tersebut."Ini cuma minta ayam lalaban ajah neng." Ucap Kardi menyampaikan menu simpel dari para pelanggan.Vani menepuk tangannya sekali dengan raut wajah berbinar lega."Oke kalau gitu mah gampang." Vani memberikan jaminan bahwa pesanan porsi besar itu berada di bawah kendalinya.Namun Mang Kardi mendadak menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, menyadari satu kendala pada ketersediaan bahan baku utama di dapur warung

  • Suamiku, Tuan Mudaku    BANTUIN MANG KARDI

    Emran menyandarkan kepalanya yang terasa mulai berat di bahu Devan, memiringkan wajahnya sembari mengutarakan kejujuran hatinya. "Beneran atuh... Cuma Om nya kadang pikasebelen tapi Emran tetep sayang peluk atuh Emran mau bobo..." Ucap Emran dengan suara yang mulai serak menahan kantuk luar biasa. Hati Devan meleleh mendengar pengakuan jujur dari keponakannya. Pria tampan itu merentangkan tangannya lebar-lebar, menarik tubuh gembul Emran ke dalam dekapannya, lalu mengalihkan pandangan penuh kehangatan pada sang istri yang sibuk memegang ponsel. "Sini.... Om peluk.. sayang sini tidur juga." Ucap Devan mengajak Vani ikut bergabung di atas sofa empuk. Vani yang jarinya sibuk menari di atas layar ponsel menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya. "Gak mau masih mau nonton sama lagi chatan sama Vano juga ini." Ucap Vani santai. Alis Devan bertaut, rasa cemburu tipis langsung menyelusup ke dadanya mendengar nama saudara kembar istrinya disebut. "Chatan apa?" Tanya Devan me

  • Suamiku, Tuan Mudaku    KASIH SAYANG DEVAN KE EMRAN

    Di dalam kamar mandi, Devan masih setia jongkok di depan kloset, menatap keponakan gembulnya yang masih betah duduk"Sebentar lagi masih banyak...." Ucap Emran memberitahukan bahwa proses pembuangan hajatnya belum sepenuhnya tuntas.Devan menghela napas panjang, mengurut pangkal hidungnya yang terasa pegal melihat sisa-sisa perjuangan sembelit keponakannya."Makan apa ajah sih di sekolah sampe eek kamu sebanyak ini?" Tanya Devan heran membayangkan isi perut bulat bocah di depannya.Emran mendongak polos, menyebutkan satu per satu deretan makanan yang dimakannya sepanjang pagi hingga siang tadi dengan raut wajah tanpa dosa."Baso goreng terus nasi liwet di suapin sama Oma sama bihun goreng juga enak bihun goreng bikinan mbok Inah." Ucap Emran merincikan pesta jajanan kolosal yang masuk ke dalam pencernaannya.Devan membelalakkan matanya kaget, membayangkan tumpukan porsi makanan yang di makan keponakan nya."Astaga.... Nasi kuning yang kamu bawa bekal di makan gak?" Yany Devan memastik

  • Suamiku, Tuan Mudaku    EMRAN SAKIT PERUT

    Melihat ancaman asbak tebal yang diangkat tinggi-tinggi oleh sang ayah, Devan langsung menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah cemberut dan mata menatap sengit."Dasar Aki-aki tua Bangka pisikopat kebiasaan licik pisan itu istri Devan ajah main di peluk-peluk cium-cium." Ucap Devan menggerutu nyaring, meluapkan kejengkelannya pada sang ayah yang sesuka hati merangkul dan mencium istri kecilnya.Damian yang mendengar omelan anaknya justru santai menurunkan asbak kaca tersebut, menatap Devan dengan tatapan meremehkan."Hey... Bodoh dia anak Daddy." Ucap Damian mengingatkan status kekeluargaan mereka bahwa Vani juga merupakan anak angkat kesayangannya.Devan tidak mau kalah, membusungkan dadanya sembari melontarkan pembelaan konyol dengan intonasi bernada tinggi."Hey... Pak tua Bangka dia gue mamih Devan." Ucap Devan lantang, bermaksud menegaskan bahwa Vani adalah istrinya dan ibu dari calon anak-anaknya kelak.Damian memutar bola matanya malas, menyengir ejek melihat tin

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Yang pasti bukan pengemis

    "Lo gak lihat gimana pacar kesayangan lo itu ngebuli dia? Dia cuma diam, Dev! Padahal posisinya dia itu istri sah lo," ucap Eko dengan nada kesal yang tertahan. "Vani bisa saja lempar gelas itu ke muka Lana kalau dia mau, tapi dia gak sebodoh itu. Dia cuma gak mau cari masalah karena dia tahu sekar

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Mencari kesempatan dalam kesempitan

    "Jam dua malam, Tuan," bisik Vani lirih sambil melirik jam di dinding klinik."Sudah, cepat jangan banyak protes. Kamu itu istri saya, jadi saya sah-sah saja memegang tubuh kamu," potong Devan dengan nada yang tak ingin dibantah."Tapi, Tuan..." Vani masih berusaha menolak."Gak ada tapi-tapian, ce

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Nginep di Klinik

    "Nanti gue ceritain semuanya," ucap Devan pendek, mencoba mengakhiri rasa penasaran Eko.Mereka pun melangkah mengikuti suster dan dokter menuju ruang rawat Vani. Beruntung klinik ini cukup besar dan fasilitasnya lengkap, sehingga ada ruang inap yang memadai."Maaf, Tuan... tolong dijaga ya, jangan

  • Suamiku, Tuan Mudaku    Gara-gara gelas hampir nyawa melayang

    "Sayang, ada apa?" tanya Devan dengan nada khawatir begitu menghampiri pacarnya."Ini, Sayang... pembantu kamu ceroboh banget! Dia mecahin gelas kesayangan aku, Sayang," adu Lana dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.Plak! Tanpa aba-aba dan tanpa bertanya lebih dulu, tangan Devan melayang kera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status