Share

Bab 3

Author: Bes
Saat kotak notifikasi itu muncul, dengungan di telingaku menenggelamkan semua suara.

Aku hanya bisa melihat bibir Adam yang terkatup rapat. Dia mengambil kartu kamarnya sendiri, lalu mendorong kartu yang lain ke hadapanku.

“Beristirahatlah malam ini. Besok aku kembali dan kita bicarakan.”

Saat membawa Farah pergi, dia juga mematikan pengeras suara. Kamar itu kembali sunyi.

Namun, untuk pertama kalinya aku tahu, kesunyian selama 5 tahun ini bukan karena dia tidak mampu mewujudkannya. Hanya saja, aku tidak cukup berarti baginya untuk membuat pengecualian.

Keesokan paginya, alat bantu dengarku mengeluarkan peringatan baterai lemah.

Suaranya nyaring dan menusuk. Meski tertutup dengungan yang pekat, suara itu tetap membuat pelipisku terasa sakit.

Di ruang tamu, Adam sedang menelepon Farah.

“Semalam dia sampai kesakitan seperti itu, malam ini dia tidak mungkin pergi. Jangan biarkan tiketnya kosong, berikan saja pada pemain keyboard. Bukankah dia sudah lama ingin menonton konser musik getaran di Balleni? Panggung frekuensi rendah akan berguna untuk aransemen.”

Aku berdiri di ambang pintu, jemariku menopang kusen.

Itu adalah dua tiket konser musik tanpa suara Aurora. Penonton merasakan melodi melalui getaran lantai, cahaya, dan sedikit frekuensi rendah.

Di hari ketika aku didiagnosis mengalami penurunan pendengaran yang tidak dapat dipulihkan, setelah keluar dari rumah sakit, aku melihat poster pertunjukan itu di pinggir jalan.

Adam memelukku dan berjanji akan menemaniku, “Jika suatu hari nanti kamu tidak bisa mendengar, aku akan belajar menjadi telingamu.”

Demi konser ini, kami sudah memesan tiketnya 6 bulan sebelumnya.

Adam mengakhiri teleponnya. Ketika berbalik dan melihatku, dia seperti teringat sesuatu.

“Sudah bangun? Alat bantu dengarmu perlu diisi daya.”

Dia mengulurkan tangan, tetapi aku tidak menyerahkannya.

“Kamu memberikan tiketku kepada orang lain?”

Tatapannya menghindar sesaat, lalu suaranya segera merendah.

“Pemain keyboard Farah kebetulan sedang mempelajari frekuensi rendah. Kondisimu sedang tidak baik. Kalaupun pergi, belum tentu kamu nyaman. Setelah kita kembali, aku akan memesankan alat bantu dengar model terbaru untukmu.”

“Aku mau tiket itu.”

“Felly, itu hanya sebuah konser.”

Dia membuka ponselnya dan menunjukkan model alat bantu dengar tersebut kepadaku.

Harganya mahal, parameternya rumit, dan informasi pesananku bahkan sudah diisi di halaman pemesanan.

“Yang ini jauh lebih bagus daripada yang sekarang kamu pakai. Pernikahan dan konsernya bisa kita ganti nanti setelah pendengaranmu stabil.”

Dia sudah mengatur semuanya dengan begitu sempurna.

Jika masih punya waktu lebih dari satu hari, mungkin aku akan menerima rencananya seperti dulu.

“Kembalikan tiketnya,” kataku.

Kesabaran di wajah Adam perlahan memudar.

“Aku sudah berjanji kepada orang lain. Kalau tiba-tiba menariknya kembali, bagaimana Farah menjelaskan pada bandnya?”

“Lalu bagaimana dengan yang kamu berjanji kepadaku?”

Dia terdiam sejenak, lalu meletakkan ponselnya di atas meja menghadap ke bawah.

“Dulu kamu bukan orang yang perhitungan dengan hal-hal kecil.”

Di tengah suara listrik yang samar, setiap kata terdengar seperti datang melalui air.

“Tiketnya tidak bisa dikembalikan. Kamu sekarang tidak bisa pergi. Membiarkan kursinya kosong juga tidak ada gunanya.”

Aku menatapnya dan tiba-tiba tidak punya tenaga lagi untuk menjelaskan.

Farah mengirim sebuah pesan suara.

Adam memutarnya dengan pengeras suara. Suaranya yang penuh senyum menembus kebisingan.

[Adam, Kakak Ipar tidak akan marah hanya gara-gara satu tiket, kan? Kalau begitu, lupakan saja. Aku tidak ingin memengaruhi hubungan kalian ….]

Adam langsung mengambil ponselnya dan membalas.

“Semalam telinganya berdenging parah, jadi dia tidak bisa pergi. Nanti akan kujelaskan kepadanya.”

Dia terlalu yakin ….

Yakin aku akan memakluminya, yakin aku akan mengalah dan yakin selama dia kembali, aku akan tetap berada di tempat yang sama.

Aku melepas cincin pernikahanku dan meletakkannya di tempat tiket itu.

Begitu melihatnya, wajah Adam seketika menjadi dingin.

“Pakai kembali.”

“Terasa mengganjal.”

“Hanya 1 tiket. Kamu melepas cincin pernikahan hanya gara-gara tiket?”

Aku mengambil perjanjian elektronik yang dikirim pengacara dan menekan tombol cetak. Printer di dalam suite mulai berbunyi.

Tatapan Adam jatuh pada halaman pertama.

Kata “Perjanjian Perceraian” akhirnya membuatnya melangkah mendekat, “Kamu bersungguh-sungguh?”

Aku tidak menjawab.

Suara listrik dari alat bantu dengarku semakin nyaring. Aku mengangkat tangan dan mematikan dayanya sepenuhnya.

Sebelum dunia benar-benar tenggelam dalam keheningan, kalimat terakhir yang kudengar adalah suara Adam yang menahan amarah ….

“Felly, jangan gunakan perceraian untuk menakut-nakutiku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 8

    3 bulan kemudian, band Farah mengumumkan pembubaran mereka. Bukan karena Adam, dan juga bukan akibat skandal dramatis.Perbedaan pendapat yang telah lama menumpuk antara vokalis dan produser akhirnya meledak setelah tur di Balleni, dan beberapa anggota memilih untuk menempuh jalan masing-masing.Video pertunjukan yang menggunakan sumpah pernikahanku juga dihentikan peredarannya sesuai dengan pernyataan yang telah dibuat.Adam menanggung biaya pelanggaran kontrak dan secara terbuka menjelaskan di media berbahasa setempat mengenai sumber materi terjemahan tersebut.Dia tidak menyebut penyakitku, juga tidak memanfaatkan ketulianku untuk mencari pengampunan.Ketika guru rehabilitasi menyerahkan halaman berita itu kepadaku, aku hanya melihatnya sekali lalu mematikannya.Setelah itu, setiap bulan Adam mengirimiku sepucuk surat tulisan tangan.Dia tidak meminta kami kembali bersama, juga tidak lagi melaporkan kompensasi apa saja yang telah dilakukannya.Dia hanya menulis hal-hal singkat ….Di

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 7

    Farah berdiri di lorong. Dia tidak mengenakan riasan panggung, wajahnya tampak lelah.Adam berdiri untuk menghalanginya, tetapi dia malah meletakkan sebuah map dokumen di dekat pintu.“Aku datang bukan untuk merebut siapa pun.”Aku tidak bisa mendengar suaranya, hanya bisa memahami gerak bibirnya yang sengaja diperlambat.Adam bergeser dan menghalangi pandanganku. Aku memberi isyarat agar dia menyingkir.Farah menatapku dan mengucapkan setiap kata dengan perlahan.“Lagu itu bukan ditulis untukku. Tetapi dia bersedia membacakannya di panggungku. Aku benar-benar mengira masih bisa membawanya kembali ke masa lalu.”Dia tersenyum tipis.“Yang dia butuhkan bukan diriku. Dia hanya ingin membuktikan bahwa orang yang dulu meninggalkannya akhirnya bisa berbalik dan membutuhkannya.”Wajah Adam tampak buruk, memberi isyarat agar dia pergi. Namun, Farah justru mengalihkan pandangan kepadanya.“Kamu kembali bukan karena mencintaiku. Kamu menikmati saat aku bergantung padamu, tetapi juga tidak rela

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 6

    Setelah turun ke lantai bawah, Adam berdiri di lobi.Dia tidak menghalangi pintu ataupun berlari menghampiriku dan hanya menatapku dari jarak belasan meter.Beberapa hari tidak bertemu, rahangnya mulai ditumbuhi janggut tipis, dan luka di dekat telinganya akibat malam festival musik rock pun masih terlihat.Di tangannya tidak ada bunga ataupun hadiah, hanya alat bantu dengar yang sebelumnya dia kunci di dalam laci.Dia memanggil namaku. Aku mengenalinya dari gerak bibirnya, tetapi tidak berhenti.Adam mengejarku beberapa langkah, lalu memaksa dirinya untuk berhenti.Dia membuka ponsel dan mengetik dengan cepat.[Aku akan membawamu menjalani pemeriksaan baru. Aku sudah membuat janji dengan tim dokter THT dan untuk evaluasi implan koklea. Kita pastikan dulu penyebabnya, baru membahas pilihan penanganan ….]Aku menyerahkan papan tulis kepadanya.[Sudah menandatangani perjanjian perceraiannya?]Jarinya kaku di atas layar.[Sembuhkan penyakitmu dulu. Yang lain kita bicarakan nanti ….]Aku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 5

    Video itu hanya berdurasi sekitar 20 detik.Adam berdiri di luar pintu, seolah tidak memahami apa yang dikatakan agen properti. Dia menatap ke dalam ruangan sejenak, lalu mengangkat ponselnya dan terus-menerus meneleponku.Aku tidak memblokir nomornya.Karena itu, ketika kereta cepat melaju meninggalkan kota, layar ponselku berkali-kali menyala.Aku tidak bisa mendengar gemuruh roda yang beradu dengan rel, dan hanya bisa melihat pantulan wajahku sendiri di kaca yang berulang kali terputus oleh terowongan.Adam mengirim pesan suara.[Kenapa rumahnya dijual?][Kamu mau pergi ke mana?][Felly, angkat teleponnya.]Akhirnya aku membalas.[Aku tidak bisa mendengar.]Tulisan “sedang mengetik” di bagian atas kotak percakapan berhenti untuk waktu yang lama.Dia mengirim undangan video call. Setelah kutolak, dia mengubahnya menjadi pesan teks.[Alat bantu dengarmu ada padaku. Akan kuantar sekarang ….][Tidak perlu ….][Itu alat yang dibuat khusus untukmu. Kamu tidak bisa hidup tanpanya ….]Aku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 4

    Aku mendorong perjanjian yang sudah kutandatangani ke hadapan Adam. Dia berdiri di sisi meja, “Nyalakan.”Aku menggeleng dan mengeluarkan ponsel untuk mengetik.[Tanda tangan ….]Adam melirik perjanjian itu, tetapi tidak mengambilnya.Bibirnya bergerak, dan aku hanya bisa mengenalinya dengan susah payah, “Bahkan jika tidak bisa mendengar, kamu tetap Nyonya Dwayne.”Paruh kedua kalimatnya diucapkan sambil memalingkan wajah, jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.Aku kembali mengetik.[Aku tidak sedang mencari simpati. Semua biaya bersama selama di Balleni sudah kulunasi. Aset di dalam negeri akan diproses sesuai perjanjian pranikah. Setelah kamu menandatangani, pengacara akan mengurus proses selanjutnya ….]Adam mengambil perjanjian itu dan membuka halaman pembagian harta. Semakin dia membaca, wajahnya semakin muram.“Tidak menginginkan apa pun?”Aku mengenali kalimat itu dari gerak bibirnya dan mengangguk.Adam membungkuk, menopang kedua tangannya di atas meja, seolah memaksaku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 3

    Saat kotak notifikasi itu muncul, dengungan di telingaku menenggelamkan semua suara.Aku hanya bisa melihat bibir Adam yang terkatup rapat. Dia mengambil kartu kamarnya sendiri, lalu mendorong kartu yang lain ke hadapanku.“Beristirahatlah malam ini. Besok aku kembali dan kita bicarakan.”Saat membawa Farah pergi, dia juga mematikan pengeras suara. Kamar itu kembali sunyi.Namun, untuk pertama kalinya aku tahu, kesunyian selama 5 tahun ini bukan karena dia tidak mampu mewujudkannya. Hanya saja, aku tidak cukup berarti baginya untuk membuat pengecualian.Keesokan paginya, alat bantu dengarku mengeluarkan peringatan baterai lemah.Suaranya nyaring dan menusuk. Meski tertutup dengungan yang pekat, suara itu tetap membuat pelipisku terasa sakit.Di ruang tamu, Adam sedang menelepon Farah.“Semalam dia sampai kesakitan seperti itu, malam ini dia tidak mungkin pergi. Jangan biarkan tiketnya kosong, berikan saja pada pemain keyboard. Bukankah dia sudah lama ingin menonton konser musik getaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status