Share

Bab 2

Author: Bes
Pukul 11 malam, pintu suite pun terbuka. Tawa Farah lebih dulu menerobos masuk.

“Adam, ruang latihannya disegel. Pinjam pengeras suaranya sebentar. Setelah bagian terakhir selesai, aku akan pergi.”

Tubuhnya bau rokok dan alkohol, sementara di tangannya ada mantel Adam. Adam mengikuti di belakangnya sambil membawa kotak makanan penutup.

Begitu melihatku duduk di dekat jendela, langkahnya terhenti. Dia meletakkan kotak itu di atas meja.

“Belum tidur?” Dia berjalan mendekat dan hendak menyentuh rambutku seperti biasa.

Aku menghindar.

Tangannya menggantung selama beberapa detik, lalu menggeser makanan penutup itu lebih dekat kepadaku.

“Gedung pernikahannya masih tersedia untuk besok. Malam ini aku yang ingkar janji. Besok akan kutebus.”

Pada saat itu, aku benar-benar menatap kotak makanan penutup tersebut.

Di dalam kemasan transparan itu ada puff karamel kesukaanku, dia bahkan harus berjalan melewati 3 blok untuk mendapatkannya.

Dulu, setiap kali kami bertengkar, dia selalu ingat membawakan satu untukku. Aku pernah menganggap ingatan semacam itu sebagai cinta.

“Bagaimana dengan janji pernikahannya?”

Tatapan Adam berkilat sesaat.

Farah sudah menyambungkan pengeras suara, dan dentuman drum tiba-tiba meledak tanpa peringatan.

Getaran yang menusuk menembus alat bantu dengarku, membuat gendang telingaku seolah tertusuk jarum-jarum kecil secara tiba-tiba.

Aku mengangkat tangan untuk menutup telingaku.

Wajah Adam memucat, tetapi dia hanya berjalan mendekat dan mengecilkan volumenya 2 tingkat.

“Belakangan ini telinganya tidak nyaman. Pelankan sedikit.”

Farah mengangkat alis dan menatapku, lalu akhirnya mengecilkan volume musik.

“Bukankah Kakak Ipar sebentar lagi tidak bisa mendengar? Kukira kalau suaranya dibesarkan, justru dia bisa mendengarnya lebih jelas.”

“Farah.” Wajah Adam menggelap.

Dia mengangkat bahu dan tidak berkata apa-apa lagi, tetapi musik masih terus diputar.

Aku menatap Adam, “Kamu pernah berjanji tidak akan memutar musik di rumah.”

“Hotel ini kedap suara.”

“Kalau begitu, kamu takut tidak?”

Garis bibirnya mengencang.

Aku tidak bertanya lagi, hanya mengulurkan tangan dan mematikan pengeras suara.

Wajah Farah yang tadi masih tersenyum langsung berubah muram.

“Aku akan tampil besok. Bagian ini harus diubah. Kalau tidak bisa diputuskan malam ini, seluruh bagian ini harus dihapus besok. Beri aku 10 menit.”

Dia kembali menekan tombol putar.

Adam menahan tanganku yang hendak mematikannya kembali.

“10 menit. Setelah selesai mengubahnya, dia akan pergi.”

“Acara pernikahannya juga hanya membutuhkan 10 menit.”

Dia tidak menjawab.

Dentuman drum kembali terdengar.

Bahu dan punggung Adam tampak menegang. Keringat dingin merembes di pelipisnya, tetapi dia tetap berdiri di samping pengeras suara, membantu Farah memperbaiki pelafalan bahasa setempat.

Beberapa tahun lalu, aku tidak sengaja memecahkan sebuah gelas kaca di rumah.

Adam langsung kambuh, meringkuk di sudut dinding dengan napas yang tidak teratur.

Aku memeluknya dan duduk bersamanya sepanjang malam. Sejak saat itu, bahkan peralatan dapur kami kuganti dengan bahan yang tidak menimbulkan suara.

Aku menyalahkan diriku sendiri selama setahun penuh karena gelas itu.

Namun sekarang, di tengah dentuman drum yang bahkan cukup keras untuk membuat dinding bergetar pun … dia tidak pergi.

Setelah selesai mengatur satu bagian, Farah menyodorkan air kepadanya.

“Dulu setiap mendengar dentuman drum, kamu selalu menghindar. Dokter bilang kejadian di bandara waktu itu membuat suara bising dan kepergianku terikat dalam ingatanmu.”

“Setelah aku kembali, bukankah kondisimu perlahan membaik?”

Dia mengatakannya dengan santai, seolah sedang membicarakan masa lalu yang hanya mereka berdua pahami.

Tangan Adam yang sedang memutar tutup botol pun terhenti.

“Semua sudah berlalu.”

“Benar. Setelah aku kembali, bukankah kamu perlahan sudah bisa mendengar lagi?”

Dengungan di telingaku semakin berat. Kata-kata Farah setelah itu pecah menjadi suku-suku suara yang terputus-putus.

Adam berjalan ke arahku dan hendak melepas alat bantu dengarku.

Aku mundur selangkah, “Jangan sentuh.”

Dia mengernyit, “Wajahmu pucat sekali.”

“Jadi selama ini kamu bukannya tidak bisa mendengar ….”

“Felly, kedua hal ini tidak bisa dicampuradukkan. Aku tidak berpura-pura sakit. Pengobatannya memang efektif, hanya saja malam ini situasinya khusus.”

Musik Farah masih terus terdengar.

Bahkan kalimat itu tidak mampu dia jelaskan sendiri.

Aku mengambil ponsel dan membuka halaman penerbangan. Begitu melihatnya, Adam langsung mematikan layar.

“Kalau mau pulang, boleh. Tunggu sampai urusan di Balleni selesai, lalu kita pulang bersama. Telingamu sedang berdenging parah sekarang, jangan mengubah rencana di saat seperti ini.”

“Aku ingin pergi sekarang.”

“Besok setelah pengambilan gambar tambahan selesai, aku akan menemanimu ke dokter. Pernikahannya belum dilangsungkan bukan berarti ada masalah dengan pernikahan kita.”

Aku kembali menyalakan layar dan mengonfirmasi tiket di hadapannya.

“Aku akan pulang besok pukul 9 malam. Mau ikut atau tidak, itu sudah tidak ada hubungannya denganku.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 8

    3 bulan kemudian, band Farah mengumumkan pembubaran mereka. Bukan karena Adam, dan juga bukan akibat skandal dramatis.Perbedaan pendapat yang telah lama menumpuk antara vokalis dan produser akhirnya meledak setelah tur di Balleni, dan beberapa anggota memilih untuk menempuh jalan masing-masing.Video pertunjukan yang menggunakan sumpah pernikahanku juga dihentikan peredarannya sesuai dengan pernyataan yang telah dibuat.Adam menanggung biaya pelanggaran kontrak dan secara terbuka menjelaskan di media berbahasa setempat mengenai sumber materi terjemahan tersebut.Dia tidak menyebut penyakitku, juga tidak memanfaatkan ketulianku untuk mencari pengampunan.Ketika guru rehabilitasi menyerahkan halaman berita itu kepadaku, aku hanya melihatnya sekali lalu mematikannya.Setelah itu, setiap bulan Adam mengirimiku sepucuk surat tulisan tangan.Dia tidak meminta kami kembali bersama, juga tidak lagi melaporkan kompensasi apa saja yang telah dilakukannya.Dia hanya menulis hal-hal singkat ….Di

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 7

    Farah berdiri di lorong. Dia tidak mengenakan riasan panggung, wajahnya tampak lelah.Adam berdiri untuk menghalanginya, tetapi dia malah meletakkan sebuah map dokumen di dekat pintu.“Aku datang bukan untuk merebut siapa pun.”Aku tidak bisa mendengar suaranya, hanya bisa memahami gerak bibirnya yang sengaja diperlambat.Adam bergeser dan menghalangi pandanganku. Aku memberi isyarat agar dia menyingkir.Farah menatapku dan mengucapkan setiap kata dengan perlahan.“Lagu itu bukan ditulis untukku. Tetapi dia bersedia membacakannya di panggungku. Aku benar-benar mengira masih bisa membawanya kembali ke masa lalu.”Dia tersenyum tipis.“Yang dia butuhkan bukan diriku. Dia hanya ingin membuktikan bahwa orang yang dulu meninggalkannya akhirnya bisa berbalik dan membutuhkannya.”Wajah Adam tampak buruk, memberi isyarat agar dia pergi. Namun, Farah justru mengalihkan pandangan kepadanya.“Kamu kembali bukan karena mencintaiku. Kamu menikmati saat aku bergantung padamu, tetapi juga tidak rela

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 6

    Setelah turun ke lantai bawah, Adam berdiri di lobi.Dia tidak menghalangi pintu ataupun berlari menghampiriku dan hanya menatapku dari jarak belasan meter.Beberapa hari tidak bertemu, rahangnya mulai ditumbuhi janggut tipis, dan luka di dekat telinganya akibat malam festival musik rock pun masih terlihat.Di tangannya tidak ada bunga ataupun hadiah, hanya alat bantu dengar yang sebelumnya dia kunci di dalam laci.Dia memanggil namaku. Aku mengenalinya dari gerak bibirnya, tetapi tidak berhenti.Adam mengejarku beberapa langkah, lalu memaksa dirinya untuk berhenti.Dia membuka ponsel dan mengetik dengan cepat.[Aku akan membawamu menjalani pemeriksaan baru. Aku sudah membuat janji dengan tim dokter THT dan untuk evaluasi implan koklea. Kita pastikan dulu penyebabnya, baru membahas pilihan penanganan ….]Aku menyerahkan papan tulis kepadanya.[Sudah menandatangani perjanjian perceraiannya?]Jarinya kaku di atas layar.[Sembuhkan penyakitmu dulu. Yang lain kita bicarakan nanti ….]Aku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 5

    Video itu hanya berdurasi sekitar 20 detik.Adam berdiri di luar pintu, seolah tidak memahami apa yang dikatakan agen properti. Dia menatap ke dalam ruangan sejenak, lalu mengangkat ponselnya dan terus-menerus meneleponku.Aku tidak memblokir nomornya.Karena itu, ketika kereta cepat melaju meninggalkan kota, layar ponselku berkali-kali menyala.Aku tidak bisa mendengar gemuruh roda yang beradu dengan rel, dan hanya bisa melihat pantulan wajahku sendiri di kaca yang berulang kali terputus oleh terowongan.Adam mengirim pesan suara.[Kenapa rumahnya dijual?][Kamu mau pergi ke mana?][Felly, angkat teleponnya.]Akhirnya aku membalas.[Aku tidak bisa mendengar.]Tulisan “sedang mengetik” di bagian atas kotak percakapan berhenti untuk waktu yang lama.Dia mengirim undangan video call. Setelah kutolak, dia mengubahnya menjadi pesan teks.[Alat bantu dengarmu ada padaku. Akan kuantar sekarang ….][Tidak perlu ….][Itu alat yang dibuat khusus untukmu. Kamu tidak bisa hidup tanpanya ….]Aku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 4

    Aku mendorong perjanjian yang sudah kutandatangani ke hadapan Adam. Dia berdiri di sisi meja, “Nyalakan.”Aku menggeleng dan mengeluarkan ponsel untuk mengetik.[Tanda tangan ….]Adam melirik perjanjian itu, tetapi tidak mengambilnya.Bibirnya bergerak, dan aku hanya bisa mengenalinya dengan susah payah, “Bahkan jika tidak bisa mendengar, kamu tetap Nyonya Dwayne.”Paruh kedua kalimatnya diucapkan sambil memalingkan wajah, jadi aku tidak bisa melihatnya dengan jelas.Aku kembali mengetik.[Aku tidak sedang mencari simpati. Semua biaya bersama selama di Balleni sudah kulunasi. Aset di dalam negeri akan diproses sesuai perjanjian pranikah. Setelah kamu menandatangani, pengacara akan mengurus proses selanjutnya ….]Adam mengambil perjanjian itu dan membuka halaman pembagian harta. Semakin dia membaca, wajahnya semakin muram.“Tidak menginginkan apa pun?”Aku mengenali kalimat itu dari gerak bibirnya dan mengangguk.Adam membungkuk, menopang kedua tangannya di atas meja, seolah memaksaku m

  • Suara Sungai untuk Orang yang Telah Pergi   Bab 3

    Saat kotak notifikasi itu muncul, dengungan di telingaku menenggelamkan semua suara.Aku hanya bisa melihat bibir Adam yang terkatup rapat. Dia mengambil kartu kamarnya sendiri, lalu mendorong kartu yang lain ke hadapanku.“Beristirahatlah malam ini. Besok aku kembali dan kita bicarakan.”Saat membawa Farah pergi, dia juga mematikan pengeras suara. Kamar itu kembali sunyi.Namun, untuk pertama kalinya aku tahu, kesunyian selama 5 tahun ini bukan karena dia tidak mampu mewujudkannya. Hanya saja, aku tidak cukup berarti baginya untuk membuat pengecualian.Keesokan paginya, alat bantu dengarku mengeluarkan peringatan baterai lemah.Suaranya nyaring dan menusuk. Meski tertutup dengungan yang pekat, suara itu tetap membuat pelipisku terasa sakit.Di ruang tamu, Adam sedang menelepon Farah.“Semalam dia sampai kesakitan seperti itu, malam ini dia tidak mungkin pergi. Jangan biarkan tiketnya kosong, berikan saja pada pemain keyboard. Bukankah dia sudah lama ingin menonton konser musik getaran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status