登入Jarum jam di dasbor mobil akhirnya menunjuk ke angka sebelas malam lewat sedikit. Mobil Arga perlahan melambat, lalu berhenti dengan posisi mepet ke sisi kiri, tepat di depan sebuah mulut gang yang terhitung sempit. Penerangan di sekitar gang itu hanya mengandalkan lampu merkuri kekuningan yang beberapa kali berkedip redup, khas suasana pemukiman padat penduduk di sudut Jakarta.Nayra menoleh ke luar jendela kaca mobil, menatap gang yang selama beberapa tahun ini menjadi saksi bisu perjuangannya mengadu nasib di kota perantauan, sebelum akhirnya statusnya berubah menjadi seorang istri. Ia lalu menoleh ke arah Arga yang baru saja mematikan mesin mobil."Gak apa-apa emang parkir di sini, Mas? Gak menutup jalan buat motor yang mau lewat?" tanya Nayra agak khawatir. Arga tersenyum tipis, lalu melepas sabuk pengamannya dengan gerakan tenang. "Gak apa-apa, Sayang. Posisi mobilnya sudah aman dan mepet ke tembok hancur itu. Tadi Mas juga sudah lihat, space buat dua motor berpapasan masih
Arga membalikkan sedikit tubuhnya menghadap Nayra. Sisa-sisa kilatan amarah di matanya mendadak melunak, digantikan oleh tatapan teduh dan penuh perhatian yang khusus ia berikan hanya untuk istrinya. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, meraih telapak tangan kiri Nayra yang bebas di atas konter, lalu membawanya ke depan bibir."Iya, Sayang. Aku lagi nemenin atasanku buat cari kado di mal ini. Gak sengaja lewat depan gerai kamu, jadi aku mampir buat lihat kondisi kamu," kata Arga lembut, disusul sebuah kecupan hangat dan lama yang mendarat di punggung tangan Nayra, mengabaikan kehadiran orang lain di sekitar mereka.Sementara itu, Shila yang menyaksikan momen kemesraan spontan tersebut di depan matanya sendiri merasa hatinya semakin panas membara. Dadanya naik-turun menahan luapan emosi yang bercampur aduk antara cemburu, kesal, dan marah. Pria yang dahulu selalu bersikap tenang dan mengalah kepadanya, kini justru menunjukkan perhatian dan perlindungan yang begitu luar biasa kepad
"Maaf ya, Mbak Shila... sepertinya kamu sudah terlalu jauh ikut campur urusan yang sama sekali bukan urusan kamu," ucap Nayra dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin, namun setiap kata yang keluar terdengar begitu menusuk dan penuh penekanan."Apa kamu bilang? Ikut campur? Aku cuma bicara kenyataan, Nayra!"Nayra tidak memedulikan bantahan tersebut. Ia menggeser sedikit tumpukan brosur toko di atas meja kasir dengan gerakan anggun, lalu melayangkan pandangan dingin ke arah pintu keluar kaca transparan. "Jika Anda datang ke sini tidak untuk membeli produk kami, lebih baik Anda pergi sekarang juga. Silakan."Mendengar kata 'silakan' yang diucapkan dengan begitu tenang namun mengusir itu, harga diri Shila yang setinggi langit runtuh seketika di hadapan kedua temannya. Wajahnya yang semula putih karena riasan tebal kini memerah padam akibat rasa malu yang teramat sangat."Kamu berani mengusirku, hah?! Jangan kurang ajar kamu ya, perempuan udik!" bentak Shila dengan suara meleng
Mendengar sindiran yang begitu menusuk telinga, dada Nayra sempat berdesir perih. Ada rasa hangat yang menjalar di matanya, memicu amarah yang ingin meledak. Namun, begitu mengingat nasihat Arga tentang pentingnya menjaga martabat dan ketenangan diri, Nayra menarik napas dalam-dalam. Ia meremas jemari tangan kirinya di bawah meja kasir, mencoba menyalurkan seluruh sisa kesabarannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak Shila?" tanya Nayra dengan nada suara yang diusahakan tetap datar, tenang, dan profesional, mengabaikan seluruh hinaan yang baru saja dilontarkan.Shila melangkah mendekati meja kasir, lalu menggebrak tas bermerek miliknya di atas meja dengan kasar, membuat beberapa brosur di sana agak berantakan."Tentu saja ada. Aku ke sini kan sebagai *customer*, dan kamu tugasnya melayani aku dengan baik, bukan malah pasang muka masam begitu," ketus Shila, memajukan wajahnya. "Aku mau lihat koleksi barang terbaru yang ada di rak atas sana. Ambilkan sekar
Sinar matahari sore menerobos masuk melalui pintu kaca gerai, memantulkan bayangan deretan produk yang tertata rapi di rak display. Ini adalah hari pertama ia kembali menginjakkan kaki di tempat kerja setelah mengambil cuti nikah selama hampir sepuluh hari. Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan, walau di balik kemeja kerjanya, plester medis masih melekat rapi melindungi luka di telapak tangan kanannya yang mulai mengering."Cieee... pengantin baru!" goda Tari, dengan suara melengking yang sengaja ditahan agar tidak menggema sampai ke area depan. Mata Tari berbinar-binar penuh kejahilan begitu melihat siluet Nayra yang baru saja muncul."Astaga, Tari! Suaramu kecilin sedikit, nanti kalau terdengar sampai luar gimana?"Tari tidak memedulikan protes itu. Ia malah berlari kecil, membuntuti langkah kaki Nayra dengan jarak yang sangat rapat, lalu menyandarkan tubuhnya di pintu loker besi yang terbuka. Senyum di wajah Tari semakin lebar, meng
"Ahhh..."Napas Nayra mulai memburu, tersengal kecil di sela-sela tautan bibir mereka yang kian menuntut. Arga mengurai pagutan mereka sejenak, memberikan ruang bagi sang istri untuk meraup oksigen, namun dahi mereka tetap saling menempel. Napas hangat mereka beradu, menciptakan melodi intim di keheningan kamar."Mas... Arga..." bisik Nayra terbata-bata, menatap sayu ke dalam manik mata suaminya."Ya, Sayang? Aku di sini," sahut Arga dengan suara baritonnya yang kini terdengar lebih berat dan parau.Kedua tangan Arga yang kokoh kini beralih, turun mencengkeram pinggang ramping istrinya dengan kelembutan yang dominan, menuntun tubuh mungil itu bergerak mundur secara perlahan tanpa memutuskan sedikit pun keintiman yang tercipta. Langkah kaki Nayra terasa goyah, seolah seluruh persendiannya telah melumer akibat pesona suaminya yang begitu memabukkan.Hingga pada akhirnya, bagian belakang lutut Nayra membentur pinggiran ranjang *king size* yang empuk.
Uap hangat sisa air mandi masih terasa di kulit leher Nayra saat ia melangkah menuruni anak tangga marmer satu per satu. Ia telah berganti pakaian menggunakan dress rumahan yang kasual namun tetap sopan, dengan rambut panjang yang ia gelung rapi ke atas. Begitu kakinya memijak lantai da
Tiga hari masa cuti pernikahan di kampung halaman Nayra terasa berlalu begitu cepat laksana kedipan mata. sebelum benar-benar kembali ke rutinitas Jakarta dan kamar kosan tua mereka, Arga memutuskan untuk membawa istri kecilnya singgah terlebih dahulu di kediaman keluarga besarnya. Perj
Cahaya mentari pagi yang hangat perlahan-lahan menyusup masuk melalui celah-celah gorden jendela kamar pengantin, membawa serta kicauan burung gereja yang saling bersahutan di dahan pohon mangga luar rumah. Sisa-sisa embun pagi di kampung halaman Nayra perlahan menguap, digantikan oleh
Malam akhirnya luruh sepenuhnya di kampung halaman Nayra. Riuh rendah suara para tamu undangan, sanak saudara yang saling bercengkerama, hingga denting piring katering yang beradu sejak pagi kini telah mereda. Di dalam kamar pengantin, suasana terasa begitu sunyi dan kontras. Kamar masa kecil Na







