LOGINArga membalikkan sedikit tubuhnya menghadap Nayra. Sisa-sisa kilatan amarah di matanya mendadak melunak, digantikan oleh tatapan teduh dan penuh perhatian yang khusus ia berikan hanya untuk istrinya. Pria itu mengulurkan tangan kirinya, meraih telapak tangan kiri Nayra yang bebas di atas konter, lalu membawanya ke depan bibir."Iya, Sayang. Aku lagi nemenin atasanku buat cari kado di mal ini. Gak sengaja lewat depan gerai kamu, jadi aku mampir buat lihat kondisi kamu," kata Arga lembut, disusul sebuah kecupan hangat dan lama yang mendarat di punggung tangan Nayra, mengabaikan kehadiran orang lain di sekitar mereka.Sementara itu, Shila yang menyaksikan momen kemesraan spontan tersebut di depan matanya sendiri merasa hatinya semakin panas membara. Dadanya naik-turun menahan luapan emosi yang bercampur aduk antara cemburu, kesal, dan marah. Pria yang dahulu selalu bersikap tenang dan mengalah kepadanya, kini justru menunjukkan perhatian dan perlindungan yang begitu luar biasa kepad
"Maaf ya, Mbak Shila... sepertinya kamu sudah terlalu jauh ikut campur urusan yang sama sekali bukan urusan kamu," ucap Nayra dengan nada suara yang ditekan serendah mungkin, namun setiap kata yang keluar terdengar begitu menusuk dan penuh penekanan."Apa kamu bilang? Ikut campur? Aku cuma bicara kenyataan, Nayra!"Nayra tidak memedulikan bantahan tersebut. Ia menggeser sedikit tumpukan brosur toko di atas meja kasir dengan gerakan anggun, lalu melayangkan pandangan dingin ke arah pintu keluar kaca transparan. "Jika Anda datang ke sini tidak untuk membeli produk kami, lebih baik Anda pergi sekarang juga. Silakan."Mendengar kata 'silakan' yang diucapkan dengan begitu tenang namun mengusir itu, harga diri Shila yang setinggi langit runtuh seketika di hadapan kedua temannya. Wajahnya yang semula putih karena riasan tebal kini memerah padam akibat rasa malu yang teramat sangat."Kamu berani mengusirku, hah?! Jangan kurang ajar kamu ya, perempuan udik!" bentak Shila dengan suara meleng
Mendengar sindiran yang begitu menusuk telinga, dada Nayra sempat berdesir perih. Ada rasa hangat yang menjalar di matanya, memicu amarah yang ingin meledak. Namun, begitu mengingat nasihat Arga tentang pentingnya menjaga martabat dan ketenangan diri, Nayra menarik napas dalam-dalam. Ia meremas jemari tangan kirinya di bawah meja kasir, mencoba menyalurkan seluruh sisa kesabarannya."Ada yang bisa saya bantu, Mbak Shila?" tanya Nayra dengan nada suara yang diusahakan tetap datar, tenang, dan profesional, mengabaikan seluruh hinaan yang baru saja dilontarkan.Shila melangkah mendekati meja kasir, lalu menggebrak tas bermerek miliknya di atas meja dengan kasar, membuat beberapa brosur di sana agak berantakan."Tentu saja ada. Aku ke sini kan sebagai *customer*, dan kamu tugasnya melayani aku dengan baik, bukan malah pasang muka masam begitu," ketus Shila, memajukan wajahnya. "Aku mau lihat koleksi barang terbaru yang ada di rak atas sana. Ambilkan sekar
Sinar matahari sore menerobos masuk melalui pintu kaca gerai, memantulkan bayangan deretan produk yang tertata rapi di rak display. Ini adalah hari pertama ia kembali menginjakkan kaki di tempat kerja setelah mengambil cuti nikah selama hampir sepuluh hari. Langkah kakinya terasa sedikit lebih ringan, walau di balik kemeja kerjanya, plester medis masih melekat rapi melindungi luka di telapak tangan kanannya yang mulai mengering."Cieee... pengantin baru!" goda Tari, dengan suara melengking yang sengaja ditahan agar tidak menggema sampai ke area depan. Mata Tari berbinar-binar penuh kejahilan begitu melihat siluet Nayra yang baru saja muncul."Astaga, Tari! Suaramu kecilin sedikit, nanti kalau terdengar sampai luar gimana?"Tari tidak memedulikan protes itu. Ia malah berlari kecil, membuntuti langkah kaki Nayra dengan jarak yang sangat rapat, lalu menyandarkan tubuhnya di pintu loker besi yang terbuka. Senyum di wajah Tari semakin lebar, meng
"Ahhh..."Napas Nayra mulai memburu, tersengal kecil di sela-sela tautan bibir mereka yang kian menuntut. Arga mengurai pagutan mereka sejenak, memberikan ruang bagi sang istri untuk meraup oksigen, namun dahi mereka tetap saling menempel. Napas hangat mereka beradu, menciptakan melodi intim di keheningan kamar."Mas... Arga..." bisik Nayra terbata-bata, menatap sayu ke dalam manik mata suaminya."Ya, Sayang? Aku di sini," sahut Arga dengan suara baritonnya yang kini terdengar lebih berat dan parau.Kedua tangan Arga yang kokoh kini beralih, turun mencengkeram pinggang ramping istrinya dengan kelembutan yang dominan, menuntun tubuh mungil itu bergerak mundur secara perlahan tanpa memutuskan sedikit pun keintiman yang tercipta. Langkah kaki Nayra terasa goyah, seolah seluruh persendiannya telah melumer akibat pesona suaminya yang begitu memabukkan.Hingga pada akhirnya, bagian belakang lutut Nayra membentur pinggiran ranjang *king size* yang empuk.
Ia mempererat pelukannya, mengecup pelipis Nayra dengan penuh kelembutan. "Tapi aku berharap besar, ke depannya tempat ini akan menjadi istana kecil kita. Tempat kita membangun mimpi, membesarkan anak-anak kita nanti, dan menghabiskan sisa waktu kita bersama sampai akhir hayat."Mendengar ketulusan dan harapan yang tersirat dalam setiap untaian kata suaminya, sudut mata Nayra kembali menghangat. "Aminnn... Amin ya Rabbal Alamin," bisik Nayra khusyuk."Mulai hari ini, kamu bebas mau ngapain aja di sini, Sayang. Kamu gak perlu sungkan, gak perlu takut, dan gak perlu merasa ragu pada siapa pun lagi. Ini rumah kita, istana kita sendiri. Di sini, hanya ada kita berdua," bisik Arga, menekankan kata 'hanya ada kita' seolah ingin menegaskan bahwa tidak akan ada lagi gangguan dari ego Kak Anna atau tuntutan yang mengintimidasi seperti di Cikarang.Perasaan haru dan lega yang teramat sangat seketika membuncah di dalam dada Nayra. Ia segera membalikkan tubuhnya di dalam dekapan Arga, mengaba
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal
Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke
JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan
‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m







