LOGIN"Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.
‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri. Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Nayra yang introvert, pemalu, dan selalu menjaga jarak, Mbak Dewi adalah definisi nyata dari seorang extrovert sejati. Ditambah statusnya yang merupakan janda tiga kali di usia yang hampir menginjak kepala empat, Mbak Dewi sama sekali tidak memiliki urat malu jika menyangkut urusan menggoda pria tampan. Matanya mengerjap-ngerjap centil, tubuhnya sengaja disandarkan ke kusen pintu dengan pose yang menurutnya paling menawan. Sementara itu, Nayra yang baru berusia 25 tahun merasa seperti butiran debu di tengah interaksi mereka. Ia masih polos, perawan, dan memiliki pengalaman asmara yang minim bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Menghadapi situasi penuh ketegangan dewasa seperti ini membuat seluruh sistem di otaknya mengalami error. "Duh, ya ampun, Nay... Duda satu itu memang bener-bener ya. Dingin-dingin empuk begitu. Bikin gemas!" bisik Mbak Dewi dengan mata yang masih berbinar-binar menatap pintu kamar Arga. "Padahal umurnya paling baru tiga puluhan. Sayang banget ya, ganteng-ganteng kok sudah menduda. Kira-kira mantan istrinya dulu salah apa ya sampai bisa lepas pria kayak begitu?" Nayra hanya menelan ludah, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berantakan. "Nggak tahu, Mbak. Aku mandi dulu ya. Keburu siang," potong Nayra cepat, tidak ingin terjebak dalam sesi ghibah pagi hari yang membahas keseksian tetangga sebelah. "Oh, iya, iya. Sana mandi, biar mukamu segar sedikit, Nay. Kusut banget itu kayak cucian belum disetrika," seloroh Mbak Dewi sebelum akhirnya masuk kembali ke kamarnya utnuk mengambil rokok kesayangannya. Sementara itu, di dalam kamar mandi yang masih menyisakan uap hangat dari tubuh Arga, Nayra menyandarkan punggungnya ke pintu kayu yang rapuh. Aroma sabun maskulin milik Arga masih tertinggal jelas di udara, menyerang indra penciuman Nayra tanpa ampun. Ia memejamkan mata, memegang dadanya yang bergemuruh. Pikiran-pikiran di kepalanya semakin liar dan tidak terkendali. Status Arga sebagai seorang duda justru menambah lapisan misteri yang pekat. 'Sebenarnya apa yang dia sembunyikan di dalam kamar itu?' tanya Nayra pada dirinya sendiri. Suara-suara derit ranjang, lenguhan napas yang berat, dan bisikan-bisikan tertahan itu... Apakah Arga sering membawa wanita masuk secara diam-diam lewat jendela belakang? Ataukah pria itu memiliki rahasia lain yang jauh lebih intim dan tabu? ** Jam dinding di dalam kamar Nayra sudah dengan kejam menunjuk ke angka delapan lewat sepuluh menit. Suasana pagi yang tadinya tenang kini berubah menjadi ajang perlombaan melawan waktu. Di depan cermin, Nayra bergerak secepat kilat menyisir rambutnya dan memastikan penampilannya sudah memenuhi standar perusahaan. Sebagai seorang Sales Promotion Girl (SPG) di salah satu butik tas mewah di mall terbesar di pusat kota, penampilan adalah segalanya. Begitu selesai memakai sepatu pantofelnya, Nayra segera melangkah keluar kamar sambil menggenggam ponsel. Jempolnya bergerak lincah di atas layar, membuka aplikasi ojek online untuk memesan tumpangan. Namun, pagi ini dewi keberuntungan tampaknya sedang enggan menoleh padanya. Rasanya, Nayra ingin menangis karena tak juga mendapatkan driver. "Loh, belum berangkat, Nay?" Sebuah suara serak khas perokok memecah kepanikan Nayra. Mbak Dewi baru saja keluar dari pintu utama kosan, berjalan santai menuju kursi rotan di teras. Wanita itu hanya mengenakan daster longgar, tangan kanannya menjepit sebatang rokok yang mengepulkan asap tipis, sementara tangan kirinya sibuk menggenggam ponsel terbarunya. "Belum dapet ojol, Mbak. Di-cancel mulu dari tadi. Mana udah jam segini lagi," keluh Nayra dengan nada suara yang sudah hampir menangis. Ia mondar-mandir di teras bagai ayam kehilangan induk. Mbak Dewi mengembuskan asap rokoknya ke udara, tak lama, terdengar suara pintu utama kosan yang terbuka lebih lebar. Suara derit standar motor yang dinaikkan bergaung di area parkir samping teras. Seorang laki-laki menuntun sebuah motor matic ber-cc besar keluar menuju halaman. Pria itu adalah Arga. Pagi ini ia terlihat sangat berbeda dari penampilannya di depan kamar mandi beberapa jam lalu. Arga mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru dongker yang lengannya digulung rapi hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan kulit hitam yang melingkar di pergelangan tangannya. Celana kain formalnya tampak jatuh dengan sempurna, memberikan kesan profesional, mapan, sekaligus sangat karismatik. Melihat sosok tersebut, mata Mbak Dewi langsung berbinar jenaka. Insting penolongnya atau lebih tepatnya insting menjodoh-jodohkannya, seketika aktif. "Eh, Mas Arga! Mau berangkat kerja ya, Mas?" sapa Mbak Dewi dengan suara yang sengaja dilembutkan dua tingkat. Arga menghentikan langkah kakinya yang hendak menaiki motor. Ia menoleh ke arah teras, lalu mengangguk sopan sembari menyunggingkan senyuman tipis. "Iya, Mbak Dewi. Mari," jawabnya singkat, bersiap memakai helm full-face berwarna hitam doff miliknya. "Tunggu dulu, Mas! Jangan buru-buru pakai helmnya," seru Mbak Dewi setengah berlari mendekati motor Arga. "Mas Arga ini sebenarnya kerjanya di daerah mana sih? Penasaran banget saya, tiap pagi rapi bener kayak bos-bos muda di TV." "Saya kerja di Sentra Grup, Mbak.’’ Mendengar nama tempat itu, mata Mbak Dewi langsung membelalak lebar. Ia menepuk tangannya sekali dengan heboh. "Loh! Sentra Grup yang gedung menara tinggi itu, kan? Itu mah searah banget sama Mall Sentra tempat kerjanya Nayra!"Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima paling megah di pusat Jakarta telah disulap menjadi sebuah istana megah bernuansa royal grand botanical. Ribuan tangkai bunga impor segar berwarna putih, krem, dan keemasan melapisi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi membiaskan cahaya keemasan yang sangat berkilau, memantul sempurna di atas lantai marmer berpola mewah. Di dalam kamar rias pengantin, Arshyla duduk di depan cermin berbingkai emas. Gaun pengantin bernuansa putih ivory yang dipilihnya melingkar sempurna di tubuh anggunnya. Ekor gaun sepanjang dua meter yang dihiasi payet kristal mutiara tampak menjuntai indah di atas karpet. Rambut hitam lurusnya ditata dengan gelombang halus yang sangat elegan, dihiasi mahkota tiara berlian tipis yang kian memancarkan kecantikan alaminya. Bunda Nay
Sejak malam penawaran lamaran di meja makan keluarga Argantara itu, kehidupan Arshyla berubah seratus delapan puluh derajat. Siklus hari-harinya yang biasanya diisi dengan jadwal menemani Nakara di kantor Argantara Law Firm kini sirnah sepenuhnya. Arshy tidak lagi diperbolehkan ikut menembus kemacetan Jakarta untuk merapikan berkas-berkas hukum Naka atau sekadar menyeduh teh chamomile di ruang kerja pria itu. Setiap pagi, sebelum Naka sempat menyapa Arshy di meja makan, sebuah mobil jemputan khusus yang dikirim langsung oleh Bunda Nayra sudah bersiap di depan pelataran rumah. "Arshy sayang, hari ini ikut Bunda ya! Kita punya banyak sekali daftar tempat yang harus dikunjungi," seru Bunda Nayra penuh semangat setiap kali menyambut Arshy dengan pelukan hangat. Sejak saat itulah, Arshy praktis diambil alih oleh calon ibu mertuanya. Naka yang biasanya selalu menempel dan protektif memagari Arshy kini terpaksa menelan kekecewaan. Pria berjas mahal itu kerap kali ditinggalka
"Gimana sayang, kamu mau kan menikah sama anak Bunda?" tanya Bunda Nayra dengan raut wajah penuh harap, menatap Arshy lekat-lekat.Arshy membeku di tempatnya. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya bagaikan petir di siang bolong. Rasa canggung dan bingung seketika melingkupi dadanya. Ia memindahkan pandangannya dari Bunda Nayra, lalu melirik pelan ke arah Naka yang duduk di sampingnya.Dalam hatinya, Arshy sadar diri. Siapa dirinya? Hanya seorang gadis panti asuhan yang tak punya apa-apa, sementara Naka adalah pengacara ternama dari keluarga terpandang. Ia merasa sama sekali tidak pantas disandingkan dengan pria sesempurna Nakara Argantara. Namun yang membuat hatinya makin tak karuan, laki-laki di sampingnya itu justru hanya diam seribu bahasa, menatap lurus ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menolak atau menerima.Keheningan di meja makan itu mendadak terasa mencekam. Arshy makin bingung dan serba salah."Naka! Buruan ngomong!" desa
Hari demi hari berganti tanpa terasa. Masa-masa awal yang penuh rasa canggung, tangis, dan kepura-puraan kini perlahan menguap digantikan oleh kenyamanan yang mengakar kuat. Hampir tiga bulan lamanya Arshy menetap di kediaman Nakara Argantara. Hubungan keduanya berkembang pesat menuju arah yang amat manis, meski belum ada ikatan resmi yang terucap di antara mereka.Di kantor Argantara Law Firm, Arshy tak lagi sekadar menjadi ‘pajangan ruangan’ seperti yang pernah dikatakan Naka. Gadis berambut lurus yang anggun itu menjelma menjadi sosok yang sangat disayangi oleh seluruh staf. Tanpa diminta, Arshy dengan senang hati membantu pekerjaan ringan di kantor Naka. Mulai dari merapikan meja kerja Naka yang kerap dipenuhi dokumen tebal, menyusun berkas hukum sesuai tanggal, membantu Vano memilah arsip sidang, hingga menyeduh teh hangat favorit Naka setiap pagi. Presence Arshy di ruangan kerja Naka seolah menjadi penawar stres utama bagi sang pengacara konda
Usai majelis hakim meninggalkan ruangan, ketegangan di dalam ruang sidang perlahan meluruh. Para jurnalis dan pengunjung mulai bergerak keluar. Naka sibuk merapikan berkas-berkas hukumnya dengan gerakan yang terkesan terburu-buru, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang masih berpacu kencang di dalam dada.Vano yang berdiri di samping Naka menatap sang bos dengan raut penuh selidik dan sedikit jahil."Pak Naka..." panggil Vano pelan seraya berbisik.Naka tak mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. "Apa?""Bapak tadi... beneran blank gara-gara disenyumin Nona Arshy?" goda Vano tanpa rasa takut.Naka seketika menghentikan pergerakan tangannya. Iris matanya mendadak melirik tajam ke arah asistennya itu, memancarkan kilat intimidasi yang membuat Vano langsung bungkam."Vano," tegur Naka dingin, suaranya sarat penekanan. "Fokus pada berkas putusan untuk minggu depan, atau gajimu bulan ini kupotong setengah.""E-Eh! Jangan, Pak! Ampun, saya c
Naka terpaku sejenak. Pertanyaan polos dari Arshy yang terlontar dalam jarak serapat ini membuat dada Naka mendadak berdesir aneh. Ada perasaan hangat yang mendesak bangkit dari lubuk hatinya, perasaan tertarik yang semakin sulit ia sangkal. Namun, gengsi tingginya sebagai seorang Nakara Argantara dengan cepat mengambil alih pertahanan dirinya. Naka berdehem pelan, menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tetap terlihat dingin dan profesional. "Karena kita partner. Inget, kita sudah tanda tangan kontrak," kata Naka tajam, enggan mengakui bahwa ia mulai tertarik pada sosok gadis di hadapannya itu. Naka segera melepas pelukan hangat itu. Ia berdiri tegak, merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut akibat remasan jemari Arshy tadi. Pria itu melangkah santai menuju sudut ruangan tempat sebuah kulkas mini berdiri. Naka membukanya, mengambil satu botol air mineral dingin dan segelas jus buah segar untuk meredakan ketegangan Arshy. Naka kembali ke sofa, mengulurkan gelas jus itu
Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima
Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-
Krieeet... krieeet..."Eughhh!""Sshhhh..."Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, buk
Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal







