Share

Suara Aneh dari Kamar Mas Duda
Suara Aneh dari Kamar Mas Duda
Author: Mommy_Ar

Suara aneh

Author: Mommy_Ar
last update publish date: 2026-05-31 10:24:45

Krieeet... krieeet...

"Eughhh!"

"Sshhhh..."

Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram.

Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas.

Tubuhnya menegang di balik selimut tipis.

Jantungnya mulai bertalu cepat, bukan karena takut oleh makhluk halus, melainkan karena rasa penasaran yang membuncah hingga ke ubun-ubun.

Ini bukan kali pertama, kedua atau ketiga. Ini sudah yang kesekian kalinya.

Sudah dua tahun Nayra menghuni kosan dua lantai ini, dan selama itu pula hidupnya tenang-tenang saja.

Namun, segalanya berubah sejak sebulan lalu, tepat ketika kamar di sebelah ujung koridor itu akhirnya terisi. Sejak malam itu, tidur nyenyak menjadi barang mewah yang mustahil ia dapatkan.

Setiap jarum jam bergeser melewati tengah malam, saat sebelah kamarnya pulang kerja, suara-suara aneh itu selalu datang memecah keheningan.

Maklum saja, bangunan ini bukan kosan elit berfasilitas mewah. Tempat ini sudah cukup tua, peninggalan era lawas yang hanya mendapat renovasi seadanya.

Walaupun dinding pembatas antar kamar terbuat dari bata, ketebalannya sangat minim dan sama sekali tidak kedap suara.

"Dia ngapain sih, ya Allah... Aku capek, pengen tidur!" rengek Nayra dalam hati.

Ia membalikkan tubuhnya menghadap dinding, lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan bantal.

Saking kesalnya, ia rasanya ingin menggedor dinding itu keras-keras.

Pikiran untuk mengungsi mulai berputar di kepalanya. "Apa iya aku pindah aja ya ke lantai dua? Mumpung kamar yang di atas ada yang kosong? Tapi... ah, kesal banget! Aku 'kan yang lebih dulu tinggal di sini!" batinnya merutuk, tidak terima jika harus repot-repot pindah barang hanya karena tetangga baru.

"Shhh... pelan-pelan. Jangan buru-buru!"

Suara serak dan berat itu kembali terdengar, begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Nayra meremang.

Dahi Nayra berkerut dalam di kegelapan kamar.

Ia menahan napas, mencoba mencerna setiap artikulasi suara yang barusan lolos dari balik dinding.

Suara itu terdengar penuh tekanan, samar-samar diselingi derit ranjang kayu yang beritme konstan.

**

Pagi harinya, dunia terasa berputar lebih cepat bagi Nayra. ia merasa seolah baru saja memejamkan mata selama lima menit tapi pagi sudah menyapa.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya bangkit dari kasur tipisnya.

Saat berkaca di cermin lemari pakaian, Nayra hanya bisa menghela napas panjang melihat penampilannya sendiri.

Sepasang mata panda yang menghitam dan sedikit bengkak menghiasi wajahnya yang pucat.

Efek kurang tidur yang terakumulasi selama sebulan terakhir benar-benar mulai mengikis kewarasannya.

‘’Pagi Nayra, tetap semangat! Ingat tabungan kamu masih kurang banyak! Kamu harus sabar dan tetap kuat!’’

Sambil mengalungkan handuk bermotif bunga di leher dan menenteng sebuah keranjang plastik berisi sabun serta sampo, Nayra membuka pintu kamar.

Langkah kakinya gontai, bersiap untuk mengantre di depan kamar mandi umum yang terletak di ujung koridor lantai satu.

"Lesu amat Nay, abis begadang?’’

Sebuah suara nyaring yang khas menyapa pendengarannya.

Nayra menoleh dan mendapati Mbak Dewi, penghuni kamar tepat di depan kamarnya sedang berdiri di ambang pintu sambil mengoleskan krim malam yang terlambat atau mungkin krim pagi yang terlalu tebal.

"Biasa, Mbak," jawab Nayra pelan, nyaris berbisik.

Suaranya serak, khas orang yang kekurangan istirahat.

Mbak Dewi menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah penuh simpati yang dibuat-buat.

"Kamu itu masih muda, Nay. Jangan terlalu memforsir diri kamu dengan kerjaan atau nonton drama sampai subuh. Tubuh itu butuh istirahat, jangan begadang terus. Nanti cepat tua kayak Mbak, loh."

Nayra hanya membalas dengan senyuman kecut yang dipaksakan.

'Aku juga pengen tidur nyenyak tiap malam, Mbak! Tapi gimana bisa kalau tetangga baru kita itu selalu bikin konser suara aneh tiap jam dua subuh?'

jerit Nayra dalam hati. Tentu saja, ia tidak punya keberanian untuk menyuarakan kalimat itu dengan lantang.

Ia terlalu gengsi, dan sejujurnya, terlalu malu untuk membahas suara-suara sensitif seperti itu di lorong kosan.

Cklek.

Pembicaraan mereka terputus saat pintu kamar mandi umum di ujung koridor terbuka.

Uap air yang hangat dan aroma sabun antiseptik menyeruak keluar, membawa kesegaran yang kontras dengan udara koridor yang pengap.

Sosok yang keluar dari sana seolah-olah membawa gravitasi sendiri, membuat suasana di lorong sempit itu mendadak terasa sesak dan intim.

Seorang laki-laki muncul.

Nayra terpaku di tempatnya berdiri. Laki-laki itu tinggi, kulitnya putih bersih, setipe dengan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di bawah terik matahari.

Kaos putih polos yang basah di beberapa bagian melekat pas di tubuhnya yang tegap, mencetak jelas bidang dadanya yang kokoh.

Celana pendek selutut yang dipakainya memperlihatkan tungkai kaki yang kuat.

Rambutnya yang hitam legam masih basah kuyup, butiran air jatuh satu per satu ke handuk yang tersampir di pundak lebarnya yang bidang.

Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah gayung plastik berisi perlengkapan mandi sederhana, sebuah pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun di mata Nayra, pria ini tampak seperti aktor film yang salah masuk set ke kontrakan kumuh.

Ada kesan dingin yang terpancar dari wajahnya yang simetris, rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata yang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat.

Namun, sekaligus ada daya tarik misterius yang membuat siapa pun sulit untuk memalingkan wajah.

"Halo Mas Arga, good morning? Segar banget tampaknya pagi ini," sapa Mbak Dewi dengan nada centilnya.

Dalam sekejap, suara-suara yang didengarnya semalam kembali terngiang di kepala Nayra dengan resolusi tinggi.

Suara derit kayu yang ritmis dan lenguhan berat seolah diputar kembali dengan volume maksimal tepat di telinganya.

Tatapan Nayra tanpa sengaja turun ke arah tangan Arga yang memegang gayung.

Tangan itu terlihat kuat dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya.

Bayangan tentang apa yang dilakukan tangan itu semalam membuat wajah Nayra mendadak memanas, merah padam hingga ke ujung telinga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (3)
goodnovel comment avatar
puspa Andriati
hai mom... mampir dengan cerita ini.........
goodnovel comment avatar
Enisensi klara
Aku mampir mom
goodnovel comment avatar
Evievoy Rafyno
Nay kondisi kan isi kepala lo
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   TAMAT S2

    Hari yang dinanti-nantikan akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima paling megah di pusat Jakarta telah disulap menjadi sebuah istana megah bernuansa royal grand botanical. Ribuan tangkai bunga impor segar berwarna putih, krem, dan keemasan melapisi setiap sudut ruangan, memancarkan aroma harum yang lembut. Lampu-lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit tinggi membiaskan cahaya keemasan yang sangat berkilau, memantul sempurna di atas lantai marmer berpola mewah. Di dalam kamar rias pengantin, Arshyla duduk di depan cermin berbingkai emas. Gaun pengantin bernuansa putih ivory yang dipilihnya melingkar sempurna di tubuh anggunnya. Ekor gaun sepanjang dua meter yang dihiasi payet kristal mutiara tampak menjuntai indah di atas karpet. Rambut hitam lurusnya ditata dengan gelombang halus yang sangat elegan, dihiasi mahkota tiara berlian tipis yang kian memancarkan kecantikan alaminya. Bunda Nay

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 33 s2

    Sejak malam penawaran lamaran di meja makan keluarga Argantara itu, kehidupan Arshyla berubah seratus delapan puluh derajat. Siklus hari-harinya yang biasanya diisi dengan jadwal menemani Nakara di kantor Argantara Law Firm kini sirnah sepenuhnya. Arshy tidak lagi diperbolehkan ikut menembus kemacetan Jakarta untuk merapikan berkas-berkas hukum Naka atau sekadar menyeduh teh chamomile di ruang kerja pria itu. Setiap pagi, sebelum Naka sempat menyapa Arshy di meja makan, sebuah mobil jemputan khusus yang dikirim langsung oleh Bunda Nayra sudah bersiap di depan pelataran rumah. "Arshy sayang, hari ini ikut Bunda ya! Kita punya banyak sekali daftar tempat yang harus dikunjungi," seru Bunda Nayra penuh semangat setiap kali menyambut Arshy dengan pelukan hangat. Sejak saat itulah, Arshy praktis diambil alih oleh calon ibu mertuanya. Naka yang biasanya selalu menempel dan protektif memagari Arshy kini terpaksa menelan kekecewaan. Pria berjas mahal itu kerap kali ditinggalka

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 32 s2

    "Gimana sayang, kamu mau kan menikah sama anak Bunda?" tanya Bunda Nayra dengan raut wajah penuh harap, menatap Arshy lekat-lekat.Arshy membeku di tempatnya. Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya bagaikan petir di siang bolong. Rasa canggung dan bingung seketika melingkupi dadanya. Ia memindahkan pandangannya dari Bunda Nayra, lalu melirik pelan ke arah Naka yang duduk di sampingnya.Dalam hatinya, Arshy sadar diri. Siapa dirinya? Hanya seorang gadis panti asuhan yang tak punya apa-apa, sementara Naka adalah pengacara ternama dari keluarga terpandang. Ia merasa sama sekali tidak pantas disandingkan dengan pria sesempurna Nakara Argantara. Namun yang membuat hatinya makin tak karuan, laki-laki di sampingnya itu justru hanya diam seribu bahasa, menatap lurus ke depan tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk menolak atau menerima.Keheningan di meja makan itu mendadak terasa mencekam. Arshy makin bingung dan serba salah."Naka! Buruan ngomong!" desa

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 31 s2

    Hari demi hari berganti tanpa terasa. Masa-masa awal yang penuh rasa canggung, tangis, dan kepura-puraan kini perlahan menguap digantikan oleh kenyamanan yang mengakar kuat. Hampir tiga bulan lamanya Arshy menetap di kediaman Nakara Argantara. Hubungan keduanya berkembang pesat menuju arah yang amat manis, meski belum ada ikatan resmi yang terucap di antara mereka.Di kantor Argantara Law Firm, Arshy tak lagi sekadar menjadi ‘pajangan ruangan’ seperti yang pernah dikatakan Naka. Gadis berambut lurus yang anggun itu menjelma menjadi sosok yang sangat disayangi oleh seluruh staf. Tanpa diminta, Arshy dengan senang hati membantu pekerjaan ringan di kantor Naka. Mulai dari merapikan meja kerja Naka yang kerap dipenuhi dokumen tebal, menyusun berkas hukum sesuai tanggal, membantu Vano memilah arsip sidang, hingga menyeduh teh hangat favorit Naka setiap pagi. Presence Arshy di ruangan kerja Naka seolah menjadi penawar stres utama bagi sang pengacara konda

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 30 s2

    Usai majelis hakim meninggalkan ruangan, ketegangan di dalam ruang sidang perlahan meluruh. Para jurnalis dan pengunjung mulai bergerak keluar. Naka sibuk merapikan berkas-berkas hukumnya dengan gerakan yang terkesan terburu-buru, mencoba menyembunyikan detak jantungnya yang masih berpacu kencang di dalam dada.Vano yang berdiri di samping Naka menatap sang bos dengan raut penuh selidik dan sedikit jahil."Pak Naka..." panggil Vano pelan seraya berbisik.Naka tak mengalihkan pandangan dari dokumen di tangannya. "Apa?""Bapak tadi... beneran blank gara-gara disenyumin Nona Arshy?" goda Vano tanpa rasa takut.Naka seketika menghentikan pergerakan tangannya. Iris matanya mendadak melirik tajam ke arah asistennya itu, memancarkan kilat intimidasi yang membuat Vano langsung bungkam."Vano," tegur Naka dingin, suaranya sarat penekanan. "Fokus pada berkas putusan untuk minggu depan, atau gajimu bulan ini kupotong setengah.""E-Eh! Jangan, Pak! Ampun, saya c

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 29 s2

    Naka terpaku sejenak. Pertanyaan polos dari Arshy yang terlontar dalam jarak serapat ini membuat dada Naka mendadak berdesir aneh. Ada perasaan hangat yang mendesak bangkit dari lubuk hatinya, perasaan tertarik yang semakin sulit ia sangkal. Namun, gengsi tingginya sebagai seorang Nakara Argantara dengan cepat mengambil alih pertahanan dirinya. Naka berdehem pelan, menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tetap terlihat dingin dan profesional. "Karena kita partner. Inget, kita sudah tanda tangan kontrak," kata Naka tajam, enggan mengakui bahwa ia mulai tertarik pada sosok gadis di hadapannya itu. Naka segera melepas pelukan hangat itu. Ia berdiri tegak, merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut akibat remasan jemari Arshy tadi. Pria itu melangkah santai menuju sudut ruangan tempat sebuah kulkas mini berdiri. Naka membukanya, mengambil satu botol air mineral dingin dan segelas jus buah segar untuk meredakan ketegangan Arshy. Naka kembali ke sofa, mengulurkan gelas jus itu

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bau apa nih??

    Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Dia pacarku!

    Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Pegangan, Nay!

    Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Kebetulan atau Takdir

    "Pagi juga mbak, permisi ya," jawab laki-laki itu berusaha ramah dan sopan.‘’Iya Mas, hati hati ya. Kalau butuh sesuatu bisa calling me,” kata mbak Dewi bercanda namun sukses membuat laki laki itu bergidik ngeri.Dia segera pamit pergi ke kamar nya, sebelum dia kembali di goda oleh wanita itu.Ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status