登入
Krieeet... krieeet...
"Eughhh!" "Sshhhh..." Mata Nayra langsung terbuka lebar, menatap lurus ke langit-langit kamar yang temaram. Dalam sekejap, rasa kantuk yang tadinya menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas. Tubuhnya menegang di balik selimut tipis. Jantungnya mulai bertalu cepat, bukan karena takut oleh makhluk halus, melainkan karena rasa penasaran yang membuncah hingga ke ubun-ubun. Ini bukan kali pertama, kedua atau ketiga. Ini sudah yang kesekian kalinya. Sudah dua tahun Nayra menghuni kosan dua lantai ini, dan selama itu pula hidupnya tenang-tenang saja. Namun, segalanya berubah sejak sebulan lalu, tepat ketika kamar di sebelah ujung koridor itu akhirnya terisi. Sejak malam itu, tidur nyenyak menjadi barang mewah yang mustahil ia dapatkan. Setiap jarum jam bergeser melewati tengah malam, saat sebelah kamarnya pulang kerja, suara-suara aneh itu selalu datang memecah keheningan. Maklum saja, bangunan ini bukan kosan elit berfasilitas mewah. Tempat ini sudah cukup tua, peninggalan era lawas yang hanya mendapat renovasi seadanya. Walaupun dinding pembatas antar kamar terbuat dari bata, ketebalannya sangat minim dan sama sekali tidak kedap suara. "Dia ngapain sih, ya Allah... Aku capek, pengen tidur!" rengek Nayra dalam hati. Ia membalikkan tubuhnya menghadap dinding, lalu menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan bantal. Saking kesalnya, ia rasanya ingin menggedor dinding itu keras-keras. Pikiran untuk mengungsi mulai berputar di kepalanya. "Apa iya aku pindah aja ya ke lantai dua? Mumpung kamar yang di atas ada yang kosong? Tapi... ah, kesal banget! Aku 'kan yang lebih dulu tinggal di sini!" batinnya merutuk, tidak terima jika harus repot-repot pindah barang hanya karena tetangga baru. "Shhh... pelan-pelan. Jangan buru-buru!" Suara serak dan berat itu kembali terdengar, begitu dekat hingga membuat bulu kuduk Nayra meremang. Dahi Nayra berkerut dalam di kegelapan kamar. Ia menahan napas, mencoba mencerna setiap artikulasi suara yang barusan lolos dari balik dinding. Suara itu terdengar penuh tekanan, samar-samar diselingi derit ranjang kayu yang beritme konstan. ** Pagi harinya, dunia terasa berputar lebih cepat bagi Nayra. ia merasa seolah baru saja memejamkan mata selama lima menit tapi pagi sudah menyapa. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia menyeret tubuhnya bangkit dari kasur tipisnya. Saat berkaca di cermin lemari pakaian, Nayra hanya bisa menghela napas panjang melihat penampilannya sendiri. Sepasang mata panda yang menghitam dan sedikit bengkak menghiasi wajahnya yang pucat. Efek kurang tidur yang terakumulasi selama sebulan terakhir benar-benar mulai mengikis kewarasannya. ‘’Pagi Nayra, tetap semangat! Ingat tabungan kamu masih kurang banyak! Kamu harus sabar dan tetap kuat!’’ Sambil mengalungkan handuk bermotif bunga di leher dan menenteng sebuah keranjang plastik berisi sabun serta sampo, Nayra membuka pintu kamar. Langkah kakinya gontai, bersiap untuk mengantre di depan kamar mandi umum yang terletak di ujung koridor lantai satu. "Lesu amat Nay, abis begadang?’’ Sebuah suara nyaring yang khas menyapa pendengarannya. Nayra menoleh dan mendapati Mbak Dewi, penghuni kamar tepat di depan kamarnya sedang berdiri di ambang pintu sambil mengoleskan krim malam yang terlambat atau mungkin krim pagi yang terlalu tebal. "Biasa, Mbak," jawab Nayra pelan, nyaris berbisik. Suaranya serak, khas orang yang kekurangan istirahat. Mbak Dewi menggeleng-gelengkan kepala dengan raut wajah penuh simpati yang dibuat-buat. "Kamu itu masih muda, Nay. Jangan terlalu memforsir diri kamu dengan kerjaan atau nonton drama sampai subuh. Tubuh itu butuh istirahat, jangan begadang terus. Nanti cepat tua kayak Mbak, loh." Nayra hanya membalas dengan senyuman kecut yang dipaksakan. 'Aku juga pengen tidur nyenyak tiap malam, Mbak! Tapi gimana bisa kalau tetangga baru kita itu selalu bikin konser suara aneh tiap jam dua subuh?' jerit Nayra dalam hati. Tentu saja, ia tidak punya keberanian untuk menyuarakan kalimat itu dengan lantang. Ia terlalu gengsi, dan sejujurnya, terlalu malu untuk membahas suara-suara sensitif seperti itu di lorong kosan. Cklek. Pembicaraan mereka terputus saat pintu kamar mandi umum di ujung koridor terbuka. Uap air yang hangat dan aroma sabun antiseptik menyeruak keluar, membawa kesegaran yang kontras dengan udara koridor yang pengap. Sosok yang keluar dari sana seolah-olah membawa gravitasi sendiri, membuat suasana di lorong sempit itu mendadak terasa sesak dan intim. Seorang laki-laki muncul. Nayra terpaku di tempatnya berdiri. Laki-laki itu tinggi, kulitnya putih bersih, setipe dengan orang-orang yang menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ruangan daripada di bawah terik matahari. Kaos putih polos yang basah di beberapa bagian melekat pas di tubuhnya yang tegap, mencetak jelas bidang dadanya yang kokoh. Celana pendek selutut yang dipakainya memperlihatkan tungkai kaki yang kuat. Rambutnya yang hitam legam masih basah kuyup, butiran air jatuh satu per satu ke handuk yang tersampir di pundak lebarnya yang bidang. Di tangan kanannya, ia menenteng sebuah gayung plastik berisi perlengkapan mandi sederhana, sebuah pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun di mata Nayra, pria ini tampak seperti aktor film yang salah masuk set ke kontrakan kumuh. Ada kesan dingin yang terpancar dari wajahnya yang simetris, rahang yang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata yang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat. Namun, sekaligus ada daya tarik misterius yang membuat siapa pun sulit untuk memalingkan wajah. "Halo Mas Arga, good morning? Segar banget tampaknya pagi ini," sapa Mbak Dewi dengan nada centilnya. Dalam sekejap, suara-suara yang didengarnya semalam kembali terngiang di kepala Nayra dengan resolusi tinggi. Suara derit kayu yang ritmis dan lenguhan berat seolah diputar kembali dengan volume maksimal tepat di telinganya. Tatapan Nayra tanpa sengaja turun ke arah tangan Arga yang memegang gayung. Tangan itu terlihat kuat dengan urat-urat yang menonjol di punggung tangannya. Bayangan tentang apa yang dilakukan tangan itu semalam membuat wajah Nayra mendadak memanas, merah padam hingga ke ujung telinga.Nayra menggigit bibir bawahnya pelan, berpikir keras mencari celah untuk menolak halus. Namun, mengingat sore nanti ia memang tidak memiliki agenda lain setelah pulang kerja, akhirnya ia pasrah. "Sore aja gimana, Mas? Siang ini aku gak bisa keluar dari area mall karena cuma dapat waktu istirahat sebentar.""Baiklah, nanti sore sekalian aku jemput kamu di lobby mall."Melihat kalimat "aku jemput", jempol Nayra dengan kecepatan penuh langsung mengetik balasan instan untuk menolak. "Ehhh gak usah, Mas! Repot banget kalau harus jemput segala. Kita langsung ketemu di warung baksonya aja nanti sore."Namun, tampaknya Arga bukanlah tipe pria yang mudah digoyahkan keputusannya. Pesan terakhir dari pria itu masuk dengan sangat mutlak, menutup ruang negosiasi bagi Nayra. "Gapapa, tempat kerja kita dekat sekali, kompleks gedungnya bersebelahan. Jadi nanti sore sekalian aku jemput kamu pukul lima tepat. Jangan pulang duluan."Nayra melongo menatap layar
"Cieee... yang pagi-pagi sudah dianterin sama ayank baru," goda Tari, sembari menaik-turunkan kedua alisnya dengan ekspresi super jahil.Tari sejak tadi memang sudah mengintip dari balik kaca besar butik saat sebuah motor matic besar berhenti tepat di lobby utara mall. Ia melihat dengan jelas bagaimana jalannya prosesi Nayra turun dari motor, mengembalikan helm dengan gerakan canggung, hingga pria tegap berjaket denim itu memberikan senyuman hangat sebelum berlalu pergi."Apaan sih, Tar! Jangan ngaco deh, orang cuma kebetulan bareng saja kok," sahut Nayra buru-buru membantah, mencoba fokus kembali pada tas di depannya. Namun, usahanya gagal total karena semburat warna merah muda yang pekat langsung terbit di kedua belah pipinya, mengkhianati kalimat penyangkalannya sendiri.Tari terkekeh renyah, menyandarkan tubuhnya pada pilar etalase sambil melipat tangan di dada. "Kebetulan apa? Kebetulan gak ada ojol lagi kah kayak waktu itu?’’‘’ Hari gini ma
"Mau mandi?" tanya Arga basa-basi, melirik handuk di bahu Nayra."I-iya, Mas..." Nayra mencicit pelan, merutuki dirinya sendiri dalam hati mengapa ia harus terus-menerus mendadak gagap setiap kali berhadapan langsung dalam jarak sedekat ini dengan Arga."Silakan, di dalam sudah kosong kok," ujar Arga ramah, melangkah sedikit ke samping untuk memberikan ruang yang cukup bagi Nayra agar bisa lewat tanpa harus bersentuhan fisik dengannya.Namun, alih-alih langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi yang uap hangatnya masih mengepul, rasa penasaran yang besar dalam dada Nayra mendadak mengambil alih kendali lidahnya. Ia mendongakkan kepala, menatap lurus ke arah Arga dengan dahi berkerut halus."Mas Arga... kok tumben mandi pagi banget?’’ tanya Nayra akhirnya penasaran.Arga terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat tulus di telinga Nayra. "Iya, Nay. Hari ini aku mau mulai masuk kerja lagi ke kantor," jawab Arga sambil merapikan
"Ini... ini tadi pas pulang kerja aku sempat mampir beli makanan hangat, sama... sama ini ada sedikit buah-buahan, jeruk sama apel segar. Sengaja aku belikan buat Mas Arga, biar ada tenaga buat minum obat," Nayra meletakkan kembali kantong-kantong itu dengan posisi yang lebih rapi di dekat jajaran botol obat dan salep milik Arga.Arga menatap kantong makanan dan buah-buahan itu bergantian, lalu kembali menatap Nayra. Rasa hangat yang menjalar di dadanya kini semakin pekat. Di tengah kondisinya yang remuk redam dan dikhianati oleh masa lalu, perhatian tulus dari seorang gadis yang baru sebulan menjadi tetangga kamarnya terasa seperti oase di padang pasir."Terima kasih banyak sekali lagi, Nay. Kamu repot-repot sekali, padahal baru pulang kerja pasti capek," ucap Arga lembut, suaranya merendah penuh magnet."N-nggak repot kok, Mas. Kebetulan searah jalan pulang juga tadi," bohong Nayra, padahal ia harus berjalan memutar dua blok demi mendapatkan buah-buahan
suaranya melengking tinggi hingga membuat beberapa orang di luar pintu reflek melangkah mundur. "Kamu— kamu! Kamu sengaja melakukan ini semua cuma buat menghina aku, kan?!"Arga menghentikan kekehannya. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Nayra, kembali menatap Shila dengan tatapan mata yang dalam sekejap berubah menjadi sedingin es. Aura kelembutan yang baru saja tercipta langsung menguap tanpa bekas."Shila, kan aku sudah bilang dari awal semenjak kamu menginjakkan kaki di kamar ini. Kita berdua sudah selesai," kata Arga, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar begitu mutlak dan tidak bisa diganggu gugat. "Aku sudah punya kehidupan sendiri yang tenang di sini, dan kamu pun punya kariermu sendiri di luar sana. Jadi, tolong hargai itu. Pergilah dari sini.""Brengseeeeeek!!" Shila menjerit frustrasi, tidak mampu lagi menahan rasa malu dan amarah yang bergejolak di ubun-ubunnya. Air matanya kembali menetes, merusak riasan matanya hingga hitam luntur di pipi. "Kamu jaha
Shila melangkah maju, memangkas jarak yang tersisa di antara dirinya dan Nayra. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai keramik dengan bunyi klik yang tajam, seirama dengan sorot matanya yang menghujam lurus. Ia mengamati Nayra dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan, menilai setiap jengkal blazer hitam kerja dan celana formal yang melekat di tubuh gadis itu. Di mata seorang model papan atas seperti Shila, penampilan Nayra terlalu sederhana untuk bisa bersanding dengan Arga."Dibayar berapa kamu, sampai mau akting jadi pacarnya?" tanya Shila dengan nada suara yang menusuk, penuh dengan racun intimidasi. Ia yakin tebakannya benar. Tidak mungkin mantan suaminya bisa berpindah hati secepat ini pada gadis kosan biasa.Nayra sempat tertegun. Ia mengerjapkan matanya, agak bingung dengan tuduhan blak-blakan yang dilemparkan wanita anggun namun ketus di depannya ini. Untuk sesaat, ia mengalihkan pandangannya pada Arga yang masih terbaring lemah di ranjang, lalu kembal







