Share

Semoga Gol

Author: Mommy_Ar
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-31 10:31:17

Pikiran-pikiran nakal tentang suara lenguhan semalam kembali berputar di kepalanya, membuat pipi Nayra merona merah di balik kaca helm kelam yang ia kenakan.

Tapi berkat kelihaian Arga selap-selip di antara barisan mobil, mereka akhirnya tiba di depan lobi selatan Mall Sentra hanya dalam waktu lima belas menit.

Nayra bernapas lega, ia punya sisa waktu sepuluh menit sebelum jam absennya dimulai.

Begitu motor berhenti sempurna di area drop-off, Nayra segera turun dengan gerakan secepat yang ia bisa, mencoba mengembalikan jarak aman di antara mereka.

Ia melepas kancing helm dengan jemari yang sedikit gemetar, lalu menyerahkannya kembali kepada pria itu.

"Makasih ya, Mas, tumpangannya. Dan... maaf banget kalau sudah merepotkan jalan Mas Arga pagi-pagi begini," ujar Nayra setengah membungkuk, menatap Arga dengan rasa sungkan yang kentara.

Arga menerima helm abu-abu itu dengan satu tangan, lalu menaruhnya di dahan spion.

Ia menatap Nayra sejenak, senyuman tipis yang misterius namun menawan kembali terbit di wajahnya yang tegas.

"Sama-sama. Kebetulan searah, jadi tidak repot sama sekali. Saya permisi duluan ya, Mbak Nayra."

"Iya, Mas. Sekali lagi terima kasih banyak. Hati-hati di jalan," sahut Nayra, memberikan anggukan hormat.

Arga menurunkan kaca helm full-face miliknya hingga berbunyi klik, menutupi sisa ekspresi wajahnya.

Detik berikutnya, ia menarik tuas gas dan motornya segera melenggang pergi, membaur dengan arus kendaraan yang menuju ke arah Menara Sentra Grup di sebelah mall.

Nayra memandangi kepergian motor itu selama beberapa detik sebelum akhirnya berbalik badan.

Ia membuang napas panjang, mencoba menetralkan seluruh pasokan oksigen di dadanya yang sempat terasa sesak karena gugup.

Dengan langkah terburu-buru, ia melangkah masuk menembus pintu kaca mall yang sejuk oleh empasan pendingin ruangan.

Namun baru beberapa langkah berjalan di atas lantai marmer yang mengilap, sebuah pekikan nyaring dari arah belakang mengejutkannya.

"Nayra!"

Gadis itu tersentak dan langsung menoleh.

Sesosok gadis dengan seragam yang sama persis dengannya, blazer hitam dan riasan wajah yang on-point sedang berjalan cepat setengah berlari menghampirinya.

"Tari! Astaga ngagetin aja sih," seru Nayra sambil mengelus dadanya.

Dahinya berkerut heran melihat kehadiran sahabat sekaligus rekan kerjanya itu.

"Loh, bukanya kamu kebagian shift sore ya hari ini?”’

Tari terkekeh pelan sambil menyamakan langkah kakinya dengan Nayra menuju butik tas mewah tempat mereka bekerja.

"Iya, harusnya begitu. Tapi aku tukar shift sama Dona. Dia ada arisan keluarga di rumahnya, jadi minta tolong digantikan pagi ini."

Nayra mengangguk-angguk paham, Mereka berdua berjalan berdampingan melewati jajaran gerai-gerai merek internasional yang masih sepi pengunjung.

Namun, kedamaian Nayra tidak bertahan lama.

Tari tiba-tiba menyenggol lengan Nayra dengan sikunya, senyuman menggoda yang penuh selidik terukir jelas di wajahnya yang ceria.

"Oh ya, Nay... ngomong-ngomong, tadi itu siapa? Pacar baru, ya?’’ goda Tari dengan mata yang berkedip-kedip jahil.

"Bukan, ih! Dia itu cuma tetangga kosanku."

"Masa sih cuma tetangga?" Tari menaikkan sebelah alisnya, nada suaranya terdengar sangat sangsi.

"Baik banget sampai mau nganterin kerja jam segini. Jalur ke sini kan macetnya minta ampun kalau pagi. Kalau bukan karena ada 'apa-apanya', rasanya mustahil deh mau jadi ojol gratisan."

Nayra mengembuskan napas frustrasi, merasa terpojok oleh tatapan menyelidik sahabatnya.

" Aku itu tadi sudah mesan ojol di aplikasi, tahu gak? Tapi di-cancel mulu dari jam delapan kurang karena jaraknya kejauhan dan macet. Nah, pas aku lagi panik-paniknya di teras, dia kebetulan keluar mau berangkat kerja ke kantornya yang di sebelah mall ini. Jadi, ya sudah, ada Mbak Dewi juga yang memaksa, akhirnya kami barengan."

"Ohhhhh, begitu ceritanya..." Tari memperpanjang huruf 'O' di kalimatnya dengan nada yang sangat menyebalkan,

jelas sekali memperlihatkan kalau dirinya sama sekali tidak membeli alasan rasional dari Nayra.

Nayra mendengus kencang, menatap temannya itu dengan sebal. "Kamu kayak yang gak percaya banget sih sama omonganku?"

"Percaya kok!’’ sahut Tari sambil tertawa cekikikan,

menikmati ekspresi panik di wajah sahabatnya yang biasanya selalu datar dan tenang itu.

"Ckckck... terserah kamulah, Tar.’’

"Lah, kok malah ngambek, hahahaha!"

Tari semakin tergelak puas melihat reaksi Nayra. Ia berlari kecil untuk mengejar langkah Nayra yang menghentak-hentak kesal.

"Iya, iya, Nayra. Aku percaya kalau itu cuma kebetulan. Cuma ya... nanti kalau sudah 'gol', jangan lupa traktirannya di restoran atas ya?"

Mendengar kata-kata itu, langkah kaki Nayra langsung berhenti mendadak di depan pintu masuk butik.

Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Tari hampir saja menabrak punggungnya dari belakang.

Nayra membalikkan badannya perlahan, menatap Tari dengan dahi yang berkerut dalam dan tatapan mata yang penuh tanda tanya besar.

"Apanya yang gol?"

Tari menghentikan tawa renyahnya, lalu menatap Nayra dengan gemas seolah-olah sahabatnya itu adalah makhluk paling polos yang ada di muka bumi.

"Ya hubungannya lah, Nayra! Siapa tahu, kan, berawal dari tetangga, eh berujung jadi belahan jiwa,’’

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 126

    Sepeninggal Mama Fitri dan Angga dari kamarnya, hening mendadak merayap begitu pekat. Kamar rawat nomor 305 itu kini terasa laksana sel isolasi yang memenjarakan jiwa Anna. Suara derak daun pintu yang tertutup rapat seolah mengunci seluruh kehampaan dan rasa malu di dalam dirinya.Anna masih bergeming di atas bangsal. Pipi kirinya masih terasa panas dan berdenyut nyeri bekas tamparan keras dari sang ibu yang tak pernah sekalipun menyakitinya seumur hidup. Namun, rasa perih di kulitnya sama sekali tidak sebanding dengan hantaman penyesalan yang kini menggerogoti dadanya. Kata-kata sang ibu dan kenyataan bahwa Nayra sedang berjuang melewati koma di kamar sebelah terus berputar-putar di dalam kepalanya laksana teror tanpa henti.Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Selang infus di tangannya terasa semakin berat, mencerminkan kerapuhan fisiknya yang baru saja kehilangan janin beberapa hari lalu.Cklek.Suara engsel pintu yang terdorong pelan memecah lamunan panjang

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 125

    Anna mematung, memegangi pipinya yang terasa panas dan perih. Ia menoleh perlahan, menatap ibunya dengan mata membelalak tak percaya. Seumur hidupnya, Mama Fitri tidak pernah sekalipun melayangkan tangan atau memukul anak-anaknya, seburuk apa pun kesalahan yang mereka perbuat.Mama Fitri berdiri mematung dengan tangan kanan yang masih bergetar di udara. Air mata kekecewaan yang sangat mendalam akhirnya pecah dan mengalir deras membasahi pipinya yang keriput."Jaga mulutmu, Anna!" ucap Mama Fitri dengan suara parau yang menyayat hati. "Kamu pikir Mama gak tahu apa yang sudah kamu perbuat di Jakarta selama ini, hah?! Kamu pikir Mama gak tahu kebusukan apa yang kamu sembunyikan sampai adik-adikmu harus menanggung akibatnya?!"Napas Mama Fitri memburu hebat, dadanya kembang-kempis menahan rasa sesak yang kian melilit tangkainya. Tamparan tadi tidak hanya membakar pipi Anna, tetapi juga meninggalkan perih yang luar biasa di telapak tangan tua Mama Fitri. Air matanya menetes satu perasi

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 124

    Keesokan harinya, koridor lantai tiga rumah sakit perlahan mulai ramai oleh riuk pikuk aktivitas pagi. Bau antiseptik yang khas menyeruak di udara, berpadu dengan derak roda troli medis yang didorong para perawat.Nayra akhirnya telah dipindahkan dari ruang ICU menuju kamar rawat inap semula kamar nomor 304. Meski selang ventilator besar sudah dilepas dan digantikan oleh nasal kanula oksigen biasa, kondisi wanita itu masih belum menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Ia masih terbaring kaku dalam buaian koma medis akibat pendarahan hebat dan komplikasi yang dialaminya.Mama Fitri telah tiba sejak pagi-pagi sekali setelah menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari kampung halaman. Sementara itu, orang tua Nayra dikabarkan masih berada di perjalanan menyusul menggunakan jalur darat dan diprediksi baru akan sampai menjelang siang.Setelah beberapa saat mengelus kening menantunya yang dingin sambil memanjatkan doa-doa keselamatan di dalam kamar, Mama Fitr

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 123

    Di luar ruang ICU, koridor rumah sakit terasa begitu lengang. Suara dengung pendingin udara berpadu dengan langkah gontai beberapa perawat yang melintas dari kejauhan menjadi satu-satunya latar belakang suara di lorong steril tersebut. Lampu-lampu neon memancarkan cahaya putih yang dingin, menambah aura kesedihan yang menggelayuti keluarga kecil itu.Di atas deretan kursi besi dingin yang menempel di dinding, Angga dan Ayu masih setia duduk menanti. Keduanya tampak teramat lelah. Lingkaran hitam menutupi bagian bawah mata mereka setelah seharian penuh dihantam badai emosi, mulai dari mengurus Riko di ruang anak, melerai keributan Arga dan Rama di taman, hingga menyaksikan pertaruhan nyawa Nayra dan bayinya di ruang operasi.Ayu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, mengusap lehernya yang terasa kaku. Matanya menatap pintu kaca tebal ruang ICU yang tertutup rapat, membayangkan beban berat yang saat ini tengah menghimpit pundak adik iparnya di dalam sana.Ia memiringkan kepa

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 122

    Di tengah kehancuran jiwanya, Arga mendongakkan kepala. Matanya yang merah dan sembap menatap dokter bedah yang masih berdiri menunggunya dengan sabar."Apakah... apakah saya bisa menemui istri saya, Dok?" tanya Arga lemah, hampir seperti bisikan gundah dari seorang pria yang telah kehilangan segalanya.Dokter itu mengangguk pelan. "Bisa, Pak. Pasien akan segera dipindahkan ke ruang ICU (Intensive Care Unit). Tapi untuk saat ini, hanya satu orang yang diperbolehkan masuk untuk mendampingi. Dan Anda harus mengenakan pakaian medis steril lengkap demi menjaga kondisi steril pasien dari risiko infeksi," ujar dokter menginstruksikan."Saya, Dok... Saya yang masuk. Tolong izinkan saya," ucap Arga tanpa ragu. Ia mengusap air matanya kasar, memaksa kakinya yang gemetar untuk kembali berdiri tegak.Lima belas menit kemudian, Arga sudah berada di depan pintu kaca tebal ruang ICU. Ia telah mengenakan jubah hijau steril, penutup kepala, dan masker yang menutupi sebagian besar wajahnya yang memar

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 121

    Waktu terasa berjalan begitu lambat. Setiap detik di depan ruang operasi terasa laksana siksaan yang membakar jiwa. Tiga puluh menit... empat puluh lima menit... satu jam berlalu tanpa ada kepastian.KLIK!Lampu merah indikator di atas pintu ruang operasi mendadak padam. Pintu besar itu terdorong terbuka. Seorang dokter spesialis anak (pediatris) keluar lebih dulu sambil mendorong sebuah inkubator kecil transparan, dikawal oleh dua orang suster.Arga, Angga, Mbak Ayu seketika berdiri, merangsek mendekat dengan jantung yang berdegup kencang."Dokter! Bagaimana anak dan istri saya, Dok?!" seru Arga histeris, matanya berusaha mengintip ke dalam dinding kaca inkubator.Dokter spesialis anak itu melepas maskernya dan memberikan senyuman tipis yang sangat menenangkan. "Selamat, Pak. Bayi Anda laki-laki. Beratnya memang hanya 1,9 kilogram karena lahir prematur di usia kehamilan delapan bulan, dan tadi sempat mengalami sedikit sesak napas karena kekurangan cairan ketuban."Arga menahan na

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Pegangan, Nay!

    Arga melirik ke arah Nayra sekilas, lalu kembali menatap Mbak Dewi. "Iya, betul. Kompleks gedungnya memang bersebelahan langsung dengan area mall.""Wahhh, pas banget! Pucuk dicinta ulam pun tiba, Nayra kecewa mas Arga punm tiba," Mbak Dewi berputar menghadap Arga dengan wajah memelas yang dibuat-

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bau apa nih??

    Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Tiba-tiba khawatir

    JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Suara ITU lagi!

    ‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status