Share

Bab 1 s2

Author: Mommy_Ar
last update publish date: 2026-08-03 12:40:21
Belasan tahun kemudian …

Suara ketukan palu hakim menggema kokoh di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Keheningan yang menegang seketika pecah, berganti menjadi bisik-bisik riuh dari para pengunjung, awak media, hingga barisan pengacara yang memadati area belakang.

"Menyatakan bahwa Gugatan Wanprestasi yang diajukan oleh Pihak Penggugat ditolak seluruhnya. Dan membebankan seluruh biaya perkara kepada Pihak Penggugat."

Di barisan depan meja Tergugat, seorang pria berdiri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Mommy_Ar
Kurang sajen, si Naka gak mau ngasih sajen jadi begini, othor nya oleng wkwkwkw
goodnovel comment avatar
Ayu Ilma
efek ngantuk apa gmna nih mom? (⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
goodnovel comment avatar
Mmh_Ara😊😊
wiiihhh keren,,, akhirnya cita-cita Naka ingin jadi Pengacara,,tercapai,,, congratulions Naka
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 5 s2

    Menara Sudirman berdiri megah dan berkilau di bawah terik matahari Jakarta. Marmer mengkilap, aroma parfum mahal, serta lalu lalang orang-orang ber-jas rapi membuat Arshy merasa seperti makhluk asing dari planet lain.Mengenakan kemeja putih yang sedikit lecek dan celana kain hitam pudar, Arshy melangkah masuk ke area lobby Argantara & Partners Law Firm di lantai 18."Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa dibantu? Sudah ada janji appointment dengan pengacara kami?" sela seorang resepsionis cantik dengan senyum ramah yang terlatih."Pagi, Mbak. Saya mau bertemu dengan Pak Nakara Argantara. Penting sekali," ucap Arshy cepat, menyatukan kedua tangannya di dada.Resepsionis itu memeriksa layar komputernya. "Atas nama siapa? Dari perusahaan apa?""Saya... saya Arshila. Bukan dari perusahaan, Mbak. Saya ingin meminta bantuan hukum untuk sengketa tanah panti asuhan kami."Senyum resepsionis itu perlahan memudar, berganti dengan tatapan prihatin yang diwarnai rasa canggu

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 4 s2

    Pagi belum sepenuhnya menyapa ketika bus antarkota yang ditumpangi Arshy berhenti di Terminal Pulo Gebang, Jakarta Timur. Deru mesin kendaraan besar, asap knalpot yang memedihkan mata, serta teriakan para calo tiket langsung menyambut pendengarannya.Arshy memeluk erat tas ransel kusamnya di depan dada. Di dalam tas itu, selain beberapa helai pakaian sederhana, terdapat seluruh tabungan terakhir panti yang sempat ia kumpulkan bersama Tasya uang senilai satu juta lima ratus ribu rupiah. Harta terakhir yang menjadi penyambung nafas bagi perjuangannya di ibu kota."Jakarta..." gumam Arshy pelan. Matanya menatap deretan gedung menjulang tinggi di kejauhan yang tertutup kabut polusi. Bagi Arshy, gedung-gedung itu terlihat seperti raksasa beton yang siap menelan siapa saja yang lemah.Langkah pertama Arshy dimulai dengan mendatangi sebuah alamat di kawasan Manggarai yang ia dapatkan dari brosur agen penyalur tenaga kerja beberapa minggu lalu. Dengan berbekal peta kertas dan sisa daya p

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 3 s2

    Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Tasya, menghantam dada Arshy bagaikan pukulan benda tumpul. Arshy perlahan melepaskan dekapan anak-anak. Ia berdiri, menatap tidak percaya pada sahabatnya sendirigadis yang tumbuh bersama dirinya di bawah atap yang sama."Tasya, kamu sadar dengan apa yang kamu ucapin?" gumam Arshy, suaranya gemetar menahan amarah yang mendidih."Sadar lah!" balas Tasya setengah berteriak, matanya mulai berkaca-kaca karena frustrasi. "Kamu lihat Bunda Rahayu di rumah sakit? Sampai sekarang kondisinya malah semakin kritis di ICU! Kita butuh biaya banyak buat bayar kamar, obat, sama perawatan Bunda! Daripada kita capek-capek cari uang yang jumlahnya tidak masuk akal cuma buat nebus tanah panti ini, mending kita fokus ke Bunda!"Tasya melangkah maju, mendekati Arshy yang membeku. Ia memegang kedua bahu Arshy, menatap mata sahabatnya dengan tatapan memohon sekaligus putus asa."Ar, sadar, Ar... panti ini sudah bukan hak kita lagi. Kita cuma menumpang!"Plaakkk

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 2 s2

    "Bunda serius, Naka," sela Nayra, menatap putra sulungnya dengan pandangan penuh harap. "Teman-teman Bunda semuanya sudah punya menantu. Bahkan anak Tante Dona yang usianya di bawah kamu, bulan depan mau menikah. Kamu kapan kenalin calon kamu ke rumah?’’"Naka belum mikirin ke sana, Bun. Karir Naka baru dimulai. Banyak kasus besar yang butuh perhatian penuh dari Naka," alasan yang sama kembali diluncurkan Naka bagai tameng."Pekerjaan itu enggak akan ada habisnya, Nakara!" tegas Arga kali ini dengan nada lebih berbobot. "Kamu butuh pendamping. Orang yang bisa menyambut kamu saat kamu lelah pulang kerja, orang yang bisa bikin hidup kamu enggak cuma isinya kertas dan hukum. Ayah sama Bunda gak minta kamu langsung menikah besok, tapi setidaknya bawa satu wanita yang serius sama kamu.""Naka belum menemukan yang cocok, Yah," potong Naka mantap. "Dan Naka enggak mau terburu-buru cuma demi memenuhi ekspektasi orang."Nayra menghela napas panjang, menatap suaminya dengan raut wajah menye

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bab 1 s2

    Belasan tahun kemudian … Suara ketukan palu hakim menggema kokoh di dalam ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Keheningan yang menegang seketika pecah, berganti menjadi bisik-bisik riuh dari para pengunjung, awak media, hingga barisan pengacara yang memadati area belakang. "Menyatakan bahwa Gugatan Wanprestasi yang diajukan oleh Pihak Penggugat ditolak seluruhnya. Dan membebankan seluruh biaya perkara kepada Pihak Penggugat." Di barisan depan meja Tergugat, seorang pria berdiri tegap. Ia merapikan kancing jas hitam disukanya yang membalut bahu tegap dan lebar itu dengan gerakan yang sangat tenang, bahkan cenderung dingin. Wajahnya yang tegas, dengan rahang kokoh dan tatapan mata tajam di balik sorot matanya yang tenang, sama sekali tidak menunjukkan luapan kegembiraan berlebih. Nakara Argantara. Pengacara muda berumur 25 tahun yang dalam tiga tahun terakhir menjadi mimpi buruk bagi lawan-lawannya di meja hijau. "Kerja bagus, Nakara," bisik rekan senior di

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bonus chapter

    Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden tipis di ruang keluarga rumah megah Arga. Udara pagi terasa sangat sejuk, diiringi aroma minyak telon dan bedak bayi yang khas, memenuhi setiap sudut ruangan. Rumah yang dulunya sepi dan hening itu kini menjelma menjadi istana penuh tawa, riuh, dan kehangatan yang meluap-luap.Di atas sofa panjang yang empuk, Nayra duduk bersandarkan bantal dengan senyuman lembut yang tak pernah pudar dari wajah ayunya. Di kedua lengannya, terbaring dua sosok mungil yang terbungkus bedong kain lembut berwarna pastel. Anak kembar mereka yang baru berusia dua bulan, seorang bayi perempuan cantik bernama Shakira Arunika dan bayi laki-laki tampan bernama Arshaka Sebastian sedang tertidur lelap setelah selesai menyusu."Sayang, kamu tahu, tas tempat pensil warna Naka di mana ya? Kok gak ada di meja belajar?"Suara berat nan hangat Arga memecah keheningan pagi. Pria itu keluar dari arah koridor kamar anak dengan penampilan yang sudah s

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Dia pacarku!

    Matahari sore baru saja terbenam ketika Nayra melangkah keluar dari area Mall Sentra.Shift kerjanya di butik tas mewah terasa berjalan lebih cepat hari ini, atau mungkin pikirannya saja yang terlalu terbagi sehingga tidak fokus pada waktu. Sepanjang hari, bayangan wajah lebam Arga dan rasa bersal

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Bau apa nih??

    Mbak Dewi justru terkekeh pelan melihat ekspresi panik Nayra yang berlebihan. "Bercanda, Nay, bercanda. Biar kamunya gak tegang. Makanya ini kita bangunin dia, kita pastikan sendiri kondisi dia gimana.’’‘’ Mas Arga... Mas!"Tok, tok, tok!Baru saja Mbak Dewi mengangkat tangannya untuk mengetuk ke

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Tiba-tiba khawatir

    JEDUARRR!Bagai disambar petir di siang bolong, jantung Nayra mendadak mencos. Kalimat Mbak Dewi barusan terasa seperti hantaman keras yang meruntuhkan semua asumsi liar dan pikiran kotor yang bersarang di kepalanya sejak semalam.‘’Di keroyok?" beo Nayra, suaranya mendadak tercekat di tenggorokan

  • Suara Aneh dari Kamar Mas Duda   Suara ITU lagi!

    ‘’Ngaco kamu Tar! Udah ah, ayo buruan kerja!’’Hari kerja berlalu bagai siksaan yang panjang bagi Nayra. Berdiri berjam-jam di atas sepatu pantofel sembari melayani pelanggan butik yang cerewet benar-benar menguras sisa energinya. Ketika jam pulang akhirnya tiba pada pukul sembilan malam, Nayra m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status