登入'Apa maksud kalimatnya?'Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku bahkan setelah aku masuk ke dalam rumah.Aku menutup pagar perlahan. Mengunci pintu. Melepas sepatu. Melakukan semua rutinitas yang biasa kulakukan setiap malam.Namun pikiranku sama sekali tidak berada di sana. Karena untuk kesekian kalinya, Tian berhasil meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban."Itu mungkin karena aku sudah kehabisan cara."Cara apa? Cara untuk mencariku? Cara untuk mendekatiku? Atau cara untuk mempertahankan sesuatu yang bahkan tidak seharusnya ada sejak awal?Aku mengembuskan napas panjang. Lalu menggeleng keras.Cukup. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Tidak lagi. Tidak lagi mencoba menerjemahkan setiap kalimat Tian. Tidak lagi mencari makna tersembunyi dari setiap tatapannya. Tidak lagi berharap. Karena setiap kali aku melakukannya, yang terluka selalu aku.Begitu masuk ke ruang tamu, aku melihat ayah masih duduk di sofa.Televisi menyala pelan. Namun aku cukup yakin beliau t
Aku langsung memejamkan mata.Tentu saja. Tentu saja pria ini akan mengeluarkan kartu itu.Kontrak.Satu kata yang selama ini menjadi alasan di balik semua kekacauan yang terjadi dalam hidupku.Aku menatapnya tajam."Serius?""Aku selalu serius.""Anda datang malam-malam ke rumah saya cuma untuk mengingatkan soal kontrak?""Tidak.""Lalu?"Tatapan Tian tidak bergeser sedikit pun dariku."Aku datang karena ingin melihatmu."Dadaku langsung mengencang. Sama sekali tak nyaman. Aku benci ketika dia menjawab dengan jujur seperti itu. Karena jauh lebih sulit dilawan dibanding candaan atau rayuannya."Tapi kontrak itu masih berlaku," lanjutnya tenang."Jadi?""Jadi kau tidak bisa menghilang seenaknya."Aku tertawa pendek.Tidak lucu. Sama sekali tidak lucu."Pak Tian.""Hm?""Saya kuliah.""Aku tahu.""Saya kerja.""Aku tahu.""Saya punya kehidupan sendiri."Tatapannya melembut sedikit."Aku juga tahu.""Kalau tahu, kenapa Anda terus datang?" Pertanyaan itu akhirnya keluar. Dan begitu teru
Sorot lampu itu masih menyala beberapa detik sebelum akhirnya meredup.Aku memicingkan mata.Dan detik berikutnya, mobil hitam yang sangat kukenal itu bergerak pelan mendekat.Aku mendadak tak nyaman. "Tian."Namanya keluar seperti keluhan, protes atau mungkin kutukan. Aku tidak tahu lagi.Yang jelas, dari semua orang yang mungkin muncul malam ini, dia adalah orang terakhir yang ingin kulihat. Dan sekaligus orang yang paling ingin kuhindari.Mobil itu berhenti beberapa meter dariku. Jendela sisi pengemudi turun perlahan.Benar saja. Tian.Masih mengenakan kemeja kerja. Dasi sudah tidak ada. Dua kancing teratas terbuka. Rambutnya sedikit berantakan.Terlihat lelah. Sangat lelah. Namun matanya tetap sama.Dan itu membuatku langsung kesal."Apa yang Anda lakukan di sini?"Tian menatapku beberapa detik."Lewat."Aku langsung tertawa tidak percaya."Lucu.""Aku memang lucu.""Kebetulan sekali lewat depan rumah saya.""Hm.""Padahal kantor Anda ada di arah berlawanan."Untuk pertama kaliny
Pukul sepuluh aku kembali ke ruang loker. Bersama beberapa kawan bercengkrama, tertawa riang sebelum kemudian berjalan menuju parkiran. "Kamu bareng aku aja, Bi. Aku sekalian lewat mau ke rumah sepupu." Angga mewarkan tumpangan saat aku hendak memesan ojek online. Aku jelas mengiyakan tawarannya tanpa pikir panjang. Sebetulnya ini bukan tawaran istimewa atau sesuatu yang aneh. Setiap kali Angga akan pergi menginap ke rumah sepupunya, aku pasti akan ikut dengannya. Seperti yang sudah direncanakan, hari itu Angga membawa dua buah helm. "Helm pacar kamu, ya?" tanyaku meledek. "Pacar dari mana. Aku enggak punya pacar. Kamu tahu itu," jawabanya kesal. Aku tertawa merespon.Bercanda dengan Angga atau Reina, adalah hal yang sangat mengasyikan. Karena keduanya tak pernah marah atau pun sampai dibawa ke hati. Suasana masih terlihat ramai ketika motor Angga mulai mengaspal di jalan raya. Beberapa kendaraan tampak saling menyalip dan mengejar setiap ada space kosong di depan. Seperti bi
Aku tidak tahu berapa lama kami terdiam setelah itu. Yang kuingat hanya satu hal —malam terasa berjalan terlalu cepat.Ada banyak kata yang seharusnya diucapkan. Banyak pertanyaan yang seharusnya dijawab. Namun pada akhirnya, tidak satu pun dari kami benar-benar membahasnya.Mungkin karena kami sama-sama takut. Atau mungkin karena kami sudah tahu bahwa tidak semua perasaan bisa diselesaikan dengan percakapan.Di luar, lampu-lampu gedung masih menyala terang. Menerangi malam yang semakin larut.Di dalam hotel, keheningan justru berbicara lebih banyak daripada kata-kata.**Pagi datang begitu menyebalkan —menurutku, yakni karena datang terlalu cepat.Saat alarm ponsel berbunyi pukul enam pagi, aku bahkan merasa baru saja memejamkan mata. Kepalaku masih berat. Tubuhku juga.Namun hidup tidak peduli seseorang sedang patah hati atau tidak.Kuliah tetap berjalan. Perpustakaan tetap buka. Dan restoran tempatku bekerja tetap membutuhkan pegawai.Aku duduk di tepi ranjang beberapa saat sebelum
Tian melakukannya dengan penuh kelembutan. Hal yang jarang terjadi dalam hubungan panas kami sejak kontrak ditandatangani. Mobil bahkan tidak bergerak, apalagi bergoyang selayaknya pasangan ilegal lainnya lakukan di area umum. Hal itu membuktikan bahwa permainan Tian malam ini seolah tulus ia lakukan. Bahwa ia melakukannya atas dasar perasaan yang seharusnya tidak pernah tumbuh. "Tian, cukup." Aku berkata di sela hujamannya yang bertubi-tubi mengoyak tubuhku. Aku merasa ini sudah lebih dari cukup. Tian sudah mendapatkan puncak kenikmatannya sejak tadi, tapi ia bahkan terlihat belum mau berhenti. "Kau sudah lelah? Menyerah?" katanya malah bertanya. Aku menggeleng. "Bukan karena itu, tapi waktu sepuluh menit yang kamu minta sudah habis sejak tadi," jawabku dengan udara yang masih sulit kujangkau. Tian menatapku, diam selama beberapa saat. "Kalau begitu, untuk malam ini aku minta tak ada batasan waktu sampai kau benar-benar lelah," katanya, lalu kembali melanjutkan. Mobil itu sep
Aku langsung mendelik.“Maaf?”Tian menoleh. Dan sialnya, ada bayangan senyum tipis di wajahnya.“Asupan.”“Kalimat Anda terdengar sangat mencurigakan.”“Aku cuma minta sesuatu sebelum kau pulang.”Aku menyipitkan mata curiga.“Dan sesuatu itu apa?”“Duduk di sini lima menit lagi.”Aku terdiam. Lal
Aku bahkan tidak sempat berpikir. Semuanya terjadi terlalu cepat. Saat kembali membuka mata, Tian sudah menjauh beberapa senti. Tidak jauh. Hanya cukup untuk membuatku bisa bernapas lagi.Namun justru itu masalahnya. Karena dari jarak sedekat ini, aku bisa melihat sesuatu yang jarang sekali muncul
Tian tetap memelukku dalam diam beberapa saat setelah kecupan singkat itu.Tidak tergesa. Tidak berubah jadi pria agresif seperti yang sering kubayangkan kalau emosinya lepas kendali. Justru sebaliknya—dia terlalu tenang. Dan itu jauh lebih berbahaya.Karena ketenangan Tian selalu berhasil membuat
Hotel itu jauh lebih tenang dibanding biasanya malam ini. Mungkin karena sudah terlalu larut. Atau mungkin karena pikiranku sendiri terlalu penuh sampai semua terasa sunyi.Aku mengikuti Tian melewati lobby tanpa banyak bicara. Beberapa staf hotel menunduk hormat saat melihatnya, tapi lelaki itu ba







