LOGINAkibat hantaman telapak tangan bertenaga penuh tersebut, tubuh Doni limbung menghantam deretan kursi tunggu berbahan besi hingga menimbulkan suara benturan keras. Merasakan rasa kebas yang menyengat saraf wajahnya, laki-laki pecundang ini mendapati sudut bibir kanannya sukses robek meneteskan cairan merah segar untuk kedua kalinya hari ini."Kamu pikir saya tidak tahu semua rencana kotor dan manipulasi murahalamu untuk menghancurkan putriku di kantor tadi, Doni?! Beraninya kamu berkomplot sama dokter korup ini buat memfitnah ayah dari cucu saya secara terang-terangan di depan umum! Jangan pernah bermimpi bisa menghirup udara bebas, karena saya akan mengerahkan seluruh pengacara terbaik buat memastikan kamu membusuk di sel penjara!"Nyonya besar keluarga konglomerat ini lantas memberikan isyarat tegas kepada komandan polisi yang berdiri siaga di belakangnya.Mendapat instruksi penangkapan resmi dari keluarga donatur utama rumah sakit, dua orang petugas berseragam langsung meringkus per
Dari balik ketenangannya, Adrian memutar sebuah video pengakuan langsung beresolusi tinggi yang dirancangnya bersama Anton sedari malam.Di dalam layar lebar tersebut, terpampang jelas wajah asisten pribadi Surya yang duduk tertunduk lesu di sebuah ruangan tertutup. Pria berbaju rapi itu mulai membeberkan seluruh bukti transfer uang suap dari Doni untuk memalsukan rekam medis pasien."Saya menerima perintah langsung dari Dokter Surya untuk memanipulasi data malapraktik Dokter Adrian siang ini." Suara asisten tersebut menggema keras memenuhi seluruh lorong unit gawat darurat membuat semua orang terkesiap. "Semua stempel dan tanda tangan direksi di surat penangguhan itu murni hasil rekayasa kami berdua."Lebih menghancurkan lagi, video tersebut juga melampirkan sebuah bukti mutasi perbankan yang sangat fatal bagi kelangsungan karier sang dokter senior.Terdapat rincian data penggelapan dana rumah sakit yang mengalir deras ke rekening rahasia milik Surya selama lima tahun terakhir. Nomin
Perlahan, tawa puas mereka berdua menyusut tergantikan oleh kerutan kebingungan di dahi masing-masing yang mulai berkeringat. Kedua pria licik ini saling berpandangan mencoba mencari celah ketakutan dari gestur santai sang rival yang sangat tidak masuk akal.Sayangnya, duo pecundang itu sama sekali tidak menemukan raut keputusasaan dari Adrian yang bersandar nyaman layaknya penonton teater bioskop. Sebuah senyum tipis yang amat mengerikan perlahan terukir di sudut bibir sang dokter menyiratkan petaka besar yang tak terhindarkan.Tiba-tiba, insting membunuhnya bangkit, untuk meratakan kehidupan dua laki-laki yang berani mengganggu keselamatan wanita hamil kesayangannya.Melalui kelihaiannya bermain di balik bayangan tanpa tersentuh hukum, dia bersiap meluncurkan kejutan pamungkas yang telah dirancangnya bersama Anton sedari malam."Kita lihat saja siapa yang bakal membusuk di neraka paling gelap besok pagi," batin Adrian menekan tombol eksekusi rahasia di layar ponselnya. Keputusan fin
Sembari mengeluarkan selembar surat resmi berstempel tinta merah dari saku jas dokternya, Surya memamerkan senyum paling meremehkan di hadapan rival utamanya. Pria berjas putih ini melangkah maju memblokir akses pintu masuk ruang penanganan darurat dengan dagu terangkat sangat angkuh layaknya penguasa absolut.Karena merasa mendapat dukungan penuh dari Doni yang berdiri pongah di sampingnya, sang dokter senior segera mengangkat kertas berlogo rumah sakit itu tinggi-tinggi. Lembaran keputusan mutlak tersebut memuat pernyataan penonaktifan sementara seluruh izin praktikAdrian atas tuduhan malapraktik berat yang direkayasa secara licik. Menariknya, pemandangan provokatif ini sengaja diciptakan untuk mempermalukan sang pahlawan medis di hadapan puluhan tenaga kesehatan yang berlalu-lalang siang itu."Dengarkan baik-baik isi surat keputusan dewan direksi yang sudah ditandatangani langsung oleh kepala rumah sakit ini, Dokter Adrian! Berdasarkan laporan dugaan pelanggaran kode etik medis ya
Mengabaikan sisa jadwal praktiknya yang masih panjang menanti penanganan, Adrian menerjang pintu keluar klinik tanpa memedulikan puluhan tatapan kebingungan dari belasan pasien setianya. Memutar setir tajam keluar melintasi area parkir yang padat, sang dokter memacu kendaraannya membelah jalan raya ibu kota dengan kecepatan gila-gilaan menantang batas maut di siang bolong.Lewat injakan pedal gas hingga menyentuh batas dasar lantai mobilnya, laju kendaraan bertenaga besar itu sukses menyalip puluhan mobil lain di lintasan lurus tanpa keraguan sedikit pun.Melanggar belasan rambu lalu lintas yang menyala merah terang secara beruntun, sang pahlawan medis sama sekali tidak memedulikan rentetan sumpah serapah klakson para pengendara lain di jalanan. Otak cerdasnya yang biasa bekerja sistematis kini murni hanya dipenuhi oleh bayangan keselamatan nyawa wanita yang paling dipujanya di seluruh belahan bumi ini.Suara decitan ban karet yang bergesekan kasar dengan aspal panas terdengar amat me
"Aku bakal kembali ke klinik malam ini asalkan kamu berjanji menjaga kesehatan janin kita baik-baik tanpa harus memikirkan beban kesalahanku," final Adrian mengalah melangkah mundur menahan pedih yang mencabik-cabik tenggorokannya.Meninggalkan istana megah itu membawa pandangan mata yang sepenuhnya kosong, sang dokter hebat ini merasa separuh kewarasan di dalam otaknya ikut mati terbunuh pada malam paling menyiksa tersebut.Mengendarai kendaraannya membelah dinginnya angin malam yang menusuk tulang, sang dokter melaju kencang bagaikan raga tanpa nyawa yang benar-benar kehilangan arah tujuan hidup di dunia ini.Lampu-lampu kota ibu kota yang berkelebat melesat cepat dari balik kaca jendela mobil sportnya sama sekali tidak mampu mengalihkan fokusnya dari rasa bersalah yang menggerogoti hati nuraninya.Setibanya di ruang praktik kliniknya yang sudah sepi pengunjung tanpa penjagaan, pertahanan emosi Adrian akhirnya meledak hancur berantakan menabrak realita kehidupan yang pahit.Demi me
Di klinikmya, Adrian berdiri di bawah shower. Dia memutar keran ke arah biru. Air yang semula hangat berubah menjadi dingin menusuk tulang. Adrian memejamkan mata dan mendongakkan wajahnya. Dia membiarkan air dingin itu menampar kulit wajah dan tubuhnya.Sejak bangun tidur tadi pagi, tubuhnya teras
Sebagai bentuk keputusasaan, Adrian menghela napas sangat panjang melalui hidungnya. Dia sadar posisinya sangat lemah di hadapan kekuatan uang milik mertua Doni tersebut. Pria itu harus membangun batasan emosional yang ketat agar tidak semakin hancur di kemudian hari."Kurang berapa lagi?
Seketika, Adrian mengepalkan telapak tangan kiri di atas meja kerja. Kuku-kukunya menekan kulit sampai meninggalkan bekas kemerahan yang sempat memutus aliran darah. Suhu tubuhnya kembali naik perlahan saat mengingat jumlah uang hasil kerjanya yang harus dikorbankan demi masalah ini.&ldqu
"Kamu pasti lemes banget buat pakai baju dengan benar, ya?" tebak Bu Ratih sambil tersenyum tipis meremehkan. "Makanya kancing baju kamu sampai mencong begini pas dipakai habis periksa tadi."Mendapat jalan keluar yang tak terduga, Amara buru-buru menganggukkan kepalanya dengan tempo cepat







