Home / Male Adult / Suntik Lebih Dalam, Dok? / 18. Pulang Atau Ditampar?

Share

18. Pulang Atau Ditampar?

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-07-23 21:23:23

Sikap mundurnya tadi terbukti berhasil memancing reaksi Evelyn. Dinding pertahanan sang dokter bedah kardiotoraks tidak lagi sekaku sebelumnya, melainkan mulai terkikis oleh ego yang terluka dan pengaruh alkohol yang membakar otaknya.

Evelyn meneguk wiski di tangannya hingga tandas dalam sekali hentakan, persis seperti yang dilakukan Hiro sebelumnya.

Sensasi panas cairan pekat itu membakar tenggorokannya, memicu batuk kecil yang samar sebelum dia meletakkan gelas kosong tersebut dengan denti
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   66. Kau Bukan Lagi Istrinya!

    Evelyn mengunyah sarapannya dengan ritme yang lambat, membiarkan kehangatan makanan itu mengalir konstan ke dalam tubuhnya.Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa tenang yang murni ini benar-benar meresap hingga ke dasar jiwanya. Namun, sebagai seorang wanita yang telah puluhan tahun mengandalkan ketajaman nalar klinisnya, Evelyn tahu bahwa dunia di luar tebing terisolasi ini tidak akan membiarkan kebahagiaan mereka berjalan tanpa riak."Jangan menatapku seperti itu, Rossi," tegur Evelyn pelan, meletakkan garpu peraknya dengan ketukan yang tegas namun lembut di atas piring porselen. Dia membetulkan posisi kacamata berbingkai peraknya dengan ujung telunjuk, menantang kilatan mata elang Hiro yang sejak tadi terus mengunci pergerakannya."Fokus utamaku pagi ini adalah dua prosedur operasi kardiak di lantai tiga. Aku tidak bisa membiarkan debaran kardiakku terdistorsi oleh pesona telanjang dadamu."Hiro tidak langsung menarik tubuh tegapnya. Dia justru terkekeh rendah—sebuah keke

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   65. Chef Hiro

    Pukul 06.30 pagi, semburat cahaya matahari musim gugur Manhattan menembus dinding kaca vila, memantulkan pendaran keemasan yang hangat di atas lantai marmer.Kehangatan perapian semalam telah berganti dengan aroma harum kopi yang baru diseduh dan panggangan roti yang menguar gurih dari arah dapur modern di lantai bawah.Evelyn terbangun perlahan, meregangkan tubuh indahnya yang terbalut jubah mandi sutra putih milik vila. Rasa lelah yang sempat mengunci sarafnya selama berhari-hari kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh kesegaran fisik yang belum pernah dia rasakan dalam sebelas tahun terakhir.Dia melangkah turun melewati anak tangga spiral dengan anggun. Begitu kakinya memijak lantai dasar, langkah kaki bersepatu selopnya melambat. Sepasang matanya di balik kacamata berbingkai perak sedikit melebar, menatap pemandangan yang langka di depan meja bar marmer putih.Hiro Rossi sedang berdiri di balik kompor tanam. Pemuda jangkung setinggi 189 sentimeter itu hari ini tampil sangat sant

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   64. Takdir Baru

    Hiro membiarkan keheningan malam menyelimuti mereka sejenak.Alih-alih langsung mendesak dengan dominasi liarnya seperti biasa, pemuda sembilan belas tahun itu justru melunakkan dekapannya. Sesuai dengan nasihat Nonna Francesca untuk menurunkan ego barbar miliknya, tangan kanan Hiro bergerak perlahan menuntun tubuh anggun Evelyn untuk berbalik menghadapnya.Jarak di antara mereka terkikis begitu tipis. Di bawah temaram pendaran api perapian, kacamata berbingkai perak Evelyn berkilat lembut, memantulkan binar mata indahnya yang kini tampak lelah.Hiro tidak menyentuh bibirnya. Dengan kelembutan yang asing namun protektif, ujung jari-jarinya yang besar bergerak menyingkirkan kacamata perak itu dari wajah Evelyn, meletakkannya dengan ketukan pelan di atas konter marmer hitam di samping mereka. Tanpa penghalang kaca tersebut, wajah matang sang dewi bedah jantung terlihat begitu polos, bersih, dan sangat pasrah."Kau sudah bertaruh nyawa menyelamatkan orang lain di ruang operasi selama bel

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   63. Malam Kedua Kita, Dok

    "Bocah gila," umpat Evelyn pelan, suaranya nyaris serupa bisikan yang tertahan di tenggorokan.Dada sang dewi bedah jantung naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Getaran hangat dari embusan napas beraroma mint milik Hiro yang menyapu kulit lehernya membuat pertahanan kakunya kembali goyah. Evelyn refleks menggerakkan tangan kanannya, mencengkeram pergelangan tangan kekar Hiro yang masih mengunci pinggang rampingnya dengan kokoh, mencoba melepaskan diri dari kurungan sensual pemuda sembilan belas tahun itu.Namun, genggaman Hiro justru kian memadat, menolak memberikan ruang pelarian sedikit pun bagi mangsanya."Kau bisa menyebutku gila sesukamu, Evelyn," kekeh Hiro rendah, sebuah tawa bariton seksi yang bergetar intim tepat di sela rungu sang dokter bedah. "Tapi kegilaanku pagi ini baru saja membersihkan sisa-sisa parasit Sterling yang selama sebelas tahun ini menguras habis masa mudamu."Evelyn memalingkan wajahnya, membiarkan sepasang mata indahnya menatap tajam langsung ke

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   62. Bayar Taruhan Keduamu, Nona!

    Victoria Sterling melangkah mundur satu jengkal.Wajah paruh bayanya yang dilapisi kosmetik mahal kini tampak kaku dan bergetar hebat akibat luapan amarah dan rasa tidak percaya. Kata 'Rossi' yang keluar dari bibir menantunya sendiri terdengar seperti lonceng kematian bagi kejayaan dinasti Sterling Group yang selama puluhan tahun mereka agungkan di kelas atas Manhattan."Kau... kau jalang tidak tahu diuntung!" desis Victoria, suaranya melengking kaku, merusak seluruh wibawa matriark sosialita yang selama ini ia banggakan."Sebelas tahun kami memberimu nama besar Sterling! Sebelas tahun kau menikmati fasilitas kemewahan kami! Dan sekarang kau meruntuhkan takhta suamimu sendiri demi menjadi peliharaan seorang pemuda mafia?! Kau akan membusuk di neraka, Evelyn!"Victoria mengangkat tangan kanannya yang gemetar, berniat melayangkan sebuah tamparan ke arah wajah anggun Evelyn untuk membalaskan kehancuran harga diri keluarganya.Cklek.Brak!Sebelum telapak tangan Victoria sempat bergerak,

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   61. Skakmat

    Evelyn berbalik memunggungi Hiro, berjalan dengan langkah kaki yang mantap dan penuh wibawa menuju lemari pakaian di sudut kamar.Di sana, baju ganti premium yang dikirimkan oleh Madam Chloe semalam sudah tergantung rapi: sebuah kemeja sutra berwarna gading yang dipadukan dengan celana kain berpotongan kaku yang elegan, sangat pas untuk menopang kembali aura tegas seorang Kepala Departemen Bedah Jantung.Dua puluh menit kemudian, setelah sepenuhnya berpakaian dan memastikan kacamata berbingkai peraknya bertengger sempurna di hidungnya, Evelyn melangkah keluar dari vila terisolasi itu. Di selasar depan yang masih basah oleh sisa hujan rintik-rintik, sedan hitam mewah dengan kaca antipeluru milik dinasti Rossi sudah menantinya. Pintu mobil dibukakan oleh salah satu anak buah Marco yang berdiri tegak membungkuk hormat."Ke Rumah Sakit Pusat Kota, Tuan Muda?" tanya pengemudi itu melalui kaca pembatas tengah begitu Evelyn duduk di kabin penumpang bagian belakang.Sebelum Evelyn sempat meny

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status