بيت / Male Adult / Suntik Lebih Dalam, Dok? / 47. Kuberi Racun, Mau?

مشاركة

47. Kuberi Racun, Mau?

مؤلف: Nona Muda
last update تاريخ النشر: 2026-08-18 21:28:58

Perawat senior itu melangkah masuk dengan hati-hati, seolah-olah nampan perak berisi bubur hambar, sup kaldu bening, dan segelas air putih di tangannya bisa meledak kapan saja. Dia meletakkan nampan itu di atas meja dorong di samping sofa tempat Hiro bersandar, lalu membungkuk kaku tanpa berani melirik sepasang mata elang sang pewaris mafia.

"I-Ini sarapan pagi Anda, Tuan Rossi. Mohon dihabiskan agar obat analgesik oral Anda bisa segera diberikan," cicit perawat itu, suaranya bergetar samar kar
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   49. Ditendang

    Evelyn menarik napas panjang, menahan pasokan oksigen di dalam paru-parunya demi memadamkan api gairah terselubung yang sengaja disulut oleh Hiro. Sentuhan hangat dari kulit pemuda itu di pergelangan tangannya terasa seperti borgol tak kasat mata yang mengunci harga dirinya.Namun, sebagai seorang wanita matang berusia tiga puluh tahun lebih yang telah mengorbankan seluruh hidupnya demi mencapai takhta tertinggi di dunia medis Manhattan, Evelyn menolak untuk hancur di bawah manipulasi sensual seorang pemuda sembilan belas tahun.Dengan gerakan yang mantap dan dingin, Evelyn memaksa matanya untuk tidak bergetar lagi. Dia mengunci pandangan elang Hiro lurus-lurus dari balik lensa kacamata peraknya, memancarkan aura superioritas yang membekukan."Aku tidak mau, Tuan Rossi," jawab Evelyn. Suaranya mengalun flat, jernih, dan sedingin es. Tidak ada riak keraguan atau getaran gugup dalam intonasinya kali ini.Evelyn sengaja tidak meronta untuk melepaskan pergelangan tangannya. Alih-alih mena

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   48. Jadi Dokter Pribadiku, Dok?

    Mendengar ancaman pembunuhan medis yang keluar dari sela bibir ranum Evelyn, Hiro tidak menunjukkan keterkejutan. Sebaliknya, pemuda sembilan belas tahun itu justru mendongakkan kepala jangkungnya dan meluapkan tawa—sebuah kekehan bariton yang renyah, seksi, sekaligus menantang yang langsung menggema di dalam sunyinya kamar VIP 502."Hahaha! Ugh—"Tawa lepas itu mendadak terhenti ketika otot-otot di sekitar rongga dadanya menegang, memicu gelombang nyeri dari tulang rusuknya yang retak. Hiro meringis pendek, tangan kirinya refleks mencengkeram sisi kemeja sutra hitamnya untuk menahan denyut perih di paru-parunya. Namun, seringai serigala di bibirnya yang pecah sama sekali tidak memudar. Dari balik helaian rambut hitamnya yang berantakan, sepasang mata elangnya menatap Evelyn dengan kilatan kemenangan yang kian pekat."Bahkan jika kau mencampurkan arsenik atau sianida ke dalam bubur hambar ini, Evelyn," bisik Hiro setelah berhasil menguasai ritme napas pendeknya kembali, suara barito

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   47. Kuberi Racun, Mau?

    Perawat senior itu melangkah masuk dengan hati-hati, seolah-olah nampan perak berisi bubur hambar, sup kaldu bening, dan segelas air putih di tangannya bisa meledak kapan saja. Dia meletakkan nampan itu di atas meja dorong di samping sofa tempat Hiro bersandar, lalu membungkuk kaku tanpa berani melirik sepasang mata elang sang pewaris mafia."I-Ini sarapan pagi Anda, Tuan Rossi. Mohon dihabiskan agar obat analgesik oral Anda bisa segera diberikan," cicit perawat itu, suaranya bergetar samar karena aura mencekam dari empat pengawal bersenjata di luar masih terasa pekat di benaknya.Hiro melirik nampan tersebut dengan sudut mata. Tatapan manjanya yang tadi sempat muncul kini lenyap, berganti ekspresi sinis dan dingin. Dia mendorong meja dorong itu menjauh dengan ujung sepatu kulitnya hingga menimbulkan bunyi derit di atas lantai marmer."Singkirkan makanan hambar ini dari hadapanku, Suster," desis Hiro, suara baritonnya mengalun datar namun sarat penolakan. "Aromanya saja sudah merusak

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   46. Hiro Memang Gila

    Evelyn tidak memundurkan langkahnya bahkan satu milimeter pun. Sepasang mata indahnya menatap lurus ke dalam manik mata elang milik pewaris takhta Rossi dengan keteguhan yang membeku. Pengungkapan identitas asli Hiro yang dia dengar dari Arthur semalam sama sekali tidak melunturkan keangkuhannya sebagai dokter bedah papan atas di Manhattan. "Jangan pernah berpikir bahwa status barumu sebagai pangeran mafia bisa membuatku gemetar, Tuan Rossi," desis Evelyn, suaranya mengalun kaku, flat, dan setajam mata pisau bedah. Dia menaikkan sedikit dagunya, menantang aura intimidasi fisik yang sengaja dibangun oleh pemuda di hadapannya. "Bagiku, tidak peduli seberapa banyak darah yang sudah mengalir di bawah perintah dinasti keluargamu di jalanan Manhattan, atau seberapa kejam hukum yang kau miliki di dunia bawah tanah. Begitu kau melangkah membelah pintu kaca rumah sakit ini dan berbaring di atas brankarku, kau hanyalah seonggok pasien dengan tulang rusuk kelima yang retak. Aku tidak punya wak

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   45

    Mendengar keputusan mutlak dari sang nenek, Hiro hanya bisa mengembuskan napas pasrah ke arah langit-langit kamar VIP. Dinding pertahanan taktis yang dibangun Nonna Francesca malam ini benar-benar menjadi barikade besi yang siap mengunci ruang geraknya selama dua minggu ke depan.Nonna Francesca memutar tubuhnya anggun, mantel bulu cerpelainya mengayun elegan seiring langkahnya menuju sofa kemewahan untuk mengambil kembali tas kulit buayanya. "Istirahatlah, Hiro. Besok pagi nenek akan kembali untuk memastikan makanan rumah sakit ini layak masuk ke dalam perut seorang Rossi.""Nonna, kau tidak perlu repot-repot datang sepagi itu—""Diam, Cucuku yang keras kepala. Keputusanku absolut," potong Nonna Francesca kaku, memberi isyarat dengan lambaian tangan kirinya yang dipenuhi batu permata.Wanita tua penguasa takhta bayangan keluarga Rossi itu melangkah tegap keluar dari kamar VIP 502. Pintu mahoni tebal ditutup dengan bunyi klik yang minim dari luar. Di balik kaca buram pintu kamar, Hiro

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   44. Nenek Jauh Lebih Menakutkan

    Sementara itu, di kamar VIP 502 Rumah Sakit Pusat Kota Manhattan, keheningan malam kembali menguasai ruangan setelah kepergian Evelyn. Hiro masih menyandarkan tubuh jangkungnya di bantal kemewahan dengan ponsel enkripsi yang menyala di tangan kirinya. Jemarinya baru saja selesai mengetik pesan teks yang berhasil mengobrak-abrik ketenangan sang dewi bedah di rumahnya.Seringai serigala yang sempat terukir di bibir tegas Hiro mendadak pudar ketika ponsel di genggamannya bergetar panjang. Kali ini, layar ponselnya tidak menampilkan kode enkripsi rahasia dari Marco atau Madam Chloe. Sebuah nama dengan ikon khusus berkedip di sana: Nonna Francesca.Melihat nama itu, nyali sang pewaris tunggal dinasti Rossi yang biasanya tak kenal takut mendadak menyusut. Jika Don Rossi adalah hukum yang absolut di dunia bawah, maka wanita tua ini adalah satu-satunya penguasa mutlak di atas segalanya. Neneknya adalah sosok yang membesarkan dan mengurus Hiro dengan tangan besi berbalut kasih sayang sejak ibu

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status