Home / Male Adult / Suntik Lebih Dalam, Dok? / 76. Kau ... Milikku!

Share

76. Kau ... Milikku!

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-10-07 21:31:39

Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.

Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Pe
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   76. Kau ... Milikku!

    Evelyn menatap barisan gaun pengantin sutra putih yang berjejer kaku di depan jendela besarnya dengan pandangan yang sarat akan kemurkaan bercampur rasa jengah yang luar biasa. Sifat tidak tahu malu dan keliaran taktik manipulasi psikologis dari pemuda mafia sembilan belas tahun itu benar-benar telah meremukkan seluruh batasan profesionalitas yang selama belasan tahun ini dia agungkan di Manhattan.Madam Chloe hanya terkekeh renyah, merapikan mantel bulu hitamnya dengan gerakan yang anggun. "Perintah Tuan Muda Hiro adalah hukum yang absolut bagi kami, Evelyn. Gaun-gaun ini akan tetap berada di sini sampai kau memilih salah satu di antaranya. Selamat menikmati harimu, calon Nyonya Rossi."Tanpa menunggu balasan lagi, Chloe membalikkan tubuhnya dan melangkah lebar membelah pintu mahoni bersama barisan desainernya, meninggalkan Evelyn sendirian di dalam keheningan ruang kerja yang kini telah bertransformasi menjadi butik pengantin komersial.Sepanjang sisa jam dinasnya siang itu, fokus E

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   75. Pertunangan?

    Hiro tidak menunggu jawaban lagi dari bibir Evelyn.Seringai serigalanya menajam seiring dengan kepuasan yang membakar gairah mudanya. Dengan satu sentakan pelan pada pinggang ramping sang dokter bedah, dia mengeliminasi sisa jarak yang memisahkan mereka. Bibir tegasnya mendarat kembali di atas bibir ranum Evelyn, memulai sebuah pergulatan malam ketiga yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh dengan dominasi dunia bawah.Evelyn melenguh pelan di sela ciuman mereka. Jemari rampingnya mencengkeram kencang bahu kokoh Hiro, sementara punggung anggunnya bersandar kaku pada tepian meja marmer. Rasa panas dari alkohol wiski semalam seolah tergantikan oleh sengatan gairah yang jauh lebih membakar, melumpuhkan seluruh nalar medis dan keangkuhan Kepala Departemen yang selalu dia agungkan. Di bawah cengkeraman protektif pemuda sembilan belas tahun ini, dia sepenuhnya menyerahkan kendali dirinya.Hiro melepaskan tautan bibir mereka dengan ritme yang lambat, membiarkan napas mereka yang memburu

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   74. Tagihan Malam Ketiga

    Evelyn meremas memo hitam dari Hiro di dalam genggamannya, merasakan detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang akibat kombinasi rasa jengah dan desiran adrenalin yang pekat.Pemuda sembilan belas tahun itu benar-benar tahu bagaimana cara mengobrak-abrik seluruh tatanan hidupnya. Menolak dokumen ini di depan Julian Vance hanya akan memperlihatkan kelemahannya, namun menerimanya begitu saja berarti dia secara sukarela mengunci dirinya di dalam sangkar emas yang dirancang sang pangeran mafia.Sepanjang sisa jam dinasnya hingga matahari terbenam di balik cakrawala Manhattan, fokus Evelyn terbagi dua. Tangannya memang memegang pisau bedah dengan presisi yang kaku, tetapi otaknya terus melakukan hitung mundur menuju pukul delapan malam.Pukul 20.00 malam, hujan musim gugur di luar jendela rumah sakit kian deras, menumpahkan hawa dingin yang menusuk tulang. Evelyn melangkah keluar dari lift basement barat dengan pakaian kasualnya, mantel wol abu-abu yang membungkus kemeja sutra gading.

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   73. Jengah

    Evelyn melangkah mundur satu jengkal, menatap akta kepemilikan saham bersampul kulit hitam itu seolah benda tersebut adalah detonator bom yang siap meledakkan sisa-sisa kewarasannya.Gila. Remaja sembilan belas tahun itu benar-benar sudah kehilangan seluruh akal sehatnya. Membeli hampir separuh yayasan rumah sakit terbesar di Manhattan hanya untuk dijadikan 'mahar' pembalasan dendam?"Tuan Rossi... kau benar-benar tahu cara menguji batas kesabaranku," desis Evelyn kaku, suaranya bergetar menahan gejolak jengah yang kian memuncak.Cklek!Belum sempat Evelyn meletakkan kembali berkas gila itu, pintu ruang kerjanya diketuk dua kali sebelum akhirnya didorong terbuka dari luar. Dr. Julian Vance, Sp.B (K) Trauma melangkah masuk dengan rahang yang mengeras sempurna dan wajah matang yang pucat pasi. Di tangannya terikat sebuah map administrasi hukum yang baru saja dikirimkan oleh dewan direksi yayasan."Evelyn! Apa maksud dari laporan dewan komisaris lima menit yang lalu?!" desis Julian, suar

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   72. Selamat Malam, Nyonya Rossi

    Evelyn mendongak, menantang tatapan elang Hiro tanpa riak ketakutan.Sisa tawa manis di bibirnya perlahan memadat menjadi seulas senyuman sinis yang menawan, khas seorang wanita matang yang tahu betul cara menghadapi arogansi darah muda."Keinginanmu tidak berlaku untukku, Rossi," sahut Evelyn kaku, suaranya mengalun flat dan sedingin es, meruntuhkan dominasi verbal yang baru saja dibangun oleh pemuda sembilan belas tahun itu.Evelyn meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang Hiro yang kokoh terbalut kemeja satin hitam. Tanpa menggunakan kekuatan kasar, dia memberikan dorongan mantap yang penuh penekanan, memaksa postur tegap setinggi 189 sentimeter itu mundur satu jengkal demi memberikan ruang oksigen bagi dadanya yang sempat berdebar tidak karuan."Kau bisa meruntuhkan Sterling Group, menyita aset pelabuhan mereka, atau mengunci Arthur di balik sel federal dalam waktu semalam karena mereka memang kotor," lanjut Evelyn, berdiri dari sofa beludru dengan gerakan yang anggun seir

  • Suntik Lebih Dalam, Dok?   71. Menikahlah Denganku, Dok?

    Hiro melonggarkan cengkeramannya pada pinggang ramping Evelyn, lalu memutar tubuh anggun wanita itu agar menghadapnya sepenuhnya.Di bawah temaram api perapian yang menari, sepasang mata elang pemuda sembilan belas tahun itu menatap lurus ke dalam mata Evelyn. Dia bisa melihat sisa-sisa ketegangan dari ruang operasi yang masih membekas di garis wajah sang dewi bedah jantung.Hiro tidak bertindak barbar. Dengan gerakan yang lembut namun pasti, jemari besarnya bergerak naik ke wajah Evelyn. Dia melepas kacamata berbingkai perak itu perlahan, meletakkannya di atas meja konter marmer hitam tanpa memutuskan kontak mata mereka. Tanpa lensa kaku itu, Evelyn terlihat begitu rapuh dan menawan dalam balutan gaun satin zamrudnya."Kau sudah menyelesaikan tugas medismu dengan sangat baik hari ini, Dok," bisik Hiro rendah, suara baritonnya yang berat mengalun dengan kelembutan yang mematikan. "Sekarang, biarkan aku yang mengambil alih kendalinya."Hiro menuntun Evelyn berjalan lambat menuju sofa b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status