MasukArina akhirnya berhasil membujuk Gavin untuk kembali beristirahat. Demam laki-laki itu memang sudah turun, tetapi sebagai seorang dokter, Gavin membutuhkan kondisi yang benar-benar pulih sebelum kembali bekerja. Arina tidak ingin Gavin memaksakan diri hanya karena merasa tubuhnya sudah lebih baik.Setelah memastikan Gavin kembali terlelap, Arina berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan wajah laki-laki itu.Kamar terasa begitu tenang. Hanya suara pendingin ruangan dan napas teratur Gavin yang terdengar samar.Arina bisa mengamati wajah Gavin tanpa gangguan. Wajah laki-laki itu tampak jauh lebih damai saat tidur dibanding ketika sedang terjaga. Tidak ada senyum jahil yang biasa membuatnya kesal. Tidak ada tatapan menggoda yang sering membuatnya kehilangan kata-kata.Entah sejak kapan, Arina menyadari dirinya terlalu lama menatap. Tatapannya turun ke alis tebal Gavin, hidung mancungnya, lalu berhenti pada bibir laki-laki itu.Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat. Arina men
Arina mendorong pintu kamar perlahan sambil membawa nampan berisi semangkuk sup hangat, segelas air putih, dan obat penurun demam. Aroma sup memenuhi ruangan yang masih remang-remang oleh cahaya pagi.Namun, baru beberapa langkah masuk ke dalam kamar, Arina mendapati Gavin sudah tidak lagi terbaring seperti saat dia tinggalkan.Laki-laki itu baru saja bangun. Punggungnya bersandar lemah pada kepala ranjang, rambutnya sedikit berantakan, sementara wajahnya masih tampak pucat karena demam yang belum sepenuhnya turun."Kamu kenapa sudah duduk?" tanya Arina cepat.Dia segera meletakkan nampan di atas meja samping ranjang, lalu menghampiri Gavin."Aku cuma bangun tidur, bukan pasien kritis," jawab Gavin sambil tersenyum tipis.Arina mendecih pelan."Bahkan pasien kritis pun kadang lebih patuh daripada kamu."Tanpa menunggu jawaban, Arina meraih bahu Gavin dan membantunya duduk lebih nyaman. Dia menyusun bantal di belakang punggung laki-laki itu agar bisa bersandar dengan baik."Jangan dipa
Arina segera berdiri. Dia mengambil baskom kecil dan handuk dari kamar mandi. Setelah mengisinya dengan air dingin, dia kembali ke kamar.Dengan hati-hati, Arina mengompres dahi Gavin. Beberapa menit kemudian, dia menyadari baju yang dikenakan Gavin cukup tebal."Kalau pakai baju seperti ini, panas tubuhmu susah turun."Arina membuka lemari dan mengambil kaus tipis milik Gavin."Gavin, aku ganti bajumu ya."laki-laki itu hanya mengangguk lemah.Dengan gerakan hati-hati, Arina membantu melepaskan kemeja yang dikenakan Gavin. Setelah itu dia memakaikan kaos tipis yang lebih nyaman agar tubuh Gavin tidak semakin gerah.Selesai mengganti pakaian, Arina kembali mengompres dahinya beberapa saat.Melihat Gavin mulai sedikit lebih tenang, Arina menghela napas lega.Namun dia belum selesai. Tatapannya beralih ke kotak obat di atas meja."Kamu harus makan dulu sebelum minum obat."Arina berdiri lalu berjalan menuju dapur.Dia membuka kulkas dan memeriksa bahan makanan yang tersedia. Untungnya
Arina menoleh ke arah Gavin, lalu tanpa ragu memeluk laki-laki itu dengan erat. Air matanya kembali jatuh, membasahi kemeja Gavin sedikit demi sedikit."Makasih ya," ucap Arina dengan suara bergetar. "Kamu udah bantu aku banyak. Kalau waktu itu aku nggak datang ke rumah sakit buat tes kesuburan dan nggak ketemu kamu, mungkin nasibku masih ada di tangan Aryo dan orang tua angkatku yang serakah."Pelukan Arina semakin erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia merasa aman berada di dekat seseorang. Semua masalah yang menimpanya seolah sedikit lebih ringan karena ada Gavin yang selalu muncul saat dia membutuhkan bantuan.Dia tak lagi peduli bagaimana hubungan mereka akan berjalan ke depannya. Meski jauh di dalam hatinya, Arina masih menginginkan hubungan yang jelas, bukan sekadar perjanjian hitam di atas putih seperti yang selama ini terjadi."Kamu pantas hidup lebih baik, Arina," ucap Gavin pelan.Tangannya terangkat mengusap lembut rambut wanita itu. Tatapannya kemudian turun
Tatapan Rumi bergerak dari ujung kepala hingga kaki Gavin.Kemeja mahal, jam tangan elegan, rambut tertata rapi, dan postur tegap laki-laki itu sama sekali berbeda dari sosok gelandangan yang pernah ditemuinya sebelumnya.Beberapa detik Rumi hanya menatap tanpa berkedip. Lalu sudut bibirnya terangkat sinis."Wah, hebat juga."Arina langsung tahu nada bicara itu bukan pujian.Rumi menyandarkan tubuhnya ke kursi."Jadi ini hasilnya setelah dapat uang?" ejeknya. "Sampai sewa baju bagus begini buat mengelabui orang."Gavin tidak bereaksi. Dia tetap berdiri tenang seolah tidak mendengar apa pun.Rumi malah semakin bersemangat. "Padahal waktu itu penampilanmu seperti gelandangan yang baru keluar dari tempat sampah."Arina langsung mengernyit."Tante Rumi! Jangan keterlaluan!""Apa? Aku cuma bilang yang sebenarnya.""Sudah cukup."Nada suara Arina terdengar lebih tegas dari biasanya.Rumi menatapnya."Kita datang ke sini bukan untuk membahas penampilan Gavin."Arina menarik kursi lalu duduk
"Apa?" tanya Arina pelan.Dia memundurkan tubuhnya hingga punggungnya membentur sandaran sofa. Kedua matanya menatap Gavin penuh kebingungan, seolah memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar serius dengan ucapannya.Arina memang membutuhkan uang itu. Bahkan bisa dibilang dia sedang berada dalam kondisi yang sangat terdesak. Namun, menerima bantuan dari Gavin bukanlah keputusan yang mudah. Dia tidak ingin merepotkan laki-laki itu, apalagi menambah utang budi yang suatu hari mungkin harus dibayarnya.Pikiran buruk yang selama ini menghantuinya kembali muncul.Arina menggeleng pelan. "Nggak, Gavin. Aku nggak mau ngerepotin kamu."Gavin yang duduk di hadapannya langsung menggeleng."Aku anggap itu bukan merepotkan."Arina menundukkan kepala sesaat. Jarinya saling meremas di atas pangkuan. Setelah beberapa detik terdiam, dia kembali mengangkat wajahnya."Lalu?" tanyanya dengan suara pelan. "Aku harus membayarnya dengan apa? Tubuhku?"Kalimat itu keluar begitu saja.Begitu mengucapkannya,







