Home / Romansa / Surat Dari Venus / BAB 3 - Rasa Yang Tak Asing

Share

BAB 3 - Rasa Yang Tak Asing

Author: Aster Chronos
last update publish date: 2022-02-19 17:13:40

Aksa berbelok ke koridor menuju tempat fasilitas sekolah berada. Seperti perpustakaan, lab komputer, lab sains, green house, dan UKS. Tempat populer yang selalu ramai dikunjungi kebanyakan murid disana. Selain dekat dengan kantin sekolah, area itu banyak ditumbuhi pepohonan rindang dan sebuah taman kecil yang terdapat beragam jenis bunga di wilayah tropis, hingga menghadirkan suasana sejuk.

Ran berjalan mengekor di belakang Aksa, sembari mengamati bunga-bunga itu. Meskipun bukan pertama kali ia melihatnya, pesona yang dikeluarkan oleh bunga-bunga itu tidak pernah membuat bosan. Terlebih lagi ia juga seorang penikmat bunga.

Kondisi UKS sekolah kosong, dan tidak ada guru piket yang biasanya menjaga ketika jam pelajaran berlangsung.

Ketika Ran melangkah masuk ke dalam UKS, langsung tercium bau karbol yang menyengat penciumannya. Karbol sendiri adalah pembersih non detergen yang mengandung disenfektan. Cairan ini hampir mirip dengan sabun pembersih lantai, namun karbol memiliki kegunaan lebih banyak terutama mencegah perkembangbiakan kuman.

Biasanya cairan ini digunakan untuk membersihkan dapur, kamar mandi atau kandang hewan peliharaan. Karbol sendiri juga digunakan di rumah sakit. Itu sebabnya rumah sakit memiliki bau yang khas.

Ran memperhatikan setiap sudut ruangan dan perabotan yang ada di dalam UKS dengan kagum. Ia sendiri memang jarang ke UKS. Pertama kalinya saat masa orientasi siswa pada pengenalan lingkungan sekolah. Setelahnya ia hanya lewat di depan UKS ketika akan menuju kantin sekolah, bersama teman-temannya.

Sekalipun sekolah Ran bukan termasuk sekolah bergengsi, fasilitas yang tersedia cukup lengkap. Penataan ruangannya juga rapi dan indah karena terdapat kerjinan tangan murid yang dipajang di sana, sebagai bentuk penghargaan.

Tiga ranjang UKS diletakkan di sebelah kanan ruangan yang dibatasi oleh gorden penutup pada setiap bed. Meja periksa diletakkan tak jauh dari bed UKS. Di sebelah meja periksa ada timbangan dan stature meter atau pengukur tinggi badan. Di depan bed UKS terdapat lemari tempat menyimpan obat - obatan.

Obat – obatan itu sendiri dibagi menjadi dua jenis, yaitu obat luka luar dan untuk diminum. Tiga tandu ditumpuk rapi, di sebelah lemari tak jauh dari pintu untuk memudahkan saat keadaan darurat terjadi. Dari semua fasilitas itu, fasilitas yang paling disukai oleh para anggota PMR adalah adanya AC di sudut ruangan. Mengingat Indonesia negara beriklim tropis dengan suhu panas, AC sangat membantu untuk menciptakan suasana nyaman dalam ruangan karena udaranya yang sejuk.

Aksa meletakkan buku dan tumpukan soal yang ia bawa di meja UKS. “Cari tempat duduk yang nyaman,” ujarnya pada Ran.

Ran berjalan menghampiri bed yang paling dekat dengan meja UKS. Ia duduk dengan hati – hati, karena lututnya akan sakit jika ditekuk. Kedua matanya mengikuti tubuh Aksa yang sedang memilih obat. Dalam hati ia merasa bersyukur karena tidak diberi hukuman oleh guru itu, melainkan mendapat pertolongan untuk lukanya.

Dengan gugup, Ran membuang pandangan ke segala arah seolah tidak terjadi apa – apa, ketika Aksa berjalan kearahnya.

Aksa meletakan nampan di sebelah Ran, sembari menarik kursi ke dekat bed yang muridnya itu duduki.

Ran hampir berteriak ketika merasakan cairan alkohol yang guru itu tuangkan pada lukanya.

“Wanita tidak boleh meninggalkan bekas luka ditubuhnya. Jika ada luka, kamu harus rawat dengan baik,” ujar Aksa sembari mengobati luka Ran dengan telaten dan hati – hati.

Kalimat yang baru saja Aksa ucapan menghangatkan hati Ran. Mendengar kalimat itu, membuatnya teringat pada Venus. Seorang anak laki – laki yang pernah menjadi sahabatnya tatkala ia masih tinggal di panti asuhan.

Ran tidak punya teman selain Venus, karena dulu ketika ia pertama kali masuk panti asuhan kepribadiannya sangat buruk. Anak temperamental, penyendiri dan murung. Venus merupakan satu – satunya anak yang berani mengajaknya bicara. Venus juga telah mengembalikan senyumnya. Senyuman yang telah lama hilang akibat trauma atas tragedi yang menimpa keluarganya delapan tahun lalu. Venus juga yang mengajarinya tentang rasa syukur, hingga bias lebih

Mengingat tentang Venus, tiba – tiba rasa sesak menggerogoti hati Ran. Air mata mulai turun membasahi pipinya tanpa sempat ia kontrol. Venus menghilang tanpa kabar, semenjak diadopsi. Surat terakhir yang ia dapatkan, terjadi lima tahun lalu sebelum ia bertemu dengan Nenek Mariyati.

Aksa mendongakkan kepala menatap Ran ketika mendengar isak tangis gadis  itu. “Ran ada apa? Apakah begitu sakit?” ujarnya dengan khawatir.

Ran menggelengkan kepala, lalu menutup wajahnya. Tangisnya semakin menjadi, ketika Aksa menegurnya. Antara rasa malu dan sedih, campur aduk menjadi satu.

Aksa kebingungan bagaimana harus merespon keadaan itu.

“Ran jika memang ada yang mengganggu dirimu, kamu bisa bercerita. Atau perlu saya panggilkan guru BK wanita agar kamu lebih nyaman?” kata Aksa dengan lembut.

Ran menggeleng, lalu berkata, “Ji-jika sa-saya sudah menangis, sa-saya susah berhenti. Saya mohon maaf."

Aksa bangkit dari duduknya sembari membereskan obat – obatan, dan membuang kapas bekas darah Ran ke tempat sampah. Setelah mengembalikan obat-obatan itu kembali, ia menuju ke almari penyimpanan makanan dan minuman. Lantas ia mengambil sebotol air mineral dan berjalan kembali ke tempat Ran berada.

“Kalau begitu, ini minum dulu,” ujar Aksa sembari menyodorkan botol dengan tutup yang sudah ia buka.

“Terimakasih Pak,” jawab Ran sembari menerima botol itu dan meminum airnya, berharap tangisnya berhenti.

“Kenapa kamu menangis?” tanya Aksa kemudian.

Ran terdiam sembari mengusap air matanya. Ia menyesal telah menangis barusan, karena jika ditanya alasannya ia tidak bisa menjelaskan itu. Jika bercerita, secara tidak langsung ia akan menceritakan masalah pribadinya. Ia bukan tipe orang yang dengan mudah berbagi masalah pribadi pada orang lain. Bahkan kepada sahabatnya sekalipun. Sampai detik ini hanya Nenek Mariyati dan Venus yang tahu setengah dari kisahnya.

Ran menggendong tas ranselnya kembali sembari turun dari ranjang UKS.

“Saya mohon maaf atas kejadian barusan. Namun saya tidak bisa menjelaskan apa –apa. Terimakasih sudah membantu saya hari ini. Saya mohon agar bapak tidak mengingat kejadian barusan. Sekali lagi maaf, saya sudah merepotkan bapak,” kata Ran, membuka suara setelah berdiam selama beberapa detik.

“Baiklah, jika kamu sudah merasa baikan tolong bawa soal – soal yang tadi saya bawa ke kelas kamu. Bagikanlah pada teman kelas, kumpulkanlah sore ini sepulang sekolah. Kamu bertanggung jawab atas tugas itu. Saya tunggu di ruang guru. Pagi ini saya tidak mengajar karena ada keperluan, jadi tolong kendalikan kondisi kelas.”

Tanpa sadar, kedua sudut bibir Ran terangkat membentuk bulan sabit. Ia sangat senang karena jam pertama ini tidak akan ada pelajaran. Setidaknya ia bisa menghabiskan waktu kosong itu untuk mengembalikan suasana hati.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ayu
Bisa ngerasain rasa sedihnya Ran:(
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Surat Dari Venus   BAB 63 - Bayang Bayang Venus

    Dua hari setelahnya, Ran diperbolehkan rawat jalan dengan beberapa persyaratan seperti melakukan kontrol secara rutin untuk mengganti perban. Bahkan keesokan harinya, ia langsung berangkat sekolah seperti biasa tak mengindahkan larangan neneknya yang khawatir.Di sekolah terjadi beberapa keributan. Koridor-koridor sekolah menjadi bising karena berita ekslusif yang terbit pagi itu. Di layar televisi kantin, di portal berita daring ponsel para siswa, hingga di halaman depan surat kabar nasional, berita mengenai skandal besar yang melibatkan jaringan kriminal berkedok kalangan elit meluas tanpa kendali.Kasus yang menyeret nama Sunny sebagai korban menjadi topik utama yang memenuhi hampir seluruh lini media. Rekaman video pengejaran dramatis di tengah malam yang bocor ke internet, foto-foto lokasi penyekapan di tepi hutan yang dipasangi garis polisi, rekaman CCTV lalu lintas, hingga siaran pers resmi dari Divisi Humas Polri terus diputar berulang kali.Nama Beneddict Antonio Surya bergem

  • Surat Dari Venus   BAB 62 - Menjadi Asing

    Malam makin larut. Lampu kamar perawatan Ran menyala temaram. Ran terbaring pucat dengan infus terpasang di tangan kanan dan balutan perban tebal di lengan kirinya. Napasnya terdengar halus dan teratur.Adit duduk di kursi samping ranjang, menatap wajah pucat itu. "Ran..."Tak ada sahutan.Adit tersenyum tipis. "Dasar keras kepala." Tangannya terangkat ragu untuk menyentuh jemari Ran, namun akhirnya ia tarik kembali. Ia hanya menyandarkan punggungnya. "Aku takut banget tadi. Jadi, tolong jangan bikin aku se-ketakutan ini lagi."Kelopak mata Ran bergerak perlahan, meski Adit tak menyadarinya."...Dit," suara bisikan lirih memecah hening.Adit seketika menegakkan duduknya. "Ran? Kamu sadar?"Ran membuka mata perlahan. Pandangannya sempat kabur sebelum akhirnya fokus pada wajah Adit."Aku... di mana?""Rumah sakit. Kamu aman."Ran mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri langsung menyengat. "Aduh...""Jangan gerak dulu!" Adit menahan bahunya lembut. "Kamu baru selesai operasi."Ra

  • Surat Dari Venus   BAB 61 - Sebuah Pilihan

    Aksa langsung menginstruksikan tim polisi untuk mengamankan Angga, Sunny, dan Grace ke mobil medis di area parkir, sementara dirinya bersama beberapa personel bersenjata bergerak cepat menembus rapatnya ilalang menuju sumber suara tembakan.Di saat yang bersamaan, Adit merangkul tubuh Ran yang kian melemah. Darah terus mengucur dari lengan Ran, menembus baju dan jemari Adit yang bergetar. Ran berusaha keras mempertahankan kesadarannya meski pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa sangat berat."Dit... jangan berhenti," bisik Ran lirih, napasnya patah-patah."Aku nggak bakal tinggalkan kamu, Ran. Tahan sebentar lagi," balas Adit dengan nada panik namun berusaha tetap tenang.Namun, dari balik kegelapan semak belantik, Ben muncul dengan wajah berdarah dan napas terengah-engah. Matanya menyalang penuh amarah. Langkahnya pincang, tetapi di tangannya kini tergenggam pisau lipat yang ia ambil dari saku celananya—sebuah upaya terakhir setelah pistolnya berhasil dilumpuhkan."Kalian piki

  • Surat Dari Venus   BAB 60 - Penebusan

    Terdengar ledakan dahsyat dari dalam hutan, membuat langkah Ran, Sunny dan Grace terhenti. "Ben meledakan gubuk agar tidak meninggalkan bukti," gumam Grace. Ran menatap tajam Grace, lalu berkata penuh dengan penekanan, "Kejam sekali kalian." Grace tidak berani mengangkat pandangannya pada Ran, karena merasa bersalah. Ia juga merasa malu setelah menjadi bagian dari kejahatan itu, yang akhirnya menjadikannya korban. Dari balik semak Adit dan Angga berlari kearah mereka dengan tergesa-gesa. "Guys kenapa kalian berhenti! Ayo lari!" teriak Adit dari kejauhan. Lalu, Ran, Sunny dan Grace melanjutkan langkahnya. Terdengar suara tembakan beberapa kali dari arah kejauhan, membuat mereka panik, sampai berlari tak tahu arah. Hanya mengandalkan insting untuk memilih jalan mana yang mudah dilewati, karena mereka terjebak dengan ilalang yang membutakan arah. "Tinggalkan saja aku disini! Kalian kabur saja," ujar Grace semakin merasa bersalah, karena menjadi beban. "Tutup mulutmu brengsek!" Be

  • Surat Dari Venus   BAB 59 - Menembak Langit

    "Sialan!!! Ulah siapa ini?" Gerutu Ben sembari membanting pecut yang ia pegang, penuh emosi karena lampu seketika padam di tengah kegiatan yang ia lakukan. Kemudian terdengar sirine alarm kebakaran yang membuat panik orang-orang dalam ruangan itu. Ben lantas bangkit dari tempat tidur dan meraih jubah mandi yang tergantung di dekat pintu dan memakainya. Ia keluar dari ruangan dengan langkah penuh amarah sembari meneriakkan nama anak buahnya. Empat orang pria yang merupakan teman-teman Ben, menyusul pria itu keluar ruangan. Meninggalkan Sunny dan Grace. Sunny memanfaatkan keadaan itu dengan bergegas melepas ikatan tangan dan kakinya. Dengan tubuh telanjang di tengah kegelapan, ia memungut pakaiannya yang berceran di lantai. Sedangkan Grace yang masih terkuai lemas di tempat tidur, hanya bisa menangis menahan perih di kulitnya, akibat pecut yang diayunkan oleh Ben sejak tadi. "Grace ayo kabur dari sini," tukas Sunny. "Aku tidak bisa menggerakkan kaki," ujar Grace. Sunny mengeluarka

  • Surat Dari Venus   BAB 58 - Hasrat Gila Pria Biadab (21+)

    WARNING!!! Isi Bab ini terdapat kekerasan seksual yang tidak cocok untuk anak dibawah umur. Mohon bijak memilih bacaan yang cocok dengan umur anda. ** "Kalian mengenal orang-orang itu?" tanya Ran. Adit dan Angga menggeleng bersamaan. "Melihat dari postur tubuh dan wajah kedua orang itu, sepertinya sudah berumur," kata Angga. "TOLONG!" Teriak seseorang yang membuat dua pria bertubuh kekar tadi masuk ke dalam gubuk. Sedangkan Ran, Angga dan Adit bergetar ketakutan mendengar suara pekikan yang begitu putus asa itu. "Apa sebenarnya yang mereka lakukan dalam gubuk itu?" tanya Adit. Tidak ada jawaban dari Ran dan Angga. Angga lantas menutup laptopnya, dan berjalan mendekat ke Adit. Kemudian ia membuka tas yang digendong oleh temannya itu, dan memasukan laptopnya. "Mumpung dua orang itu tidak ada, ini kesempatan kita mencari tahu," ujar Angga seraya menutup resleting tas kembali. "Benar ayo kita masuk," balas Ran. "Tunggu... apa kalian gak takut? Melihat dua orang tadi, sepertinya

  • Surat Dari Venus   BAB 9 - Bingkisan Untuk Ibu

    “Ibu!!!” teriak Ran di depan pintu rumah.Seketika, pintu yang tertutup itu terbuka, memunculkan sosok seorang wanita berumur tiga puluh tahun yang wajahnya terlihat letih.“Ini semua, apa Ran?” tanya wanita itu yang terkejut melihat tas belanjaan tergeletak

  • Surat Dari Venus   BAB 8 - Dua Kali Ke Swalayan

    “Ran ayo turun bentar, aku mau cari sesuatu,” katanya sembari keluar dari mobil.Ran keluar dari mobil itu sembari menggendong biola dan tas ranselnya. Kemudian, ia berjalan mengikuti Raka memasuki swalayan. Ia ingat tempat itu. Dulu ibunya pernah mengajaknya mengunjungi tempat

  • Surat Dari Venus   BAB 50 - Sexy, Elegan

    Orang tua Kinan terlihat berjalan mondar-mandir di depan pintu ballroom hotel. Tamu undangan sudah memenuhi ballrom, sedangkan sampai saat ini belum ada perkembangan dari pencarian putrinya. Tidak mungkin mereka akan membubarkan tamu undangan begitu saja, tanpa alasan yang jelas. Namun lebih tida

  • Surat Dari Venus   BAB 41 - Kencan Buta

    Hari kencan buta yang dimaksud Kinan pun tiba. Ran turun di halte tak jauh dari tempat perjanjian kencan buta. Ia berjalan dengan pelan sembari menatap dirinya di pantulan kaca dari setiap store yang ia lewati. Selama tujuh belas tahun hidupnya, ia memang tidak pernah mengenal pria untuk d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status