分享

Bab 7

作者: Soda Pop
Saat Debora membuka pintu ruang rawat, dia tepat berpapasan dengan Bravy yang lukanya sudah selesai diperban dan Amanda.

"Ini pertama kalinya Amanda mengalami kejadian seperti ini, wajar kalau dia ketakutan. Untuk sementara dia akan tinggal bersama kita."

Debora terdiam sesaat. Bahkan sebelum dirinya pergi, Bravy sudah tidak sabar ingin membawa Amanda ke rumah?

Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya mengangguk. "Oke."

Lagi pula setelah dia pergi, Amanda cepat atau lambat juga akan tinggal di sana. Sekarang hanya dimajukan beberapa hari saja.

Malam harinya, luka di telapak tangan Bravy tanpa sengaja robek kembali hingga darah merembes membasahi perban.

Setelah berkonsultasi dengan dokter, Debora mengambil kain perban dan membantu membalut lukanya lagi.

Jarak mereka sangat dekat hingga Bravy bisa samar-samar mencium aroma tubuh wanita itu. Melihat wajah samping Debora yang membalut lukanya dengan serius, entah kenapa napasnya menjadi sedikit lebih berat.

Setelah selesai membalut, Debora menggerakkan lehernya yang pegal. Begitu mendongak, pandangannya langsung bertemu sepasang mata yang dalam.

Dia tertegun sesaat. Sebelum sempat bereaksi, Bravy sudah merangkulnya ke dalam pelukan dengan tangan satunya.

Suhu tubuh mereka sama-sama memanas, suasana ambigu perlahan memenuhi seluruh ruangan.

Namun detik berikutnya, prang! Suara pecahan kaca yang nyaring langsung menyadarkan mereka.

Amanda berdiri di depan pintu dengan tubuh membeku di tempat. Di sekitar kakinya, pecahan gelas kaca bercampur dengan susu berserakan di lantai.

Dia menggigit bibirnya, lalu menatap Bravy dengan mata merah. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berbalik dan pergi dengan berlari kecil.

Bravy langsung melepaskan tangannya yang memeluk Debora, hanya meninggalkan kalimat "aku jelasin dulu ke dia". Kemudian, dia langsung mengejar Amanda.

Menjelaskan? Mereka adalah suami istri yang sah, lalu apa yang perlu dijelaskan kepada orang luar?

Bravy jelas hanya takut Amanda melihat adegan tadi dan salah paham kalau Bravy menyukai Debora.

Melalui jendela besar, Debora memandangi dua orang yang sedang saling tarik-menarik di taman bawah sana, lalu tersenyum mengejek diri sendiri.

Beberapa hari berikutnya, Debora terus janjian dengan teman-temannya dan tidak memperhatikan mereka lagi.

Bagaimanapun juga, setelah surat cerainya keluar, dia akan meninggalkan kota ini. Kesempatan bertemu teman-temannya di masa depan juga tidak banyak lagi, jadi tidak perlu membuang waktu untuk orang yang tidak penting.

Hari itu setelah selesai berkumpul dengan teman-temannya dan pulang ke rumah, dia melihat Amanda duduk di sofa sambil minum jus buah.

Dia tidak memedulikannya dan langsung kembali ke kamar. Namun, saat sedang membereskan koper, dia mendengar keributan dari bawah.

Begitu tiba di ruang tamu, dia melihat Amanda yang penuh ruam merah sedang bersandar lemah di pelukan Bravy.

Debora mengernyit dan baru saja ingin bertanya apa yang terjadi, ketika tuduhan penuh amarah dari Bravy langsung menghantamnya.

"Kenapa kamu sengaja campurin mangga ke dalam jus buah? Amanda alergi mangga, perbuatanmu ini bisa membunuhnya!"

Sebelum Debora sempat menjelaskan, Amanda lebih dulu berkata dengan lemah, "Bravy ... jangan ... jangan salahkan Debora .... Dia ... dia juga nggak sengaja. Yang salah itu aku karena nggak seharusnya tinggal di rumah kalian ...."

Satu kalimat itu langsung mengukuhkan "kesalahan" Debora. Padahal dari awal sampai akhir, dia sama sekali tidak menyentuh gelas jus itu, juga tidak tahu Amanda alergi mangga.

"Aku nggak ...."

"Cukup!" Bravy menggendong Amanda, lalu memotong perkataannya dengan wajah dingin, "Aku nggak pernah nyangka ternyata kamu adalah wanita sekejam ini."

Dia menatap Debora dengan penuh kekecewaan, lalu pergi membawa Amanda tanpa menoleh lagi.

Debora memandangi punggungnya yang pergi dengan tergesa-gesa, lalu tiba-tiba tertawa. Ternyata tiga tahun hidup bersama tetap tidak bisa membuat pria itu percaya sedikit pun padanya.

Saat itu, ponselnya berbunyi. Itu adalah pesan dari pengadilan negeri. Masa tenang satu bulan telah berakhir.

Debora memejamkan mata, memaksa rasa perih di pelupuk matanya kembali surut. Untung saja, semua ini akan segera berakhir.

....

Setelah mengambil akta cerai dari pengadilan negeri, dia mulai membereskan sisa barangnya.

Setelah semua barang miliknya masuk ke koper, pandangannya tertuju pada foto pernikahan di samping tempat tidur. Wanita di foto itu tersenyum begitu manis, sedangkan pria di sampingnya bahkan tidak terlihat tersenyum.

Sama seperti pernikahan mereka, dari awal sampai akhir, semuanya hanyalah pertunjukan sepihak miliknya.

Dia menurunkan foto itu, lalu merobeknya menjadi serpihan-serpihan kecil. Saat turun untuk membuangnya ke tempat sampah, dia berpapasan dengan Bravy yang baru kembali untuk mengambil pakaian ganti Amanda.

"Ikut aku ke rumah sakit dan minta maaf pada Amanda."

Langkah Debora terhenti sesaat. Dia menatap pria itu, lalu tertawa pelan. "Bukan aku yang melakukannya, kenapa aku harus minta maaf?"

Melihatnya masih keras kepala, wajah Bravy menjadi semakin suram. "Sepertinya kamu benar-benar nggak nyesal. Beberapa hari ini aku akan temani Amanda. Kamu sendiri saja di rumah dan renungkan kesalahanmu!"

Tanpa ragu, Debora melempar serpihan foto pernikahan itu ke tempat sampah.

Di sampingnya, kepala pelayan maju dan membujuk, "Nyonya, Tuan cuma marah sesaat, makanya bicara begitu. Lebih baik kejar Tuan dan jelaskan baik-baik. Nggak mungkin Nona Amanda alergi karena Nyonya."

Bahkan kepala pelayan percaya padanya, tetapi Bravy justru tanpa ragu memilih memercayai Amanda.

Dia tersenyum ringan, lalu menggeleng. "Nggak perlu lagi. Aku dan Bravy sudah cerai."

Setelah berkata begitu, dia mengabaikan tatapan kepala pelayan yang terkejut dan kembali ke kamar. Dia memandang tempat yang telah ditinggalinya selama tiga tahun itu. Sama dinginnya seperti saat dia pertama kali pindah ke sana tiga tahun lalu.

Debora meletakkan akta cerai di atas nakas, satu-satunya jejak yang bisa membuktikan bahwa dirinya pernah ada selama tiga tahun ini. Kemudian, dia menarik koper, menutup pintu, dan pergi.

Sesampainya di bandara, dia memblokir semua kontak Bravy. Tiga tahun pernikahan tetap tidak mampu menghangatkan hati yang sudah diisi orang lain.

Mulai sekarang, mereka masing-masing akan kembali ke jalur hidup yang memang seharusnya mereka jalani dan tidak akan pernah bertemu lagi.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 21

    Mendengar itu, rasa penyesalan di hati Jose semakin dalam. Kalau saja tadi dia bergerak sedikit lebih cepat, dia juga pasti akan ikut terjun tanpa ragu-ragu.Saat ini, Debora sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Selama tiga tahun pernikahan, Bravy tidak pernah menghargainya.Namun setelah bercerai, pria itu justru rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya meminta agar dikabari kalau Bravy sudah sadar nanti.Keesokan paginya, Bravy akhirnya siuman. Begitu mendapat kabar, Debora mengabaikan larangan Jose, langsung mencabut selang infusnya dan pergi ke ruang rawat Bravy.Saat melihatnya, mata Bravy langsung berbinar-binar. "Bora, syukurlah kamu nggak apa-apa. Uhuk, uhuk ...."Kondisinya jauh lebih parah dibandingkan Debora. Tubuhnya masih sangat lemah.Untuk sesaat, Debora menatapnya dengan ekspresi rumit. Lalu, dia berkata kepada Jose, "Jose, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya berdua saja."Kekecewaan di wajah Jose terlihat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 20

    Begitu kata-kata itu terlontar, wajah Bravy langsung memucat. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti istrinya akan menyuruhnya pergi dan semua ini terjadi karena ulahnya sendiri.Bravy meninggalkan toko bunga dengan pikiran kosong. Setelah dia pergi, Debora akhirnya menghela napas lega."Jose, tadi terima kasih ya."Jose melambaikan tangan dengan santai. "Nggak apa-apa, cuma hal sepele."Setelah berkata begitu, dia berhenti sejenak, lalu berkata dengan ekspresi agak serius, "Kalau mantan suamimu datang ganggu lagi, langsung kasih tahu aku. Kamu perempuan dan harus menghadapi dia sendirian, aku takut kamu dalam bahaya."Setelah mereka semakin akrab, Jose memang pernah bertanya kenapa Debora datang ke kota kecil yang terpencil seperti ini.Debora sempat terdiam sesaat, tetapi akhirnya memilih untuk menceritakan pernikahannya yang gagal dengan Bravy.Hal-hal itu belum pernah dia ceritakan kepada siapa pun sebelumnya dan Jose adalah orang pertama yang mengetahuinya.Dia juga

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 19

    Bravy mencoba membantah, tetapi saat mencari-cari dalam ingatannya, dia tidak menemukan satu pun bukti untuk menyangkal perkataan Debora."Aku ... aku mencintaimu, Bora. Hanya saja aku sendiri nggak sadar ...."Mendengar kata "cinta", Debora menarik sudut bibirnya dengan penuh sindiran. "Kalau cinta, mana mungkin kamu bahkan nggak ingat hari ulang tahun pernikahan kita?""Kalau cinta, mana mungkin kamu nggak punya sedikit pun kepercayaan padaku?"Setiap pertanyaan itu seperti pisau tajam yang menusuk dada Bravy berulang kali hingga tubuhnya seolah-olah dipenuhi luka berdarah.Di saat itu, akhirnya dia menyadari betapa banyak kesalahan yang sudah dia lakukan. Ekspresi Bravy dipenuhi rasa sakit, sementara matanya bergolak oleh penyesalan yang belum pernah ada sebelumnya."Bora, aku benar-benar tahu aku salah. Meskipun sekarang kamu belum bisa maafin aku, bisa kamu kasih aku satu kesempatan? Aku bersedia nunggu, selama apa pun aku akan menunggu."Masih ada secercah harapan terakhir di mat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 18

    Setelah mengetahui dari sekretarisnya bahwa Debora membeli tiket menuju Kota Gior, Bravy langsung menyuruh sekretaris membelikan tiket penerbangan tercepat ke sana.Hanya saja, dia lupa bahwa wilayah Kota Gior sangat luas. Hanya mengandalkan satu tiket pesawat saja tidak cukup untuk menentukan lokasi seseorang secara spesifik.Dia mencari selama hampir sepuluh hari di pusat Kota Gior, tetapi tetap tidak melihat sosok familier itu. Sementara itu, urusan perusahaan juga sudah menumpuk terlalu banyak dan benar-benar tidak bisa ditunda lagi.Tidak ada pilihan lain. Dia terpaksa kembali ke ibu kota untuk menangani urusan perusahaan, sambil meminta sekretarisnya menelusuri rekaman CCTV di sepanjang perjalanan guna menemukan keberadaan Debora di Kota Gior.Namun, kota kecil tempat Debora berada sekarang memang sangat terpencil. Butuh hampir 20 hari sampai akhirnya mereka menemukan wanita itu.Saat foto Debora yang sedang berada di toko bunga dikirim ke tangan Bravy, pria yang biasanya selalu

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 17

    Di saat yang sama, di sebuah toko bunga di daerah terpencil Kota Gior.Debora sedang membawa penyiram tanaman dan menyirami bunga-bunga segar yang baru datang hari ini.Cahaya matahari pertama di pagi hari menembus jendela kaca dan menerangi seluruh ruangan.Melihat toko bunga yang semuanya ditata sendiri oleh tangannya, sudut bibir Debora tanpa sadar terangkat membentuk senyum.Setelah menyerahkan surat perjanjian cerai ke pengadilan negeri, dia sudah memutuskan untuk datang ke Kota Gior.Kehidupan di sini terkenal lambat dan santai, cukup untuk membuat orang melupakan semua masalahnya.Sebenarnya sejak dua tahun lalu, dia sudah ingin datang berlibur ke Kota Gior. Namun, setiap kali dia membicarakannya dengan Bravy, pria itu selalu mengatakan perusahaan sedang sibuk dan tidak punya waktu.Saat itu, dia takut mengganggu pekerjaan Bravy, jadi tidak pernah membahasnya lagi. Keinginan itu pun terus tertunda.Namun, setelah Amanda kembali, Bravy justru bisa membatalkan semua jadwal hariann

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 16

    Tangan Bravy mengepal begitu erat hingga tulang-tulangnya berderak. Amarah besar pun membara di matanya saat dia menggertakkan gigi dan mengucapkan nama wanita itu. "Amanda ...!"Sejak pergi semalam, Bravy memang belum pulang, jadi Amanda mengobrol dengan sahabatnya di telepon tanpa menahan diri sedikit pun. Dia sama sekali tidak menyangka Bravy akan tiba-tiba pulang, bahkan mendengar semua perkataannya.Wajah Amanda langsung memucat. Dia buru-buru menutup telepon, panik bukan main. Namun, dia masih memegang secercah harapan terakhir. "Bravy, ka ... kapan kamu pulang?"Bravy hampir tidak bisa menahan amarahnya lagi. Seluruh tubuhnya memancarkan aura kelam dan menakutkan. "Aku dengar semua yang baru saja kamu katakan di telepon."Kalau perkataan ibunya semalam masih hanya dugaan, sekarang Amanda sendiri yang mengakui semuanya. Alerginya benar-benar hanya sandiwara untuk menjebak Debora.Namun, saat itu dirinya justru memercayai kebohongannya, salah paham pada Debora, bahkan menyuruhnya

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status