分享

Bab 2

作者: Soda Pop
Baru saja kata-kata itu selesai diucapkan, ponsel Bravy berbunyi menandakan ada pesan masuk. Dia menggeser layar ke atas, lalu senyuman tipis muncul di mata serta wajahnya.

Tangan Debora yang memegang surat perjanjian itu tanpa sadar mengerat. Melihat ekspresi seperti itu, tidak sulit menebak siapa pengirim pesannya.

Dengan satu tangan mengetik balasan di layar ponsel, tangan lainnya menerima surat perjanjian cerai itu. Tanpa mengangkat kepala sedikit pun, dia langsung menandatangani namanya di bagian tanda tangan.

Setelah selesai, Debora menatap tanda tangan Bravy yang tegas dan kuat, lalu berkata pelan, "Setelah masa tenang satu bulan selesai, kita resmi bercerai. Aku akan meninggalkan Keluarga Kuncoro."

Namun, seluruh perhatian Bravy saat ini tertuju pada percakapannya dengan Amanda, jadi dia sama sekali tidak menanggapi perkataan Debora.

Setelah waktu yang cukup lama, barulah dia menyimpan ponselnya dan kembali memasang ekspresi dingin seperti biasa.

"Kalau nanti ingin beli apa pun, bilang saja pada sekretarisku. Nggak perlu nunggu hari peringatan seperti ini."

Debora terdiam sesaat, lalu tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Kamu tadi dengar aku bicara?"

Dengan santai, Bravy melepaskan dasinya dan bersandar di sofa. "Bukannya kamu tadi nyuruh aku tanda tangan kontrak pembelian rumah sebagai hadiah ulang tahun pernikahan? Memangnya ada yang lain?"

Rasa sesak perlahan menyebar di hati Debora. Bahkan saat sudah pulang ke rumah, seluruh pikiran dan hatinya tetap tertuju pada Amanda, seolah-olah keberadaan dirinya sebagai istri sama sekali tidak dianggap.

Namun untungnya, hari-hari menjadi manusia tak kasatmata seperti ini akan segera berakhir. Dia menggeleng pelan, lalu menyimpan surat perjanjian itu.

Bravy bangkit dan berjalan ke lantai atas. Saat melewati ruang makan, dia melirik makanan di meja yang sudah dingin sejak lama, lalu untuk pertama kalinya memberi janji. "Tahun depan aku akan pulang temani kamu merayakan hari jadi kita."

Debora menatap punggungnya, lalu tersenyum tipis. 'Tahun depan? Bravy, kita sudah nggak punya tahun depan lagi.'

Keesokan paginya, Debora tidak mau bangun pagi lagi demi memasakkan bubur penyehat lambung untuk Bravy.

Malam sebelumnya, dia sudah lebih dulu mengajarkan resepnya kepada Nita, pelayan rumah mereka.

Saat turun, sarapan sudah tersaji di meja.

Nita bertanya dengan bingung, "Bukannya Nyonya bilang ingin menyembuhkan sakit lambung Tuan sendiri? Kenapa semalam malah mengajarkan resepnya pada saya? Apa mulai sekarang Nyonya nggak akan masak lagi?"

Debora menatap bubur yang masih mengepulkan uap panas itu, lalu mengangguk pelan.

Sejak Bravy mulai masuk perusahaan saat kuliah, dia menjadi gila kerja. Bolak-balik antara kampus dan perusahaan membuat jam makannya berantakan hingga akhirnya terkena sakit lambung.

Lebih dari sekali Debora melihatnya menahan sakit lambung dengan mengandalkan obat.

Saat itu, dia pernah membujuknya dengan sedih bahwa pekerjaan tidak lebih penting daripada kesehatan.

Bravy hanya menelan pil pereda nyeri dengan tenang. "Aku harus menguasai perusahaan secepat mungkin."

Meskipun tidak mengerti alasannya, sejak saat itu Debora sengaja belajar membuat bubur penyehat lambung dan terus mengganti variasinya demi membuat lambung Bravy terasa lebih nyaman.

Bahkan setelah menikah, dia tetap mempertahankan kebiasaan itu. Berkat perawatannya, sakit lambung Bravy juga jarang kambuh lagi.

Hanya saja sekarang ketika dipikir kembali, alasan Bravy begitu ingin cepat menguasai perusahaan dan mendapatkan hak bicara di Keluarga Kuncoro adalah demi menikahi Amanda, bukan?

Di meja makan, Bravy seperti biasa duduk untuk sarapan. Begitu sesendok bubur masuk ke mulutnya, dia langsung mengernyit dan menatap Debora.

"Kenapa rasanya beda dari biasanya?"

"Hari ini Bi Nita yang masak."

Tanpa sadar, dia bertanya, "Bukannya selama ini selalu kamu yang buat? Kenapa jadi Bi Nita?"

Nada suara Debora tetap tenang. "Aku capek."

Tak peduli seberapa banyak yang dia berikan, di hati Bravy tetap tidak ada sedikit pun tempat untuk dirinya. Kehidupan seperti ini benar-benar terlalu melelahkan.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 21

    Mendengar itu, rasa penyesalan di hati Jose semakin dalam. Kalau saja tadi dia bergerak sedikit lebih cepat, dia juga pasti akan ikut terjun tanpa ragu-ragu.Saat ini, Debora sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Selama tiga tahun pernikahan, Bravy tidak pernah menghargainya.Namun setelah bercerai, pria itu justru rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya meminta agar dikabari kalau Bravy sudah sadar nanti.Keesokan paginya, Bravy akhirnya siuman. Begitu mendapat kabar, Debora mengabaikan larangan Jose, langsung mencabut selang infusnya dan pergi ke ruang rawat Bravy.Saat melihatnya, mata Bravy langsung berbinar-binar. "Bora, syukurlah kamu nggak apa-apa. Uhuk, uhuk ...."Kondisinya jauh lebih parah dibandingkan Debora. Tubuhnya masih sangat lemah.Untuk sesaat, Debora menatapnya dengan ekspresi rumit. Lalu, dia berkata kepada Jose, "Jose, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya berdua saja."Kekecewaan di wajah Jose terlihat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 20

    Begitu kata-kata itu terlontar, wajah Bravy langsung memucat. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti istrinya akan menyuruhnya pergi dan semua ini terjadi karena ulahnya sendiri.Bravy meninggalkan toko bunga dengan pikiran kosong. Setelah dia pergi, Debora akhirnya menghela napas lega."Jose, tadi terima kasih ya."Jose melambaikan tangan dengan santai. "Nggak apa-apa, cuma hal sepele."Setelah berkata begitu, dia berhenti sejenak, lalu berkata dengan ekspresi agak serius, "Kalau mantan suamimu datang ganggu lagi, langsung kasih tahu aku. Kamu perempuan dan harus menghadapi dia sendirian, aku takut kamu dalam bahaya."Setelah mereka semakin akrab, Jose memang pernah bertanya kenapa Debora datang ke kota kecil yang terpencil seperti ini.Debora sempat terdiam sesaat, tetapi akhirnya memilih untuk menceritakan pernikahannya yang gagal dengan Bravy.Hal-hal itu belum pernah dia ceritakan kepada siapa pun sebelumnya dan Jose adalah orang pertama yang mengetahuinya.Dia juga

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 19

    Bravy mencoba membantah, tetapi saat mencari-cari dalam ingatannya, dia tidak menemukan satu pun bukti untuk menyangkal perkataan Debora."Aku ... aku mencintaimu, Bora. Hanya saja aku sendiri nggak sadar ...."Mendengar kata "cinta", Debora menarik sudut bibirnya dengan penuh sindiran. "Kalau cinta, mana mungkin kamu bahkan nggak ingat hari ulang tahun pernikahan kita?""Kalau cinta, mana mungkin kamu nggak punya sedikit pun kepercayaan padaku?"Setiap pertanyaan itu seperti pisau tajam yang menusuk dada Bravy berulang kali hingga tubuhnya seolah-olah dipenuhi luka berdarah.Di saat itu, akhirnya dia menyadari betapa banyak kesalahan yang sudah dia lakukan. Ekspresi Bravy dipenuhi rasa sakit, sementara matanya bergolak oleh penyesalan yang belum pernah ada sebelumnya."Bora, aku benar-benar tahu aku salah. Meskipun sekarang kamu belum bisa maafin aku, bisa kamu kasih aku satu kesempatan? Aku bersedia nunggu, selama apa pun aku akan menunggu."Masih ada secercah harapan terakhir di mat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 18

    Setelah mengetahui dari sekretarisnya bahwa Debora membeli tiket menuju Kota Gior, Bravy langsung menyuruh sekretaris membelikan tiket penerbangan tercepat ke sana.Hanya saja, dia lupa bahwa wilayah Kota Gior sangat luas. Hanya mengandalkan satu tiket pesawat saja tidak cukup untuk menentukan lokasi seseorang secara spesifik.Dia mencari selama hampir sepuluh hari di pusat Kota Gior, tetapi tetap tidak melihat sosok familier itu. Sementara itu, urusan perusahaan juga sudah menumpuk terlalu banyak dan benar-benar tidak bisa ditunda lagi.Tidak ada pilihan lain. Dia terpaksa kembali ke ibu kota untuk menangani urusan perusahaan, sambil meminta sekretarisnya menelusuri rekaman CCTV di sepanjang perjalanan guna menemukan keberadaan Debora di Kota Gior.Namun, kota kecil tempat Debora berada sekarang memang sangat terpencil. Butuh hampir 20 hari sampai akhirnya mereka menemukan wanita itu.Saat foto Debora yang sedang berada di toko bunga dikirim ke tangan Bravy, pria yang biasanya selalu

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 17

    Di saat yang sama, di sebuah toko bunga di daerah terpencil Kota Gior.Debora sedang membawa penyiram tanaman dan menyirami bunga-bunga segar yang baru datang hari ini.Cahaya matahari pertama di pagi hari menembus jendela kaca dan menerangi seluruh ruangan.Melihat toko bunga yang semuanya ditata sendiri oleh tangannya, sudut bibir Debora tanpa sadar terangkat membentuk senyum.Setelah menyerahkan surat perjanjian cerai ke pengadilan negeri, dia sudah memutuskan untuk datang ke Kota Gior.Kehidupan di sini terkenal lambat dan santai, cukup untuk membuat orang melupakan semua masalahnya.Sebenarnya sejak dua tahun lalu, dia sudah ingin datang berlibur ke Kota Gior. Namun, setiap kali dia membicarakannya dengan Bravy, pria itu selalu mengatakan perusahaan sedang sibuk dan tidak punya waktu.Saat itu, dia takut mengganggu pekerjaan Bravy, jadi tidak pernah membahasnya lagi. Keinginan itu pun terus tertunda.Namun, setelah Amanda kembali, Bravy justru bisa membatalkan semua jadwal hariann

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 16

    Tangan Bravy mengepal begitu erat hingga tulang-tulangnya berderak. Amarah besar pun membara di matanya saat dia menggertakkan gigi dan mengucapkan nama wanita itu. "Amanda ...!"Sejak pergi semalam, Bravy memang belum pulang, jadi Amanda mengobrol dengan sahabatnya di telepon tanpa menahan diri sedikit pun. Dia sama sekali tidak menyangka Bravy akan tiba-tiba pulang, bahkan mendengar semua perkataannya.Wajah Amanda langsung memucat. Dia buru-buru menutup telepon, panik bukan main. Namun, dia masih memegang secercah harapan terakhir. "Bravy, ka ... kapan kamu pulang?"Bravy hampir tidak bisa menahan amarahnya lagi. Seluruh tubuhnya memancarkan aura kelam dan menakutkan. "Aku dengar semua yang baru saja kamu katakan di telepon."Kalau perkataan ibunya semalam masih hanya dugaan, sekarang Amanda sendiri yang mengakui semuanya. Alerginya benar-benar hanya sandiwara untuk menjebak Debora.Namun, saat itu dirinya justru memercayai kebohongannya, salah paham pada Debora, bahkan menyuruhnya

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status