共有

Bab 6

作者: Soda Pop
Setelah acara perayaan sekolah selesai, Bravy mengusulkan untuk mengantar Amanda pulang.

Debora melihat Amanda terus meliriknya dengan tatapan ragu-ragu, seolah-olah ingin mengatakan sesuatu. Akhirnya, dia berkata dengan nada datar, "Pergilah. Sudah malam begini, kalau kamu pulang sendirian dia pasti nggak tenang."

Begitu kata-kata itu keluar, kedua orang yang awalnya ragu-ragu itu langsung membeku bersamaan.

Amanda buru-buru melambaikan tangan untuk menjelaskan, "Bora, jangan salah paham ya. Bravy cuma bantu karena hubungan teman sekolah dulu ...."

Walaupun Bravy tidak mengatakan apa-apa, tatapannya terus tertuju pada Debora. Di kedalaman matanya ada sedikit kepanikan yang bahkan dia sendiri tidak sadari.

Debora tidak mendengarkan lagi penjelasan Amanda yang selalu itu-itu saja. Dia hanya bersandar di kursi sambil memejamkan mata untuk beristirahat.

Amanda menggigit bibirnya, lalu akhirnya masuk ke mobil.

Entah sudah berapa lama berlalu, Debora merasa mobil berhenti. Namun, baru saja terdengar suara pintu mobil dibuka, detik berikutnya terdengar jeritan dari luar.

Debora langsung membuka mata dan melihat seorang pria bertopi menyandera Amanda, sementara sebuah pisau tajam berkilat menempel di pinggang belakangnya.

Situasi begitu genting. Debora memaksa dirinya tetap tenang sambil diam-diam menelepon polisi.

Saat itu, mata pria itu dipenuhi kegilaan. Dengan nada emosional, dia berteriak, "Bravy, akhirnya hari ini tiba juga! Kalau dulu bukan karena kamu laporin aku ke polisi hingga aku dipenjara, istri dan anakku nggak akan ninggalin aku!"

"Aku sudah menyelidikinya, wanita ini adalah cinta pertama yang selalu kamu pikirkan. Hari ini aku akan buat kamu menyesal seumur hidup!"

Pupil mata Bravy menyempit. Dia langsung turun dari mobil dan mencoba menenangkan emosi pria itu dengan suara tenang. Namun, tangan yang mengepal di kedua sisi tubuhnya hingga urat-uratnya menonjol memperlihatkan kegelisahannya saat ini.

"Aku sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Kalau kamu ingin balas dendam, serang saja aku. Jangan libatkan orang yang nggak bersalah!"

Pria itu menyeringai ganas dan memekik padanya, "Nggak ada hubungan? Kamu kira aku anak kecil umur tiga tahun? Kalau nggak ada hubungan, apa pria sibuk sepertimu bakal antarin dia pulang? Hari ini aku akan pastikan kamu lihat dia mati!"

Setelah berkata begitu, dia tanpa ragu mengangkat pisaunya dan hendak menusuk!

Di saat yang sangat genting itu, Bravy tiba-tiba maju dan menggenggam mata pisau dengan tangannya.

Jantung Debora bergetar hebat. Kata-kata yang secara naluriah ingin menghentikan tersangkut di tenggorokannya hingga membuatnya sulit bernapas.

Bravy ... ternyata mencintai Amanda sampai rela mempertaruhkan nyawanya sendiri ....

Pisau tajam itu langsung merobek telapak tangannya. Darah merah segar mengalir deras dari ujung pisau.

Pada saat itu, polisi yang datang tergesa-gesa langsung bergerak bersama-sama dan melumpuhkan pria itu dengan cepat, lalu menyelamatkan Bravy.

Begitu akhirnya lolos dari bahaya, Amanda menggenggam tangan Bravy yang terluka dengan sakit hati. Air matanya bercucuran seperti mutiara yang putus dari benangnya.

"Bravy, kenapa kamu sebodoh ini? Gimana kalau terjadi sesuatu padamu?" Meskipun wajahnya pucat karena kesakitan, Bravy tetap memaksakan senyuman untuk menenangkan Amanda yang ketakutan.

"Yang penting kamu nggak apa-apa."

Setelah ambulans datang, Bravy dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, sementara Amanda menangis dan bersikeras ikut bersamanya.

Debora untuk sementara ditinggalkan untuk memberikan keterangan kepada polisi. Saat dia menyusul ke rumah sakit, kebetulan dia mendengar para perawat di lorong sedang bergosip.

"Ya ampun, tulang Pak Bravy sampai hampir terlihat. Katanya dia nahan pisau penjahat dengan tangan kosong demi nyelamatin wanita yang ada di sampingnya!"

"Ini seperti adegan drama idola banget! Pak Bravy pasti sangat mencintainya, kalau nggak mana mungkin dia sampai nggak peduli nyawanya sendiri demi wanita itu!"

"Aku dengar Pak Bravy sudah nikah. Wanita itu pasti istrinya, 'kan? Kapan Tuhan bakal kasih aku pria setulus itu ya?"

Mereka terus mengobrol tentang betapa dalamnya cinta Bravy pada Amanda, tanpa tahu bahwa dirinya yang berdiri mendengarkan justru adalah istri sah pria itu.

Debora menarik sudut bibirnya dan tersenyum tanpa suara.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 21

    Mendengar itu, rasa penyesalan di hati Jose semakin dalam. Kalau saja tadi dia bergerak sedikit lebih cepat, dia juga pasti akan ikut terjun tanpa ragu-ragu.Saat ini, Debora sendiri tidak tahu harus merasakan apa. Selama tiga tahun pernikahan, Bravy tidak pernah menghargainya.Namun setelah bercerai, pria itu justru rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkannya. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya meminta agar dikabari kalau Bravy sudah sadar nanti.Keesokan paginya, Bravy akhirnya siuman. Begitu mendapat kabar, Debora mengabaikan larangan Jose, langsung mencabut selang infusnya dan pergi ke ruang rawat Bravy.Saat melihatnya, mata Bravy langsung berbinar-binar. "Bora, syukurlah kamu nggak apa-apa. Uhuk, uhuk ...."Kondisinya jauh lebih parah dibandingkan Debora. Tubuhnya masih sangat lemah.Untuk sesaat, Debora menatapnya dengan ekspresi rumit. Lalu, dia berkata kepada Jose, "Jose, ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya berdua saja."Kekecewaan di wajah Jose terlihat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 20

    Begitu kata-kata itu terlontar, wajah Bravy langsung memucat. Dia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti istrinya akan menyuruhnya pergi dan semua ini terjadi karena ulahnya sendiri.Bravy meninggalkan toko bunga dengan pikiran kosong. Setelah dia pergi, Debora akhirnya menghela napas lega."Jose, tadi terima kasih ya."Jose melambaikan tangan dengan santai. "Nggak apa-apa, cuma hal sepele."Setelah berkata begitu, dia berhenti sejenak, lalu berkata dengan ekspresi agak serius, "Kalau mantan suamimu datang ganggu lagi, langsung kasih tahu aku. Kamu perempuan dan harus menghadapi dia sendirian, aku takut kamu dalam bahaya."Setelah mereka semakin akrab, Jose memang pernah bertanya kenapa Debora datang ke kota kecil yang terpencil seperti ini.Debora sempat terdiam sesaat, tetapi akhirnya memilih untuk menceritakan pernikahannya yang gagal dengan Bravy.Hal-hal itu belum pernah dia ceritakan kepada siapa pun sebelumnya dan Jose adalah orang pertama yang mengetahuinya.Dia juga

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 19

    Bravy mencoba membantah, tetapi saat mencari-cari dalam ingatannya, dia tidak menemukan satu pun bukti untuk menyangkal perkataan Debora."Aku ... aku mencintaimu, Bora. Hanya saja aku sendiri nggak sadar ...."Mendengar kata "cinta", Debora menarik sudut bibirnya dengan penuh sindiran. "Kalau cinta, mana mungkin kamu bahkan nggak ingat hari ulang tahun pernikahan kita?""Kalau cinta, mana mungkin kamu nggak punya sedikit pun kepercayaan padaku?"Setiap pertanyaan itu seperti pisau tajam yang menusuk dada Bravy berulang kali hingga tubuhnya seolah-olah dipenuhi luka berdarah.Di saat itu, akhirnya dia menyadari betapa banyak kesalahan yang sudah dia lakukan. Ekspresi Bravy dipenuhi rasa sakit, sementara matanya bergolak oleh penyesalan yang belum pernah ada sebelumnya."Bora, aku benar-benar tahu aku salah. Meskipun sekarang kamu belum bisa maafin aku, bisa kamu kasih aku satu kesempatan? Aku bersedia nunggu, selama apa pun aku akan menunggu."Masih ada secercah harapan terakhir di mat

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 18

    Setelah mengetahui dari sekretarisnya bahwa Debora membeli tiket menuju Kota Gior, Bravy langsung menyuruh sekretaris membelikan tiket penerbangan tercepat ke sana.Hanya saja, dia lupa bahwa wilayah Kota Gior sangat luas. Hanya mengandalkan satu tiket pesawat saja tidak cukup untuk menentukan lokasi seseorang secara spesifik.Dia mencari selama hampir sepuluh hari di pusat Kota Gior, tetapi tetap tidak melihat sosok familier itu. Sementara itu, urusan perusahaan juga sudah menumpuk terlalu banyak dan benar-benar tidak bisa ditunda lagi.Tidak ada pilihan lain. Dia terpaksa kembali ke ibu kota untuk menangani urusan perusahaan, sambil meminta sekretarisnya menelusuri rekaman CCTV di sepanjang perjalanan guna menemukan keberadaan Debora di Kota Gior.Namun, kota kecil tempat Debora berada sekarang memang sangat terpencil. Butuh hampir 20 hari sampai akhirnya mereka menemukan wanita itu.Saat foto Debora yang sedang berada di toko bunga dikirim ke tangan Bravy, pria yang biasanya selalu

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 17

    Di saat yang sama, di sebuah toko bunga di daerah terpencil Kota Gior.Debora sedang membawa penyiram tanaman dan menyirami bunga-bunga segar yang baru datang hari ini.Cahaya matahari pertama di pagi hari menembus jendela kaca dan menerangi seluruh ruangan.Melihat toko bunga yang semuanya ditata sendiri oleh tangannya, sudut bibir Debora tanpa sadar terangkat membentuk senyum.Setelah menyerahkan surat perjanjian cerai ke pengadilan negeri, dia sudah memutuskan untuk datang ke Kota Gior.Kehidupan di sini terkenal lambat dan santai, cukup untuk membuat orang melupakan semua masalahnya.Sebenarnya sejak dua tahun lalu, dia sudah ingin datang berlibur ke Kota Gior. Namun, setiap kali dia membicarakannya dengan Bravy, pria itu selalu mengatakan perusahaan sedang sibuk dan tidak punya waktu.Saat itu, dia takut mengganggu pekerjaan Bravy, jadi tidak pernah membahasnya lagi. Keinginan itu pun terus tertunda.Namun, setelah Amanda kembali, Bravy justru bisa membatalkan semua jadwal hariann

  • Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan   Bab 16

    Tangan Bravy mengepal begitu erat hingga tulang-tulangnya berderak. Amarah besar pun membara di matanya saat dia menggertakkan gigi dan mengucapkan nama wanita itu. "Amanda ...!"Sejak pergi semalam, Bravy memang belum pulang, jadi Amanda mengobrol dengan sahabatnya di telepon tanpa menahan diri sedikit pun. Dia sama sekali tidak menyangka Bravy akan tiba-tiba pulang, bahkan mendengar semua perkataannya.Wajah Amanda langsung memucat. Dia buru-buru menutup telepon, panik bukan main. Namun, dia masih memegang secercah harapan terakhir. "Bravy, ka ... kapan kamu pulang?"Bravy hampir tidak bisa menahan amarahnya lagi. Seluruh tubuhnya memancarkan aura kelam dan menakutkan. "Aku dengar semua yang baru saja kamu katakan di telepon."Kalau perkataan ibunya semalam masih hanya dugaan, sekarang Amanda sendiri yang mengakui semuanya. Alerginya benar-benar hanya sandiwara untuk menjebak Debora.Namun, saat itu dirinya justru memercayai kebohongannya, salah paham pada Debora, bahkan menyuruhnya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status