LOGINIni menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.
”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.” ”Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.” “Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.” ”Dan kalian masih temenan?” ”Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat banget.” ”Setuju.” “Terkadang niat baik memang sebaiknya disimpan aja,” ucapnya sambil tertawa. Aku pun ikut menertawakan pengalaman kami yang serupa. Bukan tanpa alasan mengapa aku sudah berhenti berbuat baik kepada sekelilingku, karena kebaikanku jarang mendapatkan timbal balik yang baik untuk diriku sendiri. Aku terlalu peduli pada orang lain sehingga membuatku merasa bahwa berbuat baik kepada mereka adalah sebuah keharusan. Sampai pada suatu titik, sebuah hal menyadarkanku bahwa kebaikan yang kita berikan kepada orang lain tak serta merta membuat mereka menghargainya. Aku sudah berhenti menjadi people pleaser. Sekarang aku menerapkan mirror service. Jika ada yang berbuat baik kepadaku, maka aku juga akan berbuat baik kepadanya. Tapi jika ada yang menjahatiku, maka aku akan melakukan hal yang sama. Sudah bukan zamannya kejahatan dibalas dengan kebaikan. Bagiku, prinsip itu tak lagi berlaku. Karena jika kejahatan terus dibalas dengan kebaikan, sebagian orang justru akan menganggap kita tidak punya batasan. Satu pepatah yang berhasil kudapat dari pengalaman hidup, yaitu berbuat baiklah kepada mereka yang pantas mendapatkannya. Mungkin terdengar pahit. Mungkin juga terlalu sinis. Namun hidup memang guru yang mahal, tidak mengajar lewat nasihat, melainkan lewat orang-orang yang datang membawa pelajaran dengan cara paling menyebalkan. Sekarang aku masih suka membantu orang lain, hanya saja tidak lagi membabi buta. Aku belajar membedakan mana yang benar-benar membutuhkan uluran tangan dan mana yang sekadar memanfaatkan tangan yang selalu terulur. Ternyata menjaga diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan. Itu hanya cara agar kita tidak kehabisan diri untuk orang-orang yang bahkan tak pernah berniat menjaganya. “Gue sekarang nggak masalah dianggap cuek, bagi gue, dengan begitu hidup gue lebih tenang. Gue udah nggak punya energi lagi buat ngurusin orang lain. Ngurus hidup sendiri aja udah kewalahan, bener nggak sih?” Pria itu mengangguk setuju. “Mending dianggap antagonis daripada protagonis.” Rasanya senang sekali bertemu dengan pria yang bisa membicarakan banyak hal seperti ini denganku. Selain Rainer, aku belum pernah bertemu pria yang benar-benar sejalan dengan pikiranku. Bukan berarti aku terpesona pada Zack, aku hanya senang bahwa ada yang memahami jalan pikiranku di saat aku merasa bahwa yang benar-benar memahaminya hanyalah si brengsek biawak darat itu. Ngomong-ngomong soal biawak darat, dia tidak lagi terlihat di sofa sudut itu. Terakhir kali kulihat, dia hampir menelanjangi perempuan itu di pangkuannya. Ke mana perginya dia? Apakah membawa perempuan itu ke ruangan terdekat untuk disetubuhi? Kapan dia belajar mengendalikan nafsunya yang gila-gilaan itu? Dialah pria satu-satunya yang kukenal memiliki nafsu yang begitu tinggi. Mungkin saat pembagian hawa nafsu, dia mengambil semua jatah orang lain yang ikut antre bersamanya. Ah, sudahlah. Bukan urusanku. ”Sial, gue lupa kalau hari ini gue nyetir.” Zack menaruh gelasnya yang sudah kosong. “Naik taksi deh kayaknya.” Aku juga lupa kalau aku menyetir. Perlukah aku meninggalkan mobilku di sini dan pulang naik taksi saja? Memikirkan kecelakaan lalu lintas atau bahkan kecelakaan tunggal yang bisa terjadi di saat aku menyetir setelah mengkonsumsi alkohol, pilihan terbaik adalah pulang menggunakan taksi saja. Aku masih ingin menikmati hidup ini, masih banyak hal yang ingin kukejar. Mati konyol adalah hal terakhir yang harus kulakukan. ”Lo mabuk?” Entah dari mana datangnya, Rainer tiba-tiba muncul di belakangku. Sejak dulu, dia seolah memiliki kebiasaan suka muncul di belakang orang lain tanpa terdeteksi. Pada awalnya, aku selalu terkejut. Tapi lama-lama, aku mulai terbiasa dengan kehadirannya yang selalu tiba-tiba. ”Kayaknya,” jawabku sambil menjauhkan gelas. Aku menggeleng saat Zen bertanya melalui tatapan apakah aku akan menambah minuman lagi atau tidak. “Gue nyetir,” ucapku sambil meraih ponsel di dalam tas. “Nginep aja lo di atas.” Rainer merebut ponsel di dalam genggamanku ketika aku membuka aplikasi untuk memesan taksi online. “Nggak usah pulang dalam keadaan mabuk, naik taksi pula. Lo nggak lihat akhir-akhir ini banyak kejahatan taksi online?” ”Gue bukan bocah dan nggak semua driver taksi online begitu,” sanggahku. ”Ambil jalan aman, nginep di atas.” Dia mengantongi ponselku, tak mengembalikan bahkan saat aku memintanya. “Gue baik aja deh.” ”Tidur di atas aja. Besok weekend. Lo nggak harus kerja. Capek, kan? Ke atas, yuk.” Kalau begitu, rasanya aku tak punya pilihan lain. Toh ini bukan pertama kalinya aku menginap di apartemen atas miliknya. ”Wait.” Zack menahan tanganku saat aku berdiri. “Boleh minta nomor lo?” Ia menyodorkan ponselnya padaku. “Siapa tahu lo mau ngobrol lagi sama gue.” ”Sure.” Aku memberikan nomorku padanya begitu saja. “Nanti gue chat lo.” Zack tersenyum manis, yang baru kusadari kalau dia memang begitu tampan. Dia memang tidak mirip Chris Evans, tapi dia tampan. Belum sempat menjawab, Rainer sudah menarikku pergi menuju lift. ”Ngapain lo ngasih nomor ke orang asing?” ”Nggak asing,” jawabku sambil bersandar di dinding lift. ”Lo baru ketemu dia tadi, nggak lebih dari sejam. Udah ngasih nomor aja.” ”Ya, daripada lo… baru ketemu cewek lima menit udah tukeran saliva aja.” Dia menoleh dengan raut wajah datar dan bibir bungkam. Tak mampu membantah apa yang kukatakan tadi. Karena aku melemparkan fakta itu tepat ke depan wajahnya. “Lain kali nggak usah kasih nomor lo sembarangan. Cowok tuh isi otaknya kotor semua.” ”Kayak lo?” Aku tertawa sambil bersandar di dinding lift. “Kayak isi otak lo ‘kan?” ”Hmm….” Dia hanya bergumam dan melangkah lebih dulu saat pintu lift terbuka. Lagi-lagi aku menertawainya yang tidak bisa membalas kalimatku. Aku memang suka membuatnya terbungkam seperti ini.“Gue lupa bilang kalau Aurel ngajak ketemu siang ini.””Hmm. Lo yang mau ketemu adik lo, kenapa laporan ke gue?””Maksud gue, ngajak lo juga.””Gue?””Iya, lo nggak baca chat Aurel?””Belum lihat hape dari tadi. Emang kenapa gue mesti ketemu adik lo?””Gaun lo. Dia mau nyiapin gaun buat lo.””Harus?””Kan lo bilang setuju buat ikut ke Bali. Jadi Aurel mau siapkan gaun buat lo.””Pakai karung goni aja deh gue,” candaku.”Oke juga ide lo.” Rainer ikut tertawa. Ia menyuap omelet ke dalam mulutnya. “Tapi gue nggak mau ikutan viral nanti. Jadi kalau lo nggak mau muka lo terpampang di akun medsos sepupu-sepupu gue cuma pake karung goni, lo harus fitting gaun lo siang ini.”“Kalau cuti gue nggak di-approve gimana?””Gue bakar Menara Zahid,” jawabnya santai.Aku mencibir, membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci. Dia menaruh piring kosongnya di atas piringku. Saat aku meliriknya tajam, biawak darat ini hanya tersenyum lebar sambil men
Apartemen di lantai teratas ini adalah rumah kedua Rainer. Tapi tampaknya dia banyak menghabiskan waktu di apartemen ini daripada di rumahnya sendiri. Mungkin karena satu gedung dengan tempat usahanya, jadi lebih nyaman tinggal di sini daripada harus bolak balik ke rumah orang tuanya. Aku menghempaskan tubuh di sofa besar. Sudah lewat tengah malam, mataku pun sudah mulai mengantuk. ”Gimana cewek yang tadi? Berhasil bikin lo klimaks?”“Siapa yang bilang gue klimaks?””Lo bawa dia buat having sex ‘kan?””Nggak. Tadi gue dipanggil manajer gue karena ada anggota VIP yang bikin masalah di lantai tiga.”Aku melirik punggung tangannya yang tampak memerah.”Lo gebukin?””Dia yang mulai. Jadi gue hajar aja biar sadar. Gue benci sama orang arogan yang merasa dia bisa ngelakuin seenaknya mentang-mentang jadi anggota VIP di klub gue.”Ya, Rainer memang sangat ketat terhadap aturan VIP klub. Jika ada yang melanggar aturan yang telah ditetapkan, Rainer tak akan berpikir dua kali untuk memberi pel
Ini menyenangkan. meskipun pada awalnya aku tak berekspektasi apa-apa terhadap pria bernama Zack ini, tapi entah bagaimana obrolan kami mengalir begitu saja seolah pikiran kami sejalan pada arah yang sama.”Dan lo tahu apa? Itu terakhir kalinya gue sok jadi pahlawan. Gue kapok,” ucapnya sambil geleng-geleng kepala. “Sekarang gue nyerah soal begituan, bodo amat, deh.””Gue juga pernah.” Tanpa sadar ini sudah gelas ketiga yang kuminum. “Gue udah nggak mau lagi peduli sama urusan orang lain. Bukannya jadi bagus, malah runyam. Sekarang, gue cuma liatin doang apa pun itu selain urusan gue.”“Memang brengsek tuh anak, padahal niat gue bantuin, malah jadi kambing hitam.””Dan kalian masih temenan?””Nope,” jawabnya sambil mengambil gelasnya. “Gue cut off. Makin tua, gue makin sadar sama banyak hal. Kalau rasanya tuh orang cuma ngerugiin gue doang, cuma bikin masalah dalam hidup gue, mending gue nggak usah kenal lagi. Sekarang bukan umurnya buat nambahin masalah. Beban hidup aja udah berat ba
“Hai.”Pria itu akhirnya duduk di sampingku. Aku melirik perempuan yang ia tinggalkan, tampaknya sudah menemukan pria lain yang bisa ia cium.Tanpa kusadari, mataku tertuju pada bibir Rainer.”Kenapa?””Nggak, gue cuma heran, kenapa lo doyan banget sentuhan bibir sama cewek yang bisa ciuman sana sini setelah ciuman sama lo?”Rainer ikut melihat ke arah yang sedang kutatap. Dan dia hanya tertawa santai.”Tadi cuma taruhan.” Ia berbicara sambil meriah tisu untuk mengelap bibirnya. Lihat kelakuannya, dia bisa dengan mudahnya taruhan dengan orang lain entah itu dalam seks atau sekadar making out. Tidak heran mengapa di mataku dia tampak seperti anomali.“Babe… temenin gue….” Seorang perempuan datang lalu memeluk lengan Rainer. Perempuan berbeda dengan yang ia cium tadi, tentu saja.”Ntar aja, gue mau temenin temen gue dulu. Lo sama yang lain aja dulu.”Perempuan itu menatapku terang-terangan dengan tatapan jengkel, dan yang kulakukan hanyalah mengangkat satu alis sebagai jawaban. Dia men
”Apa salahnya? Kalau gue punya duit, mau sendirian pun nggak masalah. Daripada punya pasangan tapi nggak punya duit. Gue lebih suka sendirian tapi duit gue banyak. Daripada nyari pasangan yang cuma nambahin masalah hidup gue, mending gue nyari duit yang bisa meringankan segala beban gue.””Realistis sih realistis, Flo. Tapi apa enaknya jadi jomblo?””Enak-enak aja, tuh.””Terus lo nggak akan bisa nikmatin seks, dong.”Aku tertawa pelan, memasang senyum misterius di wajah.”Memangnya kalau mau seks harus punya pasangan? Nggak, kan?””Flo? Wait… astaga….””Astaga apaan? Gue cuma bilang, kalau mau seks nggak kudu punya pasangan dulu.””Lo… lo sering ONS?””Emangnya gue bilang kalau gue begitu?””Tapi itu barusan lo bilang seks nggak kudu punya pasangan.””Lah, kan emang iya. Tanya aja sama cowok-cowok yang ngakunya jomblo. Mereka masih bisa ngelakuin seks meski nggak punya pasangan.””Lo beneran sering ONS, kan?””Mau tahu aja atau mau tahu banget?”Aku meninggalkan Erika di sana untuk k
“Menurut lo, kado ini gimana?”Aku menatap foto yang disodorkan Kamal kepadaku.”Hmm….””Lo kok hmm doang? Kasih pendapat, kek.””Ya lo ngapain nanya ke gue? Emangnya gue bini lo? Tanya aja sama bini lo langsung.””Takut dia nggak suka.””Kalau kado, pasti suka. Kasih aja, nggak usah lo rempongin gue cuma karena kado ulang tahun bini lo. Minggir!””Galak banget lo, Flo. PMS?””Iya! Kalau lo nggak minggir, gue gigit!””Elaaah, sana beli es krim. Biar adem emosi lo.”Kamal akhirnya menyingkir dari mejaku untuk kembali ke mejanya sendiri. Asal dia tahu saja, dia lah sumber emosiku hari ini. Mengapa dia harus menanyakan pendapatku tentang kado ulang tahun istrinya? Tanya saja sendiri pada istrinya, tidak perlu tanya pendapatku. Menyebalkan!Dialah pria yang membuatku patah hati dua tahun lalu. Sampai detik ini, Kamal tidak tahu bahwa aku pernah patah hati karenanya. Itu patah hati terakhir yang kualami, karena setelah itu aku memutuskan untuk tidak pernah mencintai siapa pun lagi. Di mata







