FAZER LOGIN. PARADISE ISLAND, INDONESIA Mereka memakai 2 boat. Boat yang mereka tumpangi memecah bergerak melawan arah angin. Kapal pemburu milik POLAIR siaga di kejauhan. Tidak mencolok tetapi ada dan bersiap. Pak Sigit menerima panggilan dari Johny Pasaribu, anak buahnya, yang ia tugasi untuk memimpin orang-orang pilihannya dalam team penangkapan anak-anak Ananta dan Ratna. “Ya, John?”Wajah Pak Sigit terkejut saat mendengar laporan dari anak buahnya. Beberapa kali dia berucap istighfar sambil mengusap wajahnya. Keluarga Ananta benar-benar hancur. Kekayaan berlimpah yang didapat dari cara-cara haram tidak menghasilkan kebaikan untuk keluarganya. “Kami masih di atas laut. Sudah melewati beberapa pulau. Lampu-lampu dari Paradise Resort sudah mulai tampak. Kau lakukan yang terbaik yang kau bisa. Korek keterangan dari Agung sebanyak mungkin. Aku kha
. Ruangan gelap gulita. Aroma busuk kotoran manusia tercium bercampur dengan aroma anyir yang memuakkan. Ruangan tamu terlihat rapi. Ruang tengah tampak berantakan. Ada bekas kaleng minuman soda dan air mineral di atas meja kopi. Ada bungkus makanan yang masih berserakan. Juga ceceran kotoran manusia cair di atas sofa dan lantai. Jejaknya mengarah ke kamar. Johny Pasaribu menyorot tube lubricant berwarna merah yang ada di atas sofa, menyelip di antara punggung dan dudukan sofa. Kedua alisnya terangkat. Dia mengikuti jejak cairan kuning yang sudah mengering dengan senter tangan yang terarah hingga pintu kamar. Dia mengerakkan tangannya ke arah pintu kamar. Aroma di sana lebih busuk lagi. Ada aroma bangkai yang samar tercium. Mereka dilengkapi dengan masker tebal, tetap saja hidung mereka bisa menghidu aroma busuk yang luar biasa. Petugas hendak membuka kunci denga
.SANTORINI, YUNANIPihak hotel Grand Petralis membuat makan malam formal untuk menyambut Orion Petralis sebagai pemimpin bisnis Petralis dan istrinya. Lorenzo dan humas hotel mengatur semuanya termasuk media. Makan malam itu berlangsung mewah, tenang dan sangat memuaskan semua orang. Mr. Binochi menjadi juru bicara pihak Petralis yang mengumumkan pernikahan mereka yang diselenggarakan di Pulau Lesbos, di sebuah masjid kecil di Mytilene dan beserta penyambutan istrinya sebagai Pendamping Petralis Utama di Archontiko Petralis. Bangunan yang menjadi simbol Keluarga Petralis.Banyak orang memuji pasangan pengantin baru itu. Orion Petralis terliaht gagah dengan tuxedo hitamnya, bros Petralis Utama tersemat di dada kanannya. Sedangkan Maharani terlihat anggun dengan gaun batik motif bunga kawung besar dengan outer berwarna kuning muda. Bros Pendamping Petralis Utama tersemat juga pada dada kanannya.“Benar-benar seperti pasangan kerajaan. Istrinya sangat anggun sekali. Natural anggunny
Alis Arya Surya naik sebelah. Dia terkejut mendengar permintaan Jessica. Sisi lain dari Jessica yang baru ia ketahui. “Kau yakin mau ikut denganku ke tempat Ratna?”Jessica mengangguk yakin.“Aku ingin menyaksikannya sendiri. Kehancuran Ratna. Kehancuran dari orang yang pernah menghancurkan namaku di jagat maya. Akhir dari seorang Ratna yang begitu arogan,” Jessica mendekat, memegang tangan Arya Surya, “Biarkan aku ikut ambil bagian untuk membalaskan sakit hatiku."Arya Surya menatap sungguh-sungguh.“Kau yakin? Di sana akan berantakan. Banyak jeritan, darah. Bukan pemandangan indah.”“Bukan masalah bagiku.”“Kau pernah mengotori tanganmu dengan darah sebelumnya?” Arya Surya masih menatap lekat.“Aku pernah melakukan apapun untuk mendapatkan kemauanku. Menyingkirkan orang-orang yang menghalangi tujuanku. Bila itu bisa dianggap sebagai mengotori tanganku dengan darah maka artinya, ya, aku pernah.”Sesuatu dalam diri Arya Surya mekar. Dia menatap Jessica dengan tatapan berbeda sekaran
BUNGALOW PERSEMBUNYIAN RATNA, SUKABUMIRatna sangat menikmati sarapan paginya. Suara Kim Woobin yang begitu berat dan manly terdengar dari TV layar datar. Ditimpali dengan suara Park Shin Hye dan sesekali suara Lee Min Ho. Tayangan drakor The Heirs yang diputar ulang meskipun sudah lewat satu decade dari tahun pembuatannya, tetap menarik hati. Karena drakor itu menjadi satu-satunya drakor yang bertabur bintang.Matanya masih menatap layar kaca saat tangannya mengupas telur rebusnya. Sarapan roti panggang dengan telur rebus dan sandwich membuatnya merasa kembali ke pergaulan sosialita yang sudah ia tinggalkan karena tingkah Aldi.Mengingat Aldi, membuatnya teringat dengan dua anaknya yang lain. Ratna mendengus. Membuang ingatannya. Dia sekarang hidup merdeka. Tidak perlu bersusah payah menyiapkan sarapan untuk mereka, mencuci baju mereka, dan setumpuk pekerjaan rumah tangga lainnya.Dia mengamati tangannya. Nanti siang, dia harus melakukan perawatan seluruh tubuhnya untuk mendapatkan k
ARCHONTIKO PETRALIS, PULAU LESBOS, YUNANISemua orang berwajah ceria saat keesokan paginya. Sarapan dilakukan di kebun belakang, penuh keakraban. Anak-anak kecil keponakan Orion berlarian mengejar kelinci yang sengaja dipelihara di halaman belakang.“Sudah berapa bulan?” tanya Tante Laras sambil mengelus perut Maryam.“24 minggu, Aunty,” Maryam tersenyum lebar.“Aku rasa dia laki-laki,” Tante Laras tersenyum lebar.“Benarkah? Aku dan Olciem tidak ingin tahu jenis kelamin dari hasil USG. Takut berharap banyak dan kecewa. Darimana Bibi mengetahuinya?”“Anakku laki-laki semuanya,” Tante Laras tertawa diikuti Tante Amara, “Aku melihatnya dari bentuk perutmu. Bentuknya bulat seperti bola.”Angela Petralis mengelus perut Maryam. Dia menatap Olciem yang tengah mendengarkan Paman Nikos bercerita.“Olciem, kata Mamanya Lintang, bayi yang ada di dalam perut istrimu itu laki-laki. Aku kira bentuk bulat perut istrimu karena kau seorang pemain bola, Olciem.”Ucapan Angela Petralis membuat semuanya
Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka
Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt
Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu







