INICIAR SESIÓNArya Surya merasa déjà vu. Dia pernah mengalami situasi yang nyaris sama seperti ini. Kepanikan yang benar-benar sama. Ibunya terjatuh dan tidak sadar tepat di sampingnya. Serangan stroke. Dan tidak pernah bangun lagi sejak saat itu.Arya Surya gemetar. Lututnya terasa lemas. Tangannya gementar membenahi rambut Jessica yang menutupi sebagian besar wajahnya. Dia tidak berani menyentuh bahu Jessica. Tidak berani memindahkan kepala Jessica. Khawatir membuat cederanya semakin parah.“Jess… kau dengar aku?” bahkan suaranya pun gemetar.“Sayang… kau baru saja berjanji untuk tidak meninggalkanku,” air matanya lolos begitu saja, dia tidak peduli pengawalnya ataupun orang-orang di sana melihatnya menangisi seorang perempuan.Di belakangnya, para pengawal bergerak cepat. Satu menunjuk ke atas, berbicara melalui perangkat headset, satu menghubungi dokter klinik di resort itu, satu lagi berjongkok memeriksa kondisi Jessica dan satu lagi menghalau para pengunjung resort yang hendak mendekat.“Tida
PARADISE RESORT ISLAND, INDONESIAJessica menatap hamparan Laut Jawa dari taman di lantai atas bangunan resort Paradise. Angin sedang kencang. Membuat rambutnya yang digerai berterbangan tertiup angin. Rok pendeknya dari bahan ringan juga menyibak tertiup angina. Dia tidak peduli. Tangannya berpegangan pada handrail taman.Beberapa kapal nelayan, kapal tongkang, kapal-kapal besar tampak dari atas sini. Dia tidak tahu untuk apa tadi ia mengikuti anaknya. Anaknya berubah banyak atau dia yangt baru sadar dengan watak si anak? Anak yang dibesarkan dengan limpahan materi darinya, hidup glamor, juga sarana mewah yang disediakan oleh pria-pria hidung belang yang menyewanya.Dia tidak pernah memakai hati dalam setiap hubungan dengan para pria manapun. Bahkan dengan ayah Cherryl sekalipun. Cinta yang hadir untuk pria itu palsu. Yang ia inginkan hanya menguras harta pria itu saja. Mereka memang menikah siri. Setelah si suami menceraikan istri pertamanya, ia tetap hanya menjadi istri siri. Kelu
ARCHANTIKO PETRALIS, PETRA, PULAU LESBOS, YUNANISetelah makan malam, mereka masih berkumpul di ruang tengah, kecuali Orion yang tengah mendapat treatment calon pengantin a la Jawa. Lintang dan Kak Ishaak bola-balik ke kamar Orion karena treatment dilakukan di dalam kamarnya. Dan Orion tidak berhenti memanggil mereka untuk sekedar mengobrol, menanyakan tentang Maharani, menanyakan tentang bahan-bahan treatment dan lain sebagainya.Lintang berbicara dalam Bahasa Italia.“Kau bisa diam tidak sih? Nikmati saja apa susahnya?” Lintang menatap gemas pada Orion yang tengah terpejam menikmati pijatan terapis pria yang didatangkan langsung dari Jakarta.Mata Orion terbuka separuh.“Kau tahu?”Lintang langsung menukas dengan galak.“Nggak.”Orion membuka matanya, menatap kesal pada Lintang.“Aku kan belum cerita!”“Huh. Aku gak mau tahu.”“Dih!”“Dih juga!”“Kau menyebalkan, Lin.”“Aku pergi ya. Ada yang harus kulakukan. Aku harus menemuinya. Aku tidak sempat menjemputnya tadi. Anak buah Lorenz
Saat Kak Gayatri diantar kembali ke rumah pantai milik Bibi Greta setelah makan malam, Maharani tengah dilukis henna pada tangannya. “Ran, Orion menanyakanmu terus. Dia penasaran kau sedang apa…,” Kak Gayatri mengambil sepotong cake dengan cacahan almond di dalamnya. Dia tertawa.“Orion berkali-kali mencoba melakukan video call tapi aku tolak. Akhirnya aku matikan daya. Aku sudah menghubungi Vera, urusan emergency, hubungi nomor Embun.”“Sejauh ini, Vera belum menghubungi untuk kondisi emergency masalah di The Esthetic. Dia memang dapat diandalkan ya, Mbak,” Embun tertawa.“Orion mendapat bagiannya malam ini, spa treatment calon pengantin pria,” Tante Amara terkikik, “Kata Banyu, Orion protes. Dia banyak pekerjaan malam ini. Lorenzo berhasil menenangkannya. Memberinya headset untuk tetap terhubung dengannya lewat earphone.” Semua di ruangan itu tertawa. Kak Gayatr
Lorenzo sendiri akhirnya menjemput Kak Gayatri dari rumah pantai. Masalah keamanan cyber menjadi alasan andalan yang cukup meyakinkan mereka semua tanpa harus bertanya lebih banyak. Di Archontiko Petralis, semua sudah berkumpul di ruang makan formal di lantai bawah. Semua menoleh ke arah pintu saat ia masuk. Kak Ishaak langsung menyambutnya. “I love you more, Atiey,” Kak Ishaak berbisik keras membuat semua orang di ruangan itu tertawa.“Apaan sih, Mas?” dia tertawa.“Kamu bisa secepat itu menemukan si Penembak.”“Pak Sigit sudah diberitahu?” Kak Ishaak menggeleng.“Belum. Nanti setelah kami mendengar penjelasanmu bagaimana kamu langsung menemukan orangnya di antara 12 nama yang diberikan oleh Pak Sigit.” Kak Gayatri meletakkan tas laptopnya di atas meja. Dia menggeleng.“Dia… si Penembak, namanya tidak berada di dalam list itu.
ARCHANTIKO PETRALIS, PETRA, YUNANI Dan akhirnya, karena suasana yang begitu sepi tanpa para wanita di mansion itu, semua tertidur mengikuti Om Tara dan Om Pram. Tidak ada yang membangunkan mereka untuk pindah ke kamar yang sudah disediakan. Karena keduanya sudah tampak lelap dan nyaman dengan sofa reclining seat. Archantiko Petralis sepi. Orion tidur siang di kamarnya. Laptopnya masih menyala di atas nakas, menampilkan grafik saham Petralis dan laporan jurnal-jurnal Excel. Layar gawainya menampilkan foto dari galerinya. Foto yang dibuat pada hari ini usai dia bersyahadat. Foto dirinya dengan Maharani, tersenyum menatap kamera dengan latar belakang Masjid Yeni Djami’. Dirinya memakai baju koko dan Maharani dalam balutan tunik dan bordiran dengan warna yang sama. Serasi. . RUMAH PANTAI BIBI GRETA Berbanding terbalik dengan suasana di rumah pan
Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka
Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt
Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu







