LOGINARCHANTIKO PETRALIS, PETRA, YUNANI Dan akhirnya, karena suasana yang begitu sepi tanpa para wanita di mansion itu, semua tertidur mengikuti Om Tara dan Om Pram. Tidak ada yang membangunkan mereka untuk pindah ke kamar yang sudah disediakan. Karena keduanya sudah tampak lelap dan nyaman dengan sofa reclining seat. Archantiko Petralis sepi. Orion tidur siang di kamarnya. Laptopnya masih menyala di atas nakas, menampilkan grafik saham Petralis dan laporan jurnal-jurnal Excel. Layar gawainya menampilkan foto dari galerinya. Foto yang dibuat pada hari ini usai dia bersyahadat. Foto dirinya dengan Maharani, tersenyum menatap kamera dengan latar belakang Masjid Yeni Djami’. Dirinya memakai baju koko dan Maharani dalam balutan tunik dan bordiran dengan warna yang sama. Serasi. . RUMAH PANTAI BIBI GRETA Berbanding terbalik dengan suasana di rumah pan
PERSEMBUNYIAN RATNA DAN ANAK-ANAKNYA10.44 Mereka tertawa riang dan kompak. Saat pulang berbelanja di supermarket selalu seperti ini. Seperti saat Dito dan Agung masih kecil, saat ke supermarket adalah saat-saat membahagiakan dan pulang dengan ceria meskipun lelah. “Jangan khawatir, Ma, Dito bakal bantuin Mama beresin belanjaan.”“Aku bagian belanjaan kering, Mas Dito belanjaan basah.”“Siiip!” Dan Ratna begitu bahagia karena mereka. Dua anaknya yang selalu setia kepadanya. Dua anaknya yang selalu berada di dekatnya. Dua anaknya yang keberadaannya seperti dianggap angin lalu oleh papa mereka karena kalah bersinar secara fisik dengan kakak mereka, Aldi. Dia tidak merasa kehilangan Aldi. Cukup sudah meladeni kebodohan Aldi. Aldi tidak mau menurut kepadanya, itu terserah dia. Dia sudah dewasa. Terlalu dewasa untuk mengerti pengabdian kepada orangtuanya t
POLDA METRO JAYA, RUANGAN KHUSUSTidak ada yang boleh memasuki ruangan yang dikhususkan untuk Ananta. Hanya orang-orang tertentu yang tidak berafiliasi dengan Ananta ataupun Arya Surya. Bahkan untuk mereka yang perwira tinggi sekalipun.Pengamanannya berlapis. Ananta sebagai saksi prioritas untuk kejahatan fiskal yang dilakukan Arya Surya dan kroninya, dimana melibatkan nama-nama pejabat sipil maupun non sipil di dalamnya yang masih aktif ataupun sudah purna tugas, mendapat perhatian penting. Penjagaannya sangat ketat.Pak Sigit menghela nafas panjang. Kepalanya terasa berdenyut bahkan di awal harinya di kantornya. Tapi, laporan yang baru masuk dari tim satuan buser, penyergapan terhadap Aldi Ananta yang gagal total membuat kepalanya sakit. Dan yang paling menyakitkan adalah pengkhianatan dari instansinya sendiri.Seharusnya, penyergapan yang sudah direncanakan pukul 06.30 itu berjalan lancar dan mudah
PARADISE RESORT ISLANDArya Surya baru bangun pukul 10.00 pagi. Saat dia membuka mata, Jessica tengah menyisir rambutnya yang masih basah dengan sisir besar. Sebelah tangannya memegang hair dryer.“Jess, kenapa tidak bangunkan aku?” tanyanya berguling mendekati Jessica.Tangannya menjangkau pinggang Jessica, memeluknya. Aroma mawar dari sabun mandi impor dan wangi shampoo floral memenuhi indera penciumannya. Jessica terkekeh.“Aku gak tega mau bangunin Ko Arya. Lelap banget dan terlihat lelah banget…”Arya Surya tertawa. Dia menendang selimutnya begitu saja. Membiarkan tubuh polosnya terekspos. Menunduk ke nakas, mengambil gawainya dari laci nakas.Banyak pesan chat masuk. Ada beberapa panggilan tak terjawab. Dia membuka panggilan tak terjawab. Menghubungi orangnya sambil berjalan menuju balkon. Menengok ke belakang, memastikan Jessica tidak mengikutinya. Pintu balkon ia tutup.“Bagaimana?” tanyanya langsung.“Sudah terlaksana, Tuan. Sekitar pukul 3 dini hari tadi. Rapi, seperti yang
Suara gumam keheranan terdengar. “Seperti yang Pak Abdi bilang tentang rekaman CCTV tersembunyi dari atas pintu, kamera CCTV terletak tersembunyi pada lampu dinding di samping pintu unit Aldi. Penembakan di lakukan dari luar pintu. Artinya, si pembunuh tidak sempat untuk mengulik rekaman CCTV yang ada. Dan sepertinya, dia juga tidak tahu mengenai keberadaan CCTV tersembunyi di atas pintu,” suara Pak Sigit terdengar memelan. Dia sekarang berbicara lebih lambat.“Saya sampai memerintahkan orang saya sendiri untuk langsung mengamankannya tanpa melibatkan orang bagian INAFIS ataupun Puslabfor. Saya khawatir dengan infiltrasi Arya Surya di tubuh institusi kami. Seperti yang pernah dikatakan oleh Nona Gayatri tempo lalu.” Terdengar suara gemerisik, sepertinya Pak Sigit berpindah tempat.“Dan kecurigaan Elyasa benar adanya. Dia melihat pria berstelan hitam itu keluar dari lift khu
PASAR OTTOMAN MYTILENE, PULAU LESBOS, YUNANIPara wanita Herlambang duduk di bawah taverna di depan sebuah kafe bergaya Turki. Maryam, Brissa dan Angela Petralis menemani mereka. Semua Paman dan Bibi Petralis sudah kembali ke Archantiko Petralis.Mereka memesan kopi Turki. Kak Anggita dan Kak Gayatri antusias sekali melihat proses pembuatan kopinya. Sebuah nampan bundar besar terbuat dari logam diberi pasir kasar panas. Sementara cawan logam berbentuk lucu dengan ukiran dan tangkai panjang lurus untuk pegangan berisi kopi dan air. Air dan kopi dibiarkan mendidih hingga meluap, saat air meluap, baristanya akan mengangkat cawan itu, memindahkannya ke area lain nampan yang berisi pasir panas.Proses itu diulang berkali-kali hingga akhirnya kopi dianggap siap untuk dihidangkan. Dari cawan logam itu, kopi dituang ke cawan gelas bening yang memiliki bentuk yang sama dengan cawan logam. Aroma kopi hitam yang kental memenuhi udara.Embun lebih suka meminum es kopi daripada kopi panas. “Oran
Meeting berjalan lancar. Klien sangat menyukai desain-desain dari para desainer The Esthetic Jewelry. Mereka bahkan meminta tambahan perhiasan di luar pesanan mereka dengan bahan mutiara laut asli Indonesia.Rasa mual yang dirasakan olehnya saat di lift tadi mendadak
Kak Ishaak menghubunginya begitu ia sampai di kantor. Dia bergegas ke ruangannya. Mengabaikan Cherryl yang baru keluar dari ruangan Mas Aldi dengan rok pendek dan tabrak corak yang menyakitkan mata untuk dilihat. “Kak Ishaak…,” suaranya tercekat, “Ma’af. Ma’afka
Dia menatap foto yang ia buat semalam. Foto bukti KDRT yang dilakukan oleh Mas Aldi. Matanya tidak terlalu bengkak pagi ini. Usahanya untuk mengompres dengan handuk kecil yang dibasahi, membuahkan hasil. Pagi ini jadwalnya adalah menemui dokter obgyn unt
Dia belum tertidur saat Mas Aldi pulang. Jam digital di nakas menunjukkan pukul 22.40. Dia menutup buku yang sedang dibacanya saat suaminya membuka pintu kamar. Mas Aldi tersenyum. Wajahnya terlihat lelah tetapi matanya penuh perasaan bahagia. “Kamu belu







