Se connecterLokasi: Istana, halaman belakang kamar Ong BweeWaktu: Beberapa tahun setelah kematian Selir Hui, Keng Hong, dan Kiat Seng🏛️ KEMBALI KE ISTANAMatahari sore menyinari istana. Udara terasa berbeda—lebih ringan, seperti beban yang selama ini menggantung akhirnya terangkat.Ong Bwee berjalan pelan. Di sampingnya, Bunga Emas menggandeng Ong Bun Eng kini telah remaja dan Ong Bun Kun mulai tumbuh besar. Di belakang, Guru Tampan dan Nyonya Nio menggandeng Go Hong San dan Go Hong Eng.Mereka berhenti di depan sebuah gundukan kecil.Tanahnya sederhana. Tidak ada batu nisan megah. Hanya setangkai bunga layu yang diletakkan seseorang—mungkin dayang yang masih ingat.Ong Bwee: (berlutut) "Hunpo... Papa pulang."🐕 CERITA UNTUK HUNPOAngin berdesir pelan. Daun-daun kering berjatuhan.Ong Bwee: "Kau ingat? Dulu kau selalu tidur di sampingku. Waktu aku diasingkan, kau ikut. Waktu aku di gunung, kau yang pertama masuk gua. Waktu aku pingsan, kau jilat wajahku."Ia tersenyum.Ong Bwee: "Maaf baru p
Lokasi: Arena duel, kaki Gunung Lok SanWaktu: Pagi, setelah tantangan Selir Hui🏔️ ARENA PERTARUNGANMatahari baru naik. Kabut tipis masih menyelimuti kaki gunung. Di tengah lapangan, dua sosok berdiri berhadapan.Selir Hui. Dengan Si Choa Kim—Ular Emas Maut. Pedang yang telah menghabisi banyak pangeran. Senjata aliran hitam yang selama ini hanya ia pertontonkan ke pangeran-pangeran, ia tunjukkan ke rakyat. Untuk supremasi lebih besar.Ong Bwee. Dengan Si Hong To—Golok Empat Penjuru. Pusaka aliran putih. Tapi di tangannya, ia juga membawa sesuatu yang lain: Bo Tan To Kun.💊 RAMUAN HITAM — THIAN TEK BIOSebelum duel, di kamarnya, Selir Hui membuka kotak kecil. Di dalamnya, pil hitam legam.Selir Hui: "Thian Tek Bio... Ramuan Langit dan Bumi. Pil ini menahan efek racun dalam beberapa hari. Cukup untuk memberikan pelajaran pangeran bunga itu."Selir Hui tau. Obat herbal itu tidak boleh diminum dua dosis dalam sebulan jika ingin usia panjang.Ia menelan satu.Tubuhnya langsung bergetar
Guru Tampan akhirnya mengerti. Mengapa Ong Bwee selalu memulai dengan pohon. Waktu awal seleksi Guru, ia menanami wilayah calon gurunya itu dengan pohon-pohon aneh. Katanya untuk menjaga Chi masyarakat agar tetap mengalir dan harmonis. Rakyat kecil tidak terlalu memikirkan. Tapi pejabat sudah menganggap Ong Bwee tidak waras. Tapi setelah bertahun-tahun, bumi Lok San ini seperti kembali harmonis chi-nya. Dulu ia ingat kalau wilayah ini tandus. Tapi sejak Ong Bwee dan tim khususnya termasuk Tetua Besar Tio mendesainnya, tanah mulai subur. Kebun ceri Guru Tampan sendiri dulu tidak subur. Tapi Tetua Besar Tio sering memberikan pelatihan bertanam di ladang sempit. Konsep aneh, asing, tapi hasilnya sangat nyata. Di cabang-cabang Ki Kut Sun sendiri juga ada orang-orang sekte yang sudah dikader oleh Tetua Besar Tio untuk pelatihan bertanam dan rekayasa lingkungan untuk membuat sungai buatan. Hal ini awalnya ditertawakan partai silat lain. Tapi hasilnya nyata. Rakyat masih bisa makan.
Lokasi: Istana, Aula Sidang — Siang hariWaktu: Setelah Ong Bwee menyelesaikan catatan orasi Selir Hui.📜 SIDANG YANG TIDAK TERDUGAAula sidang penuh. Para pejabat duduk rapi. Kasim-kasim berjajar di samping. Di kursi utama, Selir Hui sedang berlatih orasi untuk konferensi di Negeri Timur—dibantu Kiat Seng dan Keng Hong yang sibuk mencatat.Tapi hari ini, semua mata tertuju pada satu orang.Ong Bwee.Ia berdiri di tengah aula. Di tangannya, setumpuk dokumen. Bukan orasi. Bukan laporan kompetisi. Tapi sesuatu yang lebih berat.Ong Bwee: "Ayah. Aku punya sesuatu."Kaisar: (dari singgasana) "Apa itu, Nak?"Ong Bwee tidak menjawab. Ia berjalan maju. Satu langkah. Dua langkah. Sampai di depan Kaisar, ia berlutut—dan meletakkan tumpukan dokumen itu di lantai.Ong Bwee: "Ini."Kaisar: (mengerut) "Apa ini?"Ong Bwee: "Laporan kematian. Otopsi. Dan giok."Sunyi.Selir Hui: (dari samping) "Pangeran Ong, ini bukan waktunya—"Ong Bwee: (tanpa menoleh) "Ini satu-satunya waktu."Ia mengambil satu
Ong Bwee seperti diharapkan. Begitu sampai bukannya bekerja malah jadi tukang cerita. Itu semua salah Selir Hui sendiri. Begitu datang, ia harusnya diberi dekrit untuk membuat orasi. Tapi, semua lupa. Semua ingin cerita cinta indah di Rumah Kebun Ceri. Rumah sederhana tempat Pendekar Go dan Nyonya Nio memadu kasih.Ong Bwee protes, tapi hadiah-hadiah dari pejabat dengan dukungan dari Kaisar dan Selir Hui malah menjadikan dia tukang cerita. Ia ingat waktu di Lan Hwa dan Peng Ji, dia suka membaca sastra. Sesekali jadi tukang cerita. Dan setiap ada dia, walaupun di musim dingin, pelanggan tetap datang. Mungkin karena terlalu sering buat janji diplomatis walaupun dia skeptis akan kelanjutan programnya.Kaisar walaupun secara hukum mengusir Nyonya Nio, tidak menyesal. Ia hanya menyesal: mengapa itu semua terjadi setelah tragedi Pangeran Bunga.Ong Bwee minta tidur agak awal. Ia harus bekerja buat orasi. Supaya negara bangga.Semua orang menurutinya. Seolah hari itu Kaisarnya adalah Ong Bw
Lokasi: Istana, sayap timur — Ruang kerja Selir HuiWaktu: Seminggu setelah kelahiran Go Hong San dan Go Hong Eng📋 SABAK KOSONG YANG MENYIKSAMeja panjang di ruang kerja Selir Hui dipenuhi gulungan kertas, tinta, dan kuas. Tapi yang paling mencolok: sabak- sabak besar—papan tulis batu hitam—yang masih polos total. Sudah dua bulan begini. Padahal 10 hari lagi harus berangkat ke Negeri Timur untuk undangan.Selir Hui: (mondar-mandir) "GILA! GILA! GILA!"Ong Kiat Seng: (duduk lemas) "Bu, udah 3 bulan. Sabaknya masih kosong. Padahal aku sudah bisa pipis karena obat sinseh Lam yang terbaru. Keng Hong malah istrinya hamil muda"Ong Keng Hong: (dari pojok, tiduran) "Gue udah mikir. Serius. Tapi yang keluar cuma..." (Muka mesum melihat lukisan istrinya)Dia menulis sesuatu di kertas:"Pimpin dengan hati. Karena hati itu penting. Hati itu... ya... hati."Selir Hui: (baca, lempar kertas) "INI MAKSUDNYA APA?!"Kiat Seng: "Itu... itu... kata-kata bagus, Bu."Selir Hui: "BAGUS APANYA?! INI KOSON