LOGIN"Dia telah pergi. Tapi... Aku harus bagaimana sekarang?"Pangeran Wang Dong merosot kembali ke tanah berbatu yang dingin, napasnya memburu menahan rasa sakit sekaligus keputusasaan yang perlahan mulai merayap di dadanya. Ia menatap pintu kayu tebal itu dengan tatapan tajam namun penuh kegelisahan. Rantai besi di pergelangan tangan dan kakinya terasa begitu berat dan tak mungkin diputus hanya dengan tenaga yang tersisa di tubuhnya yang lemah. Namun di tengah kegelapan yang menyelimuti gudang itu, secercah harapan perlahan muncul kembali di benaknya. Jika ada orang yang telah mengikuti rombongan ini sejauh ini seperti yang dicurigai Tuan Tang tadi... mungkin saja orang itu masih berada di dekat sini. Mungkin saja pengintai Kerajaan Langit itu masih mengawasi dari balik tebing atau pepohonan gelap di sekitar perkemahan. "Ya, aku ingat. Saat itu ada kepanikan dari mereka, jika ada bayangan yang mencintai mereka hingga sampai tempat ini. Tandanya ada yang tahu aku disekap disini. Semoga di
Pangeran Wang Dong membelalakkan matanya dan menutup erat mulutnya sendiri dengan satu tangannya, karena hampir saja memekik di dalam bilik tersebut. Nama itu melesak tajam di benak Pangeran Wang Dong bagai sebilah belati yang menusuk jantungnya seketika. " Tidak pernah aku sangka, Paman Pong benar-benar sudah merencanakan hal ini sejak awal, mulai sepuluh tahun lalu. Tuan Tang. Juru Sekretaris Kerajaan Langit. Pria yang selalu tampak sopan, rendah hati, dan tak pernah menonjolkan diri di hadapan siapa pun. Pria yang memegang segala catatan penting, membaca segala surat masuk dan keluar, mengetahui segala jadwal serta rahasia istana yang paling tersembunyi. Ini benar-benar gila!" pekik Pangeran Wang Dong dalam hatinya. Pangeran Wang Dong meringis menahan sakit di rusuknya sambil menyandarkan kepalanya ke batang kayu kasar di belakang punggungnya. Matanya terpejam erat, namun pikirannya berputar kencang bagai kincir yang tak henti berputar. "Tak heran setiap langkah Kerajaan Lan
Malam semakin larut saat rombongan akhirnya tiba di perkemahan rahasia Kerajaan Angin yang tersembunyi di balik tebing curam. Kereta tertutup kain tebal itu dipandu masuk ke halaman belakang sebuah bangunan batu yang kokoh dan suram. Di sana, di bawah cahaya obor yang menyala kemerah-merahan, berdiri sesosok pria berusia lanjut namun bertubuh tegap. Wajahnya penuh kerutan tajam, matanya menyala dingin bagai es abadi. Dialah Perdana Menteri Pong, adik kandung dari Ibu Suri Rong Yue sekaligus dalang segala kejahatan yang selama ini mengancam Kerajaan Langit.Pintu kereta dibuka paksa. Dua orang pengawal menarik Pangeran Wang Dong turun dengan kasar hingga kakinya terhantam tanah berbatu. Wang Dong tersentak kesakitan namun ia tetap mengangkat kepalanya, menatap tajam ke arah pria yang berdiri tenang di hadapannya itu. Wajahnya pucat dan tubuhnya masih terasa lemas akibat obat penenang, namun kemarahannya membara begitu hebat hingga menutupi segala rasa sakit yang mendera."Paman..." Wa
KRASAKKK! KRASAKKK! Terdengar bunyi gemerisik dedaunan dan semak belukar yang diinjak seseorang. Pengawal terdekat langsung meloncat ke rimbunan semak belukar dan dedaunan itu, dengan kecepatan luar biasa, pedang pendek berkilat di tangannya menebas dedaunan yang menghalangi jalan. Anak buahnya segera berlarian menyusul, membentangkan barisan pencarian sambil membelah kegelapan dengan obor yang baru saja dinyalakan. Namun di balik rimbunnya pepohonan tua itu, tak ada siapa pun yang tertangkap. Yang tersisa hanyalah tanah yang terinjak dan jejak langkah yang tampak tergesa namun tetap ringan.Kepala mata-mata itu berjongkok menatap jejak di tanah lembap, keningnya berkerut makin dalam. Jejak itu jelas milik seseorang yang berjalan sendirian namun langkahnya terlatih dan tak berisik. Seseorang yang mengikuti mereka dari jarak jauh tanpa diketahui sejak lama."Ada yang mengawasi kita di sepanjang perjalanan ini." Ia berdiri perlahan, matanya menyapu sekeliling dengan tatapan penuh kec
"Ayo, kalian cepat sedikit. Perkemahan kita sudah dekat. Jangan biarkan ada yang menghalangi perjalanan kita ini. Kalian perketat pengamanan!"Roda kereta itu berputar pelan di atas tanah berbatu, sesekali berbunyi nyaring memecah keheningan malam namun suara itu segera tertelan angin yang menderu kencang di sela-sela bukit batu.Pria yang memimpin rombongan itu sesekali menoleh ke belakang, matanya menatap tajam ke arah hutan gelap yang mengelilingi jalan setapak itu. Wajahnya tertutup bayangan topi lebar, namun senyum licik tak lepas dari bibirnya. Dialah kepala mata-mata yang selama ini dicari namun tak pernah tertemukan. Di dalam kereta itulah Pangeran Sulung Wang Dong terbaring lemah, masih tak sadarkan diri akibat obat penenang yang terus diberikan kepadanya agar tak berteriak dan tak menarik perhatian siapa pun.Di dalam kereta, Wang Dong terbaring diam dengan mata tertutup kain perban tipis. Kesadarannya perlahan mulai kembali namun tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Ia menden
Malam itu juga, burung merpati pembawa pesan dilepaskan terbang menembus kegelapan menuju perbatasan utara. Raja Wang Ming berdiri di menara pengawas istana menatap burung itu yang semakin mengecil lalu lenyap di antara bintang-bintang. Di sampingnya berdiri Li Jing, jubahnya berkibar diterpa angin malam yang terasa makin dingin dan menusuk tulang."Pesan itu akan sampai ke tangan ayah mertua dan Kakak iparku dalam tiga hari." Raja Wang Ming berbicara pelan namun penuh kesungguhan. "Aku memerintahkan Jenderal Lie Kwang dan Panglima Perang Lie Hyun untuk segera memindahkan sebagian pasukan terpercaya secara diam-diam menuju Jalur Selatan. Mereka harus memperkuat pertahanan di sana tanpa menarik perhatian musuh. Kita ingin Perdana Menteri Pong berpikir bahwa jalur itu masih lemah dan terbuka lebar."Li Jing melipat kedua tangannya di dada, menatap jauh ke arah selatan di mana pegunungan tinggi berdiri menjulang memisahkan Kerajaan Langit dari wilayah Kerajaan Angin."Komandan Gun juga
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,
“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron







