登入Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan.
Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah karena sudah mempersiapkan acara ini,” sahut Mei Ling yang sudah merasa di atas angin. Di meja sebelah, Pangeran Wang Dong memperhatikan dengan senyum tipis yang segera dia sembunyikan. “Oh, biarkan Permaisuri istirahat. Antar saja untuk istirahat dulu,” jawab Ibu Suri Rong Yue yang diikuti pandangan mata Raja Wang Ming. “Antarkan Permaisuri istirahat!” perintah Wang Ming pada Xiao Xing. Mei Ling maju dan memberikan hormat. “Yang Mulia, mohon izin, Hamba akan mengantarkan Yang Mulia Permaisuri untuk istirahat.” “Baiklah. Selir Mei Ling memang sangat perhatian,” jawab Wang Ming sambil tersenyum pada Mei Ling. Interaksi itu diamati oleh Pangeran Wang Dong dan Menteri Keuangan Bong An. Hingga ketiga orang itu berlalu keluar dari ruangan. Di luar, Xiao Xing segera memapah majikannya dengan hati-hati. Tapi ditepis oleh pelayan Mei Ling. “Biar aku saja yang antar, kau di belakang saja!” Perintah Mei Ling pada Xiao Xing sambil melepaskan tangan Xiao Xing dari lengan Li Jing. “Kau ambilkan Permaisuri baju ganti dan air hangat saja sana!” lanjut Mei Ling pada Xiao Xing. Dengan terpaksa, Xiao Xing mengangguk dan pergi seperti yang diperintahkan oleh Mei Ling. Tiba di sisi Utara Istana Naga, ada sebuah Paviliun terbengkalai yang jarang didatangi oleh penghuni istana. Mei Ling mengantar Li Jing ke sana. Di ruangan itu, ternyata sudah sedikit dirapikan. Ada dupa yang juga sudah mengepul dan membuat ruangan itu penuh asap dan wewangian yang memabukkan. Li Jing ditidurkan di ranjang yang ada di ruangan tersebut. “Silakan menikmati keindahan yang tidak akan pernah kau lupakan, Li Jing. Kau kira kau akan bisa duduk di kursi Permaisuri selamanya? Mimpi! Karena aku akan segera menggantikan posisimu. Hahaha,” gumam Mei Ling. Tepat saat itu, Li Jing bangun dan dengan gerakan secepat kilat, dia memukul tengkuk Mei Ling. Mei Ling pun langsung pingsan. Li Jing menidurkan Mei Ling di ranjang itu menggantikan dirinya. Dan segera keluar dari ruangan itu. Li Jing pun memasang kunci di pintu ruangan tadi. Xiao Xing yang datang membawa air hangat dan mendekati Li Jing. Diseretnya Xiao Xing oleh Li Jing untuk menjauh dari ruangan tadi. “Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?” “Tidak apa-apa. Kita menjauh dari sini.” Di dalam kamar itu, ternyata sudah ada beberapa laki-laki yang sembunyi di ruangan tersebut. Dan mereka akhirnya melakukan hubungan intim dengan Mei Ling yang sudah pingsan. Mereka semua di sana, tidak sadar karena dupa perangsang yang dinyalakan di ruangan tersebut begitu pekat. Sehingga efeknya juga sangat kuat. Di aula utama, seorang pelayan lari tergopoh-gopoh dan tersungkur di depan singgasana. “Lapor, Yang Mulia!” “Ada apa?” seru Wang Ming. “Kami mendengar di Paviliun sebelah barat ada orang-orang yang lagi berbuat mesum di siang hari, Yang Mulia. Dan kata salah seorang pelayan, itu… tempat…” “Tempat apa?” bentak Wang Ming. “Tempat Permaisuri tadi istirahat, Yang Mulia.” Jawab pelayan tadi sambil tersungkur. Wang Ming langsung berdiri begitu juga Ibu Suri Rong Yue. “Apa? Permaisuri ada di sana?” tanya Ibu Suri dengan suara keras. “Benar, Yang Mulia Ibu Suri.” “Raja, mari kita lihat bersama. Apa yang Permaisuri lakukan saat istirahat,” ajak Rong Yue pada Wang Ming. Dengan langkah tergesa, Raja Wang Ming dan Ibu Suri Rong Yue melangkah keluar diikuti oleh semua para menteri dan Pangeran Wang Dong. Tiba di ruangan yang telah ditunjukkan, Raja Wang Ming sayup-sayup mendengar suara desahan laki-laki dan wanita. “Dobrak pintunya!” perintah Raja Wang Ming. Saat tiba di dalam ruangan, mata Wang Ming dan semua yang datang melihat ke dalam ruangan tersebut membelalak. “Selir Mei Ling! Apa yang kalian lakukan di siang hari hah!” bentak Raja Wang Ming dan Ibu Suri Rong Yue. Mei Ling setengah sadar karena efek dari dupa perangsang tadi. Mei Ling membuka mata dan melihat orang-orang yang semula disewa untuk melecehkan Li Jing justru menggauli dirinya. “Agh! Kenapa? Kenapa jadi aku? Agh! Lepaskan aku!” histeris Mei Ling langsung bangun dan tersungkur di kaki Raja Wang Ming dan Ibu Suri Rong Yue. “Ampun, ampuni, Hamba. Pasti Hamba dijebak!” jelas Mei Ling. Tidak lama, Li Jing dan Xiao Xing datang. “Selir Mei Ling, apa yang kalian lakukan? Apakah kalian tidak menghormati Raja Wang Ming dan para tamu undangan yang datang?” “Kau! Kau telah jebak aku, Li Jing!” teriak Mei Ling. “Diam!” bentak Wang Ming dan langsung menampar mulut Mei Ling. “Ampun, Ampun Yang Mulia. Hamba dijebak! Ampun.” “Kau sungguh-sungguh tidak tahu malu Selir Mei Ling. Mau ditaruh mana wajah Raja Wang Ming di hadapan para tamu undangan, hah!” bentak Ibu Suri Rong Yue. “Wanita memalukan!” bisik-bisik para tamu undangan. “Yang Mulia. Kami sungguh tidak menyangka. Selir Utama Kerajaan Langit berani selingkuh di siang hari,” cibir salah satu tamu undangan dari wilayah Timur. Wang Ming yang sudah kehilangan muka langsung pergi begitu saja. Pangeran Wang Dong yang memperhatikan dari jauh hanya bisa mencibir marah. "Bodoh! Begitu saja tidak becus! Sungguh bodoh!" makinya gusar.Desahan menuju puncak kenikmatan menjadi melodi malam itu bagi dua insan yang terjerat dalam asmara terlarang di istana barat Kerajaan Langit. Di tempat lain, Li Jing duduk dengan menatap langit yang tiba-tiba gelap tanpa bulan. Gelang Giok Bulan di tangannya kini berubah warna menjadi merah dan terasa panas di kulitnya yang halus putih seperti pualam. Li Jing terkejut dengan perubahan dari gelang warisan ibunya itu. "Ada apa ini, tidak biasanya gelang ini berubah warna dan terasa menyengat di kulit tanganku." "Xing, ambilkan air es cepat!" "Ya, Yang Mulia." "Ini, Yang Mulia." "Tambahkan lagi es batunya, tanganku makin panas, Xing." "Astaga, Yang Mulia, ini tangan Yang Mulia mengapa bisa semerah ini, seperti daging matang?" pekik Xiao Xing melihat tangan mulus Li Jing mulai kemerahan melepuh. "Aku tidak tahu, tiba-tiba gelang ibuku ini berubah warna menjadi warna merah seperti bara api dan terasa sangat panas." "Apakah itu sebuah pertanda bahaya?" gumam Xiao X
Li Jing yang mendengar kata-kata Mei Ling membuat dia emosi. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Lalu dengan sikap netral kembali dia tersenyum tipis pada Mei Ling. "Selir Mei Ling, tidak usah buru-buru untuk duduk disebelah Raja. Ada tugas yang membuatmu makin dikenal seluruh wilayah yang ada di bawah Kerajaan Langit. Kau pasti akan mendapatkan banyak pujian." "Oh, apakah ada tugas bagi Hamba juga, Ratu?" tanya Mei Ling dengan menekan kata 'Ratu' sebagai ejekan pada Li Jing. "Bukankah Selir Mei Ling suka sekali kesenian? Di dalam acara penyambutan tamu itu akan ada pertunjukan khusus untuk Selir Mei Ling dan para putri bangsawan untuk menampilkan kesenian yang mereka bisa. Aku dengar Selir Mei rela tidak tidur, hanya untuk melatih tarian dan musik yang akan dimainkan dan ditunjukkan di acara besok?" "Oh, tajam juga pendengaran Ratu, bahkan hamba saja belum mengatakan pada Anda. Tapi Anda sudah mengetahui semua, Ratu Li Jing." "Setiap acara harus didaftarkan di departeme
Keesokan harinya, Li jing bersiap akan mengumpulkan haram untuk dia atur saat acara besar yang di gelar di Kerajaan Langit esok hari. Li jing kumpulkan semua untuk dia atur supaya tidak ada kesalahan yang terjadi saat acara dilaksanakan. "Pagi ini, aku undang kalian untuk sama-sama bersiap diri di acara Perjamuan Bunga Jade, atau yang kita kenal sebagai acara Persahabatan Tiga tahunan yang mengundang banyak tamu yang mungkin sudah ada yang datang hari ini," jelas Li Jing di depan para harem Istana Langit. Kurang lebih empat orang. "Aku butuh bantuan kalian untuk sama-sama mempersiapkan acara ini dengan baik. Selir Yen dan Selir Kim bisa bantu untuk urusan penataan taman dan kebersihan taman supaya saat para tamu hadir mereka bisa nyaman.""Baik, Yang Mulia Permaisuri," jawab serentak Selor Yen dan Selir Kim yang baru diangkat dua bulan ini. "Selir Xia, kamu adalah selir muda dan cantik yang baru diangkat dua bulan ini juga, kamu bisa bantu untuk menata menu makanan kecil dan teh
Pagi itu di kediaman Ibu Suri Rong Yue.“Bibi Ang, apakah kau sudah tahu kabar Selir Mei Ling di Paviliun Terbengkalai? Apakah dia baik-baik saja?”“Hamba sudah mendapatkan kabar, Yang Mulia. Selir Mei Ling tetap bertahan.”“Bagus, sekarang kita bantu Selir Mei Ling dipulihkan kembali jabatannya. Aku punya rencana baik. Kau beritahu Raja bahwa aku memanggilnya. Suruh yang lain bebaskan Mei Ling dari sana.”“Baik. Yang Mulia.”Tak lama Mei Ling telah dibawa ke hadapan Ibu Suri. “Salam, Yang Mulia Ibu Suri. Hamba menghadap,” salam Mei Ling dengan muka sujud dan tersungkur di kaki Ibu Suri. “ Berdirilah.”“Terima kasih, Yang Mulia.” “Apakah kau sudah mendapatkan obat yang dibeli Pangeran Wang Dong untukmu?” “Sudah, Yang Mulia. Terima kasih sudah mengobati Hamba.”“Itu karena Pangeran Wang Dong mengingat kau banyak membantu dia selama ini. Sekarang gunakan kesempatan yang aku berikan padamu, untuk mengembalikan posisi awalmu di hadapan Raja Wang Ming!” “ Hamba mengerti, Yang Mul
Tiba di Paviliun Mawar Phoniex, mereka berdua dikejutkan dengan kedatangan Wang Ming yang sudah menunggu di ruangan pribadi Li Jing. "Yang Mulia," "Selamat malam Ratuku, apakah sudah merasa lega dan bahagia sudah jalan-jalan keluar istana? Bagaimana keadaan di luar istana, Ratuku?""Ampun Yang Mulia, hamba terlalu terburu-buru untuk keluar melihat-lihat banyak barang yang akan Hamba siapkan untuk acara besar beberapa hari lagi. Ampun, Yang Mulia.""Setidaknya kau bisa meminta pengawalku untuk menjagamu di jalan. Tapi, kau langsung keluar tanpa izin dariku. Apakah kau masih anggap aku ada?" sindir Wang Ming pahit, menusuk ulu hati Li Jing. "Hamba salah, Yang Mulia. Ampuni Hamba," mohon Li Jing yang telah tersungkur di kaki Wang Ming. "Sudahlah! Aku hanya ingin kau selamat dan tidak ada yang ganggu Ratuku. Sekarang layani aku, sebagai hukuman kau harus layani aku sampai pagi malam ini," bisik Wang Ming di telinga Li Jing yang membuat Li Jing merasa mual dan merinding. Xiao Xing ya
Pagi itu di kamar Li Jing, Li Jing nampak menulis sebuah surat. “A Chen!” “Ya, Yang Mulia!” “Berikan surat ini pada ayahku yang ada di perbatasan. Aku sudah cek gudang bahan makanan Mentri Bong An dan Pangeran Wang Dong, semua hanya pasir yang banyak! Sungguh keterlaluan mereka!” “Laksanakan, Yang Mulia.” Sisa angin dari kelebatan bayangan A Chen sempat membuat merinding. Gerakan itu sungguh cepat dan lincah. “Xiao Xing, aku harus cek kediaman Jendral hari ini. Aku mau tahu adalah sesuatu yang salah disana!” ucap Li Jing sambil menerawang langit cerah pagi itu. “Baik, Yang Mulia. Akan hamba siapkan.” Xiao Xing pun berkemas dan Li Jing bersiap. Perjalanan satu jam, Li Jing tiba di kediamannya. “Yang Mulia, Anda datang?” “Ya, apakah kamar Jendral sudah disiapkan?” “Sudah kami bersihkan Yang Mulia,” jawab serentak para pelayan yang menyambut Li Jing. “Xiao Xing, aku akan cek ruang kerja Jendral dulu.” “Hamba antarkan, Yang Mulia.” “Baiklah, kau be







