Home / Fantasi / TAKDIR KEDUA SANG RATU / Bab 3 Racun di Cawan Anggur

Share

Bab 3 Racun di Cawan Anggur

Author: Purplelove77
last update publish date: 2026-06-02 13:17:24

Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.

“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,”  ucap Xiao Xing pada Li Jing. 

“Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?”  Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya.  Matanya yang berwarna ungu amethist-nya, benar-benar memikat siapa saja yang menatapnya. 

“Tidak ada, Yang Mulia. Hamba hati-hati saat keluar tadi.” 

“Apakah semua persiapan pesta Raja Wang Ming sudah beres?” 

“Sudah, Yang Mulia. Para pelayan  tadi sudah mengkonfirmasi jika semua sudah sesuai dengan rencana.”

“Awasi dapur utama kerajaan mulai hari ini dan besok. Tidak ada kesalahan sama sekali.”

“Baik, Yang Mulia. Hamba akan sampaikan  pada mereka lagi.”

“Aku lelah,  antar aku berjalan-jalan di taman untuk menghirup udara sejenak,” ajak Li Jing pada pelayan setianya itu. 

Di taman yang ada di depan Paviliun Mawar Phoniex tempat Li Jing tinggal, dia melihat ada seorang pelayan yang berlari cepat menyelinap ke jalan sepi di sisi Paviliun. 

“A Chen, A Xiong!”

Dua bayangan hitam berkelebat cepat menemui Li Jing. 

“Siap, Yang Mulia!” ucap dua laki-laki berseragam pengawal rahasia, berjubah hitam dan memakai topeng yang menutup hidung dan mulut mereka, datang menghadap Li Jing. 

“Ikuti dia! Laporkan hasilnya padaku secepatnya,” perintah Li Jing pada dua pengawal bayangan yang dulu diberikan  oleh Papa Li Jing saat dia masuk ke istana pertama kali. 

“Baik, Yang Mulia,” jawab cepat keduanya serentak. 

Sambil berkelebat pergi secepat hembusan angin dan tanpa jejak. Pasukan bayangan milik keluarga Jenderal Lie Hyun—ayah Li Jing memang sudah sangat terlatih. 

Li Jing berdiri di sebuah pohon plum yang teduh. Memperhatikan dari kejauhan beberapa aktivitas yang dilakukan para pelayan. Mengawasi dengan mata elangnya. 

“Temukan informasi ke Paviliun Anggrek, aku menunggu di sini!” perintah Li Jing pada Xiao Xing pelayan setianya. 

Beberapa saat, Xiao Xing datang tergopoh. 

“Yang Mulia, pagi tadi, Selir Utama Mei Ling kembali mendatangi kediaman Ibu Suri Rong Yue. Di sana, sudah ada Pangeran Wang Dong dan Menteri Keuangan Bong An.” 

“Dugaan aku selama ini benar. Ada sesuatu yang mereka rahasiakan dan rencanakan.” Gumam lirih Li Jing. 

“Xing, cepat kau ke jalan rahasia suruh orang mengikuti pergerakan menteri keuangan Bong An dan Pangeran Wang Dong.” perintah Li Jing pada Xiao Xing yang langsung dilakukan oleh pelayan setia itu. 

Li Jing kembali duduk di bawah pohon plum di taman bunga Paviliun tempat tinggalnya. Dia menunggu sambil menyulam sebuah kantong kecil dengan sulaman indah bergambar Phoniex terbang. 

Li Jing memasukkan guci kecil berwarna biru pemberian ilusi Tabib Ren Hao saat dia akan regresi lalu. Li Jing menyembunyikan kantung isi guci itu di balik lengan jubahnya. 

“Aku pastikan semua rencana Mei Ling besok, akan aku gagalkan,” tekad Li Jing dalam hatinya. 

Sore menjelang saat Xiao Xing kembali ke Li Jing. 

“Yang Mulia, mereka tidak ada pergerakan apapun. Cuma pelayan Selir Utama Mei Ling saja yang keluar melewati jalan rahasia di ujung istana itu untuk keluar ke sebuah rumah hiburan Nirwana. Dan di sana lama sekali,” jelas Xiao Xing. 

Wajah Li Jing membeku. Ekspresi dingin menghiasi wajah ayunya itu. Tatapannya setajam belati yang berkilat. Terulas senyum tipis di sudut bibir merahnya yang mungil. 

Xiao Xing tiba-tiba bergidik. Selama dia melayani Li Jing, baru kali ini dia sangat merasakan adanya perbedaan yang mencolok.  Dia seakan tidak mengenal majikannya lagi, sejak majikannya sadar dari pingsannya beberapa saat lalu. 

“Xing, ada apa? Mengapa kau pandangi aku seperti itu?” 

Xiao Xing terkesiap dan jadi gelagapan.

“Ampun, Yang Mulia. Hamba tidak berani,”  jawab Xiao Xing sudah tersungkur di kaki Li Jing. 

“Berdirilah. Jangan lagi berpikir hal yang tidak kamu mengerti. Tapi hadapi saja dan lakukan apa yang jadi tugasmu.” 

“Mulai sekarang, aku berjanji padamu. Tidak akan pernah ada lagi yang berani menindasmu,” ucap tulus Li Jing. 

Terkenang dalam ingatannya, bayangan Xiao Xing yang akhirnya dilecehkan juga dan mati mengenaskan di depan matanya karena membela Li Jing di kehidupan lalu.

“Terima kasih, Yang Mulia. Hamba juga akan mengabdikan diri hamba seumur hidup hamba pada Yang Mulia.”

*****

Hari itu, Istana Langit sangat ramai dan sibuk. Terlihat kesibukan para pelayan mendekorasi aula utama dan menyiapkan  beberapa meja besar di taman depan aula utama. 

Di kediaman Ibu Suri Rong Yue, terlihat beliau sedang bersiap memakai  jubah kebesaran untuk menghadiri acara pesta ulang tahun Raja Wang Ming yang akan segera dilaksanakan. 

“Bibi An, apakah kau sudah mengutus orang untuk mengamankan pesta hari ini sesuai dengan rencana Menteri Bong An dan Pangeran Wang Dong?” 

“Sudah, Yang Mulia Ibu Suri.” 

“Baiklah, mari kita menemui para tamu undangan di aula utama. Sambil menunggu acara dimulai.” 

“Mari, Yang Mulia.”

Beberapa saat kemudian, terdengar Kasim Liang mengumumkan kedatangan Kaisar.

Kaisar datang. 

Semua yang hadir di aula utama berdiri dan bersujud memberikan penghormatan pada Wang Ming. 

“Selamat Ulang Tahun, Yang Mulia. Semoga sehat selalu dan bahagia  serta panjang umur selamanya,” salam semua tamu undangan serentak di aula utama. 

“Berdiri. Selamat datang para tamu undangan. Kami sangat bahagia bisa mengundang kalian ke pesta ulang tahunku,”  jawab Raja Wang Ming menyapa para tamu undangan. 

Li Jing yang duduk di depan singgasana Raja Wang Ming. 

Tak lama seorang pelayan menghampiri meja Li Jing dan menuangkan anggur di cawannya. 

“Yang Mulia Permaisuri, hamba memberikan salam pada Yang Mulia. Mari kita bersulang untuk merayakan ulang tahun Yang Mulia, Raja Wang Ming.”  

Mei Ling yang duduk di sebrang Li Jing sudah mengangkat cawan yang sudah penuh anggur. 

“Terima kasih, Selir Utama Mei Ling. Anda sangat perhatian,” jawab Li Jing cepat sambil mengangkat cawan di mejanya. 

Mei Ling tersenyum menang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 68 Bukti Yang Diamankan Lie Kwang

    Bibi Gu lari di antara deru anak panah yang malah ambil kesempatan untuk mengenai sasaran acak orang-orang Kerajaan Langit. Dari kejauhan mata elang Raja Wang Ming melihat seseorang yang mencurigakan belari mengendap-endap itu langsung memerintahkan salah pengawal khususnya untuk mengikuti sosok yang mencurigakan tersebut. Selang beberapa lama kemudian, serangan itu benar-benar lumpuh, tak ada lagi yang tersisa. Lie Kwang menarik sebuah surat dan sebuah token di dada pemimpin pembunuh Raja itu. Matanya yang gelap membola penuh. Rahangnya mengeras, jarinya mengepal kuat. "Papa, lihat bukankah ini adalah tulisan dan token yang sama dengan yang kita temukan di jalan saat kita akan pulang ke ibu kota? Mereka benar-benar sudah putus asa, mereka sangat gusar rasanya Pa sama kedatangan kita." "Hmm, sembunyikan dulu. Jangan sampai buat kegaduhan yang tak perlu dan membahayakan di sini. Nanti saat kita tiba di rumah baru kita bahas lebih lanjut. Jaga adikmu. Kau juga hati-hati, mereka sed

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 67 Pertolongan Jenderal Lie Hyun

    Li Jing langsung menangkis semua serangan anak panah yang melesat bertubi-tubi. Tak lama pasukan Kerajaan Langit memberikan perlawanan sengit. Para pembunuh bayaran mengepung kuil kuno tersebut. Ini benar-benar makar! "Kakak, kau akan mati hari ini!" desis Mei Ling. Tapi sikap Mei Ling yang pura-pura lemah dan ketakutan itu malah membuat Raja Wang Ming semakin yakin semua ada hubungannya dengan Mei Ling namun tidak ada bukti yang bisa langsung hukum mereka. Lagi dan lagi mereka kekurangan bukti. Pasukan kerajaan berusaha melindungi Wang Ming dan Li Jing serta Ibu Suri. Mei Ling tidak terlihat lagi di sekitar sana. Mata Amethyst Li Jing menangkap bayangan yang mencurigakan di belakang mereka. "Oh, mau main belakang? Oke aku ladeni!" dengus Li Jing semakin gusar. Dengan satu hentakan kaki Li Jing dan Xiao Xing melenting ke atas dan siap menyerang balik para penyerang licik yang mau ambil kesempatan. Xiao Xing selalu waspada dan mengikuti isyarat Li Jing. Mereka berdua kembal

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 66 Kuil Kuno Kerajaan Langit

    "Akan Jing'er waspadai Pa. Terima kasih Papa dan kakak masih selalu perhatian sama Jing'er." Tak terasa mereka sudah hampir tiba di depan sebuah kuil kuni yang dipercayai oleh keluarga kerajaannya Langit itu adalah kuil keberuntungan yang selalu memegang kedamaian dan keamanan Kerajaan Langit, konon Raja-raja terdahulu selalu datang kesana dan memohon berkah serta perlindungan. Rombongan besar itu pun mulai mencari tempat aman masing-masing untuk mengistirahatkan kuda-kuda mereka. Semua anggota Kerajaan pun satu per satu masuk berdoa dan membakar hio atau dupa. Li Jing masuk yang paling terakhir karena memang kereta miliknya ada di rombongan paling belakang. Tiba di ruang sembayang. Teguran yang tak terduga datang dari Ibu Suri. "Ratu, bagaimana Ratu akan memimpin negeri ini di sisi Raja jika Ratu saja tidak bisa datang lebih awal?" sindir Ibu Suri ke Li Jing. Wang Ming yang selesai berdoa dan menaruh hio atau dupa itu ke tempat yang disediakan, langsung menoleh ke arah Li Jing

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 65 Penolong Budiman Yang Misterius

    Trang! Takkk! Anak panah itu langsung jatuh ke tanah saat sebuah anak panah lain mendorongnya jatuh. Semua orang menahan nafas. Raja Wang Ming terpejam pasrah. Kasim Liang langsung berlutut dan semua pengawalnya langsung tersungkur. "Hampir saja, hampir saja kepala kita lepas dari tubuh kita karena gagal menyelamatkan Raja," seru beberapa pengawal tetap dalam sikap tersungkur di depan kaki Wang Ming. Setelah beberapa saat tidak merasakan sakit di dada kirinya, Raja Wang Ming pun perlahan membuka mata dan melihat semua orang sudah tersungkur di kakinya. Anak panah yang melesat tadi pun pecah tertancap anak panah lain yang lebih tajam dan pendek. Raja Wang Ming memungut anak panah tersebut, diperhatikan dengan saksama dan kembali hatinya menyimpulkan," Senjata yang sama yang telah menyelamatkan aku di Hutan Kabut Terlarang. Siapa sebenarnya yang diam - diam menjaga nyawa Raja ini, penolong Budiman, kapan Raja ini bisa menemukanmu. Kau pasti orang yang sangat hebat dan teliti. Anak

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 64 Serangan Dari Dua Sisi

    Tampak di depan sana Kereta Raja Wang Ming yang megah bersiap untuk berangkat. Karena kuatir terlalu siang mereka pun segera meninggalkan gerbang Kerajaan Langit. Iring-iringan megah Kerajaan Langit itu menyita perhatian para penduduk di ibu kota. Mereka yang sibuk berdagang dan belanja atau pun sedang di jalan dan di kedai langsung memberikan hormat dan tersungkur di pinggir jalan. Raja Wang Ming duduk di dalam keretanya dengan jendela yang terbuka, sehingga banyak orang tahu ketampanan Raja mereka dan kegagahannya. Rakyat yang memberi hormat sedikit bisik-bisik setelah sadar ada yang salah dalam urutan kereta yang berjalan di jalan ibu kota. Mata mereka akhirnya menatap sembunyi-sembunyi ke arah kereta yang paling belakang jendela itu tertutup rapat, namun banyaknya pasukan yang mengiring di belakang kereta itu, rakyat sadar itu adalah kereta Ratu mereka, beberapa orang langsung menitipkan beberapa kue-kue dan bakpao serta roti mantao kepada para pelayan Li Jing. Pemandangan yan

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 63 Iring-iringan Yang Telah Diatur

    Ufuk Timur masih gelap saat Li Jing dan keluarganya berkemas. Xiao Xing dan pelayan lainnya terlihat sangat sibuk mengangkut barang yang akan di bawa majikan mereka. "Jing'er, kau sudah bersiap? Papa baru bangun. Tapi mendengar para pelayan sibuk mondar mandir Papa kira kita sudah kesiangan untuk berangkat?" sapa Jenderal Lie Hyun. Pria tegap walaupun sudah hampir kepala enam usianya, namun semangat yang membara di dadanya membuat Beliau terlihat masih kuat dan sehat. "Papa, maafkan jika Jing'er buat Papa terbangun. Jing'er kebiasaan mengemas barang dini hari sebelum menempuh perjalanan jauh. Kita sampai disana kira- kira tiga hari tiga malam baru sampai. Ini membuat Jing 'er tidak mau ada yang tertinggal." "Hahaha, putri Papa memang wanita yang sangat teliti. Sama seperti mama kamu. Dia juga wanita yang teliti, sabar dan penyayang. Namun, usianya tidak lama. Maafkan Papa yang selalu meninggalkan mama kamu untuk tugas Kerajaan. Menjaga perbatasan itu tidak ada habisnya. Ini saja ka

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 6 Kecurigaan Raja

    “Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 5 Dekrit Raja

    “Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU   Bab 4 Jebakan Yang Menjadi Bumerang

    Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka

  • TAKDIR KEDUA SANG RATU    Bab 2 Nasib Sang Ratu

    “Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status