LOGIN"Periksa semua cincin penasihat dan pejabat tinggi! Tak ada pengecualian! Dan kunci semua pintu gerbang diganti sekarang juga! Tak ada yang boleh masuk atau keluar istana tanpa diperiksa secara ketat!"Perintah Raja Wang Ming bergema membelah keheningan yang mencekam. Para pejabat yang masih berkumpul saling berpandangan dengan wajah pucat dan mata terbelalak tak percaya. Cincin kehormatan naga melingkar itu tanda kepercayaan tertinggi, hanya diberikan kepada mereka yang telah mengabdi puluhan tahun, yang dianggap setia hingga ke tulang sumsum. Jika salah satu dari mereka adalah pengkhianat, maka tak ada yang aman di dalam istana ini."Yang Mulia!" seru seorang penasihat tua berlutut dengan tangan gemetar. "Hamba bersumpah demi leluhur... hamba tak pernah berkhianat! Periksa cincin hamba sekarang juga!""Aku juga!" seru yang lain serempak. "Periksa kami semua! Biar kebenaran terang benderang!"Raja Wang Ming mengangkat tangan menenangkan mereka, matanya tetap tajam dan tak teralihkan.
"Harap kau pikirkan kembali sebelum Raja ini akan turun tangan sendiri," lanjut Raja Wang Ming pelan namun menggores hati si pengkhianat. Matanya beralih perlahan dari catatan di tangannya ke wajah setiap orang yang berdiri di hadapannya, berhenti tepat pada Pengawal Wu Chen. Pria itu tetap tegak, wajahnya tenang tanpa keraguan sedikit pun, namun napasnya yang tertahan sesaat tak luput dari pandangan Li Jing."Pengawal Wu Chen," panggil Raja Wang Ming pelan namun tajam. "Kau meminjam kunci gerbang samping dua hari lalu atas perintahku. Kapan aku pernah menyuruhmu melakukan hal itu?"Pengawal Wu Chen berlutut tenang, suaranya tetap mantap. "Yang Mulia perintah itu disampaikan lewat pesan tertulis yang dibawa seseorang , dikatakan dari kediaman Ratu. Hamba tak berani bertanya lebih jauh demi keamanan."Li Jing melangkah maju seketika. "Aku tak pernah mengirim pesan apa pun! Siapa yang membawanya?""Seorang pelayan yang tak dikenal wajahnya, menutupi separuh wajah dengan kain penutup k
"Kerahkan semua pasukan pengejar! Tangkap dia hidup‑hidup! Jangan biarkan dia melarikan diri ke Kerajaan Angin!"Perintah Wang Ming bergema membelah malam yang sunyi. Pasukan berkuda segera melesat keluar gerbang, obor berkelap‑kelip bagai bintang yang turun ke bumi, mengejar jejak yang mengarah ke hutan perbatasan. Namun di dalam istana, ketegangan justru makin menekan dan berat. Raja Wang Ming berdiri diam menatap belati berukir lambang Kerajaan Angin yang tergeletak di tanah itu. Tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang perlahan menyakitkan."Dia tak kabur ke sembarang arah," gumamnya pelan, matanya tak lepas dari belati itu. "Dia tahu persis ke mana harus pergi. Dia tahu jalur mana yang tak dijaga."Li Jing berlutut di samping jejak kaki di tanah lembap, menatapnya lekat‑lekat lalu berdiri perlahan dengan wajah serius."Yang Mulia, lihat ukuran dan langkahnya," ucapnya pelan namun tegas. "Langkahnya lebar dan mantap, mirip dengan langkah milik pria dew
"Panggil Tabib Feng segera! Minta dia datang ke sini sekarang juga!" Raja Wang Ming mengulangi perintahnya dengan suara lantang yang bergetar menahan cemas. "Kita harus menyelamatkan suara Kakakku terlebih dahulu!""Hamba segera berangkat Yang Mulia!" Kasim Liang membungkuk tergesa lalu berlari keluar ruangan secepat mungkin meski kakinya gemetar hebat.Li Jing berlutut di samping Pangeran Wang Dong, jemarinya menyentuh pergelangan tangan kakak iparnya yang terasa lemah namun nadinya masih teratur. Ia memeriksa mulut dan tenggorokan pria itu dengan teliti, lalu menatap wajahnya yang tampak frustrasi sekaligus sedih karena tak mampu mengeluarkan suara sedikit pun."Jangan khawatir Pangeran," ucap Li Jing lembut namun tegas, matanya menatap lekat ke mata pria itu menenangkan. "Racun ini belum merusak pita suaramu sepenuhnya. Kita datang terlambat bukan berarti tak ada harapan. Tabib Feng pasti punya penawarnya. Kau harus sabar dan tetap tenang agar racun tak menyebar lebih jauh."Panger
"Panggil Tabib Feng segera! Minta dia datang ke sini sekarang juga!" Raja Wang Ming mengulangi perintahnya dengan suara lantang yang bergetar menahan cemas. "Kita harus menyelamatkan suara Kakakku terlebih dahulu!""Hamba segera berangkat Yang Mulia!" Kasim Liang membungkuk tergesa lalu berlari keluar ruangan secepat mungkin meski kakinya gemetar hebat.Li Jing berlutut di samping Pangeran Wang Dong, jemarinya menyentuh pergelangan tangan kakak iparnya yang terasa lemah namun nadinya masih teratur. Ia memeriksa mulut dan tenggorokan pria itu dengan teliti, lalu menatap wajahnya yang tampak frustrasi sekaligus sedih karena tak mampu mengeluarkan suara sedikit pun."Jangan khawatir Pangeran," ucap Li Jing lembut namun tegas, matanya menatap lekat ke mata pria itu menenangkan. "Racun ini belum merusak pita suaramu sepenuhnya. Kita datang terlambat bukan berarti tak ada harapan. Tabib Feng pasti punya penawarnya. Kau harus sabar dan tetap tenang agar racun tak menyebar lebih jauh."Panger
"Siapa..." Raja Wang Ming mengepal tangannya erat, urat di lehernya menonjol hebat, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus kebingungan yang mendalam. "Siapa lagi yang menjadi mata‑mata di istana ini?"Li Jing melangkah maju perlahan, matanya menatap tajam setiap wajah yang ada di ruangan itu satu per satu. Hening mencekam seketika menyelimuti tempat sidang. Tuan Tang yang sempat tersenyum samar kini menunduk dalam, berusaha menyembunyikan ekspresinya di balik kerendahan hati yang palsu. Tuan Hu di sampingnya diam saja, tak berani menatap siapa pun."Yang Mulia," suara Li Jing jernih namun berat, "racun yang menghilangkan suara tak muncul begitu saja. Ia harus masuk ke tubuh lewat makanan, minuman, atau udara yang dihirup dan ia diberikan saat Pangeran Wang Dong berada di tempat yang dijaga ketat, di dekat Paviliun Naga."Raja Wang Ming berbalik seketika menatap Pengawal Wu Chen. "Siapa yang masuk ke paviliun itu selama dua hari terakhir? Siapa yang menyentuh makanan, minuman, atau
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron







