MasukMei Ling yang di bawah tekanan dua orang berkuasa dalam. sehari merasa sangat pening dan gelisah. Ada rasa jengkel, geram, putus asa, kecewa, amarah, dendam bercampur aduk dalam benaknya. Hingga dia menyusun semua rencana untuk kembali beraksi seperti yang diinginkan oleh Kedua orang berkuasa tersebut. Mei Ling tidak akan menyangka jika hla yang dia susun dengan rapi itu toh akhirnya sampai juga ke telinga Raja Wang Ming. Di dalam kereta megahnya Sang Raja yang meminta istirahat sebentar dalam perjalanan hari itu memicingkan matanya mendengar laporan dari orang kepercayaannya yang berhasil dia susupkan ke sisi orang yang dulu dia sayangi dan selalu dia manjakan. Wang Ming mendengar bisikan tersembunyi, bahwa sekelompok pejabat dan pendukung istana lama menyusun cerita palsu, jika Ratu Li Jing meracuni selir terdahulu dan menyihir Raja demi kekuasaan, isu itu ditebarkan di umum hanya karena bertujuan meruntuhkan wibawa Ratu lalu menggerogoti fondasi Kerajaan Langit dari dalam. W
"Ampun, ampun Yang Mulia Pangeran, Selir ini hanya jalankan rencana yang diberitahukan pada Selir ini dari Ibu Suri, Selir imi hanya melaksanakan tugas saja, jangan buat Selir ini takut dan kesakitan karena cekikan di leher Selir ini sakit sekali!" ronta Mei Ling mencoba melarikan dan melepaskan diri dari Pangeran Sulung yang ada di bawah pengaruh alkohol. "Bodoh! Kalian memang bodoh!!! Seandainya serangan itu berhasil, hari ini setelah kita balik ke istana pasti penobatan Pangeran ini langsung di gelar dan diadakan hari itu juga! Tapi kau telah buat semua rencana yang kami susun hancur berantakan! Bahkan semua pasukan bayangan dan para pembunuh bayaran yang di bayar oleh kami, mati di tangan empat orang yang Pangeran ini benci dari awal!!! bentak Wang Dong dengan mata yang sudah melotot dan berwarna semburat merah menahan amarah yang dalam. Brakkkk! Prang!!!! Tubuh Selir Mei Ling sudah terlempar ke udara dan jatuh berdentum begitu saja di lantai kamar sewa tersebut. "Ahh!!! Amp
Iring-iringan itu semakin mendekati tempat makam Raja-raja terdahulu. Namun karena hari sudah menjelang malam, maka mereka pun menyewa rumah penginapan yang terdekat. Raja Wang Ming yang hari itu menyamar dengan Li Jing, memang tidak terlalu mencolok, walaupun harus menginap di rumah penginapan terdekat. Para prajurit berkumpul jadi satu di rumah penginapan yang ada di belakang penginapan utama. Penginapan zaman itu memang biasa terbagi menjadi dua area satu yang biasa dan satu mewah untuk para pejabat dan bangsawan. Walaupun mereka ada dalam satu halaman, tapi berbeda jarak. Jauh di penginapan belakang ada satu kamar yang dipakai untuk beberapa orang berkumpul. Jika mereka berkumpul di halaman utama penginapan dan jaraknya dekat dengan kamar- kamar utama,mereka takut ketahuan, sehingga mereka menyewa satu ruangan besar yang ada di belakang untuk mereka berkumpul. Tempat yang biasa di pakai oleh para saudagar jika bepergian dengan keluarga atau rombongan yang besar. Di ruangan ya
Bibi Gu lari di antara deru anak panah yang malah ambil kesempatan untuk mengenai sasaran acak orang-orang Kerajaan Langit. Dari kejauhan mata elang Raja Wang Ming melihat seseorang yang mencurigakan belari mengendap-endap itu langsung memerintahkan salah pengawal khususnya untuk mengikuti sosok yang mencurigakan tersebut. Selang beberapa lama kemudian, serangan itu benar-benar lumpuh, tak ada lagi yang tersisa. Lie Kwang menarik sebuah surat dan sebuah token di dada pemimpin pembunuh Raja itu. Matanya yang gelap membola penuh. Rahangnya mengeras, jarinya mengepal kuat. "Papa, lihat bukankah ini adalah tulisan dan token yang sama dengan yang kita temukan di jalan saat kita akan pulang ke ibu kota? Mereka benar-benar sudah putus asa, mereka sangat gusar rasanya Pa sama kedatangan kita." "Hmm, sembunyikan dulu. Jangan sampai buat kegaduhan yang tak perlu dan membahayakan di sini. Nanti saat kita tiba di rumah baru kita bahas lebih lanjut. Jaga adikmu. Kau juga hati-hati, mereka sed
Li Jing langsung menangkis semua serangan anak panah yang melesat bertubi-tubi. Tak lama pasukan Kerajaan Langit memberikan perlawanan sengit. Para pembunuh bayaran mengepung kuil kuno tersebut. Ini benar-benar makar! "Kakak, kau akan mati hari ini!" desis Mei Ling. Tapi sikap Mei Ling yang pura-pura lemah dan ketakutan itu malah membuat Raja Wang Ming semakin yakin semua ada hubungannya dengan Mei Ling namun tidak ada bukti yang bisa langsung hukum mereka. Lagi dan lagi mereka kekurangan bukti. Pasukan kerajaan berusaha melindungi Wang Ming dan Li Jing serta Ibu Suri. Mei Ling tidak terlihat lagi di sekitar sana. Mata Amethyst Li Jing menangkap bayangan yang mencurigakan di belakang mereka. "Oh, mau main belakang? Oke aku ladeni!" dengus Li Jing semakin gusar. Dengan satu hentakan kaki Li Jing dan Xiao Xing melenting ke atas dan siap menyerang balik para penyerang licik yang mau ambil kesempatan. Xiao Xing selalu waspada dan mengikuti isyarat Li Jing. Mereka berdua kembal
"Akan Jing'er waspadai Pa. Terima kasih Papa dan kakak masih selalu perhatian sama Jing'er." Tak terasa mereka sudah hampir tiba di depan sebuah kuil kuni yang dipercayai oleh keluarga kerajaannya Langit itu adalah kuil keberuntungan yang selalu memegang kedamaian dan keamanan Kerajaan Langit, konon Raja-raja terdahulu selalu datang kesana dan memohon berkah serta perlindungan. Rombongan besar itu pun mulai mencari tempat aman masing-masing untuk mengistirahatkan kuda-kuda mereka. Semua anggota Kerajaan pun satu per satu masuk berdoa dan membakar hio atau dupa. Li Jing masuk yang paling terakhir karena memang kereta miliknya ada di rombongan paling belakang. Tiba di ruang sembayang. Teguran yang tak terduga datang dari Ibu Suri. "Ratu, bagaimana Ratu akan memimpin negeri ini di sisi Raja jika Ratu saja tidak bisa datang lebih awal?" sindir Ibu Suri ke Li Jing. Wang Ming yang selesai berdoa dan menaruh hio atau dupa itu ke tempat yang disediakan, langsung menoleh ke arah Li Jing
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
“Aaarrggghhh! Mei Ling, aku ini Permaisuri Kerajaan Langit. Berani-beraninya kau mencambukku seperti ini. Apa kau tidak takut langit menghukummu?” Ctaaarrr! Ctaaarrr! Suara tongkat cambuk besar memekakkan gendang telinga semua orang di halaman depan Paviliun Terbengkalai. Mei Ling mengejek Li Ji
Keramaian di tengah pesta ulang tahun Raja Wang Ming di Kerajaan Langit begitu menyita perhatian banyak tamu undangan. Namun kegaduhan terjadi saat itu. "Lapor, Baginda Raja!" seru seorang pelayan yang lari tergopoh-gopoh dan langsung tersungkur di depan tahta Raja. "Ada apa?" tanya Ibu Suri Ron







