Se connecterPelayan itu jatuh berlutut, suaranya gemetar. "Baginda. Berita dari istana. Para pejabat utama telah menyatakan bahwa Ratu telah menghilang tanpa izin dan bahwa Baginda telah jatuh ke dalam perangkap. Mereka sudah mengangkat Pangeran Sulung sebagai penguasa sementara."Wang Ming mengeratkan genggamannya pada tangan Li Jing hingga nyeri terasa, tapi tidak ada yang melepaskan diri. Ia menoleh ke arah Li Jing, senyum tipis namun penuh keteguhan muncul di bibirnya."Mereka pikir mereka sudah memenangkan permainan ini," ucap Wang Ming, matanya menyala dengan tekad yang baru. "Tapi mereka belum tahu bahwa mereka baru saja membuat musuh yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya."Li Jing menatapnya, dan untuk pertama kalinya bayang-bayang masa lalu yang kelam itu sedikit memudar. "Lalu apa yang akan kita lakukan, suamiku?"Wang Ming mendekatkan bibirnya ke telinga Li Jing, suaranya rendah dan berat, namun penuh janji yang membuat bulu kuduk berdiri."Kita akan kembali ke istana, istriku," bi
Suara benturan pedang berdentang memecah kegelapan makam leluhur. Darah membasahi lantai batu yang dingin. Li Jing bergerak laksana bayangan, setiap ayunan pedangnya tajam dan pasti, menebas siapa saja yang mendekati Raja. Jubah kerajaan yang ia kenakan berkibar di angin malam, wajahnya yang biasanya tertutup ketenangan kini digerangi amarah dan ketegangan.Wang Ming berdiri di tengah kepungan, pedang di tangannya bergetar bukan karena takut, tapi karena pengakuan yang baru saja menghantam hatinya. Ia menatap sosok wanita itu, setiap gerakannya, setiap cara ia memiringkan kepala saat menghindari serangan. Semuanya sama persis. Sosok yang berulang kali menariknya dari tepi kematian di Hutan Kabut Terlarang, di lorong-lorong istana yang gelap, di tempat-tempat yang ia pikir hanya dikunjungi oleh keajaiban atau mimpi."Kau," suara Wang Ming parau, hampir tenggelam di dalam bunyi pertarungan. "Selama ini kau."Li Jing tidak menoleh sepenuhnya, pedangnya menangkis serangan yang ditujukan l
Li Jing segera menyusul rombongan Jenderal Lie Hyuan dan Kakaknya Lie Kwang saat mereka hampir tiba di sebuah jalanan sempit yang mendekati pegunungan. "Papa, Kakak, tunggu!" teriak Li Jing pada keduanya. Membuat kedua laki-laki gagah itu langsung menghentikan kuda mereka dan rombongan. Nafas Li Jing memburu saat tiba di hadapan kedua orang yang dia sayangi. "Pa, kalian dijebak. Kalian nanti akan menemui kumpulan bandit yang sengaja di bayar. Mereka bukan bandit biasa, tapi mereka adalah sekumpulan pembunuh bayaran yang akan menukar bahan makanan yang kalian bawa itu dengan bahan makanan yang busuk dan beracun! kalian harus ambil jalan yang memutar! Jangan lanjutkan perjalanan ini di arah sana Pa." "Jing'er, apakah kau tahu ini berita yang sebenarnya? Apakah ini bukan sebagai jebakan?" Mereka tidak akan berani menyerang rombongan kami secara nyata, pasti mereka akan menipu dengan cara licik!" jelas Jenderal Lie Hyun tegas pada sang putri kesayangannya. "Apa? Jadi mereka punya
Saat Wang Ming termangu di tendanya, Pangeran Dukung masuk menemui Wang Ming. "Salam Yang Mulia," sapa Wang Dong. "Ya, ada apa Kakak sulungku tiba-tiba menemui aku di larut malam begini? Apakah tenda Kakak bermasalah atau tidak nyaman?" "Adik, kakak sulung tahu kau terakhir ini begitu lelah, bolehkah kakakmu ini membantu. Kakak lihat kau terlalu lelah hingga kau abaikan para wanita mu, bagaimana kau istirahat saja biar kakak bantu kau menangani kekacauan ini. Kakak lihat ada beberapa orang datang menyerbu mu lagi." Wang Ming terdiam, ada seulas senyum tipis yang tidak mencapai mata menghias tipis dan sekilas di sudut bibir Wang Ming. "Kakakku memiliki pengamatan yang begitu tajam. Terima kasih, adikmu ini merasa sangat diperhatikan. Sehingga adikmu ini semakin semangat untuk mengurus semua urusan ini hingga tuntas. Masih ada tikus- tikus kecil yang bermimpi menjadi Harimau di sekitar adikmu ini, apakah kakak tahu?" sindir Wang Ming membuat rahang Pangeran Wang Dong mengeras dan k
Saat mereka akan menghadap Raja Wang Ming, seseorang melihat sekelebat bayangan yang lari terburu-buru. Salah satu dari pengawal tersebut langsung menangkap orang yang mencurigakan tersebut. "Kak, kita menangkap saksi yang lain dan sepertinya dia orang yang punya jabatan di istana, lihat saja jubahnya halus dan dari kain upeti terbaik dari wilayah Timur. Wah, jangan - jangan dia bukan saja pejabat biasa tapi juga kata-kata musuh Kak, dia kaki tangan dari wilayah Timur pasti!" "Apakah kau yakin ini jubah terbaik sebagai upeti Wilayah Timur waktu itu?" "Iya Kak, kami sangat yakin, karena waktu itu kami yang mengangkat dan menyimpan di gudang harta Raja Wang Ming," bisik salah satu pengawalnya itu. "Baiklah kalian ikat dulu, aku akan segera panggil Raja Wang Ming kemari," perintah ketua pengawal tersebut, orang yang kini telah menjadi tangan kanan Wang Ming. Raja Wang Ming yang malam itu rencana mau jalan-jalan sekitar kuil di dekat makam Raja-raja terdahulu, mengurungkan
Mei Ling yang di bawah tekanan dua orang berkuasa dalam. sehari merasa sangat pening dan gelisah. Ada rasa jengkel, geram, putus asa, kecewa, amarah, dendam bercampur aduk dalam benaknya. Hingga dia menyusun semua rencana untuk kembali beraksi seperti yang diinginkan oleh Kedua orang berkuasa tersebut. Mei Ling tidak akan menyangka jika hla yang dia susun dengan rapi itu toh akhirnya sampai juga ke telinga Raja Wang Ming. Di dalam kereta megahnya Sang Raja yang meminta istirahat sebentar dalam perjalanan hari itu memicingkan matanya mendengar laporan dari orang kepercayaannya yang berhasil dia susupkan ke sisi orang yang dulu dia sayangi dan selalu dia manjakan. Wang Ming mendengar bisikan tersembunyi, bahwa sekelompok pejabat dan pendukung istana lama menyusun cerita palsu, jika Ratu Li Jing meracuni selir terdahulu dan menyihir Raja demi kekuasaan, isu itu ditebarkan di umum hanya karena bertujuan meruntuhkan wibawa Ratu lalu menggerogoti fondasi Kerajaan Langit dari dalam. W
“Pelayan, ada apa di luar ribut sekali?” Terdengar suara Li Jing dari dalam ruangan kamarnya. “Yang Mulia…” Xiao Xing langsung membuka pintu kamar Li Jing diikuti oleh Raja Wang Ming. “Yang Mulia, Baginda Raja mencari Yang Mulia,” jawab Xiao Xing pada Li Jing dengan tatapan yang sangat lega. “
“Pelayan! Tuliskan titahku!”“Selir Utama Mei Ling tidak tahu sopan santun, mempermalukan Kerajaan Langit, dan telah melakukan perbuatan terhina, dicabut gelarnya menjadi Pelayan Kamar dan dikurung di Paviliun terbengkalai. Selama tidak ada titah dariku, tidak ada yang boleh berkunjung atau pun
Tanpa ragu, Li Jing menegak cawan berisi anggur tadi dihadapan Raja Wang Ming, Ibu Suri dan semua para tamu undangan. Saat duduk kembali, Li Jing pura-pura merasa pusing dan gerah. “Yang Mulia, Anda kenapa?” suara Xiao Xing terdengar panik. “Oh, Yang Mulia Permaisuri, sepertinya terlalu lelah ka
Xiao Xing, kembali dengan langkah cepat.“Yang Mulia, ini penawar racun yang Anda minta,” ucap Xiao Xing pada Li Jing. “Bagus. Apakah ada yang tahu kau membeli penawar racun ini?” Tanya Li Jing sambil memutar guci kecil berwarna hijau muda di tangannya. Matanya yang berwarna ungu amethist-nya,







