Se connecterWaktu terus berjalan hingga dupa itu mulai hampir ke pangkalnya dan habis. "Selesai!" teriak seorang pembawa acara saat itu dengan suara lantang. "Kumpulkan semua hasil yang kalian punya di hadapan para Guru Besar yang telah dipilih secara cermat oleh tim acara.""Aduh, bagaimana ini? Sulaman aku hanya jadi bentuk ikan koi warna merah saja?" gumam Selir Yen yang di dengar oleh Selir Kim. "Selir Yen masih bagus, nah aku, cuma bisa buat sulaman kuda perang yang biasa ditunggangi kakek aku dulu," seru Selir Kim penuh kekecewaan. Li Jing di tempatnya dia duduk memperhatikan kedua Selir Rajanya. Kemudian netranya kembali memperhatikan sikap dan gelagat Mei Ling yang memamerkan hasil sulamannya kepada Raja Wang Ming. Namun, Raja Wang Ming hanya pura-pura tidak melihat saja. Mei Ling yang kembali merasa diabaikan oleh Wang Ming akhir-akhir ini hanya bisa cemberut dan menghentakkan kakinya beberapa kali di tempatnya berdiri. Pangeran Sulung Wang Dong, yang mengambil tempat duduk di dep
"Juara Ketiga adalah sulaman ikan koi merah dari Kerajaan Langit, sulaman dari Selir Yen." Plok! Plok! Plok! "Hebat, dua pemenangnya hari ini dari tuan rumah, padahal bahan mereka ada yang sabotase," bisik-bisik para tamu undangan. Hari itu, Selir Yen dan Selir Kim secara tak langsung telah mempromosikan bagaimana para Selir Kerajaan Langit yang mereka biat taruhan adalah wanita-wanita hebat yang tak mudah dikalahkan dan dipermainkan begitu saja. "Baiklah, kegiatan kita hari ini sampai disini dulu, aku sudah lelah," ucap Wang Ming pada semua tamu undangan. "Baik, Baginda Raja Wang Ming, sehat selalu dan hidup bahagia selamanya," seru semua tamu undangan di tempat itu menghantarkan Wnag Ming yang sudah meninggalkan tempat itu. Li Jing menghampiri Selir Yen dan Selir Kim dengan bangga. "Terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Pelayan berikan hadiahnya!" "Yang Mulia, kami hanya menjalankan apa yang Yang Mulia ajarkan pada kami. Terima kadihbtelah membela kami tadi," ucap
A Xiong langsung meninggalkan tempat itu. Membiarkan si penguping dan mata-mata itu kembali pada Tuannya. "Chin, kau ikuti bayangan itu! Cari tahu siapa yuan mereka dan siapa dalang yang kurang kerjaan itu, laporkan segera padaku!" perintah A Xiong pada tangan kanannya Chin An. Chin An adalah pengikut setia A Xiong sejak muda. Dulu dia pernah diselamatkan A Xiong saat keluarganya dibunuh oleh para pembunuh bayaran yang hingga saat ini juga belum diketahui siapa mereka. Sehingga Chin An mengikuti A Xiong supaya dia bisa menyelidiki juga kasus kematian orang tuanya dulu. Bayangan itu lari sangat cepat. Tapi Chin An tidak menyerah, dia mengimbangi si bayangan tersebut. Di Kediaman Ratu Li Jing, Xiao Xing menyiapkan makan malam untuk Li Jing. "Lapor, Yang Mulia Ratu," A Xiong sudah tiba dan langsung menghadap Li Jing. "Katakan!" "Guru Besar Nim sudah kami amankan. Kami tempatkan di salah satu rumah milik Yang Mulia, sesuai dengan Yang Mulia perintahkan pada Hamba," jawab A Xiong.
A Xiong langsung menghilang dan secepatnya dia menyusul rombongan Guru Besar Nim. Di tengah perjalanan yang ada di perbatasan ibu kota dan mendekati luar gerbang ibu kota. Rombongan Guru Nim yang mendapatkan kabar bahwa putranya akan di hukum mati karena ketahuan memiliki hutang besar dan tidak dapat membayarnya. Putra Guru Besar Nim bisa diselamatkan jika Guru Besar Nim sendiri yang datang menghadap ke hakim di wilayah asalnya. Inilah yang Li Jing ketahui itu adalah jebakan. Saat pengawal rahasia Li Jing yang dari awal di tempatkan Li Jing di dalam rombongan Guru Besar Nim mengkonfirmasi hal itu ternyata keluarga Guru Besar Nim semua baik-baik saja. Putranya juga sedang belajar bersiap mengikuti ujian negara setelah acara Bunga Jade selesai. Tiba di jalanan yang sudah jauh dari ibu kota, rombongan Guru Besar Nim benar-benar di hadang oleh pasukan khusus yang memakai seragam lengkap pasukan elite. Mereka menghadang dan menangkap Guru Besar Nim serta murid terakhirnya yang dia gad
Ibu Suri menatap Li Jing lekat dengan pandangan menelisik. "Apakah masih sama, dia adalah Li Jing, putri dari Jendral Lie Hyun, yang dulu manis, polos, penurut, suka gugup, mudah dikendalikan dan baik hati? Mengapa sekarang aku merasa dia berbeda dan seperti bukan dirinya?" gumam Ibu Suri dalam hatinya. "Yang Mulia, mari kita lanjutkan untuk berkeliling melihat apa saja yang ada dan jadi kesibukan mereka di waktu seperti ini," bisik Bibi An pada Ibu Suri. Membuat Ibu Suri tersadar dalam lamunannya tadi. "Bi, aku merasa ada yang berbeda pada Li Jing. Coba kau utus beberapa orang untuk mengawasi kegiatan Li Jing di kediamannya. " Baik, Yang Mulia Ibu Suri."Kecurigaan akan perubahan sikap Li Jing tidak sampai di situ saja. Ibu Suri langsung memanggil Pangeran Sulung. "Han'er, apakah kau juga merasa seperti yang Nenek rasakan?""Apakah itu?""Sikap Li Jing wanita genit itu, sekarang seakan memiliki aura yang berbeda, seakan dia bukan orang yang sama?""Hm, ternyata perasaan Nene
"Salam, Yang Mulia 'Ratu' yang terhormat di Kerajaan Langit," salam Mei Ling dengan nada menyindir dan mencibir. "Aku kira kau sudah melupakan tata krama dan etika yang dijunjung tinggi di istana dalam ini, Selir Utama Mei Ling," ganti Li Jing menyindir dan mencibir ke arah Mei Ling. Tatapan tajamnya yang bagaikan belati beracun mengintimidasi tepat di netra Mei Ling membuat Mei Ling sedikit bergidik. Suaranya yang tegas dengan nada soprannya yang khas, kali ini sungguh membuat Mei Ling sedikit bergetar. "Sejak kapan dia begitu mendominasi aura di sekitarnya," gumam Mei Ling dalam hatinya. "Maafkan Hamba, Yang Mulia, beberapa hari ini hamba tidak enak badan, sehingga hamba tidak bisa menghadap untuk memberi salam pada Yang Mulia," jawab Mei Ling yang sedikit melemah dan melembut merasakan bahwa saat itu adalah saat yang sangat tidak tepat untuk memprovokasi Li Jing dengan perkataannya, karena bagaimana juga Li Jing adalah Ratu Kerajaan Langit, apalagi Mei Ling mendengar bahwa Ra
Desahan menuju puncak kenikmatan menjadi melodi malam itu bagi dua insan yang terjerat dalam asmara terlarang di istana barat Kerajaan Langit. Di tempat lain, Li Jing duduk dengan menatap langit yang tiba-tiba gelap tanpa bulan. Gelang Giok Bulan di tangannya kini berubah warna menjadi merah dan
Li Jing yang mendengar kata-kata Mei Ling membuat dia emosi. Tangannya mengepal di samping tubuhnya. Lalu dengan sikap netral kembali dia tersenyum tipis pada Mei Ling. "Selir Mei Ling, tidak usah buru-buru untuk duduk disebelah Raja. Ada tugas yang membuatmu makin dikenal seluruh wilayah yang ad
"Tuliskan titahku!" "Lapor, Ampun Yang Mulia, Baginda Raja," seru seorang kasim datang melapor, hal yang tidak di duga oleh Li Jing dan Xiao Xing. "Ampun Yang Mulia, Baginda Raja, jangan timpakan kesalahan itu pada Selir utama, sebab telah kami selidiki, ternyata ada yang sengaja menyebarkan be
Hari yang ditunggu tiba juga. Di taman utama Kerajaan Langit, tampak banyak tamu undangan yang datang dan duduk di masing-masing kursi kehormatan mereka, sesuai dengan wilayah masing-masing. Selir Yen, Kim dan Xia, sudah mengambil posisi sesuai yang diatur oleh Li Jing. Namun saat mereka sibuk m







