LOGINQin Yushuo melangkah maju saat Tuan Wang tiba di aula. Senyumnya lebar, tangannya terentang seolah menyambut tamu kehormatan."Tuan Wang, akhirnya kita bertemu juga. Saya Qin Yushuo dari..."Tuan Wang melewatinya begitu saja. Bahkan tidak melirik sekalipun.Qin Yushuo berhenti di tengah kalimat. Tangannya masih terentang di udara. Beberapa detik berlalu sebelum dia akhirnya menurunkannya dengan pelan sambil berpura-pura batuk.Wen Long justru melangkah maju dengan ekspresi yang berbeda. Ada sesuatu yang membara di matanya, campuran antara dendam yang lama dipendam dan kepuasan."Tuan Wang," suaranya bergetar tipis. "Aku telah menunggu hari ini begitu lama. Bagaimana perasaanmu?"Tuan Wang tidak menjawab. Dia berjalan ke sofa panjang di sisi ruangan, duduk dengan tenang, lalu mengeluarkan sebuah jam saku. Dibukanya tutup jam itu, dipandanginya sebentar, lalu ditutup kembali. Sedikitpun ia tidak menatap ke arah Wen Long.Wen Long terdiam di tengah ruangan. Rahangnya mengeras. Urat di le
Seluruh kelompok langsung bergerak menyebar menyebar tanpa memedulikan Li Mingzi dan Lin Fang.Mereka tiba di sebuah ruangan luas yang sunyi. Tidak ada pelayan atau penjaga di sana.Wen Long menyapu pandangan ke segala arah. Setelah beberapa saat mengamati, dia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Kewaspadaannya sedikit demi sedikit mengendur.Dia mengangkat tangan. "Naik. Tangkap dia hidup-hidup."Beberapa anak buah segera bergerak menuju tangga besar yang mengarah ke lantai dua.Tap. Tap. Tap.Suara langkah kaki bergema di dalam villa. Namun tepat saat penjaga pertama menginjak anak tangga kelima,Dor!Ledakan senjata api memecah keheningan. Tubuh pria itu terhuyung. Matanya membelalak. Di dadanya muncul lubang berdarah sebesar kepalan tangan. Sesaat kemudian tubuhnya jatuh menuruni tangga, darah segar menyebar di lantai marmer."Musuh! Cari perlindungan!"Kerumunan langsung kacau. Para penjaga buru-buru berlindung di balik sofa, pilar, dan meja sambil mengangkat senjata. R
"Pergi sana."Bugh!Kaki Li Mingzi melayang ringan.Anjing pudel kecil yang hampir mengencingi sepatunya itu terlempar beberapa meter dan berguling di trotoar."Hei! Apa yang kau lakukan?!"Seorang wanita gemuk berlari menghampiri sambil memeluk anjingnya erat-erat, matanya memelototi Li Mingzi dengan marah."Itu anjingku!"Li Mingzi menggaruk pipinya."Dia hampir mengencingi sepatuku.""Dia hanya kencing!" bentak wanita itu."Oh."Li Mingzi mengangguk seolah mengerti. Lalu, di luar dugaan semua orang, dia kembali mengangkat kaki.Bugh!Pudel itu kembali melayang. Kali ini sampai menyeberangi jalan dan jatuh ke semak-semak di seberang."Tidakk!"Teriakan wanita itu bergema di jalanan saat dia berlari menyeberang untuk menyelamatkan anjingnya.Li Mingzi justru tersenyum lebar."Aku sudah menemukan ide."Dia mengangkat ponsel ke telinga."Tuan Wang."Suara tenang menyahut dari seberang. "Bagaimana, Tuan?"Li Mingzi melirik ke arah semak tempat pudel jatuh."Kita tidak perlu menunggu mer
"Satpam tetap saja satpam," gumam Lu Jiyan dingin.Ye Rui mendengus."Benar. Sedikit punya kemampuan langsung merasa dirinya hebat."Lin Fang yang masih menahan sakit ikut menyahut."Orang seperti dia cuma berani karena berlindung di belakang Villa Bukit Kuning."Li Mingzi melirik mereka tanpa ekspresi."Kalian berisik sekali." Wajah Lin Fang langsung menghitam."Kau...""Sudahlah." Wen Long mengangkat tangan menghentikannya sebelum ketegangan kian memuncak.Pria itu menatap Li Mingzi beberapa saat lalu tersenyum tipis."Aku akui kemampuanmu lumayan.""Setidaknya lebih baik darimu," ucap Li Mingzi sambil menguap.Sudut bibir Wen Long langsung menegang.Qin Yushuo buru-buru berdeham."Ahem... mari kita kembali ke urusan utama."Dia benar-benar khawatir kedua pihak kembali bentrok.Lu Jiyan segera memanfaatkan kesempatan itu untuk bicara."Benar. Kita tidak datang ke sini untuk bertengkar."Dia menyandarkan tubuh ke kursi."Sekarang informasi tentang Kota Awan sudah hampir selesai diku
Keesokan harinya, tepat saat matahari berada di puncaknya, Li Mingzi memenuhi undangan Qin Yushuo untuk bertemu di Kafe Mentari.Begitu masuk, dia langsung melihat tiga orang sudah menunggunya di meja sudut dekat jendela besar yang menghadap jalan utama. Orang-orang berlalu-lalang di luar, sementara aroma kopi yang baru diseduh memenuhi ruangan."Saudara Li, akhirnya datang juga."Qin Yushuo tersenyum sambil berdiri menyambutnya.Li Mingzi hanya mengangguk lalu duduk.Sebuah cangkir kopi segera didorong ke hadapannya."Cicipi dulu. Kopi di sini cukup terkenal."Li Mingzi mengangkat cangkir itu dan menyesapnya."Hm."Qin Yushuo menunggu beberapa saat."Bagaimana?""Enak."Jawabannya singkat seperti biasa.Sebelum suasana sempat menghangat, Lu Jiyan sudah membuka pembicaraan."Bagaimana? Sudah ada petunjuk soal keberadaan Tuan Senior?"Li Mingzi tidak langsung menjawab. Dia kembali menyesap kopinya perlahan seolah pertanyaan itu tidak terlalu penting.Alis Lu Jiyan langsung berkerut.Di
Li Mingzi menatap wanita di luar jendela dengan wajah tanpa ekspresi.Sementara itu, Bai Yumeng langsung menundukkan kepala. Wajahnya masih terasa panas setelah apa yang hampir terjadi beberapa saat lalu.Gong Manli berdiri sambil tersenyum canggung."Jadi... boleh aku masuk?"Li Mingzi menarik napas panjang.Dalam hati dia sudah mengumpat berkali-kali.Kalau wanita ini datang satu jam lebih lambat, situasinya pasti sudah berbeda.Namun pada akhirnya dia tetap membuka pintu."Masuklah."Gong Manli segera masuk ke kursi belakang.Begitu duduk, dia melihat suasana aneh di dalam mobil. Bai Yumeng terus menghindari kontak mata, sedangkan Li Mingzi terlihat sedikit kesal.Kening Gong Manli berkedut.Jangan-jangan...Aku benar-benar datang di waktu yang tidak tepat?"Maaf," katanya hati-hati. "Apa aku mengganggu?""Tidak," jawab Bai Yumeng cepat.Gong Manli menatapnya beberapa detik. Pipi wanita itu masih kemerahan."Oh..."Sudut bibir Gong Manli sedikit terangkat.Bai Yumeng langsung memal
Di luar gerbang besi Villa Bukit Kuning, tiga sosok berdiri dengan penampilan khas orang kaya.Ye Rui dari Keluarga Ye mengenakan jas abu-abu dengan jam tangan berkilau di pergelangan tangan. Qin Yushuo dari Keluarga Qin merapikan kerah jasnya sambil melirik sekeliling dengan ekspresi menilai. Lu
Malam itu berlangsung jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan Ruan Yin.Setelah insiden di kamar mandi, keduanya kembali ke kamar dalam keadaan sedikit berantakan. Ruan Yin yang sebelumnya berniat segera tidur akhirnya kembali terseret oleh permainan Li Mingzi. Pria itu sepertinya belum cukup
Li Mingzi berjalan mendekat lalu memungutnya tanpa rasa takut. Ia menunduk memperhatikan ukiran pada gagang pedang. Jemarinya mengusap simbol aneh yang dipenuhi aura yin dingin.“Pedang ini dipakai untuk mengalihkan keberuntungan.” Ia mengangkat pedang itu sedikit lebih tinggi. “Kalau makam leluhur
Mata Ren Juko memerah karena racun yang menggerogoti wajahnya sendiri. Darah terus menetes dari lengan kanannya yang telah putus. Tubuhnya gemetar hebat, sorot matanya penuh kebencian saat menatap Li Mingzi.“Hah... hah...” napasnya tersengal kacau. “Kau pikir... ini sudah selesai?”Li Mingzi berdi







