LOGIN
“Menaklukkan 7 wanita? Pasti ini hanya akal-akahan si tua bangka itu!” gerutu Li Mingzi, tetapi langkahnya terus terayun untuk masuk ke dalam kereta api.
Demi bisa memperpanjang umurnya yang tinggal 28 hari lagi, Li Mingzi terpaksa turun gunung dan menjalankan misi khusus dari gurunya, Yu Shen. Tapi, bicara dengan wanita saja tidak pernah. Lalu, bagaimana caranya Li Mingzi bisa menaklukkan wanita-wanita itu?! Li Mingzi adalah seorang jenius. Ilmu beladiri, formasi, feng shui, pengobatan, racun, semua dia kuasai dalam waktu yang bagi orang lain bahkan tidak cukup untuk memahami dasarnya. Dia adalah kandidat sempurna untuk mewarisi Aula Bintang, organisasi terbesar di Negara Pedang yang menguasai dunia hitam dan putih. Namun, takdir justru mempermainkannya. Darah Emas di tubuh Li Mingzi menjadi sebuah anugerah sekaligus kutukan. Energi dalam tubuhnya terlalu besar hingga akhirnya berbalik menyerang dirinya sendiri. Setiap kali kekuatannya meningkat, tubuhnya justru semakin hancur. Pemilik Darah Emas sebelumnya masih bisa bertahan sampai usia 25 tahun. Namun Li Mingzi? Dia bahkan tidak bisa mencapai usia itu. Karena dia memilih melawan kutukannya dengan cara paling bodoh. Yaitu dengan cara menekannya, menghancurkan dirinya sendiri dari dalam. “Ck! Guru sialan. Tua bangka itu pasti sekarang tertawa senang setelah berhasil mengusirku. Dia bisa bebas menggoda para janda,” gerutu Li Mingzi sekali lagi ketika sudah duduk di dalam kereta. Kalau saja semalam Yu Shen tidak mengatakan hal gempar lain pada Li Mingzi, mungkin sekarang Li Mingzi akan lebih memilih tidur dan menghabiskan sisa umurnya dengan damai ketimbang pergi ke Kota Awan. "Aku sudah gagal sebagai Raja Bintang dan sekarang aku juga gagal membuat muridku ingin hidup lebih lama," kata Yu Shen kepada Li Mingzi malam itu. Li Mingzi yang sedang minum teh langsung berhenti. Ekspresinya berubah serius. Raja Bintang bukan gelar sembarangan. Itu adalah julukan bagi pemimpin Aula Bintang yang membuat orang gentar hanya mendengar namanya saja. Li Mingzi tahu, itu adalah gelar yang benar-benar diinginkan oleh gurunya. Dahulu orang akan benar-benar gentar ketika mendengar nama itu. “Guru…” Li Mingzi menyipitkan matanya. “Kau mulai berakting?” Yun Shen tidak tersinggung. Sebaliknya, dia malah memasang wajah semakin sedih. “Bukankah kau selalu ingin tahu, kenapa aku tidak pernah kembali ke Aula Bintang?” Li Mingzi tidak menjawab. Namun tatapannya sudah cukup sebagai jawaban. Yun Shen tertawa kecil. Tawa yang pahit, lalu berkata dengan lirih, “Karena aku pengecut.” “Omong kosong,” balas Li Mingzi cepat. “Kau itu orang paling hebat di dunia ini, mana mungkin jadi pengecut!” Li Mingzi tahu betul gurunya orang seperti apa. Selama ini, dia mengenalnya sebagai sosok yang berprinsip, bahkan seluruh penduduk desa sekitar Gunung Sembilan Naga ini sangat menghormatinya meskipun di sini ia menanggalkan identitasnya sebagai Raja Bintang. “Seluruh dunia bilang begitu,” sahut Yu Shen cepat. Li Mingzi langsung mengernyit. Yun Shen melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Dulu, ada perang antara Negara Pedang dan Negara Teratai Salju. Sebuah pertarungan nasib. Formasi raksasa dipasang. Keberuntungan seluruh negara dipertaruhkan. Namun…” Tatapannya menjadi dingin. “Aku tidak muncul.” Li Mingzi mengepalkan tangannya. “Kenapa?” “Karena aku memilih menyelamatkanmu,” jawab Yun Shen tanpa ragu. Suasana langsung hening. Angin pun seakan berhenti berhembus. “Akibatnya…” lanjut Yun Shen, “Formasi kacau. Salah satu anggota inti berkhianat sehingga banyak ahli mati dan terluka akibat pembalikan formasi. Negara Pedang kalah dalam pertarungan itu. Dan aku … menjadi pengecut yang lari dari tanggung jawab.” Yu Shen tersenyum tipis. Sementara itu, Li Mingzi tidak bergerak, tetapi aura di sekitarnya mulai berubah berat dan dingin. “Siapa yang mengacaukan formasi itu?” tanyanya pelan. “Teman lamaku,” jawab Yun Shen. “Hei Wuji.” Nama itu terasa seperti duri. “Dia mengkhianati kami. Dia bekerja sama dengan Negara Teratai Salju. Keberuntungan Negara Pedang… dicuri,” lanjut Yu Shen. Cangkir teh di tangan Li Mingzi hancur. “Jadi selama ini, kau memikul semua itu sendirian?” Yun Shen tertawa kecil. “Sudah kubilang. Aku pengecut.” Li Mingzi berdiri perlahan, tubuhnya gemetar menahan kemarahan. “Aku tidak peduli dengan hidupku,” katanya pelan. “Tapi aku tidak akan membiarkan orang lain menginjak-injak nama Guru.” Sejak kecil, Li Mingzi telah hidup bersama Yu Shen dan dirawat dengan sangat baik. Tak heran jika di balik sikap tengik Li Mingzi, ia benar-benar menghormati gurunya. Jadi, jika ada orang yang menjatuhkan gurunya, jelas Li Mingzi tidak akan segan untuk menghabisi orang itu. Akhirnya, Li Mingzi meninggalkan Gunung Sembilan Naga pagi tadi. GRAK! Tut! Tut! Akhirnya, kereta api itu melaju. Li Mingzi kembali mengusap wajahnya gusar. “Ah! Gimana caranya mendekati wanita?!” lirih Li Mingzi terdengar agak putus asa. Tiba-tiba, seorang pria yang duduk di sampingnya berkata, “Itu mudah anak muda. Kamu hanya perlu bersikap baik pada wanita, manjakan mereka, buat mereka terkesan dengan dirimu. Maka, mereka pasti akan datang kepadamu.” Seketika, Li Mingzi menoleh dan menatap pria setengah baya itu dengan alis tertaut. “Aku sudah berhasil menaklukkan 10 wanita dengan cara itu. Cobalah sendiri,” kata pria itu lagi, membuat Li Mingzi membulatkan matanya. “Semudah itu? Benarkah?” Li Mingzi mendadak percaya diri. Kalau hanya membuat dirinya tampak terkesan, jelas Li Mingzi jagonya. “Lihat saja, setelah membuat umurku lebih panjang, aku akan membalaskan dendam guru!” tekad Li Mingzi dalam hatinya. Ketika matahari belum sempat muncul di ufuk timur, Li Mingzi sudah tiba di Vila Bukit Kuning, sebuah kediaman megah di kaki Gunung Naga Biru yang terpisah dari hiruk pikuk Kota Awan. Itu adalah vila milik Yu Shen yang diurus oleh bawahannya, yaitu Tuan Wang, seorang pria yang jelas disegani di Kota Awan. Tuan Wang, seorang pria paruh baya dengan sikap tegas namun hormat, sudah menunggunya di pintu gerbang jauh sebelum Li Mingzi mengetuk. Begitu melihat sosok pemuda itu, dia langsung membungkuk dalam. "Pewaris telah tiba. Seluruh vila siap melayani," sambut Tuan Wang.Ladang bambu di pinggir Resort Sungai Bening bergoyang pelan diterpa angin sore. Yu Ming Lan berdiri di depan sebuah tugu kecil, tangannya menyusuri ukiran di batu itu selama beberapa saat sebelum akhirnya bicara."Ini formasi fengshui," katanya. "Tapi aku tidak mengerti. Orangnya jelas masih hidup, kenapa dibuatkan makam segala?"Qin Luxi berdiri di sampingnya, menatap tugu bertuliskan nama Li Mingzi itu dengan alis berkerut. Rasa kecewa tiba-tiba menjalar di dadanya. Dia sudah membayangkan pertemuan lain, bukan berdiri di depan batu nisan kosong seperti ini."Kau sendiri kekuatannya di tingkat berapa?" tanya Qin Luxi, mengalihkan pembicaraan."Sedikit di bawah Grandmaster," jawab Yu Ming Lan singkat. "Tapi satu tebasan pedangku cukup untuk membunuh seorang Grandmaster."Tuan Ji yang berdiri tak jauh dari situ langsung tertawa mengejek. "Sombong sekali. Kau tahu betapa sulitnya mencapai tingkat Grandmaster? Ahli internal biasa sepertimu mustahil menembus batas sampai bisa membunuh Gr
Villa Bukit Kuning masih tenang ketika debum keras terdengar dari gerbang depan. Lu Minghao melangkah masuk dengan puluhan orang di belakangnya, menyingkirkan pengawal yang mencoba menghadang."Di mana Putra Mahkota Aula Bintang?" serunya, keras hingga menggema di halaman depan. "Suruh dia keluar sekarang! Aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi!"Tuan Wang bergegas keluar, ekspresinya tetap tenang seperti biasa meski baru muncul dari dalam villa. "Tuan Muda Lu, ada apa ini? Kenapa menerobos masuk seperti perampok?""Perampok?" Lu Minghao tertawa pendek, tanpa humor sama sekali. "Semalam Keluarga Ye diserang habis-habisan oleh Keluarga Gong. Kami kehilangan banyak orang, kerugian kami besar. Kalau Putra Mahkota kalian tidak bisa memberi penjelasan, jangan salahkan aku kalau Keluarga Gong lenyap dari peta hari ini juga.""Tuan Muda tidak tahu apa-apa soal itu," jawab Tuan Wang."Tidak tahu?" Lu Minghao melangkah lebih dekat. "Kalian pikir aku bodoh datang kemari tanpa bukti? Buka
Qin Luxi turun dari mobil dengan langkah tenang. Di depan gedung Faz Media, Ruan Yin sudah menunggu bersama beberapa pengawal. Keduanya berhenti beberapa meter, saling berhadapan dalam diam.Luo Han maju satu langkah, matanya langsung terkunci pada sosok bertopeng di samping Qin Luxi. "Kalian siapa? Mau apa ke sini?" tanyanya, tangannya sudah bersiap di pinggang.Qin Luxi tersenyum ramah yang dibuat-buat. "Kamu Luo Han, kan? Ada orang yang berniat mencelakai Tuan Muda kalian. Sebaiknya kau kembali ke Villa Bukit Kuning sekarang, jaga dia.""Bohong," sahut Luo Han cepat. Dia sudah mengenali gelagat itu sejak awal. "Bawa Nona Ruan pergi dari sini!" perintahnya ke pengawal lain.Belum sempat kalimat itu selesai, Yu Ming Lan sudah bergerak.Luo Han bahkan tidak sempat melihat kapan dia bergerak. Yang dia rasakan hanya sensasi dingin menembus dadanya, sepersekian detik sebelum darah menyembur keluar dan tubuhnya ambruk ke aspal."Luo Han!" teriak salah satu pengawal, panik.Yu Ming Lan ber
Tidak lama setelah Lu Vivi masuk, Lu Minghao dan yang lain berkumpul di dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari villa."Qin Luxi mana?" tanya Wen Lu, melihat sekeliling."Katanya perutnya bermasalah," jawab Lu Minghao santai. "Dia akan menyusul."Wen Lu mengerutkan kening tapi tidak bertanya lebih jauh. Lu Minghao memberi isyarat ke bawahannya. "Aktifkan alat penyadap," perintahnya. Salah seorang pria segera menyalakan perangkat yang sudah dipasang sebelumnya.Ye Anyi langsung melotot ke arah Lu Minghao. "Kau benar-benar tega," katanya."Tega apa?" Lu Minghao mengangkat alis."Kau menjerumuskan keponakanmu sendiri ke dalam bahaya," kata Ye Anyi."Jangan bicara seperti aku memaksanya. Rencana ini sudah disetujui semua orang, dan Vivi sendiri yang mau melakukannya," balas Lu Minghao."Itu bukan berarti kau boleh membiarkannya," kata Ye Anyi."Kalau begitu kau seharusnya menghentikannya tadi," kata Lu Minghao.Ye Anyi terdiam."Bukankah dia memang berniat jadi istri Putra Mahkota?" Lu
"Jadi, menurutmu rencana itu tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu sambil menghela napas. Sejak tadi Li Mingzi lebih sibuk memainkan ponselnya daripada memikirkan masalah besar yang baru saja dibicarakan."Aku tidak memikirkan hal lain," jawab Li Mingzi, mengangkat wajah."Lalu kenapa kau bertanya soal Ye Anyi?" tanya Wen Lu."Karena aku penasaran," jawab Li Mingzi.Berdebat dengan Li Mingzi sering membuat Wen Lu tidak tahu harus marah atau menyerah. "Sudahlah. Kembali ke masalah utama. Kenapa kau bilang rencana Qin Luxi tidak akan berhasil?" tanya Wen Lu.Li Mingzi meletakkan ponselnya di meja. "Karena Mo Yan tidak bisa bela diri. Racun itu cuma bereaksi ke praktisi. Kalau orang biasa yang meminumnya, tidak akan terjadi apa-apa, dan Mo Yan cuma orang biasa yang menyamar jadi diriku," jelas Li Mingzi.Wen Lu terdiam, baru menyadari kejanggalan itu. "Kalau begitu Qin Luxi juga tahu?" tanya Wen Lu."Tentu," jawab Li Mingzi."Dan dia tetap menyetujui rencana itu?" tanya Wen Lu."Itu yang an
Malam yang sama ketika Qin Luxi diserang di Hotel Q, tiga tempat lain juga bergejolak. Wen Liyin, Lu Vivi, dan Ye Anyi mendapat serangan serupa, hampir bersamaan.Keesokan paginya, keempat keluarga besar berkumpul di ruang pertemuan pribadi milik Keluarga Lu. Lu Minghao duduk di kepala meja, memutar cincin di jari tengahnya berulang kali sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan."Jadi," katanya, "siapa yang mau melapor duluan? Berapa kerugian kalian semalam?"Wen Liyin hanya mengangguk pelan, tidak menjelaskan apa-apa. Sikapnya seperti biasa, tertutup dan hemat kata.Ye Anyi justru langsung menoleh ke arah Lu Vivi. "Vivi, kau tidak terluka, kan?""Aku baik-baik saja." Lu Vivi menjawab cepat, lalu menyikut lengan Ye Anyi pelan. "Jangan tanya begitu di depan semua orang. Nanti Tuan Mo Yan salah paham."Ye Anyi mendesah pelan, lalu menunduk menahan diri.Lu Minghao yang menyaksikan itu berhenti memutar cincinnya. "Sudah, sudah. Tidak usah malu begitu." Dia melirik Ye Anyi. "Kudeng
"Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le
Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!""Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."Li Mingzi yang sejak tadi diam,
Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras."Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.Krek!Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hi
Ruan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"Semua orang terdiam seketika.Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah.Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringa







