แชร์

Bab 158

ผู้เขียน: MISTERIOUS
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-30 23:54:20

Qin Luxi menyipitkan mata, menatap Li Mingzi curiga. "Kau sengaja panggil mereka, kan? Biar bisa jual gaya jadi pahlawan?"

"Buat apa? Aku tidak sempat main drama begitu." Li Mingzi mendengus, tangan tetap di saku celana, santai seolah tidak ada tujuh preman berdiri di depan mereka.

Si rambut merah yang jadi pemimpin geram melihat keduanya malah asyik berdebat sendiri, seolah dia tidak ada. Dia membungkuk mengambil batu sebesar kepalan tangan dari tanah, mengangkatnya tinggi.

"Berani sekali kali
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 158

    Qin Luxi menyipitkan mata, menatap Li Mingzi curiga. "Kau sengaja panggil mereka, kan? Biar bisa jual gaya jadi pahlawan?""Buat apa? Aku tidak sempat main drama begitu." Li Mingzi mendengus, tangan tetap di saku celana, santai seolah tidak ada tujuh preman berdiri di depan mereka.Si rambut merah yang jadi pemimpin geram melihat keduanya malah asyik berdebat sendiri, seolah dia tidak ada. Dia membungkuk mengambil batu sebesar kepalan tangan dari tanah, mengangkatnya tinggi."Berani sekali kalian cuekin aku!" Dia mengarahkan batu itu ke Qin Luxi, wajahnya merah padam."Aku tidak percaya kau berani," kata Li Mingzi datar, tanpa ekspresi."Coba saja lihat!""Aku tetap tidak percaya," ulangnya lagi, kali ini sambil menguap kecil.Ucapan itu seperti sulut api ke bensin. Si rambut merah mengalihkan lemparan, membidik Li Mingzi langsung. Batu melesat cepat."Awas!" Qin Luxi refleks mengulurkan tangan hendak menahan, tapi jaraknya terlalu jauh, tubuhnya kaku di tempat.Li Mingzi hanya membuk

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 157

    Li Mingzi buru-buru menangkap tubuh Kepala Kuil sebelum benar-benar ambruk ke tanah. Berat badan seratus kilo itu nyaris membuatnya goyah."Loh, kok malah sujud? Bangun, bangun." Dia menariknya berdiri, agak kewalahan.Kepala Kuil masih gemetar, tidak berani mengangkat wajah. "Pelindung... hamba tidak tahu ada tamu agung datang. Mohon maafkan kelancangan hamba."Qin Luxi berdiri di belakang, memperhatikannya lutut kepala kuil yang gemetar dan dua penjaga yang kabur lari. "Kenapa mereka kabur? Kau kenal kepala kuil ini?" "Barusan," jawab Li Mingzi kalem."Terus kenapa dia sampai segitu takutnya?"Li Mingzi pura-pura batuk sekali. "Mungkin osteoporosis. Orang tua kalau lututnya lemah gampang jatuh begitu. Perlu tandu, biar aman jalan-jalan di kuil." Kepala Kuil yang masih dipegangi malah tambah gemetar mendengar alasan itu, tapi tidak berani membantah sepatah kata pun."Hamba baik-baik saja, Pelindung. Hamba hanya... terkejut." Dia akhirnya berani menegakkan badan sedikit, keringat din

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 156

    Pukul delapan pagi, Li Mingzi sudah nongkrong di lobi hotel. Kemeja putih, celana panjang, sepatu kulit mengilap, dandanan paling rapi yang pernah dia pakai seumur hidup. Beberapa tamu hotel yang lewat sempat menoleh dua kali, entah karena wajahnya atau karena dia berdiri di situ seperti orang nunggu bus.Tuan Ji muncul dari lift, tampang datar seperti biasa."Mana Qin Luxi?" Li Mingzi celingukan. "Katanya jam segini ketemu.""Nona masih tidur. Baru bangun jam sembilan biasanya." Tuan Ji menjawab cepat, hampir ketus. "Pulang saja dulu sana."Li Mingzi sudah mengeluarkan ponsel, hendak telepon langsung, tapi tangan Tuan Ji lebih cepat mencekal lengannya."Tidak sopan," katanya. "Kau cuma pengawal. Jangan sok akrab sama nona kami.""Ya sudah, aku nyanyi saja sampai dia turun."Belum sempat Tuan Ji nyambung, Li Mingzi sudah berdeham keras-keras di depan pintu masuk hotel yang ramai. Beberapa orang berhenti jalan, ada yang malah nunggu, penasaran mau nyanyi apa pemuda tampan ini."Woi, he

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 155

    Satu jam kemudian, mobil Qin Luxi berhenti di depan Villa Bukit Kuning. Telinganya masih merah, sisa rasa malu yang belum sepenuhnya hilang. Dia turun sambil menenteng gulungan lukisan, langkahnya cepat menuju ruang tengah tempat Mo Yan biasa berlatih."Dengar-dengar Putra Mahkota Aula Bintang jago kaligrafi," katanya begitu masuk, suaranya dibuat seceria mungkin. "Boleh minta tanda tangan?"Mo Yan mengangkat alis, curiga ini cuma modus untuk mendekatinya. Tapi melihat wajah Qin Luxi yang serius, dia justru merasa lega. Selama ini gadis itu selalu dingin, jadi permintaan seperti ini terasa seperti angin segar. Dia mengambil kuas dengan gaya yang aneh, dipegang seperti pulpen, lalu menggores tulisan di atas kertas."Putra Mahkota Aula Bintang."Qin Luxi mengerjapkan mata, mencoba mencari sisi bagus dari coretan itu. Tidak ada. Garis-garisnya naik turun tidak karuan, beberapa bahkan tembus ke kertas di bawahnya. Ini jelas bukan tulisan orang yang biasa memegang kuas.Dalam sepersekian d

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 154

    Setelah kekacauan di villa mereda, rombongan bersiap kembali. Bai Yumeng berjalan menuju mobilnya sendiri yang terparkir terpisah, dan Li Mingzi mengikutinya tanpa banyak bicara, langsung masuk ke kursi penumpang. Qin Luxi tetap naik ke mobil rombongan awal, kendaraan yang sama yang membawa mereka semua ke tempat Master Elang palsu tadi.Sebelum pintu mobil Qin Luxi tertutup, dia sempat menjulurkan kepala lewat jendela, memanggil Li Mingzi yang sudah duduk di mobil sebelah."Ngomong-ngomong," katanya, "Master Elang itu orangnya seperti apa? Kau kan sering lihat dia latihan.""Tampan," Li Mingzi menjawab cepat, tanpa berpikir panjang. "Anggun juga. Kalau dibandingkan Wen Lu, jauh banget."Qin Luxi mengangguk-angguk, membayangkan sosok misterius di kepalanya. Dia melirik ke arah Bai Yumeng yang sudah duduk tenang di kursi kemudi mobil sebelah."Kenapa Nona Bai nggak penasaran sama sekali soal ini?"Li Mingzi mengangkat bahu. "Oh."Jawaban sependek itu membuat Qin Luxi mengernyit, tapi d

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 153

    Li Mingzi menerima kuas dari tangan si kakek palsu, jarinya menggenggam gagang bambu itu dengan santai. Tanpa banyak gerak-gerik dramatis, ujung kuas menyentuh kertas kosong yang tersisa di meja.Goresan pertama turun tegas, lalu melengkung lembut di ujungnya. Semua orang di halaman menahan napas."Itu..." Qin Luxi maju satu langkah, matanya tak lepas dari kertas. "Gaya tulisannya sama persis dengan yang di kota tadi."Bai Yumeng mengangguk pelan, wajahnya menegang. Huruf demi huruf yang muncul di bawah kuas Li Mingzi punya jiwa yang sama dengan karya yang sempat mereka perdebatkan siang tadi, tegas di pangkal, lentur di ujung, seolah tinta itu hidup.Master palsu melangkah mundur, wajahnya pucat pasi. "T-tidak mungkin... bocah ini..."Li Mingzi tidak peduli reaksi orang-orang di sekelilingnya. Dia menyelesaikan satu baris, lalu tanpa jeda mengambil dua lembar kertas kosong lagi. Kuas bergerak lebih cepat, tapi tetap rapi.Sebuah puisi pendek muncul di lembar pertama. Lalu satu lagi d

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 8

    "Kondisi Tuan Besar Ruan memburuk karena sumbatan di meridian Yin," jawab Tabib Su ketus. "Kelembabannya sudah merusak organ dalam. Jarum Pemanggil Jiwa adalah satu-satunya jalan."Li Mingzi menggeleng pelan. "Itu bukan kelembaban biasa."Ruan Yin merasakan jemari Li Mingzi menggenggam tangannya le

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 7

    Ruan Yin menatap pamannya tak percaya. "Paman! Zhang Wu yang membuat surat utang palsu untuk menipu perusahaan kita!""Akan kuurus nanti," potong Ruan An lagi. "Mulai sekarang urusan grup aku yang ambil alih. Kau masih terlalu muda, terlalu emosional untuk memimpin."Li Mingzi yang sejak tadi diam,

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 6

    Zhang Wu terjatuh ke samping, kepalanya membentur lantai dengan keras."Kakak masih belum minta maaf," kata Li Mingzi dengan nada polos. Zhang Wu berusaha bangkit, tapi kakinya tidak kuat menopang. Dia meraih meja terdekat untuk berpegangan.Krek!Li Mingzi menginjak kaki Zhang Wu dengan enteng hi

  • TAKDIRKU GILA, ISTRIKU DI MANA-MANA    Bab 5

    Ruan Yin menghentakkan meja dengan keras, suaranya bergema memenuhi ruangan. "Cukup!"Semua orang terdiam seketika.Anak buah Zhang Wu berhenti di tengah langkah.Ruan Yin berdiri tegak, dadanya naik turun menahan amarah yang meluap. Matanya menatap tajam ke arah Zhang Wu dengan sorot penuh peringa

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status